Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rumah Tanpa Atap
Langkah kaki Arjuna Wijaya kini memasuki wilayah perbatasan Jombang menuju Kediri. Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang luar biasa. Namun, sesuai perintah Syeikh Nur Jati, Arjuna tetap berjalan tanpa alas kaki. Anehnya, meskipun aspal sangat panas, Arjuna merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas hamparan embun yang sejuk.
"Golekono omah sing ora ana atape, lan pethukno wong sing ora duwe bayangan..." gumam Arjuna berulang kali. Kalimat itu terus berputar di otaknya seperti gasing.
(Carilah rumah yang tidak ada atapnya, dan temuilah orang yang tidak punya bayangan...)
Di pinggir jalan raya yang gersang, Arjuna melihat sebuah kerumunan kecil di bawah pohon munggur yang rindang. Di sana, nampak tiga pemuda yang terlihat sangat kontras dengan suasana pedesaan. Mereka adalah Mustafa, Irvio, dan seekor kambing berbulu putih bersih yang sedang memakai kacamata hitam di lehernya.
"Oke, Guys! Review jujur hari ini, air tebu di pinggir jalan ini ratingnya sepuluh per sepuluh! Seger banget, apalagi kambing gue juga doyan!" seru Mustafa sambil mengarahkan kamera ke arah si kambing yang sedang mengunyah batang tebu.
Irvio yang memegang kamera tertawa terbahak-bahak. "Gila lo Mus, kambing lo makin hari makin pinter milih makanan daripada gue!"
Arjuna berhenti sejenak di dekat mereka. Ia merasa terhibur dengan kepolosan dan keceriaan ketiga sahabat itu. Namun, batin Arjuna menangkap sesuatu. Ia melihat bayangan Mustafa dan Irvio memanjang di aspal karena sinar matahari, tapi saat ia melihat ke arah si Kambing, ia tertegun.
Bukan karena kambing itu tidak punya bayangan, tapi karena di belakang kambing itu, berdiri seorang pria tua berpakaian putih bersih yang sedang memegang tali tuntun gaib. Pria tua itu tidak memantulkan bayangan sedikit pun ke tanah, seolah-olah cahaya matahari menembus tubuhnya begitu saja.
"Nyuwun sewu, Mas Mustafa, Mas Irvio... niku kambinge saking pundi?" tanya Arjuna dengan suara tenang.
(Permisi, Mas Mustafa, Mas Irvio... itu kambingnya dari mana?)
Mustafa dan Irvio menoleh. Mereka kaget melihat pemuda kusam, tak beralas kaki, namun memiliki tatapan mata yang sangat dalam dan damai. "Eh, ini kambing warisan, Mas. Kenapa? Mau direview juga?" canda Mustafa.
Arjuna hanya tersenyum tipis. Ia tidak melihat kambingnya, melainkan melihat sosok "Orang Tanpa Bayangan" yang berdiri di belakangnya. Pria tua gaib itu mengisyaratkan tangan agar Arjuna mengikutinya menuju sebuah bukit kecil di kejauhan.
"Matur nuwun, Mas. Monggo lanjutaken review-ne," ucap Arjuna sambil melangkah pergi, meninggalkan Mustafa dan Irvio yang saling pandang kebingungan.
"Mus, itu orang auranya kok beda ya? Kaya adem banget liatnya," bisik Irvio sambil menurunkan kameranya. Mustafa hanya mengangguk pelan, mendadak kehilangan kata-kata lucu yang biasanya ia siapkan.
Arjuna mendaki bukit itu dengan napas yang teratur. Di puncak bukit, ia menemukan apa yang dimaksud oleh Syeikh Nur Jati. Bukan sebuah bangunan rumah dari semen atau kayu, melainkan sebuah Kuburan Tua yang berada di bawah langit terbuka. Kuburan itu hanya dibatasi oleh pagar tanaman pendek, tanpa genteng, tanpa asbes. Inilah "Rumah Tanpa Atap" yang sesungguhnya.
