NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 Desakan Pernikahan

"Astagfirullah...." warga yang berdiri di depan pintu itu benar-benar kaget melihat Emir dan Ayana.

Ayana dengan cepat membalikkan tubuhnya ketika pakaiannya cukup terbuka.

Emir benar-benar kaget dengan langsung berdiri di depan Ayana mencoba untuk menenangkan para warga dan perusahaan Ayana dengan pakaian minyak seperti itu tidak seharusnya menjadi tontonan.

"Kalian berdua benar-benar laknat!"

"Kalian berzina!" umpat salah satu warga langsung memberi tuduhan.

"Tidak!"

"Semua ini salah paham!" tegas Emir berusaha untuk meredakan emosi warga yang memberi tuduhan asal-asalan kepadanya.

"Bagaimana bisa salah paham dengan apa yang kalian lakukan Hah! Kalian berduaan di dalam rumah ini dan berada di dalam kamar mandi, sudah jelas-jelas kalian berdua berzina," ucap pria tersebut menekankan.

"Sudah bawa saja mereka pergi dari sini,"

"Ayo bawa mereka!"

"Mereka harus di hukum adat!"

"Kampung kita bisa sial oleh perbuatan orang-orang kota seperti mereka!"

Warga tidak henti-hentinya menyuarakan kemarahan mereka ingin mengarak kedua pasangan tersebut. Ayana tidak bisa berbicara apa-apa hanya berlindung di belakang Emir dan terlebih lagi pakaian yang sangat minim.

Ayana ketakutan dan Emir tidak bisa mengendalikan warga yang dijatuhkan fitnah kepadanya.

Di bawah hujan rintik-rintik Emir dan Ayana terlihat di arak orang-orang kampung dengan tuduhan perzinahan. Emir mengikuti permintaan orang kampung untuk ikut ke balai desa asalkan memberi kesempatan Ayana memakai pakaiannya yang sewajarnya.

Ayana tidak bisa berbicara apa-apa karena dipenuhi ketakutan saat kedua tangannya ditarik oleh ibu-ibu dengan Emir berusaha untuk tenang saat dirinya dipaksa untuk berjalan lebih cepat lagi menuju balai desa.

Telinga mereka diperdengarkan dengan caci maki merendahkan dan terus saja menganggap bahwa keduanya adalah pezina sampai akhirnya mereka berdua sampai di balai desa dan ternyata Nenek, Kakek dan Paman Ayana sudah berada di sana yang dipanggil oleh warga.

"Nenek!" Ayana berlari menghampiri Nenek dengan berlutut di depan Nene yang sedang duduk.

"Nek, ini tidak benar. Ayana tidak melakukan apapun, warga salah paham," ucap Ayana menangis memegang tangan Nenek mengharapkan wanita yang sangat bijaksana itu bisa percaya dengan kata-katanya.

"Alah jika sudah tertangkap basah akan mengatakan tidak terjadi apapun. Kami para warga tidak buta dan melihat sendiri bagaimana kalian berdua berbuat mesum di dalam rumah Nene Iroh, kalian orang kota hanya terus bisa membuat keonaran di kampung ini, aku ini bisa sial, Zina perbuatan zina kalian!" tegas pria sekitar berusia 50 tahunan yang sejak tadi menegaskan bahwa mereka adalah pezina.

"Tolong hentikan semuanya!" tegas Emir mengambil suara.

"Saya mohon jangan salah paham, saya menekankan sekali lagi tidak melakukan apapun kepada Ayana. Saya tidak mengetahui bahwa Ayana berada di dalam kamar mandi dan saya juga tidak tahu jika di rumah itu tidak ada orang selain Ayana!" tegas Emir dengan suaranya yang lancang.

"Emir, tetapi bukankah kami sudah berpamitan kepada kamu akan pergi sebentar," sahut Kakek.

"Saya tahu itu, saya juga bahkan tidak masuk ke dalam rumah karena hujan deras, salah satu warga menyampaikan kepada saya bahwa Kakek sudah pulang dan mungkin saya pikir beristirahat di kamar dan sementara saya berpikir bahwa Ayana tidak ada di rumah!" tegas Emir memberi penjelasan.

"Alasan saja. Kalian orang-orang yang sangat pintar dan pasti sudah merangkum semua alasan ini jika sudah ketahuan dan jika tidak ketahuan ada saja jawaban, pada intinya kalian sudah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah," tegas salah satu warga tidak mudah percaya dengan apa yang di katakan Emir.

