"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tangan di Atas Luka
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah langit pun enggan menyaksikan sandiwara yang akan berlanjut di rumah ini. Aku terbangun sebelum kicauan burung terdengar, menatap langit-langit kamar peninggalan Ayah dan Ibu dengan perasaan hampa. Tubuhku terasa kaku, namun kali ini bukan karena pengaruh obat, melainkan karena ketegangan yang membeku di setiap sendi.
Aku menatap foto almarhum Ayah dan Ibu yang tergantung di dinding seberang tempat tidur. Tatapan mereka yang tenang seolah memberikan kekuatan tambahan padaku. Ayah, Ibu, maafkan Laras karena membiarkan pria itu mengotori rumah kalian. Tapi Laras janji, Laras akan membersihkan segalanya. Suara deru mesin mobil Dimas memasuki halaman rumah memecah keheningan. Aku segera mematikan laptop, menyembunyikannya kembali di laci rahasia, dan mengatur posisi tubuhku agar terlihat lemas. Aku harus terlihat seperti seseorang yang nyaris kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Dimas masuk dengan langkah yang diseret, berpura-pura lelah seolah dia habis terjaga semalaman di rumah sakit menunggu Ibunya. Namun, hidungku yang sensitif menangkap sisa aroma parfum Maya yang samar, bercampur dengan bau rokok yang tajam—mungkin cara dia menutupi jejak perselingkuhannya semalam.
"Laras? Sayang, kamu sudah bangun?" suaranya terdengar serak, sebuah akting yang sangat meyakinkan bagi siapa pun yang tidak mendengar percakapannya semalam.
Aku membuka mata perlahan, membuat pandanganku terlihat sayu dan tidak fokus. "Mas... kamu baru pulang? Bagaimana keadaan Ibu?"
Dimas duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar—entah karena lelah bersandiwara atau efek alkohol yang belum sepenuhnya hilang. "Ibu masih dalam observasi, Laras. Dokter bilang kondisinya belum stabil. Aku benar-benar stres memikirkan semuanya."
Ia terdiam sejenak, lalu merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa map tebal yang semalam kulihat di kamera dasbor. Hatiku berdesir tajam. Inilah saatnya. Serigala itu mulai mengeluarkan taringnya.
"Laras, aku ingin bicara sesuatu yang penting. Ini soal aset-aset peninggalan orang tuamu," ucapnya dengan nada yang dibuat seolah-olah dia sedang memikirkan masa depanku. "Kondisimu sekarang sedang tidak berdaya. Aku takut jika aset-aset ini tidak dikelola dengan benar, orang-orang luar akan mencoba mengambil untung. Aku sudah menyiapkan dokumen pengalihan kuasa sementara agar aku bisa mengurus semuanya atas namamu selama kamu sakit."
Aku memandang map-map itu dengan tatapan hampa yang dipaksakan. Di dalamnya terdapat surat kuasa mutlak, pengalihan hak milik rumah ini, dan akses penuh ke rekening deposito peninggalan Ibu.
"Tapi Mas... itu rumah peninggalan Ayah. Aku ingin menjaganya sampai aku sembuh," bisikku, sengaja memberikan sedikit perlawanan agar aktingku terlihat alami dan tidak mencurigakan.
Dimas menghela napas, wajahnya berubah menjadi sedikit lebih tegas, seolah sedang menasihati anak kecil yang nakal. "Justru karena itu, Laras! Kamu sekarang lumpuh. Untuk membayar biaya pengobatan sarafmu yang mahal itu, kita butuh dana segar. Aku tidak mau kamu kehilangan kesempatan untuk sembuh hanya karena kita kesulitan mengelola aset yang terbengkalai. Percayalah pada suamimu, aku melakukan ini untuk kebaikan kita."
Untuk kebaikanmu dan Maya, bukan? teriakku dalam hati yang menjerit pilu.
"Apa aku harus menandatangani ini sekarang? Kepalaku sangat pusing, Mas," aku memegang dahiku, berakting seolah dunia sedang berputar hebat di mataku.
"Hanya beberapa tanda tangan, Sayang. Setelah itu kamu bisa tidur lagi dengan tenang. Ayo, aku bantu pegang pulpennya."
