NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Jam dinding di pergelangan tangan Sulthan tepat menunjukkan pukul 5 sore saat mobil mewahnya memasuki halaman rumah yang sangat luas dan megah. Rumah bergaya modern minimalis ini terasa sangat sepi dan tenang, berbeda dengan hiruk pikuk kantor yang baru saja dia tinggalkan.

Sulthan turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tak ada orang lain yang menyambut selain beberapa staf rumah tangga yang berdiri sopan di sudut ruangan. Sebagai pemilik rumah, dia bergerak bebas tanpa rasa sungkan.

Tanpa membuang waktu, Sulthan langsung menuju ruang keluarga yang luas di lantai utama. Panasnya udara sore dan rasa lelah setelah seharian bekerja membuatnya ingin segera berganti pakaian agar lebih nyaman.

Dengan gerakan santai namun maskulin, Sulthan mulai melepaskan kemeja kerjanya satu per satu kancingnya. Dia menanggalkan baju itu dan melemparkannya sembarangan ke sofa besar di tengah ruangan. Tak hanya itu, celana bahan panjang yang ia pakai pun segera ia turunkan dan diletakkan di tumpukan yang sama.

Sekarang, tubuh kekar dan atletisnya yang tingginya mencapai 185 cm itu terpampang jelas. Kulitnya yang putih bersih dan berotot terlihat sangat memikat. Bahunya yang lebar, perutnya yang sixpack, serta tangannya yang berotot menggambarkan sosok pria yang sangat terawat dan kuat.

Sulthan hanya mengenakan celana pendek olahraga berwarna hitam yang cukup ketat, menonjolkan bentuk burungnya yang sempurna dan besar. Dia mengacak-acak rambutnya sedikit, merasa lebih lega kini tidak lagi dibalut pakaian formal yang ketat.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Salah satu asisten rumah tangga wanita yang bertugas merapikan dan mencuci pakaian kotor. Namanya Rini, wanita yang sudah bekerja di sana cukup lama.

"Maaf, Tuan... Saya ambilkan baju kotornya ya," ucap Rini lirih dengan kepala menunduk, berjalan mendekati sofa tempat tumpukan baju tadi.

Namun, saat dia mengangkat wajahnya sekilas untuk mengambil pakaian itu, matanya tak sengaja menangkap pemandangan di depannya. Rini tertegun sejenak, tangannya berhenti di udara.

Ya Ampun... se-gagah ini ya Tuan Sulthan kalau sudah tidak pakai baju... batin Rini bergumam, wajahnya perlahan memerah.

Dia bisa melihat jelas otot-otot yang terbentuk sempurna, kulit yang mulus, dan aura kejantanan yang memancar begitu kuat dari tubuh bosnya itu. Jantung Rini berdegup kencang. Sebagai wanita lajang, wajar jika dia merasa terpesona. Ada keinginan kuat di hatinya untuk mendekat, untuk menyentuh bahu yang kokoh itu, atau bahkan ingin sekali rasanya memeluk tubuh kekar itu dan merasakan hangatnya secara langsung.

Astaga Rinu, sadar diri! Itu bosmu! Jangan berkhayal! hardiknya dalam hati, mencoba menepis segala angan-angan liar yang muncul.

Dengan susah payah, Rini menahan diri. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha tidak menatap lagi, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar dia mengambil tumpukan baju dan celana itu dengan cepat.

"T... terima kasih, Tuan," ucapnya terbata-bata, lalu segera berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu secepat mungkin sebelum nafsunya makin menjadi-jadi.

Sulthan yang sedang minum air putih dari gelas kristal hanya menoleh sekilas, tidak menyadari gejolak hati asistennya itu. Baginya itu hal biasa.

Setelah merasa cukup, Sulthan pun berjalan santai menuju kamar mandi utama yang terletak di lantai satu.

Sulthan berdiri di bawah guyuran air shower yang deras, air hangat mengalir deras membasahi tubuh kekarnya. Tetesan air menelusuri garis-garis otot dada bidangnya, mengikuti lekukan perut sixpack yang tegang, lalu terus turun ke pinggul sempit dan paha berotot. Dia menyabuni tubuhnya dengan gerakan lambat, telapak tangan yang lebar mengusap dada lalu turun ke perut, membersihkan sisa keringat seharian.

