Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Badai di Depan Mata
Di bab ini, dunia mulai mengetahui keberadaan mereka dan konsekuensi besar pun datang.
▪︎▪︎▪︎
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 6: Badai di Depan Mata
Pagi harinya, berita tentang ledakan energi di Menara Pengawal Lama sudah menyebar ke seluruh penjuru kota Lunaria lebih cepat daripada kilat. Para penjaga kota menemukan jejak-jejak pertarungan dan bekas sihir tingkat tinggi yang menghitamkan batu-batu di sana.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang bertarung di sana, tapi semua orang bisa merasakannya. Udara di kota terasa berbeda. Ada bau listrik statis yang menyengat, campuran antara aroma bunga malam yang harum dan asap mesiu yang tajam.
Di Kedai Bintang Jatuh, suasana terasa sangat tegang.
Nenek Mara berdiri di ruang tengah, tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya masam, menatap Elara dan Kael yang duduk berdampingan di sofa tua. Ya, Kael ada di sana. Pemuda itu tidak pulang semalam. Ia memilih tinggal untuk menjaga Elara, terutama setelah lengan kirinya terluka akibat pisau lempar tadi malam.
"Jadi... kalian benar-benar melakukannya?" tanya Nenek Mara, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kalian membuka segel itu? Menyatukan kekuatan kalian?"
Elara mengangguk pelan, sedikit menunduk merasa bersalah. "Maafkan kami, Nek. Kami tidak punya pilihan lain. Mereka ingin membunuh kami."
"Dan jika tidak disatukan, mungkin kami sudah tidak ada di sini sekarang," tambah Kael. Suaranya tenang, namun tegas. Ia tidak terlihat menyesal sedikitpun. "Sekte Pembelah Takdir sudah bergerak. Mereka tidak akan membiarkan siapapun yang memiliki ikatan takdir kuat tetap hidup."
Nenek Mara menghela napas panjang, lalu duduk di kursi hadapan mereka. Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam.
"Kalian mengerti bukan, apa artinya ini? Gabungan antara sihir Peramal Benih Jantung dan Juru Pisah Takdir... itu adalah kekuatan legendaris. Dulu, kekuatan seperti ini dianggap mitos. Kini kalian membuktikannya nyata."
Nenek Mara menatap mereka bergantian.
"Dewan Sihir pasti akan mendengarnya. Mereka adalah penguasa kota ini. Mereka tidak akan membiarkan kekuatan sebesar ini berjalan seenaknya tanpa pengawasan. Mereka akan datang mencari kalian."
"Biarkan mereka datang," kata Kael dingin. "Aku tidak takut pada Dewan."
"Kau harus takut," potong Nenek Mara tegas. "Dewan tidak memandang siapa yang benar atau salah. Mereka hanya memandang keseimbangan. Dan bagi mereka, keberadaan kalian berdua adalah ancaman bagi keseimbangan itu. Kau, Kael Voss, dikenal sebagai pembawa kehancuran. Dan Elara... cucuku, kau sekarang menjadi sumber kekuatan terbesar di kota ini."
Elara meremas ujung bajunya. Ia merasakan getaran aneh di tangannya. Sejak semalam, ia bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya dengan sangat jelas. Ia bisa merasakan emosi mereka, benang-benang takdir yang menghubungkan mereka, bahkan niat buruk yang tersembunyi. Kekuatannya kini mengalir bebas, tanpa batas. Rasanya luar biasa, namun juga menakutkan.
"Jadi... apa yang harus kami lakukan?" tanya Elara lemah.
"Kalian harus bersiap," jawab Nenek Mara. "Dan kalian harus saling menjaga. Karena mulai hari ini, kalian bukan lagi dua individu yang terpisah. Jiwa kalian sudah menyatu. Jika salah satu terluka, yang lain akan merasakannya. Jika satu mati... yang lain tidak akan bisa bertahan lama."
Kael menoleh ke arah Elara. Ia menggenggam tangan gadis itu di bawah meja. Sentuhan itu hangat dan menenangkan.
"Aku janji, Nek. Aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri," ucap Kael dengan sungguh-sungguh.
