Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Meja Makan Para Orang Asing
Air panas yang mengguyur bahuku terasa hampir membakar kulit, namun aku tidak mengecilkan suhunya. Aku menggosok lenganku dengan spons kasar, menuangkan cairan antiseptik klorheksidin berkali-kali seolah aku sedang mencoba menguliti identitasku sendiri. Di telingaku, suara dingin Ghazali tadi pagi masih berdengung, lebih tajam dari gergaji osilasi yang kugunakan untuk membelah tulang dada jenazah Bram.
"Pastikan kau membersihkan dirimu secara menyeluruh. Aku tidak mentolerir adanya insiden mengenai bau aneh dari tubuhmu di meja makan ibuku malam ini."
Aku memejamkan mata, membiarkan uap panas memenuhi paru-paruku. Di balik kelopak mataku, bayangan kartu memori mikro-SD yang berlumuran darah itu kembali muncul. Sebuah benda kecil yang memegang nasib karier suamiku. Sebuah benda yang kutemukan di antara jaringan esofagus yang hancur. Ironisnya, di rumah ini, aku justru merasa seperti benda asing yang tersangkut di tenggorokan keluarga Mahendra. Tidak bisa ditelan, namun terlalu memalukan untuk dimuntahkan.
Setelah hampir satu jam mencoba menghapus "bau kematian", aku akhirnya berdiri di depan cermin besar di kamar utama. Aku mengenakan gaun silk wrap berwarna emerald gelap yang dipilihkan oleh penata busana pribadi Nyonya Ratna. Gaun ini elegan, mahal, dan sangat tidak mencerminkan diriku. Rambutku disanggul rapi ke atas, mengekspos leherku yang pucat. Aku memulas lipstik berwarna nude kecokelatan, mencoba memberi warna pada wajah yang selama sepuluh jam terakhir hanya berinteraksi dengan warna abu-abu kematian.
Aku menghirup napas panjang, mencoba mencari sisa aroma formalin. Nihil. Yang tercium hanyalah wangi parfum juliette has a gun yang beraroma musky dan steril. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa seperti penipu. Aku merasa seperti mayat yang baru saja disuntik formalin dan dipakaikan baju terbaik hanya untuk dipajang di peti mati yang mewah.
"Sudah selesai?"
Suara itu datang dari arah pintu. Ghazali berdiri di sana, sudah berganti pakaian dengan kemeja putih bersih dan celana bahan berwarna arang. Ia sedang mengancingkan jam tangan Patek Philippe miliknya. Tatapannya menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga kaki—sebuah inspeksi visual yang lebih mirip pemeriksaan barang bukti daripada tatapan seorang suami.
"Sudah, Mas," jawabku datar.
Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak yang ia tetapkan sendiri semalam. Saat ia berada cukup dekat, ia tidak memelukku atau memuji penampilanku. Ia justru sedikit mencondongkan tubuh, mengendus udara di sekitarku dengan gerakan yang sangat menghina.
"Bagus. Setidaknya kau tidak berbau seperti ruang pemulasaran jenazah malam ini," ucapnya dingin. Ia lalu mengulurkan lengannya secara kaku. "Ayo turun. Ibu dan tamu-tamunya sudah menunggu di ruang makan. Ingat, jangan bicara tentang pekerjaanmu kecuali ditanya, dan jangan sekalipun menyebutkan tentang kartu memori itu di depan Maia."
"Kenapa? Bukankah dia pengacara lawanmu?" tanyaku, mencoba menahan rasa perih di dadaku. "Bukankah kau ingin dia tahu bahwa kau sudah memegang kunci kemenangannya?"
Ghazali menghentikan langkahnya, matanya menyipit berbahaya. "Dunia hukum bukan hanya soal bukti di atas meja, Keana. Ini soal strategi. Dan strategi malam ini adalah menunjukkan bahwa keluarga Mahendra tetap solid, terlepas dari... pilihan pasanganku yang tidak lazim. Mengerti?"
Aku mengangguk pelan, menyelipkan tanganku di lipatan lengannya yang keras dan dingin. Kami melangkah menuruni tangga pualam yang melingkar, menuju ruang makan yang sudah disulap menjadi panggung sandiwara aristokrat.