Dimas membantuku duduk, menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal. Ia menyodorkan selembar kertas pertama. Aku melihat kolom tanda tangan itu. Namun, mataku yang tajam menangkap satu detail kecil yang tidak ia sadari. Di bawah tumpukan kertas itu, ada sebuah dokumen yang judulnya sengaja ditutupi oleh map lain—Surat Pernyataan Jual Beli.
Dia tidak hanya ingin mengelola; dia ingin menjual rumah sejarah keluargaku secepat mungkin.
Dengan tangan yang sengaja dibuat bergetar hebat, aku meraih pulpen itu. Dimas menatapku dengan mata yang penuh nafsu keserakahan.
"Pelan-pelan saja, Sayang," bisiknya, suaranya terdengar seperti desis ular di telingaku.
Aku menggerakkan pulpen itu di atas kertas. Namun, aku tidak memberikan tanda tanganku yang asli. Sebagai penulis yang sering melakukan book signing, aku punya satu versi tanda tangan yang terlihat sangat mirip dengan aslinya namun memiliki satu guratan rahasia di bagian akhir yang hanya aku yang tahu. Secara hukum, jika aku bisa membuktikannya di pengadilan nanti, dokumen ini akan dianggap cacat karena ditandatangani di bawah tekanan dan kondisi fisik yang tidak stabil.
Satu, dua, tiga halaman kutandatangani dengan tangan yang "lemah". Setiap goresan pulpen itu terasa seperti sayatan di jantungku. Aku baru saja menyerahkan kunci rumah orang tuaku pada seorang pengkhianat.
"Terima kasih, Laras. Kamu benar-benar istri yang pengertian," Dimas segera membereskan map itu dengan terburu-buru, seolah takut aku akan menarik kembali kertas-kertas itu. "Sekarang, minum lagi vitaminmu ya. Kamu harus tidur agar sarafmu tidak tegang."
Ia menyodorkan pil putih itu lagi. Aku meminumnya dengan patuh, menyelipkannya di bawah lidah seperti biasa, dan meminum airnya hingga tandas. Begitu Dimas keluar kamar dengan wajah yang berseri-seri seperti pemenang lotre, aku segera membuang pil itu ke tempat sampah tersembunyi.
Aku kembali berbaring, namun kali ini air mata yang jatuh ke bantal adalah air mata kemarahan yang murni. Rumah ini, tempat aku tumbuh besar dan menghabiskan sisa waktu bersama Ayah dan Ibu sebelum mereka pergi, kini sedang dipertaruhkan.
"Ayah... Ibu... Laras tidak akan membiarkan dia menang," bisikku di tengah isak tangis yang tertahan.
Satu jam kemudian, Bi Ijah masuk ke kamar dengan wajah pucat. "Nyonya... Tuan Dimas baru saja pergi lagi. Ijah dengar dia menelepon seseorang di depan gerbang. Dia bilang, 'Barangnya sudah siap, besok kita eksekusi'."
"Besok?" aku tersentak. "Berarti dia berencana mengosongkan rumah ini besok?"
"Ijah kurang tahu, Nyonya. Tapi dia terdengar sangat senang sambil menyebut-nyebut nama apartemen."
Aku segera meraih laptopku. Waktuku semakin sempit. Jika "eksekusi" itu adalah besok, maka aku harus bergerak malam ini juga. Aku menghubungi kembali teman peretasku, Rian.
[Larasati]: "Rian, dia sudah mendapatkan tanda tanganku. Aku butuh kamu melacak ke mana dia membawa dokumen itu. Dan tolong, kirimkan semua bukti rekaman dashcam semalam ke email pengacara keluarga, Pak Surya. Katakan padanya, ini darurat."
Aku menutup laptop dengan perasaan berkecamuk. Di dalam kamar yang sunyi ini, aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di tepi jurang. Namun, aku bukan lagi Larasati yang lemah lembut. Aku adalah seorang penulis yang sedang merancang bab klimaks untuk menghancurkan pengkhianat di hidupku.
Malam nanti, saat Dimas mungkin sedang merayakan kemenangannya dengan Maya, aku akan mulai melangkah. Meski kakiku masih terasa sedikit lemas, dendam ini adalah energi yang akan menggerakkanku.
"Sandiwara ini akan segera berakhir, Mas Dimas," ucapku sambil menatap bayangan diriku di jendela. "Dan kau tidak akan pernah menduga bagaimana caraku menuliskan bab terakhir untukmu."