NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 - MHB

Lampu kristal di aula hotel bintang lima itu berpendar mewah, memantulkan bayangan orang-orang yang berpakaian sangat mahal dan berbicara dalam nada-nada yang sangat terukur. Ini adalah acara perayaan ulang tahun ke-15 agensi tempat Maya bekerja, sekaligus menjadi ajang reuni bagi para alumni eksekutif.

​Maya berdiri di dekat meja prasmanan, menggenggam segelas sparkling water dengan jemari yang sedikit tegang. Ia tampil menawan dengan gaun cocktail berwarna hitam pekat yang membalut tubuhnya dengan sempurna, namun matanya terus waspada. Ia benci acara seperti ini. Baginya, ini hanyalah ajang pamer pencapaian dan status sosial.

​"Maya Clarissa. Tidak berubah sedikit pun. Tetap menjadi wanita paling dingin di ruangan ini."

​Suara itu membuat punggung Maya menegang. Ia mengenali nada angkuh itu. Ia berbalik perlahan dan mendapati Adrian berdiri di sana. Mantan kekasihnya dari tiga tahun lalu, seorang direktur di perusahaan modal ventura yang selalu merasa dunia berputar di bawah kakinya.

​"Adrian. Senang melihatmu sesukses ini," balas Maya singkat, suaranya datar dan formal.

​Adrian tersenyum tipis, matanya memindai Maya dari atas ke bawah. "Aku dengar kamu sudah jadi Account Director. Hebat. Tapi, Maya... sampai kapan kamu mau terus sendirian? Aku lihat di jarimu masih kosong. Apa standar kamu terlalu tinggi, atau memang tidak ada pria yang sanggup mencairkan es di hatimu?"

​Maya mengeratkan genggaman pada gelasnya. "Status pribadiku bukan konsumsi publik, Adrian. Aku lebih fokus pada performa perusahaan daripada sekadar mencari validasi dari sebuah hubungan."

​Adrian tertawa kecil, nada yang merendahkan. "Klasik. Jawaban khas wanita karier yang kesepian. Kamu tahu, di usiaku sekarang, aku butuh seseorang yang bisa mendampingi di acara seperti ini. Bukan cuma pintar kerja, tapi yang bisa membuatku bangga saat aku menggandengnya. Sayang sekali, kamu masih saja terjebak dalam duniamu yang kaku itu. Kamu butuh pria yang mapan, yang selevel, bukan cuma sibuk dengan berkas."

​Maya ingin sekali menyiramkan air di gelasnya ke wajah pria ini. Namun, sebelum ia sempat membalas dengan kalimat tajam, sebuah kegaduhan kecil terjadi di pintu masuk aula.

​Seorang pria muda melangkah masuk. Ia tidak mengenakan tuksedo kaku seperti pria-pria di sana. Ia memakai setelan jas slim-fit berwarna abu-abu gelap dengan kemeja hitam tanpa dasi, kancing atasnya dibiarkan terbuka. Posturnya tegap, bahunya lebar, dan cara berjalannya memiliki kepercayaan diri yang mematikan.

​Maya terbelalak. Arka? Sedang apa dia di sini?

​Arka mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sampai matanya bertemu dengan mata Maya. Senyum nakalnya muncul sekilas sebelum ia berubah menjadi sosok yang sangat berwibawa. Ia melangkah lurus menuju tempat Maya dan Adrian berdiri.

​"Aduh, Kak Maya... untung belum pulang," suara Arka terdengar santai, namun volumenya cukup untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.

​Maya membeku saat Arka berdiri tepat di sampingnya, mengikis jarak hingga bahu mereka bersentuhan. Arka mengeluarkan sebuah gantungan kunci dari sakunya.

​"Ini. Kuncinya ketinggalan di meja makan tadi pagi. Aku tahu Kakak pasti bingung kalau pulang nanti nggak bisa masuk rumah," ucap Arka. Ia tidak menggunakan panggilan "Sayang" seperti saat di depan ibunya, tapi nada bicaranya sangat akrab.

​Adrian menaikkan alisnya, menatap Arka dengan tatapan meremehkan. "Siapa ini, Maya? Anak magang di kantormu?"

​Arka menoleh ke arah Adrian. Ia tidak tampak terintimidasi. Sebaliknya, ia menatap Adrian dengan tatapan malas, seolah Adrian hanyalah gangguan kecil.

