Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 konfrontasi pertama
Rapat hari ini cukup membuat Ratih sangat kecewa, dia sangat kesal dengan sikap Dimas yang selalu saja memperhatikan gerak geriknya.
Tatapan mata Dimas membuat dirinya tidak nyaman saat berada di ruang rapat tadi, bagaimana tidak karena sejak rapat di mulai tadi Dimas selalu saja menyindir dirinya dan hal itu sangat tidak disukai oleh Ratih.
Ratih tidak mau semua orang di kantornya tahu kalau dulu dia pernah punya masa lalu dengan Dimas tapi sikap Dimas padanya sering menunjukkan kalau ada sesuatu antara dia dan Dimas dan itulah yang membuat Ratih sangat marah dan kesal pada Dimas.
Sore ini angin berembus sangat kencang di atas rooftop gedung kantor Ratih. Rooftop ini akan sepi ketika jam istirahat siang sudah usai dan ini merupakan tempat ternyaman untuk Ratih melepaskan segala kepenatannya.
Apalagi setelah rapat divisi siang tadi yang sudah menguras cukup banyak energinya.
Belum lagi pikirannya yang terus melayang pada sosok yang saat ini ada di hadapannya.
Di dekat pembatas kaca terlihat Dimas sedang berdiri membelakangi Ratih menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Kemeja warna burgundy yang dia kenakan tampak sedikit lusuh tapi punggung itu tampak terlihat tenang.
Terlalu tenang sepertinya padahal kehadirannya saja sudah cukup membuat pertahanan Ratih runtuh seketika.
"Kenapa kamu mengikuti aku Dim?" nada bicaranya terdengar lelah namun ada getir yang tidak mampu dia sembunyikan saat dirinya melihat Dimas yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
Ratih meremas map-map kertas yang ada di tangannya hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Dia menarik napas dalam-dalam membiarkan udara sore yang dingin itu menembus masuk ke dalam paru-paru nya.
"Aku tidak sedang main petak umpet, cuma....aku ingin kita bicara sebentar berdua saja bisa gak?" ucap Ratih menatap punggung Dimas yang masih berdiri membelakanginya itu.
Dimas langsung berbalik tatapannya yang dalam dan lekat langsung mengunci pandangan Ratih. Jarak di antara mereka mungkin hanya sekitar dua meter saja tapi rasanya seperti ada jurang sepuluh tahun yang terbentang di tengah-tengahnya.
"Boleh," jawab Dimas singkat sambil melipat kedua tangannya di dada." kamu mau bahas tentang apa Rat? soal pekerjaan? Atau....tentang masa lalu kita?"
"Cukup Dim!" potong Ratih dengan suara bergetar, emosi yang dia tahan sejak siang tadi di balik meja kerjanya akhirnya tumpah juga."Berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, berhentilah menatap aku, berhenti mengingat hal-hal kecil ,dan.....berhenti bersikap seolah-olah kamu masih punya hak atas hidup aku."
Dimas terdiam. Binar jenaka yang biasanya ada di mata itu meredup, digantikan oleh rasa bersalah yang kentara. Ia menurunkan tangannya perlahan.
"Aku cuma..."
"Tapi nyatanya kamu bikin aku bingung!" Ratih melangkah maju, membiarkan air matanya menggenang di pelupuk mata tanpa peduli jika itu jatuh. "Kamu datang setelah sepuluh tahun menghilang tanpa kabar, tiba-tiba muncul di rapat-rapat ku, dan berbicara seolah masa lalu kita itu lelucon. Kamu tahu bagaimana hancurnya aku waktu kamu pergi dulu? Aku menangis tiap malam, bertanya-tanya apa salah ku sampai kamu meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun!"
Tiap kata yang terlontar dari bibir Ratih terasa seperti sayatan. Dimas membeku, rahangnya mengeras menahan sesak.
"Aku tidak punya pilihan waktu itu, Ratih," suara Dimas tercekat. Ia maju selangkah, mencoba menggapai tangan Ratih, tapi wanita itu langsung mundur untuk menjaga jarak.
