“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Mimpi di ambang batas
Lu Ming memegang leher Liu Shen dengan sisa tenaganya, matanya yang berkilat emas menatap tajam ke arah Liu Shen. "Aku... tidak... akan... kalah..." bisiknya dengan suara yang keluar bersama darah. "Aku harus melihat mereka hancur... Ayah... Ibu... semua..."
Liu Shen membalas dengan mencekik leher Lu Ming, jemarinya yang berlumuran darah menekan kerongkongan saudaranya itu. "Dunia ini... harus... terbakar... Lu Ming... penderitaan Paman Han... harus dibayar..."
Tiba-tiba, energi Pembentukan Inti di dalam tubuh mereka mulai tidak stabil akibat kemarahan yang melampaui kapasitas wadah tubuh mereka.
Udara di sekitar mereka mulai berderak. Petir merah dan hitam menyambar-nyambar dari tubuh mereka, menghanguskan apa pun yang tersisa di desa itu.
BUM! BUM! BUM!
Ledakan-ledakan kecil terjadi di sepanjang meridian mereka. Pembuluh darah di mata mereka pecah, membuat pandangan mereka sepenuhnya merah.
Dalam satu benturan terakhir, mereka berdua mengumpulkan sisa seluruh Qi mereka ke dalam satu pukulan pamungkas.
Lu Ming menghantamkan telapak tangannya ke jantung Liu Shen.
Liu Shen menghantamkan tinjunya ke ulu hati Lu Ming.
DHEEERRRR!!!
Ledakan besar yang dihasilkan kali ini tidak mengeluarkan suara, melainkan sebuah gelombang sunyi yang meratakan seluruh desa dan hutan di sekitarnya hingga menjadi padang debu.
Hutan Larangan Tulang Putih seolah kehilangan nyawanya dalam sekejap.
Asap perlahan menipis. Di tengah kawah yang kini sedalam tiga meter, dua raga terkapar tak berdaya.
Lu Ming terlentang dengan dada yang cekung dan napas yang terputus-putus.
Liu Shen tersungkur beberapa meter di sampingnya, dengan lubang di dadanya yang masih mengeluarkan asap hitam.
Mereka berdua masih hidup, namun hanya karena kebencian yang menolak untuk membiarkan mereka mati.
Lu Ming menatap langit yang kini mulai menampakkan semburat fajar yang kelabu. "Kenapa..." bisiknya lirih, air mata darah mengalir dari sudut matanya. "Kenapa aku bahkan tidak bisa mati dengan tenang..."
Liu Shen terbatuk, mengeluarkan gumpalan darah hitam. Ia menoleh ke arah Lu Ming dengan satu mata yang masih bisa melihat samar. "Karena... iblis seperti kita... tidak punya tempat di surga... dan neraka pun... takut menerima kita."
Mereka berbaring di sana, di tengah kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Tidak ada pemenang.
Hanya dua anak manusia yang hancur, menunggu apakah maut akan benar-benar menjemput, ataukah takdir masih ingin mempermainkan mereka lebih jauh lagi di dunia yang mereka benci ini.
Kesadaran mereka perlahan terkikis, seperti selembar kertas yang perlahan habis dilalap api. Rasa sakit yang tadi meraung-raung di sekujur tubuh mendadak berubah menjadi rasa dingin yang mati rasa.
Pandangan Lu Ming yang merah darah mulai meredup, beralih menjadi kegelapan total yang sunyi.
Namun, di dalam kegelapan itu, sebuah cahaya kecil mulai muncul. Bukan cahaya keemasan dari surga yang agung, melainkan cahaya temaram dari sebuah lampion minyak tua yang berayun ditiup angin malam.
Aroma darah dan belerang yang menyesakkan berganti dengan bau kayu bakar yang terbakar dan aroma bubur encer yang sedang dimasak. Lu Ming merasakan tubuhnya tidak lagi berat. Ia tidak lagi merasakan luka di dadanya.
Ia membuka mata dalam mimpi itu.
Ia melihat sebuah gubuk tua di tepi hutan. Di depannya, duduk seorang pria tua dengan tangan kasar yang sedang mengasah sebilah pedang berkarat.
Paman Han. "Kalian terlambat pulang," ucap Paman Han tanpa mendongak, suaranya parau namun hangat, suara yang seharusnya sudah terkubur bersama debu lima belas tahun lalu.
Di samping Lu Ming, muncul sosok anak laki-laki dengan rambut putih yang acak-adakan.
Itu adalah Liu Shen, namun bukan "Si Pembantai" yang mengerikan, melainkan Liu Shen yang masih berusia sepuluh tahun, dengan wajah yang penuh coretan jelaga namun matanya masih memiliki binar kehidupan.
"Paman, aku berhasil menangkap kelinci!" teriak Liu Shen muda dengan bangga, mengangkat seekor kelinci hutan.