Di tengah kuburan itu, duduklah pria tua tanpa bayangan yang tadi ia lihat. "Kowe wis pethuk omahe, Arjuna. Omahe menungso sing sejati iku ora ana atape, mergo langsung madep marang Gusti," ucap pria itu tanpa menggerakkan bibir.
(Kamu sudah ketemu rumahnya, Arjuna. Rumah manusia yang sejati itu tidak ada atapnya, karena langsung menghadap ke Tuhan.)
Arjuna langsung bersujud di atas tanah makam yang harum. Ia menyadari hakikat "Ilang". Di dalam kubur, tidak ada pangkat Sultan, tidak ada harta Jakarta, tidak ada pengagum. Yang ada hanyalah amal dan cahaya.
"Menungso sing ora duwe bayangan iku menungso sing wis ora duwe 'Aku'. Cahaya Gusti wis nyatunggal ing jerone, nganti peteng (bayangan) wis ora saged manggon," tambah suara gaib itu.
(Manusia yang tidak punya bayangan itu manusia yang sudah tidak punya 'Aku'. Cahaya Tuhan sudah menyatu di dalamnya, sampai gelap/bayangan sudah tidak bisa tinggal.)
Seketika, tubuh Arjuna bergetar hebat. Ia merasakan sensasi luar biasa di mana ia merasa menyatu dengan tanah, menyatu dengan langit, dan menyatu dengan setiap hembusan angin. Inilah ilmu makrifat yang sesungguhnya: merasa hamba di depan Sang Pencipta.
Saat ia bangun dari sujudnya, makam itu mendadak sunyi. Sosok pria tanpa bayangan itu hilang, namun di atas batu nisan tua itu tergeletak sebuah Sorban Putih yang sangat wangi. Arjuna mengambilnya dan melilitkannya di kepalanya.
Kini, Arjuna Wijaya telah lulus dari ujian "Ilang". Ia tidak lagi takut pada apa pun di dunia ini, karena ia tahu bahwa dirinya hanyalah bayangan, sementara Allah adalah Cahaya di atas Cahaya.
Perjalanan berlanjut. Kali ini tujuannya adalah Kediri, tempat di mana musuh-musuh spiritualnya sudah menunggu untuk menjebak Sang Penjaga Sarung.
Arjuna melangkah turun dari bukit makam keramat itu dengan sorban putih pemberian gaib melilit rapi di kepalanya. Meskipun matahari Jombang masih menyengat, langkah kakinya kini tidak lagi menimbulkan suara debu yang berterbangan. Ia seolah berjalan satu senti di atas permukaan tanah, sangat ringan dan penuh ketenangan.
Sesampainya di bawah, di dekat kedai air tebu tadi, suasana yang tadinya ceria berubah menjadi tegang. Arjuna melihat Mustafa dan Irvio sedang dikepung oleh tiga orang pria berbadan besar dengan tato di lengan mereka. Kamera milik Irvio nampak dirampas, dan si Kambing kacamata hitam itu terus mengembik ketakutan karena talinya ditarik paksa oleh salah satu preman.
"Heh, Cah Bagus! Kowe shooting-shooting neng kene kudu bayar pajek! Endi dhuwitmu?" bentak preman yang paling besar sambil menodongkan pisau lipat ke arah Mustafa.
Mustafa nampak pucat pasi, sementara Irvio mencoba melindungi kameranya yang sudah retak. "Ampun Mas, kita cuma lagi review minuman kok, nggak ada maksud lain," ucap Irvio gemetar.
Arjuna berhenti tepat sepuluh langkah di belakang kerumunan itu. Ia menarik napas dalam, memanggil kekuatan "Ilang" yang baru saja ia sempurnakan di puncak bukit. Ia tidak merasa marah, ia hanya merasa iba melihat manusia yang masih diperbudak oleh hawa nafsu dan uang.