​"Gue Arka," jawab Arka singkat, menggunakan bahasa santai yang kontras dengan formalitas di ruangan itu. Ia mengulurkan tangan, namun tidak menunggu Adrian menyambutnya. "Dan lo siapa? Kelihatannya lagi serius banget ngobrol sama Kak Maya."

​"Saya Adrian. Rekan... lama Maya," Adrian menekankan kata 'lama' dengan angkuh. "Kamu bilang kunci rumah? Kamu tinggal satu atap dengan Maya?"

​Maya baru saja ingin membuka mulut untuk menjelaskan tentang "sepupu," namun Arka sudah lebih dulu memotong.

​"Iya, kita satu atap. Gue orang terdekatnya Maya sekarang," Arka berkata sambil menyandarkan satu tangannya di belakang pinggang Maya, pose yang sangat posesif namun terlihat alami. "Kenapa? Ada masalah?"

​Adrian tertawa sinis. "Orang terdekat? Maya, jangan bilang kamu sekarang seleranya anak kuliahan yang bahkan mungkin belum punya NPWP sendiri. Apa dia bisa kasih kamu kehidupan yang layak? Dia bisa kasih apa selain mengantar kunci?"

​Arka terkekeh. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Adrian, membuat pria yang lebih tua itu sedikit mundur karena kalah tinggi.

​"Mungkin gue emang belum punya koleksi mobil mewah sebanyak lo, Mas," ujar Arka dengan nada slang yang tenang namun tajam. "Tapi gue tahu satu hal yang lo nggak tahu. Gue tahu gimana cara bikin dia ketawa pas dia lagi stres kerja. Gue tahu gimana cara jagain dia pas dia lagi sakit sampai pagi. Dan yang paling penting... gue nggak perlu ngerendahin statusnya cuma buat bikin gue nampak hebat."

​Arka kemudian menoleh ke arah Maya, ekspresinya melunak. "Kak, acaranya masih lama? Kalau udah bosen, cabut yuk. Aku udah pesen martabak kesukaanmu di depan apartemen."

​Maya menatap Arka dengan perasaan yang campur aduk. Kekesalannya pada Adrian menguap, digantikan oleh rasa bangga yang tidak terduga terhadap keberanian Arka. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli jika orang kantor melihatnya bersama "anak muda" ini.

​"Adrian, sepertinya pembicaraan kita selesai," ucap Maya tegas, suaranya kembali berwibawa. "Dan seperti yang Arka bilang, selera setiap orang berubah seiring dengan tingkat kedewasaan mereka. Terkadang, kita butuh pria sejati, bukan cuma pria yang mapan di kertas."

​Adrian terdiam, wajahnya merah padam karena malu dan marah saat melihat Maya justru merapatkan tubuhnya ke arah Arka.

​"Yuk, Arka. Kita pulang," ajak Maya.

​Saat mereka sudah berada di parkiran, jauh dari kerumunan, Maya melepaskan tangan Arka dari pinggangnya. Namun, ia tidak melakukannya dengan kasar.

​"Arka, kamu nekat banget," bisik Maya, mencoba menahan senyumnya.

​Arka menyeringai, ia menyandarkan punggungnya di pintu mobil Maya. "Habisnya, aku lihat dari jauh muka Kakak udah seperti mau gigit orang. Pria tadi itu siapa sih? Songong banget gayanya."

​"Mantan pacarku. Dia memang angkuh," jawab Maya singkat. Ia menatap Arka yang masih terlihat sangat tampan dengan jasnya. "Tapi... makasih ya. Tadi itu... keren."

​Arka mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya? Tadi 'orang terdekat' ini dibilang keren sama Senior paling galak se-Jakarta?"

​Maya memutar bola matanya, meski pipinya mulai memerah. "Jangan mulai deh. Tadi kamu bilang ada martabak, kan? Mana?"

​Arka tertawa lepas, ia membukakan pintu mobil untuk Maya dengan gerakan sopan yang sangat maskulin. "Martabaknya belum dibeli, Kak. Tadi itu cuma alasan biar kita bisa kabur dari pria bermulut besar itu. Tapi tenang, aku bakal beli martabak paling enak kalau Kakak janji satu hal."

​"Apa?"

​"Panggil aku 'Arka' saja kalau lagi berdua. Jangan pakai embel-embel 'Kamu' atau panggilan formal kantormu itu," goda Arka sambil mengedipkan mata.

​Maya terdiam sejenak, lalu ia masuk ke mobil dan bergumam pelan sebelum menutup pintu. "Iya, Arka. Cerewet."

Bersambung....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!