Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sepihak Nyonya Mahendra
"Maaf, Kak, ngerepotin Kak Bayu pas libur," kata Nia saat Bayu memasuki kamar kosnya. Bayu tersenyum hangat.
"Nggak repot. Sekalian mau ketemu Tuan Mahendra. Udah lama nggak ketemu," kata Bayu. Nia tersenyum.
"Wow! Ini kamu kerjain dalam waktu berapa hari?" tanya Bayu saat melihat lukisan keluarga Mahendra yang masih bertengger di easel.
"Mmm... Berapa yaa? Senin sketsa di acara jamuan. Selasa malem mulai blocking warna. Trus Rabu, karena kuliah cuma satu, yang satu kosong, jadi bisa rendering wajah sama ekspresi. Kamis masih bagian wajah sama detail. Juma'at mulai ke background. Sabtu finishing," jelas Nia mendetail. Bayu menyimak sambil memperhatikan lukisan Nia.
"Cuma pake cat akrilik sih, Kak. Jadi cepet. Kalo cat minyak, lebih lama. Nunggu keringnya lama," lanjut Nia.
"Tapi bagus hasilnya. Halus. Rapih. Dan yang pasti, mewah," puji Bayu. Nia tersenyum.
"Pake teknik glazing. Agak rumit sih. Tapi hasilnya lebih halus dan bagus. Makanya lama," kata Nia sambil terkekeh di akhir kalimatnya. Bayu mengacak pelan kepala Nia.
"Berangkat sekarang?" tanya Bayu dengan tangan masih di atas kepala Nia. Nia mengangguk sambil tersenyum. Bayu balas tersenyum lalu hati-hati membantu Nia mengangkat kanvas dari easel dan membungkusnya dengan rapi.
"Berat juga," komentar Bayu saat berjalan sambil membawa lukisan Nia. Nia meringis.
"Masa' sih, Kak? Kak Bayu aja yang nggak biasa angkat kanvas," kata Nia sambil membukakan pintu kamar kosnya.
"Emang nggak cocok jadi pelukis," kata Bayu. Nia tertawa kecil.
"Jangan. Seniman tampan banyak godaannya," kata Nia sambil berjalan menuruni tangga perlahan.
"Kalo seniman cantik?" tanya Bayu sambil hati-hati menuruni tangga.
"Nggak ada yang mau," jawab Nia cepat.
"Kalo gitu aku mau satu," kata Bayu. Nia menoleh ke arah Bayu dengan cepat.
"Beneran, Kak?" tanya Nia dengan wajah serius.
"Eh?" langkah Bayu seketika terhenti. Dia menatap Nia yang juga menatapnya.
"Aku punya temen. Cantik. Serius. Rasi namanya. Kalo Kak Bayu beneran mau, ntar aku kenalin," kata Nia.
"Eh?"
Nia kembali menuruni tangga sambil menceritakan tentang Rasi tanpa menghiraukan Bayu yang masih bingung. Bayu mengerjapkan matanya, lalu menatap punggung Nia yang menjauh. Senyum terkembang di wajah Bayu.
'Dasar cewek polos,'
***
Dua puluh menit perjalanan mengantarkan Bayu dan Nia ke kediaman Mahendra. Ternyata, rumah Angkasa tak jauh dari kampus. Nia jadi tak heran mengapa Angkasa beberapa hari yang lalu tiba-tiba muncul di kampus.
"Megah banget. Ini rumah apa istana?" celetuk Nia saat melihat rumah kediaman Keluarga Mahendra. Bayu tersenyum.
"Klasik banget ya rumahnya?" tanya Bayu pada Nia. Nia mengangguk.
Nia mengamati arsitektur rumah yang ditinggali Angkasa. Seperti kata Bayu, gaya arsitekturnya klasik. Bagian depannya terdapat tangga lebar menuju pintu utama dengan pilar-pilar besar di samping kanan kirinya yang menopang pedimen (atap segitiga yang khas) di atasnya. Lantai marmer dan cat tembok putih memberi kesan klasik yang kental.
Nia dan Bayu berjalan perlahan memasuki kediaman Keluarga Mahendra. Dua pelayan sudah membantu Bayu membawakan kanvas berisi lukisan Keluarga Mahendra.
"Hai, Nia cantiiik! Harusnya kamu telepon Angkasa biar dijemput," kata Nyonya Mahendra saat berjalan menyambut Nia yang sudah memasuki ruang tamu. Nia tersenyum.
"Sama Kak Bayu, Tante. Kebetulan Kak Bayu nggak sibuk," kata Nia sopan.
"Ah! Tuan Muda Bayu! Lama tak jumpa. Sepertinya menjadi eksekutif muda memang menyita waktu Anda," kata Nyonya Mahendra sambil menjabat tangan Bayu bersemangat. Bayu tersenyum.
"Tidak sesibuk Tuan dan Nyonya Mahendra tentunya," kata Bayu ramah.
