AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu mawar hitam
Sore yang tenang. Deon Key sedang duduk santai di teras gubuknya, membaca buku sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Kakek Genpo sedang sibuk memotong kayu bakar di samping rumah, bersiul-siul riang.
Tiba-tiba, indra tajam Deon menangkap getaran aneh. Ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di pinggiran hutan, tidak jauh dari sana. Napasnya teratur tapi terdengar frustrasi.
"Hm? Ada tamu ya?" gumam Deon. Ia menutup bukunya dan melirik ke arah hutan.
Aku menyipitkan mata, menggunakan kemampuan penglihatan yang kini jauh lebih tajam dari biasa.
Dan di sana, di bawah pohon beringin besar yang menjadi penanda lokasi kami, terlihat sosok wanita yang sangat familiar.
Nona Prizeyl.
Dia terlihat tampil beda hari ini. Tidak pakai gaun mewah, tidak ada pengawal. Hanya pakai baju perjalanan sederhana berwarna biru tua, topi lebar menutupi wajah, dan sepasang sepatu bot yang penuh debu.
Dia terlihat sangat bingung. Berjalan ke sana ke mari, memegang peta, lalu menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Aku tersenyum kecil. Tentu saja dia bingung.
Karena Perisai Dimensi yang kuaktifkan, pandangan orang luar akan terdistorsi. Mereka mungkin melihat kabut, atau melihat tempat ini sebagai tanah kosong biasa, atau bahkan... tidak melihat apa-apa sama sekali.
"Kek, Kakek berhenti potong kayu dulu. Ada yang nyasar nih," bisikku pada Genpo.
"Sapa tuh? Musuh?" Genpo langsung siap siaga memegang kapak.
"Bukan musuh... tamu spesial."
Sementara itu, Prizeyl benar-benar sedang putus asa.
Ia sudah berjalan kaki selama berjam-jam, mengikuti petunjuk arah yang diberikan Vorn dan peta kuno.
"Lembah Beringin. Di sana ada bangunan tua..."
Tapi apa yang dia lihat?
Hanya pepohonan rindang, rumput tinggi, dan sebuah pohon beringin besar tua yang tampak sudah berdiri ribuan tahun. Tidak ada rumah, tidak ada gubuk, dan yang paling penting... tidak ada Kuil Megah sama sekali!
Yang terlihat di matanya hanyalah tanah datar dan semak belukar di mana seharusnya bangunan itu berdiri.
"Gila... ini pasti salah lokasi," gumam Prizeyl sambil meremas peta nya. "Padahal koordinatnya tepat di sini. Tanda pohon besar juga ada. Tapi mana bangunannya? Mana orangnya?"
Ia lemas sekali. Panas matahari sore membuatnya kepanasan. Akhirnya ia memutuskan duduk bersandar di batang pohon Beringin besar itu, wajahnya kecewa dan sedikit kesal.
"Aneh sekali... Kemarin Deon dan Kakeknya bisa keluar masuk kota pakai barang sehebat itu. Tapi tempat tinggalnya kok hilang ditelan bumi gini?"
Prizeyl menunduk, memainkan rumput di tanah. "Jangan-jangan aku salah ingat wajahnya? Atau mereka itu... roh halus yang punya harta karun?"
Deon melihat Prizeyl yang duduk lesu itu. Ia merasa kasihan.
"Kasihan juga ya... jauh-jauh datang nggak ketemu-ketemu."
"Deon mau jemput dia Kek?" tanya Deon.
"Ya sudah... jemputlah. Tapi hati-hati, jangan bawa masuk ke kuil ya! Cuma di gubuk sini aja!" pesan Genpo.
"Siap Bos!"
Deon pun berjalan santai melewati batas perisai. Saat ia melangkah keluar, pemandangan di matanya normal, tapi bagi orang luar, ia seolah muncul entah dari mana dari balik kabut.
"Ee... Nona Prizeyl?" panggil Deon pelan.
BRAK!
Prizeyl yang sedang melamun langsung kaget setengah mati. Ia melompat berdiri, tangan siap mencabut pedang kecil di pinggangnya.
"SIAPA?! Aaaa... KAU?!"
Mata Prizeyl terbelalak melihat Deon yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan baju bersih dan santai.
"Kau... kau dari mana munculnya?! Hantu ya?!" seru Prizeyl kaget bukan main.
"Hahaha kenapa Nona marah? Saya kan manusia biasa," jawab Deon sambil tertawa. "Lagi ngapain di sini? Duduk sendiri di bawah pohon kayak orang kesurupan."
Prizeyl langsung mencengkeram lengan Deon, matanya berbinar campur bingung.
"HEI! Jangan bercanda! Ini dimana sih?! Katanya kau tinggal di Lembah Beringin? Di mana rumahmu?! Di mana bangunannya?!"
Prizeyl menunjuk ke arah sekitar mereka dengan penuh semangat.
"Yang aku lihat ini cuma rumput dan pohon doang! Nggak ada rumah! Nggak ada gubuk! Bahkan batu bata pun nggak ada! Aneh sekali! Peta ku bilang tepat di sini tapi kok kosong melompong?!"
Deon menahan tawa melihat wajah Prizeyl yang merah padam karena penasaran.
"Oh... itu toh masalahnya," Deon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memang dari luar Nona nggak akan bisa lihat apa-apa selain pohon dan tanah kosong kok."
"HAH?! Maksudnya?!"
"Karena tempat kami tinggal... itu 'rahasia negara'," jawab Deon dengan senyum misterius. "Tempat itu ada, nyata, dan kokoh. Tapi mata orang biasa tidak bisa melihatnya, dan tubuh orang biasa tidak bisa masuk seenaknya. Itu sistem keamanan otomatis."
Prizeyl melongo mendengar penjelasan Deon yang terdengar sangat tidak masuk akal tapi... sangat masuk akal bagi dunia sihir dan energi yang ia kenal.
"Jadi... aku sudah berdiri tepat di depan pintumu selama setengah jam... tapi aku buta dan nggak bisa masuk?!"
"Bisa dibilang begitu," Deon mengangguk setuju. "Tapi tenang saja. Karena Nona sudah datang, saya jemput."
Deon mengulurkan tangannya ke arah Prizeyl.
"Ayo pegang tangan saya. Jangan lepas ya. Nanti kalau lepas, Nona bakal nyasar lagi di sini selamanya."
Prizeyl menatap tangan Deon yang bersih dan putih itu, lalu menatap wajah anak muda itu dengan takjub.
"Kau ini... benar-benar makhluk apa sih?" gumamnya pelan.
Tanpa ragu lagi, Prizeyl menerima tawaran itu. Ia mencengkeram tangan Deon erat-erat.
"Ayo! Aku percaya sama kau!"
"Oke... jalan!"
Deon berbalik dan berjalan maju.
Saat mereka melewati garis tak terlihat itu...
Sreeeeet... WUSH!
Dunia di depan mata Prizeyl berubah seketika!
Pemandangan rumput liar dan tanah kosong lenyap digantikan oleh...
Gubuk kayu yang bersih, rapi, dan nyaman!
Halaman yang luas dengan batu-batu hijau berkilau!
Dan di belakangnya... sebuah Kuil Megah yang memancarkan cahaya keemasan yang luar biasa indah!
Mata Prizeyl terbelalak sampai hampir keluar. Mulutnya terbuka lebar, tidak bisa mengeluarkan suara.
"Ini... ini... nyata..."