Panas air dan rasa lelah yang mulai hilang justru membangkitkan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Pikirannya melayang ke wanita-wanita yang biasa ia temui di kantor, tubuh ramping mereka, bibir merah yang selalu tersenyum manja saat berbicara dengannya. Tanpa sadar, tangannya yang sedang menyabuni perut perlahan bergerak lebih rendah. Jari-jarinya menyentuh pinggiran celana pendek olahraga hitam yang basah kuyup, lalu dengan satu tarikan cepat ia menurunkannya hingga ke lutut.

Burungnya langsung terbebas, sudah setengah tegang karena rangsangan air hangat dan lamunan liar. Batangnya yang panjang, tebal, dan berurat bergoyang di bawah guyuran air. Kepala burungnya yang besar dan merah muda mengkilap, urat tebal menonjol sepanjang batangnya yang mencapai hampir dua puluh sentimeter saat sedang rileks. Sulthan menggenggamnya dengan tangan kanan, merasakan berat dan panasnya sendiri.

“Ahh… sial,” gumamnya, suaranya teredam oleh suara air yang mengalir.

Ia mulai mengocok perlahn dari pangkal hingga ujung, ibu jarinya sesekali mengusap kepala burung yang sensitif. Gerakan naik turun semakin mantap, ritme yang sudah ia kuasai sejak lama. Tangan kirinya bertumpu di dinding keramik dingin, sementara tangan kanannya bekerja lebih cepat. Bayangan wanita seksi yang melintas di pikirannya, membuat burungnya semakin mengeras hingga urat-uratnya menonjol tajam.

Sulthan mempercepat gerakan, telapak tangannya yang kasar menggesek batang tebal itu dengan ritme stabil. Cairan bening sudah keluar dari lubang kecil di ujung kepala burung, bercampur dengan air sabun dan air shower, membuat kocokannya semakin licin dan enak. Ia menekan lebih kuat di bagian pangkal, meremas bola-bola yang penuh di bawahnya, lalu kembali mengocok batangnya dengan gerakan panjang dan kuat.

“Fuck… enak banget,” desisnya di antara napas yang mulai tersengal. Matanya terpejam, kepalanya mendongak ke atas sementara tangannya terus bekerja. Gerakan semakin cepat, bunyi basah dari kocokan tangan bercampur dengan suara air shower menggema di kamar mandi luas itu. Otot lengan dan dada Sulthan menegang, sixpack-nya berkontraksi setiap kali ia mengerahkan tenaga.

Ia membayangkan tangan wanita yang menggenggam burungnya, mulut hangat yang menyedot kepala burung besar itu, atau bahkan memasukkannya ke dalam lubang yang basah dan sempit. Bayangan itu membuatnya semakin liar. Tangan Sulthan sekarang mengocok dengan kecepatan penuh, naik turun tanpa ampun, jari-jarinya sesekali memilin ujung kepala burung yang sudah membengkak.

Tubuhnya menegang hebat. Otot paha bergetar, perut sixpack-nya mengeras seperti batu. “Akh… mau keluar…” erangnya.

Dengan beberapa kocokan terakhir yang sangat kuat dan cepat, Sulthan meledak. Cairan sperma putih kental menyembur keluar dengan kuat dari ujung burungnya, menyembur jauh ke dinding keramik di depannya. Satu, dua, tiga kali semburan tebal dan panas mengalir deras, bercampur dengan air shower lalu mengalir ke lantai. Ia terus mengocok sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan, sperma yang tersisa menetes dari ujung burung yang masih berdenyut.

Napas Sulthan terengah-engah. Ia bersandar sejenak di dinding, membiarkan air hangat membersihkan sisa cairan dari tubuhnya. Burungnya perlahan mengendur, tapi masih terlihat besar dan berat meski sudah lemas. Ia menyabuni sekali lagi dengan cepat, membersihkan diri sepenuhnya sebelum mematikan shower.

Setelah selesai, Sulthan mengeringkan tubuh dengan handuk putih besar, lalu melilitkannya di pinggang. Rambutnya yang basah masih menetes air saat ia keluar dari kamar mandi. Ia merasa tubuhnya lebih ringan, pikirannya lebih jernih setelah melepaskan ketegangan tadi.