Ruang makan kediaman Mahendra adalah representasi dari kemewahan yang mencekam. Meja mahoni sepanjang empat meter itu sudah ditutupi taplak linen putih salju. Di atasnya, berjajar piring porselen Villeroy & Boch dan deretan sendok perak yang mengkilap di bawah lampu kristal. Nyonya Ratna Mahendra duduk di kursi ujung, tampak sangat berkuasa dengan kebaya sutra dan kalung mutiara yang melingkari lehernya yang mulai berkerut.
Namun, bukan Nyonya Ratna yang menarik seluruh oksigen dari ruangan itu.
Di sisi kanan meja, duduk seorang wanita yang kecantikannya seolah mampu mengintimidasi cahaya lampu kristal di atasnya. Maia Anindita. Ia mengenakan terusan sleek black yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Rambutnya yang hitam bergelombang jatuh dengan sangat estetis di bahunya. Ia sedang tertawa kecil menanggapi ucapan seorang hakim agung di sebelahnya.
Begitu kami masuk, suasana mendadak senyap sesaat.
"Ah, akhirnya pengantin baru kita datang," suara Nyonya Ratna memecah kesunyian, meskipun nadanya tidak mengandung kehangatan sedikit pun. "Keana, duduklah di sebelah Maia. Kurasa kalian perlu banyak mengobrol, mengingat kalian berdua adalah wanita-wanita hebat di bidang masing-masing."
Aku merasakan cengkeraman tangan Ghazali di lenganku mengencang sesaat sebelum ia melepaskannya. Aku duduk di kursi yang ditunjukkan, tepat di sebelah wanita yang selama ini menjadi "alamat" sesungguhnya dari cinta suamiku.
"Halo, Keana. Senang bertemu lagi," sapa Maia. Suaranya lembut, namun matanya memindai wajahku dengan ketajaman yang hanya dimiliki oleh seorang pengacara yang terbiasa mencari celah dalam kesaksian. "Selamat atas pernikahannya. Maaf aku tidak bisa datang ke resepsi kemarin karena ada urusan di Singapura."
"Terima kasih, Maia," jawabku, mencoba memaksakan senyum yang kurasa terlihat sangat kaku.
"Aku dengar kau sangat sibuk hari ini di RS Bhayangkara?" Maia melanjutkan, sembari menyesap wine merah di gelasnya. "Ada kasus besar yang masuk, ya?"
Aku melirik Ghazali yang duduk tepat di seberangku. Ia sedang menatapku dengan tatapan peringatan yang sangat jelas.
"Hanya prosedur rutin, Maia. Tidak ada yang spesial," jawabku singkat, mencoba memotong percakapan.
"Oh, ayolah, Keana. Jangan terlalu rendah hati," sapa Nyonya Ratna dari ujung meja. "Maia baru saja bercerita betapa hebatnya dia memenangkan kasus sengketa lahan di Surabaya pekan lalu. Dunia hukum sangat dinamis, bukan seperti duniamu yang... maaf, sedikit statis karena hanya berurusan dengan mereka yang sudah tidak bernapas."
Tawa kecil pecah di meja makan itu. Aku merasakan wajahku memanas. Ini adalah jenis penghinaan halus yang selalu dilemparkan Nyonya Ratna—memposisikan profesiku sebagai sesuatu yang inferior dibandingkan profesi hukum yang "bersih" dan "bermartabat".
"Profesi Keana sangat krusial, Ma," tiba-tiba Ghazali bersuara. Suaranya stabil, namun matanya tetap dingin. "Tanpa hasil otopsinya, banyak jaksa yang akan buta saat menyusun dakwaan. Meskipun memang... aroma pekerjaannya terkadang sedikit sulit dikompromikan."
Kembali, tawa meremehkan terdengar. Kalimat Ghazali yang seolah membelaku sebenarnya adalah tusukan belati yang lebih dalam. Ia membelaku sebagai profesional, namun merendahkanku sebagai seorang wanita.