"Ah! Tuan Muda bisa saja. Nyonya Lestari pasti bangga memiliki putera yang bisa diandalkan seperti Anda," puji Nyonya Mahendra.
"Nyonya terlalu melebih-lebihkan. Saya rasa Tuan Muda Keluarga Mahendra juga akan lebih bisa diandalkan," kata Bayu merendahkan diri sekaligus memuji Angkasa.
"Angkasa masih terlalu muda. Biarkan dia menikmati dunianya. Kami tidak mau terlalu memaksanya terjun ke dunia kami," kata Nyonya Mahendra tenang.
"Mama memang tidak memaksa. Tapi, Mama berharap Aang mau meneruskan bisnis Papa, bukan begitu?" tanya Angkasa yang baru saja menampakkan dirinya di ruang tamu.
Kedua mata Angkasa bertemu dengan mata Bayu. Keduanya saling menatap sesaat dengan tatapan dingin dan terkesan tak bersahabat.
"Tuan Muda Angkasa," kata Bayu sambil mengulurkan tangan. Angkasa menatap tangan Bayu lalu kembali menatap Bayu. Matanya mampir sesaat menatap Nia yang menatapnya, sebelum akhirnya menjabat tangan Bayu.
"Ini lukisannya?" tanya Nyonya Mahendra sambil mendekat ke arah bungkusan raksasa yang disandarkan pada salah satu sofa ruang tamu. Nia mengangguk sambil tersenyum.
Nyonya Mahendra membuka kardus pembungkus kanvas. Matanya membulat sempurna karena takjub melihat hasil karya Nia.
"Ya ampuuun... Cantik banget, Nia! Tante keliatan muda banget! Kamu sengaja ya?" puji Nyonya Mahendra. Nia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Tante. Tante memang keliatan seperti itu di mata saya," kata Nia sopan.
"Ya ampuuun... Ih, jadi pengen dilukis lagi," kata Nyonya Mahendra.
"Maaa..." Angkasa mulai menjadi alarm bagi mamanya yang sering kali tidak merasa merepotkan orang lain.
"Apaan sih? Kok kamu yang kesel? Nia aja mau. Iya kan, Nia?" tanya Nyonya Mahendra pada Nia dengan tatapan meminta yang sulit untuk ditolak.
"Tentu saja, Tante," jawab Nia sambil tersenyum.
"Tuuuh kaaan... Lagipula, Mama nggak minta dilukis sekarang juga kok," kata Nyonya Mahendra.
"Eh, dari tadi kok cuma berdiri disini? Ayo duduk dulu," ajak Nyonya Mahendra. Bayu dan Nia saling menatap.
"Udaaah... Nggak apa-apa. Main dulu sini. Kan mau jadi menantu Keluarga Mahendra," kata Nyonya Mahendra dengan santai.
"MENANTU?!" tanya Angkasa, Nia, dan Bayu bersamaan. Nyonya Mahendra mengerjap ke arah tiga anak muda di belakangnya, tidak menyangka ketiganya akan terkejut.
"Maa, jangan..."
"Nggak ada yang sesempurna Nia, Ang. Lihat saja! Cantik, sopan, berbakat, dan yang pasti dari keluarga terpandang," puji Nyonya Mahendra. Angkasa melirik ke arah Nia yang menunduk saat mendengar kata keluarga terpandang.
"Aang masih sembilan belas tahun, Ma," kata Angkasa mencoba membuat mamanya tidak memikirkan masalah pernikahan.
"So what? Nikah muda itu menghindarkan dari fitnah. Lagipula, mama nggak minta kamu nikah sekarang juga kan?" kata Nyonya Mahendra.
"Mama cuma mau dunia tau kalo Mama udah punya calon mantu. Kita bisa bikin pesta pertunangan atau..."
"Maaf, Tante," kata Nia akhirnya. Nyonya Mahendra menoleh ke arah Nia. Bayu menatap Nia dalam-dalam. Ada ketegangan di wajahnya.
"Untuk pembicaraan seperti itu... bukankah lebih baik dibicarakan bersama mama?" tanya Nia sopan. Nyonya Mahendra tersenyum. Bayu terlihat lega Nia tidak mengatakan apapun tentang kejadian kelam yang dialaminya. Angkasa menatap Nia datar dan dingin, seolah mengatakan 'Apa maksud mu?' pada Nia.
"Tentu saja! Tante akan atur waktu untuk membicarakan ini antar keluarga. Sementara itu, ayo, kita makan siang!" ajak Nyonya Mahendra lalu berlalu ke ruang makan.
Bayu mendekat ke arah Nia. Dia menepuk kepala Nia pelan sambil tersenyum hangat. Nia membalas senyuman Bayu tak kalah hangat. Angkasa menatap tajam ke arah Nia dan Bayu. Seketika rasa nyeri muncul di dalam hatinya.
'Mereka kakak adik atau pacaran sih?'
***