NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

#11

“Yayah,” cetus Abizar, ketika suara mobil sang ayah terdengar memasuki halaman. Semula Abizar sedang menyusu pada mamanya, tapi ia gegas berlari menyongsong kedatangan Firza. 

Karena belum bisa membuka pintu, Abizar hanya mengintip melalui jendela. “Yayah!” jeritnya sekali lagi, kala sang ayah turun dari mobil lalu menghampiri pintu. Keduanya bergurau tanpa suara melalui kaca transparan jendela. 

“Assalamualaikum,” ucap Firza, kakinya melangkah memasuki rumah. Lelahnya seketika hilang, himpitan berat di dadanya pun terasa lega karena merasa telah mengambil keputusan paling tepat. 

Abizar berjinjit lucu, kedua tangannya terangkat ke atas pertanda ingin digendong sang ayah. 

“Hari ini Abi jadi anak pintar di rumah?”

“Yah,” jawab Abi singkat. 

“Mau hadiah?”

“Nana—”

Jawaban lucu itu membuat Firza tergelak bahagia, netranya menoleh ke sekeliling, ia tak menemukan sang istri dimanapun. “Iya, setelah Ayah mandi, kita beli es krim, ya?” 

Firza melangkah ke kamar mereka, rupanya Ersha ada di sana sedang menyiapkan pakaian santai untuknya. “Mandi dulu, Bang.” 

Firza tahu, sikap Ersha masih seperti formalitas, karena nada suara wanita itu terdengar dingin, meski sekilas seperti sebuah perhatian tulus dari istri kepada suaminya. 

“Abi sama Mama dulu, yuk, Ayah mau mandi dulu, tuh,” bujuk Ersha. 

Setelah Abi berpindah ke pelukan Ersha, wanita itu berlalu, tanpa menyapa, bahkan tak sedikit pun sanggup melihat wajah suaminya. 

Ersha mulai menciptakan jarak, semakin siap mentalnya, semakin sedikit sakit yang akan ia derita, bila kelak mereka berpisah. 

“Er.”

“Iya, Bang,” jawab Ersha tanpa menoleh. 

“Bersiaplah, ba'da maghrib kita keluar.” 

“Kemana, Bang?” 

“Tuh, ada yang menagih es krim banana.” Ersha akhirnya menoleh, dan Firza memberi kode berupa lirikan ke arah putra mereka. 

Tawa kecil Ersha terdengar hangat di telinga Firza, tapi ketika wanita itu meninggalkan kamar, Firza kembali dibayangi perasaan bimbang, seperti ada yang tertinggal. Padahal beberapa saat lalu ia melangkah dengan pasti, yakin bahwa ini keputusan terbaik. 

•••

Abi melahap es krimnya dengan riang, karena di perjalanan tadi Ersha sudah menyuapinya dengan makan malam yang ia bawa dari rumah. 

Canda gurau mereka terlihat natural, seperti keluarga bahagia, Ersha pun tertawa lepas untuk sejenak. Mencoba melupakan semua getir yang ia rasakan. 

“Nah, tumpah, kan.” Abi menyeringai saja, sementara kedua orang tuanya sibuk membersihkan bekas lelehan es krim yang tumpah mengenai pakaiannya. 

“Es krimnya sudah, ya. Ini sudah malam, sebentar lagi waktunya Abi bobo,” kata Ersha, setelah mengganti pakaian Abi dengan yang bersih. 

Di samping itu, ia pun tahu bahwa makanan manis ini tak boleh dikonsumsi di malam hari, karena berpotensi membuat anak susah tidur. 

“Tuh, kata Mama udahan, lain kali kita ke sini lagi, ya?” Firza ikut membenarkan ucapan sang istri. 

Karena merasa keinginannya telah dipenuhi, maka Abizar pun menurut tanpa protes lagi. sungguh interaksi yang canggung bagi pasutri tersebut, bila tak ada Abizar, tentu tak ada lagi perantara berkomunikasi. 

Firza membukakan pintu mobil untuk Ersha, karena wanita itu sibuk menggendong Abizar, setelah Ersha masuk dan pintu mobil tertutup, ponsel Firza berdering. 

Dari balik kaca jendela Ersha melihat perubahan ekspresi wajah suaminya yang begitu drastis. Semula wajah Firza rileks dan full senyuman, karena keberadaan Abizar. Tapi sekarang? 

Ersha membuka sedikit pintu mobilnya, agar bisa mencuri dengar pembicaraan Firza, tapi pria itu hanya mendengarkan dengan ekspresi wajah yang rumit, tanpa bicara satu kata pun. 

“Baiklah, saya ke sana sekarang.” 

Ke sana? Sekarang? Siapa yang menghubungi Firza? Batin Ersha terus bertanya, lebih condong ke arah curiga, karena Firza terlihat tegang dan tak mengatakan apa-apa sepanjang menerima panggilan. 

Lebih mengejutkan lagi, perjalanan pulang ini terasa sangat tergesa-gesa, Firza seperti dikejar sesuatu tapi entah apa itu. 

Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, padahal mereka melaju di dalam kota yang masih ramai dengan kendaraan lainnya. 

“Bang, hati-hati saja jalannya, lebih baik lambat asal selamat.” 

“Baiklah, maaf sudah membuatmu takut.” 

Kecepatan mobil menurun, tapi tetap tak bisa menghapus aura ketegangan di wajah Firza. 

Beberapa saat kemudian mobil berhenti di depan rumah, tapi tidak masuk ke garasi. 

“Masuklah lebih dulu, jangan lupa kunci pintu, mungkin aku pulang agak larut, jangan—”

“Abang mau kemana?” 

Ersha menyela ucapan Firza, kedengarannya amat mencurigakan, dan— entahlah, Ersha pun merasa kali ini tak akan baik-baik saja. Entah itu situasi, atau kondisi mereka kedapan. 

“Aku harus pergi ke suatu tempat, ini urgent, tolong jangan bertanya dulu.” 

Ersha pun keluar dari mobil, membawa Abizar yang sudah terlelap sejak beberapa saat yang lalu. Tak ada lagi bantahan, atau bahkan pertanyaan, Ersha sekuat tenaga menopang keberaniannya sendiri. Siap tak siap ia harus mulai belajar menopang dirinya sendiri dan juga putranya kelak. 

Ersha berjalan lurus tanpa menoleh, “Abang pergi dulu, ya? Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam,” jawab Ersha pelan. 

Tak lama kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu rumah. 

Tangisnya begitu sunyi, tak ada teriakan atau amukan. Hatinya sungguh sakit seperti diremas sampai habis tak bersisa. Meski sejak awal sudah bersiap untuk situasi ini, tetap saja rasa belum siap. Hanya Abizar yang bisa ia peluk untuk meluapkan kesedihannya, “Maafkan Mama, Nak. Kita mungkin harus belajar untuk hidup berdua saja tanpa ayahmu.” 

•••

Pagi datang, Firza menghentikan mobilnya yang sudah terparkir rapi di halaman rumah. 

Pelipisnya berdenyut nyeri, karena kurang istirahat, dan sedang menanggung beban pikiran yang amat berat. Keputusan baru saja ia buat, dan Firza tahu itu akan menyakiti banyak pihak. 

Sejak kecil Firza adalah anak yang patuh dan penurut, karena dia anak tunggal, dan merasa bahwa dirinya adalah tumpuan harapan orang tuanya. Menekan segala macam ego dalam dirinya demi membuat Mamak Karmila dan Ayah Ismail tersenyum bahagia dengan keberadaan putra mereka. 

Kini sisi keegoisan dalam dirinya menuntut, ingin sekali saja, sekali seumur hidup ingin diperturutkan keinginannya. Dan Firza rasa inilah saatnya. 

Cahaya dari dalam rumah masih redup, mungkin Ersha masih tenggelam dalam ibadah subuhnya. Pelan-pelan Firza melangkah keluar dari mobil, dengan kunci cadangan yang ia miliki ia membuka pintu rumah, agar tak mengganggu rutinitas istrinya. 

•••

Ba'da sholah subuh, mereka duduk saling berhadapan di meja makan. Tenggelam dalam lamunan dan aroma teh hangat yang tersaji di hadapan mereka. 

Ersha menarik nafas pelan, semalaman ia tak bisa memejamkan mata, bermunajat, memohon ketenangan jiwa serta keikhlasan, bersiap menghadapi apapun keputusan Firza. “Apa yang ingin Abang bicarakan?” tanyanya, alih-alih menanyakan kemana Firza pergi semalam hingga pagi ini. 

Sebelum bicara, Firza menatap wajah teduh istrinya, Ersha adalah wanita yang sangat tegar, lembut bagai mawar, tapi memasang duri di segala sisi. Seolah sudah menyiapkan langkah, untuk menghadapi serangan besar yang akan menerpa dirinya. 

Lain halnya dengan Resha yang selalu terlihat rapuh sejak dulu, terombang-ambing di tengah ombak, ceria, tapi sesungguhnya menyimpan banyak luka, serta cerita sejarah tentang betapa keras pendidikan orang tuanya dahulu. 

Itu jualah, yang membuat Firza merasa bahwa dirinya dan Resha punya kemiripan, yaitu sama-sama tak ingin mengecewakan orang tua yang susah payah bekerja dan berharap yang terbaik untuk anak. 

“Sebelumnya Abang minta maaf, Er.”

“Kalau memang tak salah, buat apa Abang minta maaf?” cetus Ersha. 

“Karena yang Abang bicarakan ini, mungkin akan melukai perasaanmu.” 

Deg! 

Jantung itu tetap saja berdegup kencang, seberapa keras usaha Ersha untuk mempersiapkan diri. Wajah sendunya terangkat, lingkaran hitam di kedua kelopak matanya tak bisa menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya. 

“Abang ingin menikah lagi, Er—”

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!