"Tapi aku sungguh penasaran, Keana," Maia mencondongkan tubuh kearahku. Wangi parfum mawar hibridanya mulai menjajah indra penciumanku, membuatku teringat betapa jauhnya aroma ini dari bau sabun antiseptikku. "Bagaimana rasanya menghabiskan hari dengan membedah tubuh manusia, lalu pulang dan harus berbagi ranjang dengan seorang pria yang sangat memuja kebersihan seperti Ghazali? Bukankah itu sebuah kontradiksi yang melelahkan?"
Pertanyaan itu seperti sayatan scalpel yang sangat presisi mengenai saraf pusatku. Meja makan itu mendadak sunyi. Para hakim dan kolega Ghazali menanti jawabanku dengan binar rasa ingin tahu yang kejam.
Aku meletakkan garpuku perlahan. Aku menatap Maia lurus-lurus. "Mungkin melelahkan bagi mereka yang hanya melihat dari permukaan, Maia. Tapi bagiku, membedah tubuh manusia adalah cara terbaik untuk melihat bahwa di balik lapisan kulit yang cantik, semua manusia memiliki anatomi yang sama. Tidak peduli seberapa mahal parfum yang mereka pakai, atau seberapa bersih citra yang mereka bangun... di atas meja otopsiku, mereka semua sama-sama jujur."
Aku melirik Ghazali sesaat, lalu kembali menatap Maia. "Dan mengenai berbagi ranjang... kurasa Ghazali jauh lebih menghargai kejujuran sebuah fakta forensik daripada kepura-puraan yang dipoles dengan wangi bunga mawar."
Ghazali tersedak minumannya. Nyonya Ratna menjatuhkan serbetnya. Maia, di sisi lain, hanya tersenyum tipis. Matanya berkilat, ia tahu aku baru saja menyatakan perang.
"Menarik," gumam Maia. "Kejujuran fakta, ya? Kita lihat saja nanti di persidangan kasus bendungan itu, Keana. Apakah 'fakta' yang kau temukan hari ini cukup kuat untuk bertahan di bawah tekanan eksepsiku."
Makan malam berlanjut dengan ketegangan yang merambat di bawah meja seumpama arus listrik. Aku nyaris tidak bisa merasakan rasa daging wagyu yang dikunyah di mulutku. Semuanya terasa seperti debu. Aku hanya ingin malam ini segera berakhir. Aku ingin kembali ke ruang otopsiku yang dingin, di mana aku tidak perlu berpura-pura, di mana aku tidak perlu melihat tatapan memuja Ghazali pada wanita di sebelahku setiap kali Maia berbicara.
Dua jam kemudian, tamu-tamu mulai berpamitan. Ghazali mengantar Maia hingga ke depan mobilnya di lobi apartemen. Aku berdiri di balkon ruang tengah, tersembunyi di balik gorden beludru, menatap ke bawah.
Dari ketinggian ini, aku bisa melihat mereka dengan jelas. Ghazali membukakan pintu mobil untuk Maia. Mereka berbicara sejenak. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, namun gerakan tubuh Ghazali sangat jujur. Ia sedikit membungkuk, wajahnya melunak, sangat berbeda dengan wajah pualam yang ia tunjukkan padaku di kamar pengantin kami semalam.
Maia menyentuh lengan Ghazali sesaat sebelum masuk ke mobil. Sebuah sentuhan yang ringan, namun bagiku itu seperti siraman asam sulfat di atas luka terbuka. Ghazali tidak menghindar. Ia justru berdiri di sana, menatap lampu belakang mobil Maia yang menjauh hingga menghilang di tikungan jalan.
Aku mundur dari gorden, merasakan sesak yang luar biasa di dadaku. Ini adalah penderitaan yang tidak bisa dijelaskan dengan terminologi medis. Ini adalah angst yang melampaui batas rasionalitas seorang dokter forensik.
"Kau masih bangun?"
Suara Ghazali mengejutkanku. Ia sudah kembali ke dalam, wajahnya kembali mengeras saat menatapku.
"Aku hanya sedang mencari udara segar," jawabku singkat.