"Semua orang punya pilihan, Dim!" Ratih menggelengkan kepalanya. "Dan pilihan kamu saat itu adalah pergi. Sekarang, keadaannya udah beda. Aku punya komitmen sama Regan. Hidup aku udah diatur rapi, dan aku tidak bisa hancur cuma gara-gara kamu datang lagi." Ratih menatap Dimas dengan tajam.
Dimas menatap cincin berlian di jari manis Ratih. Kilauannya seolah mengejek posisinya saat ini.
"Regan," gumam Dimas pelan. "Pria itu... apa dia benar-benar bikin kamu bahagia, Ratih? Karena yang aku lihat di mata kamu sekarang cuma ketakutan, bukan kebahagiaan."
Ratih tertegun. Kata-kata Dimas tepat menghantam luka yang selama ini ia tutupi rapat-rapat. Bayangan ancaman Regan tempo hari melintas di kepalanya, membuat napasnya sesak dan memburu.
"Itu bukan urusan kamu," tegas Ratih, berusaha menegakkan dagunya meski suaranya bergetar. "Yang perlu kamu tahu, hubungan kita cuma sebatas rekan kerja. Tolong, jangan bikin hidup aku makin berantakan."
Ratih berbalik dan bergegas menuju pintu keluar. Meninggalkan Dimas yang terpaku sendirian.
Di balik pintu rooftop yang tertutup rapat, Ratih meluncur turun, menyandarkan punggungnya di dinding dingin. Ia memeluk lututnya erat-erat, sadar betul bahwa topeng profesionalitasnya baru saja retak, dan hatinya ternyata tidak sekuat yang ia duga selama ini.
Matanya basah oleh air mata yang mulai deras mengucur dari sudut-sudut matanya. Dadanya terasa sangat sesak sekali seolah ada batu besar yang sedang menghantamnya.
Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan kuat menghadapi Dimas tapi ternyata hal itu tak semudah yang dia bayangkan. Pertahanan nya runtuh seketika saat dia mulai berhadapan dengan Dimas.
Dari jauh terlihat Regan yang sedang berjalan menaiki rooftop itu bersama salah seorang rekan kerja Ratih. Regan yang melihat Ratih langsung berjalan menghampirinya.
"Rat. Kamu kenapa?" tanya Regan ketika sudah berdiri di hadapan Ratih yang masih terduduk sambil memeluk lututnya itu.
Ratih segera mengusap pipinya yang masih basah oleh air matanya tadi," aku gak apa-apa," ucap Ratih sambil berdiri.
Regan menatap Ratih dan memperhatikan mata Ratih yang terlihat seperti orang yang baru saja selesai menangis," kamu sakit?" Regan menatap Ratih sambil mengerutkan keningnya.
"Emmm iya," jawab Ratih singkat.
"Kalau begitu kita pulang saja, aku nanti yang akan bilang ke HRD," Regan merengkuh pundak Ratih dan membawanya turun dari rooftop itu.
Dimas menarik nafas dalam-dalam sambil mengepalkan tangannya saat melihat Regan memeluk Ratih dan membawanya turun dari sana.
Regan masih punya hubungan kerja sama dengan perusahaan yang sedang di pimpin oleh Dimas saat ini makanya sesekali dia sering berkunjung ke perusahaan itu dan kebetulan tadi pas dia berkunjung ke sana dia melihat keberadaan Ratih tunangannya.
"Ratih. Aku tahu kamu tidak bahagia bersama Regan. Aku tahu kamu hanya mencoba bertahan demi sesuatu yang membuatmu tidak berdaya," Dimas menghunjamkan pukulan tangannya dengan keras ke dinding tempat dia berdiri saat ini." Akhhh...!!" Dimas berteriak dengan geram dan penuh amarah,dia merasa bersalah pada Ratih.
"Regan. Aku tahu siapa kamu dan aku tidak akan membiarkan Ratih masuk ke dalam permainan kamu," Dimas menatap tajam ke arah luar rooftop itu.