"Kang... parange dipun simpen. Mboten prayogi ngganggu wong sing lagi golek pangan," ucap Arjuna dengan nada suara yang sangat rendah, namun anehnya suara itu menggema seperti suara guntur di telinga para preman tersebut.
(Kang... pisaunya disimpan. Tidak pantas mengganggu orang yang sedang mencari makan.)
Ketiga preman itu menoleh serentak. Mereka tertawa melihat sosok Arjuna yang tak beralas kaki dan berbaju kusam. "Wah, nambah siji maneh gembel sing kakehan polah! Kowe sopo? Wali?" ejek preman bertato macan itu sambil melangkah mendekati Arjuna.
Arjuna hanya berdiri diam. Ia tidak memasang kuda-kuda silat. Ia hanya menatap mata preman itu dengan tatapan kosong. Saat matahari tepat di atas kepala, Mustafa dan Irvio tersentak kaget. Mereka melihat ke bawah kaki Arjuna.
"Mus... deloken sikile pemuda kuwi! Kok... kok ora ono ayang-ayange?" bisik Irvio dengan suara bergetar hebat.
(Mus... lihat kaki pemuda itu! Kok... kok tidak ada bayangannya?)
Benar saja. Di bawah terik matahari yang sangat panas, ketiga preman itu memiliki bayangan hitam yang jelas di aspal, namun di bawah kaki Arjuna, tanah itu nampak bersih. Cahaya matahari seolah-olah menembus raga Arjuna begitu saja.
Preman yang hendak memukul Arjuna mendadak berhenti. Tangannya kaku di udara. Ia melihat wajah Arjuna berubah menjadi sangat berwibawa, dan di belakang Arjuna, bayangan Macan Putih Kyai Loreng nampak sangat nyata, ukurannya sebesar mobil jip dengan mata emas yang menyala-nyala.
"Lungo... sakdurunge atimu dadi watu," perintah Arjuna pendek.
(Pergi... sebelum hatimu jadi batu.)
Seketika, ketiga preman itu berteriak ketakutan. Mereka merasa jantung mereka diremas oleh kekuatan yang tidak terlihat. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan kamera dan melepaskan tali si kambing tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun.
Mustafa dan Irvio terduduk lemas di aspal. Mereka menatap Arjuna dengan perasaan campur aduk antara takut dan kagum yang luar biasa. Si kambing pun mendekat ke arah Arjuna dan merundukkan kepalanya, seolah memberi hormat pada sang majikan ruhani yang baru.
"Mas... Mas itu siapa sebenarnya? Kenapa bayangan Mas nggak ada?" tanya Mustafa sambil gemetar saat mengambil kameranya yang jatuh.
Arjuna membantu mereka berdiri dengan senyum yang sangat tulus. "Kulo namung hamba sing mboten nggadhahi nopo-nopo, Mas Mustafa. Matur nuwun sampun njaga kambing niki, niki sanes kambing sembarangan," jawab Arjuna lembut.
Irvio langsung mematikan kameranya. Ia merasa tidak pantas merekam momen sakral ini untuk sekadar konten review. "Mas mau ke mana? Biar kita antar pakai mobil proyek kita di depan," tawar Irvio tulus.
Arjuna menggeleng pelan. "Mboten, Mas. Kulo kedah mlaku. Perjalanan kulo tasih tebih dumateng Kediri. Monggo, lanjutaken anggone bungah-bungah, nanging elingo marang Sing Gawe Urip."
Arjuna kembali melangkah pergi. Kali ini, si kambing kacamata hitam itu terus mengikuti langkah Arjuna dari belakang, meninggalkan Mustafa dan Irvio yang hanya bisa terpaku melihat punggung sang musafir yang perlahan menghilang ditelan cakrawala Jombang.
Di dalam tas bututnya, cermin perunggu tua itu mendadak hangat. Arjuna tahu, di Kediri nanti, ia tidak akan lagi bertarung melawan preman pasar, melainkan melawan dukun-dukun sakti kiriman Mr. Richard yang sudah menyiapkan jebakan maut.