•••

Sekarang Sulthan di kamarnya. Dia mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.

Ia memilih setelan santai yang nyaman, kaos oblong berwarna abu-abu yang pas di badan, sedikit menonjolkan otot dadanya yang bidang, dipadukan dengan celana pendek bahan katun berwarna hitam. Penampilannya kini jauh lebih santai dan ramah, tidak lagi segarang dan sedingin saat di kantor.

Sulthan duduk di tepi ranjang king size-nya, lalu mengambil ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas. Jarinya menekan layar beberapa kali, menghubungi video call ke nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tidak butuh waktu lama, layar ponsel menyala dan menampilkan wajah wanita paruh baya yang sangat cantik dan anggun. Itu ibunya tercinta.

"Assalamualaikum, Ma," sapa Sulthan dengan senyum lebar. Suaranya pun berubah menjadi jauh lebih lembut dan hangat dibandingkan saat berbicara dengan stafnya.

"Waalaikumsalam, Nak Sulthan. Eh, sudah sampai rumah rupanya?" jawab ibunya dengan wajah ceria. Wajah ibunya terlihat sangat mirip dengan Sulthan, membuatnya terlihat awet muda meski usia sudah tidak muda lagi.

"Iya, Ma. Baru selesai mandi. Lagi istirahat sebentar," jawab Sulthan sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Papa mana, Ma? Kok nggak kelihatan?"

Seketika ibunya menoleh ke belakang, lalu menggeser posisi kamera sedikit. "Itu lho Papamu, lagi asyik makan malam. Katanya lapar sekali hari ini."

Di layar ponsel, terlihat ayahnya yang duduk di meja makan. Pak Aditama sedang menyendok nasi dengan lahap, mulutnya penuh, dan tangannya sibuk mengunyah. Melihat putranya di layar HP, dia hanya mengangkat tangan kanannya memberi salam sambil tetap mengunyah, matanya berkedip beberapa kali seolah berkata 'Iya, Papa lagi makan nih'.

Sulthan tertawa kecil melihat kelakuan ayahnya yang santai dan apa adanya. "Wih, makan enak banget itu Papaku. Apa menu malam ini, Ma? Kelihatannya menggugah selera."

"Itu ada ayam goreng lengkuas sama sayur asem kesukaan Papamu. Kamu sudah makan belum, Sulthan?" tanya ibunya dengan nada perhatian khas seorang ibu.

"Belum, Ma. Nanti aja sebentar lagi. Di rumah juga lagi dimasakin kok sama Mbak Rini," jawab Sulthan. "Rumah lama sepi nggak, Ma? Soalnya Sulthan jarang bisa main kesini sekarang, kerjaan lagi numpuk banget."

"Enggak sepi kok, biasa aja. Yang penting kalian di sana sehat-sehat dan kerjaannya lancar. Ibu sama Papa senang kok lihat kamu sukses begini," ucap ibunya lembut. "Cuma... Ibu mau tanya nih."

Sulthan mengernyitkan dahi, sudah bisa menebak arah pembicaraannya. "Tanya apa lagi, Ma? Pasti soal jodoh lagi kan?"

Ibunya tertawa renyah. "Iya lah! Umur sudah mau kepala tiga, lho. Teman-teman sebayamu sudah pada punya anak. Kapan kamu mau ngasih ibu menantu? Ibu pengen cepat-cepat gendong cucu."

Sulthan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecut. "Ya ampun, Ma... Sulthan lagi fokus kerja dulu. Lagian jodoh itu rahasia Tuhan, kan? Belum ketemu yang cocok, Ma. Yang baik-baik dan tulus itu susah dicarinya sekarang."

"Yasudah, yasudah. Ibu cuma ingetin aja. Jangan kerja terus, nanti stres. Istirahat yang cukup ya," kata ibunya akhirnya mengalah, tidak mau memojokkan anaknya.

"Iya, Ma. Siap. Assalamualaikum, salim sama Papa ya," pamit Sulthan.

"Waalaikumsalam, Nak. Hati-hati selalu ya."

Panggilan video terputus. Sulthan meletakkan ponselnya di dada, lalu menatap langit-langit kamarnya.

"Jodoh... jodoh... Di mana kamu berada ya?" gumamnya sambil nyengir sendiri, merasa lucu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!