Beberapa jam kemudian, kedai itu kembali sepi. Kael duduk di beranda belakang, membiarkan angin sore menerpa wajahnya sementara Elara merawat luka di lengannya.
Elara membersihkan luka sayatan di lengan Kael dengan kapas dan obat herbal. Lukanya cukup dalam, namun karena sihir Kael yang kuat, lukanya sudah mulai mengering.
"Sakit?" tanya Elara pelan.
"Tidak semenakutkan tatapan Nenek Mara tadi," jawab Kael bercanda, sedikit mengangkat sudut bibirnya. Itu adalah senyum tipis yang sangat jarang ia tunjukkan pada orang lain.
Elara terkekeh pelan. "Terima kasih, Kael. Karena sudah mau menerimaku. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."
Kael diam sejenak, lalu membalikkan tangannya, menggenggam tangan Elara yang sedang membersihkan lukanya.
"Dulu, aku berpikir bahwa cintaku akan membeku selamanya. Bahwa aku diciptakan hanya untuk memisahkan orang lain, bukan untuk bersatu." Kael menatap mata perak Elara yang kini bersinar indah. "Ternyata Tuhan punya rencana lain. Dia menutup hatimu, agar menungguku datang membukanya. Dan dia membekukan hatiku, agar hanya kau yang bisa mencairkannya."
Elara merasakan pipinya memanas. Kael memang orangnya dingin dan serius, tapi setiap kali ia berkata manis, kata-katanya selalu tepat mengenai sasaran, membuat jantung Elara berdebar kencang.
"Tapi kau benar tentang ancaman itu," lanjut Kael, suaranya kembali serius. "Orang-orang yang menyerang kita tadi malam... mereka terlatih. Mereka bukan penjahat biasa. Mereka punya organisasi yang kuat."
"Apakah mereka akan datang lagi?"
"Mereka pasti akan datang lagi. Tapi kali ini, kita tidak akan sendirian. Kekuatan kita sudah penuh. Jika mereka berani menyentuh sehelai rambut pun kepalamu..." Mata Kael memancarkan aura mematikan. "...Aku akan hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."
Tiba-tiba, di kejauhan, terdengar suara lonceng besar berbunyi bertalu-talu.
TANG... TANG... TANG...
Bunyi itu berasal dari Menara Dewan di pusat kota. Suaranya bergema panjang dan mendayu, namun nadanya tidak biasa. Itu adalah bunyi lonceng peringatan.
Wajah Kael berubah tegang. Ia berdiri cepat, menatap ke arah kota.
"Mereka sudah tahu," bisik Kael. "Dewan Sihir sudah memanggil kita."
Elara juga berdiri, memegang lengan Kael. "Apa yang harus kita lakukan? Pergi ke sana?"
"Tidak ada pilihan lain," jawab Kael, lalu menatap Elara dengan lembut. "Pegang tanganku erat-erat, Elara. Apa pun yang terjadi di sana, jangan lepaskan. Ingat, kekuatan kita ada pada kesatuan kita."
Elara mengangguk mantap. Ia menggenggam tangan Kael dengan kuat. Rasa takut memang ada, tapi selama ia bersama pemuda ini, ia merasa bisa menghadapi apa pun.
Mereka berdua berjalan keluar dari kedai, meninggalkan Nenek Mara yang berdiri mematung di pintu, mendoakan keselamatan cucunya dari jauh.
Langit di atas Lunaria tampak mendung gelap, seolah mencerminkan nasib mereka yang kini sedang diujung tanduk. Pertemuan dengan Dewan Sihir bukan hanya soal menanyakan kabar, itu adalah pengadilan. Dan hukuman bagi penyimpang takdir... seringkali adalah kematian atau penguncian kekuatan selamanya.
°
°
°
(Bersambung ke Bab 7...)
Gimana Bab 6 ini? Tegang banget kan, mau diadili sama Dewan Sihir nih! 😰
Mau lanjut ke Bab 7 di mana mereka menghadapi para tetua Dewan dan rahasia masa lalu Elara semakin terungkap?