Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RANTAI MASA LALU
Ruang perawatan di klinik rahasia Al-Ghifari di Subang itu terasa sangat dingin. Bau antiseptik bercampur dengan kesunyian yang hanya dipecahkan oleh ritme teratur dari monitor detak jantung. Di atas ranjang putih, Zayn Al-Fatih terbaring tak berdaya. Selang infus menembus punggung tangannya, dan perban tebal melilit kepala serta lengan kanannya.
Aaliyah Humaira duduk di kursi sebelah ranjang. Di tangannya, kalung emas dengan liontin huruf "A" itu terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah panas yang membakar telapak tangannya. Matanya menatap wajah Zayn yang pucat pasi, wajah pria yang beberapa jam lalu melemparkan tubuhnya sendiri untuk menjadi tameng dari ledakan bom.
Ya Allah... hatiku rasanya seperti dirobek menjadi dua. Pria ini berdarah untuk melindungiku, tapi kalung ini... benda peninggalan Ibuku ini membawa pesan bahwa keluarganya adalah dalang kehancuran masa laluku. Sultan ingin aku membenci Zayn. Sultan ingin aku pergi meninggalkannya. Aku tahu ini adalah jebakan psikologis yang licik.
Aaliyah menggenggam kalung itu erat-erat hingga buku jarinya memutih. Alih-alih menangis histeris atau memaki nasib seperti pahlawan wanita yang naif, pikiran logis Aaliyah mengambil alih.
Ia meletakkan kalung itu di atas meja, lalu membuka laptopnya.
Aku adalah H_Zero. Aku tidak bekerja berdasarkan asumsi atau fitnah. Aku bekerja berdasarkan data. Jika keluarga Al-Ghifari benar-benar terlibat dalam pembakaran pesantren dua puluh tahun lalu, pasti ada jejaknya. Kertas bisa terbakar, tapi rekam jejak digital masa lalu, jika dicari cukup dalam, tidak akan pernah mati.
Jemari Aaliyah mulai mengetik dengan cepat, namun sehalus mungkin agar tidak membangunkan Zayn. Ia menerobos masuk ke arsip nasional dan basis data kepolisian lama yang sudah didigitalisasi. Ia mencari laporan kejadian dua puluh tahun lalu di desa tempat Pesantren Al-Azhar berada.
Paragraf demi paragraf dokumen tua ia pindai. Matanya menyipit saat menemukan sebuah laporan investigasi kepolisian yang statusnya ditutup secara paksa.
"Laporan Kasus: Kebakaran Pesantren Al-Azhar. Tersangka: Nihil. Kasus ditutup karena kurang bukti."
Aaliyah meretas lebih dalam, mencari log keuangan perusahaan Al-Ghifari di tahun yang sama. Ia menyilangkan data tanggal kejadian kebakaran dengan aliran dana keluar dari rekening pribadi mendiang Tuan Besar Al-Ghifari—ayah angkat Zayn.
Napas Aaliyah tercekat. Layar laptopnya menampilkan sebuah transaksi ganjil.
Satu minggu sebelum kebakaran... Ayah angkat Zayn mencairkan dana tunai sebesar lima miliar rupiah. Dan tepat tiga hari setelah kebakaran, tanah di sekitar pesantren itu secara resmi dibeli oleh perusahaan cangkang milik Sutan Al-Fahri Senior—ayah dari Sultan. Mengapa mereka bekerja sama? Apakah Ayah angkat Zayn yang mendanai pembakaran itu untuk memuluskan jalan Sutan?
Tubuh Aaliyah bergetar hebat. Fakta yang terpampang di layar monitornya terlalu brutal untuk dicerna. Kalung ibunya yang hilang saat kebakaran itu... bisa jadi memang diambil sebagai 'piala' atau jaminan oleh para pelaku.
Tiba-tiba, terdengar suara erangan pelan dari arah ranjang.
Aaliyah segera menutup laptopnya. Ia berdiri dan mendekat ke arah Zayn. Pria itu perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang menyilaukan.
"Aaliyah..." suara Zayn serak dan sangat lemah. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya, namun meringis kesakitan saat ototnya yang terluka merespons.
"Jangan bergerak, Zayn. Jahitan di lenganmu sangat dalam," Aaliyah menahan tangan Zayn dengan lembut. "Dokter bilang kau butuh istirahat total."
Zayn menatap Aaliyah. Di mata yang biasanya setajam elang itu, kini hanya ada kerentanan. "Ibu... ibuku bagaimana?"
"Ibu Sarah aman. Tim di Singapura sudah mengamankan ruangannya secara fisik dan sistemnya sudah saya bersihkan. Beliau stabil," jawab Aaliyah dengan nada menenangkan.
Zayn menghela napas panjang, sebuah napas kelegaan yang membuat dadanya naik turun dengan berat. "Alhamdulillah... Dan kau? Kau tidak terluka, kan? Saat ledakan itu... aku takut aku terlambat mendorongmu."
