NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Di sebuah kamar sederhana bernuansa biru, seorang perempuan duduk menghadap cermin. Ia menyisir rambutnya di iringi senandung lagu yang terdengar merdu. Suaranya yang lembut, membuat siapa saja terpikat dengan suaranya.

"Natalie, sayang! Buruan sarapan. Nanti kamu bisa terlambat!" teriakan mamanya dari ruang makan terdengar sampai kamarnya.

Natalie buru-buru menyelesaikan dandannya, meskipun hanya menyisir rambut saja. Karena mamanya belum memperbolehkan menggunakan make-up, jadilah hanya pakai bedak bayi yang tersimpan rapi di meja rias.

Setelah selesai, Natalie mengambil tasnya, dan segera ke meja makan. Sesampainya di ruang makan, ia melihat keluarganya yang sudah berkumpul. Tapi saat menyusuri area ruang makan, pandangannya terhenti ke arah dua orang yang asyik membuka pintu kulkas.

Kedua tangannya penuh dengan aneka cemilan dan minuman. Natalie hanya menggelengkan kepalanya dibuatnya. Sudah tak heran lagi dengan kelakuan kedua sahabatnya itu.

Iya, dua laki-laki itu adalah Fabian dan Nathan. Sahabatnya mulai saat mereka kecil, atau bahkan sebelum lahir? Ya ... begitulah yang kedua orang tuanya ceritakan. Apalagi, orang tua mereka masih ada hubungan persahabatan. Tak ayal, anak-anaknya juga menjadi sahabat.

Jangan salah, meskipun mereka terlihat selalu akrab—pertengkaran kecil pun sering terjadi di antara mereka. Meskipun begitu, mereka selalu menjadi garda terdepan apabila salah satu dari mereka terkena masalah.

"Nathan, Fabian, sini duduk. Kita sarapan bareng," ajak Sarah, mama Natalie.

"Bentar, Tan. Sedikit lagi selesai," jawab Fabian sambil menata cemilan dan minuman yang mereka bawa.

Sebenarnya, semua snack dan minuman yang mereka bawa itu punya Natalie. Karena kebetulan kemarin saat main di taman mereka melihat cemilan Natalie yang biasanya tersedia di kulkas sudah habis. Jadilah tadi pagi sebelum ke sini mereka beli dulu di supermarket.

Setelah selesai dengan kegiatannya, Fabian dan Nathan ikut makan siang bersama keluarga Natalie. Mereka makan hanya di selimuti keheningan. Karena Davin, papa Natalie memberi aturan agar tidak bicara saat sedang makan, supaya bisa menikmati makanannya tanpa kebisingan.

Selesai makan, mereka bertiga berpamitan kepada kedua orang tua Natalie. Mereka berangkat ke sekolah. Menggunakan motor sport yang sudah terparkir rapi di depan rumah. Biasanya, Natalie juga menggunakan sepeda motornya sendiri. Tapi karena motornya lagi di bengkel, jadilah ia nebeng sama Fabian.

Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sekolah. Sekolah mereka sebenarnya tidak terlalu jauh, bahkan jalan kaki pun bisa. Tapi, karena terlalu mager untuk jalan kaki, jadilah menggunakan motor. Kalau kata Nathan mah gini, "Selagi punya motor, ngapain jalan kaki." Padahal mah, Nathan aja yang malas.

"Ian, nanti pulang sekolah Lo duluan aja," ucap Natalie sambil menyerahkan helm yang di pakainya.

"Lo mau ke mana?" tanya Nathan.

"Emm ... Gue ...," jedanya sambil mengetuk dagunya. "Gue mau pergi sama Caca."

Nathan hanya beroh ria, mengangguk mengerti. Sedangkan Fabian memicingkan matanya curiga. Ia tak yakin kalau Natalie akan pergi bareng Caca. Bukan apa, dirinya pernah hampir di bohongi beberapa waktu lalu oleh Natalie. Bilangnya mau pergi sama Caca, tapi waktu dirinya nelpon Caca untuk memastikan Natalie bersamanya ternyata bohong.

Caca justru bilang kalau seharian mereka masih belum ketemu sama sekali karena ia nggak masuk sekolah. Sejak saat itulah ia sedikit nggak percaya dengan ucapan Natalie.

"Beneran?" tanya Fabian memastikan.

"Bener. Cius!" ucap Natalie sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

"Oke, gue percaya."

Diam-diam Natalie menghela napas lega saat Fabian percaya padanya. "Maaf, gue udah bohongi kalian," ucapnya dalam hati.

Kring!!

Bel masuk berbunyi sangat keras. Mereka pun memasuki kelasnya masing-masing. Nathan, Fabian, dan Natalie, berada di kelas yang sama. Bahkan duduknya pun bersebelahan, di mana Fabian dan Nathan, sedangkan Natalie sebangku dengan Caca.

"Ca, nanti kalau Ian ataupun Nathan nyariin gue—jawab aja gue bareng Lo," bisik Natalie pada Caca agar tak ada yang mendengar.

Caca mengacungkan jempolnya ke arah Natalie. Ia tahu, pasti temannya ini mau pergi ke tempat itu lagi. Jadi ia memaklumi kalau Natalie butuh bantuannya. Ya ... meskipun dengan arti lain ia harus berbohong. Tapi demi temannya ia rela, kok.