Ghazali melangkah menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan wiski ke gelas kristal. "Kau sangat kasar pada Maia tadi di meja makan. Itu tidak perlu, Keana. Kau membuat suasana jadi canggung di depan Hakim Agung Sudirjo."
"Aku hanya menjawab pertanyaannya, Ghazali. Dia yang mulai menyerang profesiku," balasku, suaraku mulai meninggi.
"Dia hanya bercanda! Dia memang memiliki selera humor yang tajam, kau harusnya tahu itu!" Ghazali menenggak wiskinya dalam satu tegukan. "Jangan tunjukkan rasa cemburumu secara murahan seperti itu. Itu memalukan."
"Cemburu?" Aku tertawa getir, air mata yang sejak tadi kutahan kini mulai mengaburkan pandanganku. "Kau pikir aku cemburu? Aku sedang mencoba mempertahankan martabatku di rumah yang bahkan tidak menganggapku ada! Kau memperlakukanku seperti barang cacat di depan wanita yang 'bersih' itu!"
Ghazali membanting gelasnya ke atas meja bar. Bunyi dentingnya membelah malam. "Karena kau memang sulit untuk diterima, Keana! Lihat dirimu! Bahkan sekarang, setelah kau mandi berjam-jam, aku masih merasa ruangan ini dipenuhi bau kematian setiap kali kau bicara tentang otopsi!"
Ia melangkah maju, mencengkeram bahuku dengan kuat. "Jangan pernah bandingkan dirimu dengan Maia. Dia adalah masa laluku yang elegan, sementara kau... kau hanyalah masa kiniku yang dipaksakan oleh wasiat kakek. Mengerti?"
Aku terdiam. Jantungku serasa diremas oleh tangan raksasa yang dingin. Aku menatap mata pria yang secara hukum adalah suamiku, namun secara batin adalah orang asing yang paling kejam.
"Lepaskan aku, Ghazali," bisikku lirih.
Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Tidurlah. Besok pagi kau harus menyerahkan kartu memori itu pada penyidik. Dan pastikan laporannya bersih. Jangan campur adukkan masalah pribadi kita dengan kasus ini."
Ghazali berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkanku sendirian di ruang tengah yang luas dan sepi. Aku jatuh terduduk di atas karpet Persia yang mahal, memeluk lututku sendiri.
Di meja makan tadi, kami duduk bersama, namun kami adalah orang asing. Di ranjang nanti, kami mungkin akan berada di bawah satu selimut, namun kami adalah dua dunia yang terpisah jutaan tahun cahaya.
Aku teringat pada jenazah Bram di meja otopsi. Bram meninggal karena mempertahankan sebuah rahasia besar. Dan aku? Aku merasa sedang mati perlahan karena mempertahankan sebuah pernikahan yang sejak awal adalah alamat cinta yang salah.
Aku bangkit berdiri, menyeka air mataku dengan kasar. Aku tidak akan membiarkan dia melihatku hancur. Jika dia menginginkan kejujuran fakta, maka aku akan memberikannya.
Aku melangkah menuju kamar, namun langkahku terhenti saat melihat ponselku yang bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Dokter Keana, jangan terlalu percaya pada lencana yang kau temukan. Terkadang, orang yang paling bersih adalah orang yang paling mahir menyembunyikan noda darah di tangannya sendiri. Hati-hati dengan suamimu.”
Darahku mendadak berdesir dingin. Pesan itu hanya terdiri dari beberapa kalimat, namun impaknya membuat bulu kudukku berdiri. Aku menoleh ke arah pintu ruang kerja Ghazali yang tertutup rapat.
Di balik pintu itu, suamiku sedang menyusun strategi untuk memenangkan kasus besar. Tapi, apakah dia juga sedang menyusun strategi untuk menyingkirkanku jika aku menemukan fakta yang salah di meja otopsiku?
Malam ini, bukan hanya ranjangku yang terasa dingin. Tapi seluruh pondasi hidupku mulai terasa goyah. Di antara aroma formalin yang kubenci dan parfum mawar yang kupuja, aku baru menyadari satu hal: Kebenaran yang sesungguhnya mungkin tidak terkubur di dalam tubuh mayat, melainkan di balik senyum pria yang tidur di sampingku.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