Pertanyaan itu membuat dada Aaliyah terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menggenang di pelupuk matanya.
Lihatlah pria ini. Tubuhnya hancur, namun yang pertama kali ia tanyakan adalah aku dan ibunya. Bagaimana bisa pria dengan hati sebesar ini adalah penerus dari keluarga yang mungkin telah membunuh ibuku? Tidak... aku tidak boleh memendam ini. Kesalahpahaman hanya akan menjadi kanker dalam hubungan kami.
Aaliyah menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak menjadi klise. Ia tidak akan lari dan meninggalkan Zayn tanpa penjelasan. Ia akan menghadapinya.
"Saya tidak terluka secara fisik, Zayn," ucap Aaliyah. Suaranya bergetar, namun tatapannya lurus ke dalam mata Zayn. "Tapi Sultan... dia meninggalkan sesuatu untuk saya di lokasi ledakan."
Aaliyah mengambil kalung emas dari atas meja dan meletakkannya di telapak tangan Zayn yang tidak terluka.
Zayn menatap kalung itu. Awalnya, ia tampak bingung. Namun, beberapa detik kemudian, mata Zayn membelalak. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pias, seolah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu.
"Ini..." Zayn terbata-bata. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, membuat monitor di samping ranjang berbunyi lebih nyaring.
"Di balik liontin itu ada ukiran pesan dari Sultan," lanjut Aaliyah, air matanya kini mulai jatuh membasahi pipinya. "Kalung ini adalah milik almarhumah ibu saya. Kalung ini hilang saat malam pesantren kami dibakar dua puluh tahun yang lalu. Malam di mana ibu saya sesak napas karena asap dan akhirnya meninggal dunia."
Zayn mencengkeram kalung itu. Ia mencoba bangkit dari baringnya, mengabaikan rasa sakit yang merobek lengannya.
"Zayn, jangan bangun!" Aaliyah mencoba menahannya, namun Zayn bersikeras untuk duduk.
"Aaliyah... kau menemukan ini di tempat ledakan?" tanya Zayn, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan dan kengerian.
"Iya. Sultan ingin saya percaya bahwa keluarga Al-Ghifari yang berada di balik pembakaran itu. Saya baru saja memeriksa aliran dana perusahaan ayah angkatmu dua puluh tahun lalu... ada uang lima miliar yang keluar seminggu sebelum kejadian," Aaliyah berkata jujur. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit. "Zayn, katakan padaku. Apakah kau pernah melihat kalung ini?"
Batin Zayn menjerit: Ya Tuhan! Jangan... kumohon jangan biarkan ini nyata. Kalung ini... aku tahu kalung ini! Ini adalah kalung yang selalu disimpan oleh Ayah angkatku di brankas rahasianya di ruang kerja. Dia pernah bilang ini adalah 'kenang-kenangan dari sebuah dosa besar'. Apakah dosa besar itu adalah pembakaran Al-Azhar? Apakah harta yang aku nikmati selama ini dibangun di atas abu keluarga wanita yang aku cintai?!
Zayn menunduk. Tangan kirinya yang memegang kalung itu bergetar sangat hebat. Ia tidak ingin berbohong pada Aaliyah, tapi kebenaran ini terlalu mengerikan untuk diucapkan.
"Aaliyah..." suara Zayn pecah. Setetes air mata jatuh dari sudut mata Si Raja Es, membasahi selimut putih di pangkuannya. "Aku... aku pernah melihat kalung ini di brankas pribadi Ayahku saat aku masih remaja."
Dunia Aaliyah seolah runtuh seketika. Meskipun ia sudah menduganya dari data yang ia retas, mendengar pengakuan langsung dari mulut Zayn terasa seperti tusukan belati tepat di jantungnya.
Aaliyah mundur satu langkah. Tangannya menutupi mulutnya. Isakannya pecah memenuhi ruangan yang dingin itu.
"Jadi... jadi itu benar? Harta dan kekuasaan keluarga Al-Ghifari... dibangun dengan cara menghancurkan keluargaku?" tangis Aaliyah tak terbendung.
Ya Allah! Mengapa? Mengapa harus dia? Pria yang baru saja memberikan cincin padaku, pria yang berjanji akan menjadi pelindungku... ternyata adalah ahli waris dari rasa sakitku!
Zayn memaksa tubuhnya turun dari ranjang. Selang infusnya terlepas paksa, memancarkan titik-titik darah ke lantai pualam putih. Ia mengabaikan rasa sakitnya dan bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki Aaliyah.
"Zayn! Apa yang kau lakukan?!" Aaliyah terkejut melihat Zayn yang berlutut di depannya dengan kondisi berdarah.