Tak lama kemudian, guru masuk ke dalam kelas. kelas yang tadinya ramai, mendadak sepi bak kuburan. Tak ada seseorang pun yang berbicara. Mereka fokus dengan pelajaran yang di terangkan oleh guru di depannya.

Pelajaran telah usai, siswa-siswi berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang meronta-ronta sewaktu pelajaran. Nathan, Fabian, dan Natalie, memilih untuk diam di kelas. Bukan karena tidak lapar, tapi mereka hari ini membawa bekal dari rumah. Sebenarnya cuma Natalie sih, tapi dua sahabatnya itu maksa ingin diam di kelas. Padahal Natalie udah nyuruh mereka ke kantin, merekanya aja yang nggak mau.

Karena merasa kasihan, Natalie berbagi bekal pada dua sahabatnya itu. Saat sedang asyik makan, pintu kelas terbuka dengan lebar. Memperlihatkan kedatangan Caca, dan kedua temannya yang lain—yaitu Isna dan Lina. Di tangan mereka terdapat setumpuk buku, entah dari mana mereka mengambilnya, sepertinya dari ruang guru.

"Natalie, kamu udah selesai makannya?" tanya Caca yang menata buku di meja guru.

"Udah. Kenapa?"

"Kamu nggak lupa kan, yang kita omongin tadi pagi?"

Natalie diam sejenak, mencoba mengingat-ingat apa yang mereka bicarakan tadi pagi. Tangannya mengetuk-ngetuk dagunya, kebiasaannya saat sedang berpikir. Tak lama, ia melebarkan matanya saat ingat.

"Astaga .... Sorry, gue lupa," ucap Natalie di iringi dengan kekehan kecil di akhir.

"It's okay. Ayo kita ke sana sekarang, sebelum masuk."

"Ian, Nata, tolong beresin, ya. Aku mau pergi dulu. Bye-bye," ucap Natalie, berlari kecil ke arah teman-temannya.

Natalie, Caca, Isna, dan Lina berjalan di lorong sekolah yang sepi. Wajar saja, karena kebanyakan saat istirahat pada ke kantin. Ada yang ke perpustakaan, ada yang ke lapangan, bahkan ada yang bersantai di taman sekolah. Jadilah lorong terlihat sepi saat istirahat.

"Ca, Lo yakin dia ada di sana?" tanya Natalie.

"Hm, gue yakin. Gue juga udah mastiin semuanya aman," ucap Caca mantap.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Perpustakaan. Ya, tujuan mereka memang ke sini. Tapi bukan untuk sekedar mencari ataupun membaca buku. Tetapi menemui seseorang yang bisa di sebut sebagai pacar Natalie?

"Natalie!" panggil Arya, seorang laki-laki dengan senyum manisnya. Alisnya yang tebal. Bulu matanya yang lentik, membuatnya menjadi bertambah menawan.

Natalie dan lainnya menghampiri Arya yang duduk di rak paling pojok. Bahkan nyaris tak terlihat dari depan karena tempatnya yang agak ke belakang. Tempat yang cocok untuk bolos pelajaran ataupun mencari ketenangan saat membaca buku.

"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Arya khawatir.

"Aku nggak apa-apa," jawab Natalie dengan senyum manisnya, sampai lesung pipitnya terlihat.

"Tapi, kemarin kamu—"

"Sstt, aku nggak apa-apa kok," potongnya. "Lihat, nggak ada yang luka, kan. Semuanya baik-baik aja."

Arya menuntun kekasihnya untuk duduk di bangku yang tersedia. Tangannya sibuk mengusap rambut kekasihnya yang sangat lembut. Sedangkan Natalie menyandarkan punggungnya pada kursi, menikmati usapan Arya.

"Kamu tau, berapa khawatirnya aku saat itu. Saat aku melihat tubuh kamu terbaring lemah di ranjang pesakitan, sedangkan aku hanya bisa lihat kamu dari luar," ucap Arya di sela-sela usapannya.

" Aku takut. Takut kamu ninggalin aku kayak dulu. Aku takut kamu—" Arya diam, tak sanggup melanjutkan ucapannya. Air matanya menetes, membuat Natalie menatap ke arahnya.

Natalie memegang kedua tangan kekasihnya. Matanya menatap dalam mata Arya, membuatnya memalingkan wajahnya—menghindari tatapan Natalie.

"Hey, lihat aku." Natalie menangkup wajah kekasihnya, membuat ia mau tak mau bertatapan dengan Natalie. "Aku di sini, sama kamu. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku baik-baik saja, bahkan lebih dari itu. Aku janji, aku nggak akan pernah ninggalin kamu seperti dulu. Aku akan selalu ada di sisi kamu."

Di bangku seberang, Caca, Isna, dan Lina memperhatikan interaksi keduanya dengan seksama. Sesekali melihat ke pintu perpustakaan, takut tiba-tiba ada orang yang masuk.

Drrtt … Drrtt…

"Fabian," bisik Caca, pada kedua temannya.

.

.

.

.

Hai semua, selamat datang di karya aku. Ini adalah cerita pertama aku, semoga kalian suka yaa…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!