"Percuma berhijab dan terlihat seperti wanita sholehah dan pada nyatanya berbuat hal yang buruk,"

"Orang-orang kota sudah biasa melakukan semua ini,"

"Nikahkan saja mereka berdua dan jika tidak maka kampung kita akan sial. Percuma proyek dilakukan di kampung ini dan pada ujung-ujungnya hanya membuat kampung ini terkena sumpah serakah dari perbuatan mereka!"

"Iya nikahkan saja mereka!"

"Mereka harus menikah,"

"Menikah!"

"Menikah!"

Semua orang berteriak menyuruh pasangan itu untuk menikah. Ayana terlihat panik dengan geleng-geleng kepala berharap Neneknya saat ini bisa membantunya dan sementara Emir sudah mulai terlihat frustasi mendapat caci maki dari warga yang awalnya berbicara manis dan lembut kepadaku.

"Oke, saya menikah dengannya!" tegas Emir dengan lancang akhirnya mengambil keputusan membuat mulut warga mendadak diam.

"Jika memang itu yang kalian inginkan. Maka, saya akan menikah dengan Ayana!" tegas Emir

Ayana kaget mendengar pernyataan atasan nya itu. Suara warga masih terdengar saling berbicara satu sama lain setuju dan tetap saja masih mengumpat mengatakan sial dan mencaci maki pasangan tersebut hanya saja tidak terlalu keras.

Di balai desa dengan pakaian seadanya bahkan sedikit basah, karena terkena gerimis hujan. Ayana harus pasrah saat duduk di samping pria yang tak lain adalah atasannya berjabat tangan dengan penghulu yang berada di depan mereka.

Penghulu itu baru saja mengucapkan ijab kabul yang sudah dimulai. Emir masih terdiam melihat Ayana. Warga mendesak mereka untuk menikah.

"Saya terima nikahnya Ayana putri Hapsari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," sahut Emir akhirnya mengucapkan ijab kabul tersebut.

"Sah!" salah satu warga berbicara begitu keras yang diikuti warga lainnya dan pernikahan itu akhirnya sah membuat air mata Ayana jatuh.

Tidak pernah disangka olehnya perjalanan bisnis berubah menjadi pernikahan, tuduhan dan fitnah yang telah mereka dapatkan membuat mereka akhirnya sah dalam ikatan pernikahan yang tidak diinginkan.

Karena marah dengan sikap orang-orang desa yang tidak mendengarkan penjelasan Emir, tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah membuat Emir malam itu juga meninggalkan desa bersama Ayana.

Ayana harus ikut karena datang ke desa itu berdasarkan pekerjaan dan atasannya pergi maka Ayana juga harus pergi.

Emir masih sopan berpamitan dengan keluarga Ayana yang ternyata juga tidak bisa membantu mereka untuk tidak menikah.

Emir menyampingkan egonya dan memilih untuk pergi dari desa tersebut.

Mobil mereka berhenti di pinggir jalan sekitar 1 jam lebih dari desa dan sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja. Diam dalam kemarahan yang tidak bisa diungkapkan. Keduanya sama-sama berada di luar mobil.

"Aaaaaaa!" Emir berteriak dengan sekencang-kencangnya memijat kepalanya terasa berat mengusap wajahnya dengan kasar dan melihat ke arah Ayana.

"Kenapa semua bisa terjadi? Pemikiran orang-orang yang ada di desa itu benar-benar kampungan, datang menyambutku dengan sukacita, memberi pujian dan merasa tertolong akan desa mereka dengan keberadaan proyek di tempat itu dan pada nyatanya hanya kesalahan yang tidak ada buktinya membuat mereka memberi tuduhan dan fitnah seperti ini!" tegas Emir melampiaskan kemarahannya kepada Ayana.

"Kamu juga tidak bisa bertindak apapun? membiarkan semuanya?" teriak Emir.

"Saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Pak," sahut Ayana dengan suara rendah.

"Lalu kenapa tidak mencoba untuk membela diri dan menyatakan kepada mereka jika tidak terjadi apapun diantara kita!" tegas Emir dengan nada suaranya semakin tinggi.

"Bukankah saya sudah mencoba untuk melakukannya, saya tidak membiarkan bapak untuk menjelaskan kepada warga," sahut Ayana.

"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu saya jika kamu sudah pulang?" tanya Emir.

"Bapak coba periksa ponsel dulu," jawab Ayana membuat Emir mengerutkan dahi.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!