"Aku tidak tahu, Aaliyah! Aku berani bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah tahu sejarah kelam ini!" Zayn mendongak, menatap Aaliyah dengan air mata penyesalan yang mendalam. "Ayah mengadopsiku setelah kejadian itu. Aku dibesarkan tanpa mengetahui darah siapa yang tertumpah demi perusahaan itu."
Zayn meraih ujung gamis Aaliyah dengan tangan kirinya yang gemetar.
"Sultan melakukan ini untuk memisahkan kita. Dia memberikan fakta setengah matang untuk membuatmu membenciku. Kumohon, Aaliyah... hukum aku. Pukul aku jika itu bisa meredakan rasa sakitmu. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku karena dosa masa lalu yang bahkan tidak aku ketahui."
Batin Zayn: Jangan menatapku dengan tatapan kecewa itu, Aaliyah. Aku rela kehilangan seluruh hartaku hari ini juga, asalkan aku tidak kehilangan dirimu. Ayah... mengapa kau mewariskan kutukan seberat ini padaku? Bagaimana aku bisa membahagiakan wanita ini jika nama belakangku adalah sumber dari penderitaannya?
Aaliyah menatap Zayn yang bersimpuh lemah di depannya. Hatinya tercabik-cabik. Di satu sisi, logika dan rasa hormat pada ibunya menuntutnya untuk pergi dari sana. Namun di sisi lain, pria yang bersimpuh ini telah membuktikan cintanya dengan mempertaruhkan nyawa berkali-kali.
"Bangunlah, Zayn. Luka Anda berdarah lagi," ucap Aaliyah dengan suara yang sangat lelah. Ia tidak bisa menyalahkan pria yang sama-sama menjadi korban ketidaktahuan.
"Aku tidak akan bangun sebelum kau berjanji tidak akan meninggalkanku," Zayn bersikeras, kepalanya menunduk dalam.
Aaliyah ikut berlutut, menyejajarkan dirinya dengan Zayn. Ia mengambil sapu tangan yang pernah Zayn berikan padanya dulu, lalu menekannya pada luka infus Zayn yang berdarah.
"Sultan mengira fakta ini akan membuatku lari terbirit-birit karena patah hati," Aaliyah menatap mata Zayn dengan ketegaran yang luar biasa. "Dia salah. Ayah Anda mungkin memiliki dosa di masa lalu, tapi Anda adalah orang yang berbeda. Kita akan membongkar seluruh kebenarannya bersama-sama."
Zayn tertegun. Ia menatap Aaliyah seolah sedang menatap sesosok bidadari yang turun dari langit untuk mengampuni pendosa sepertinya.
Namun, sebelum Zayn sempat mengucapkan rasa syukurnya, pintu ruang perawatan itu diketuk dengan kasar. Ben masuk dengan wajah yang tegang. Ponsel di tangannya masih menyala.
"Tuan Muda... maaf mengganggu. Ada masalah sangat genting di Jakarta." Ben ragu-ragu menatap Aaliyah, lalu melanjutkan laporannya. "Rapat Pemegang Saham Darurat baru saja digelar tanpa persetujuan Anda. Mereka... mereka melengserkan Anda dari kursi CEO."
Zayn mematung. "Atas dasar apa?!"
"Skandal pembunuhan," jawab Ben dengan suara parau. "Ada video rekayasa yang baru saja disebar ke publik. Video itu menunjukkan Anda sedang menyerahkan koper berisi uang kepada seorang preman berwajah mirip dengan orang yang menyerang pesantren tadi. Narasi yang dibangun adalah... Anda yang menyewa mereka untuk meledakkan pesantren demi menutupi skandal dengan Nona Aaliyah."
Dunia kembali berputar dengan sangat kejam. Fitnah itu tidak hanya menghancurkan reputasi, tapi juga telah merenggut singgasana kekuasaan sang Harimau.
Sultan telah memainkan kartu as-nya.
Batin Aaliyah: Ya Allah... mereka tidak memberi kami ruang untuk bernapas. Sultan memfitnah Zayn sebagai pelaku pengeboman pesantrenku sendiri? Ini gila! Jika Zayn kehilangan perusahaannya, dia akan kehilangan seluruh sumber daya untuk melindungi ibunya dan perlindungan hukum kami.
Zayn terdiam. Namun anehnya, tidak ada kepanikan di wajahnya. Ia justru tersenyum miring, sebuah senyum mengerikan yang menandakan bahwa batas kesabarannya telah resmi habis.
"Ben," ucap Zayn dengan suara yang sangat pelan namun mematikan. "Siapkan laptop cadangan. Beritahu dewan direksi, jika mereka ingin bermain kotor... aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana cara kerja iblis yang sebenarnya."
Zayn berdiri dibantu oleh Aaliyah. Perang baru saja bergeser. Bukan lagi tentang mempertahankan kekuasaan, melainkan tentang menghancurkan segalanya untuk membangunnya kembali dari awal.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji