NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Yudha tak lagi sanggup menahan diri. Ia mulai melucuti pakaian wanita itu satu per satu.

​"Yudha, ini masih siang, apa tidak apa-apa kalau..." Gisel mulai merasa gugup.

​Namun Yudha, yang sudah menahan hasratnya selama hampir sebulan, tidak berniat berhenti. Ia segera membiarkan tubuh indah Gisel terpampang nyata di depan matanya...

......................

​Setelah menghabiskan waktu dua hari di rumah, Yudha kembali ke kampus dengan membawa mobil Mercedes-nya yang memang ia siapkan untuk "berburu". Ia sudah menyewa sebuah garasi di luar area kampus agar keberadaan mobil mewahnya tidak terlalu memancing kehebohan yang tidak perlu.

Bab 527: Persaingan di Lapangan Basket (4)

​Yudha melangkah santai menuju asrama, namun ia terkejut mendapati ruangan itu kosong melompong. Mengingat teman-temannya sangat hobi bermain basket, ia menebak mereka pasti sedang berada di lapangan. Benar saja, sesampainya di sana, kerumunan besar sudah menyemut. Yudha pun segera merangsek masuk ke tengah keramaian.

​Di tengah lapangan, tampak rekan-rekan asramanya sedang bertanding melawan sekelompok pemuda yang sepertinya berasal dari kampus lain. Namun, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak pada kawan-kawannya; wajah mereka tampak kuyu dan kelelahan.

​Yudha sebenarnya tidak terlalu jago bermain basket. Namun, masalahnya adalah kemampuan fisiknya saat ini sudah jauh melampaui standar atlet profesional sekalipun. Kecepatan kilat dan indra yang tajam adalah senjata mautnya.

​Yudha memperhatikan ada dua orang dari tim lawan yang hanya menonton di pinggir lapangan sambil sesekali melepaskan tawa meremehkan. Jelas sekali mereka datang untuk mencari gara-gara. Pemain paling dominan di lapangan adalah seorang pemuda yang mengisi posisi center. Setiap kali pemuda itu mencetak angka, sorakan histeris pecah dari gerombolan siswi di pinggir lapangan. Yudha hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata pesona pemain basket memang tidak mengenal batas kampus!

​Yudha memasuki lapangan tepat setelah satu gelombang serangan lawan berakhir. Melihat ada orang asing yang tiba-tiba masuk, kedua belah pihak pun berhenti.

​"Yudha! Akhirnya kamu datang juga! Aku kangen banget sama kamu!" seru Wahno girang, seolah baru saja bertemu kerabat yang lama hilang. Ekspresi berlebihannya itu sukses membuat Yudha merasa sedikit geli sekaligus jijik.

​"Sori, sori! Aku masih normal, ya!" sahut Yudha sambil menghindar saat Wahno mencoba memberikan pelukan maut.

​Sambil nyengir canggung, Wahno kemudian berkata dengan nada dongkol, "Yud, kamu bisa main basket, kan? Tolong beri mereka pelajaran! Terutama bocah yang jadi center itu. Dia benar-benar sombong dan menganggap remeh kita!"

​Zenal dan Kurnia pun ikut menghampiri dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat. Wajah mereka menunjukkan rasa frustrasi yang sama; mereka sudah muak ditekan terus-menerus.

​"Yud, kami mengandalkanmu!" ujar Zenal sambil terkekeh penuh harap.

​"Bagaimana? Kalau kalian menyerah sekarang, kemenangan ini jadi milik kami!" tantang si center lawan dengan nada angkuh.

​Mendengar itu, Yudha menyambar bola dari tangan Zenal, berjalan mendekat, dan menatap pemuda sombong itu. "Kamu lumayan juga. Bagaimana kalau aku menantangmu satu lawan satu?"

​"Oh? Menarik. Mau tanding seperti apa?" tanya pemuda itu. Meski tertarik, nada bicaranya masih sangat meremehkan.

​"Sebagai seorang center, menyerang dan bertahan adalah makanan sehari-harimu, kan? Mari kita bagi masing-masing sepuluh kali kesempatan menyerang, sementara yang lain bertahan. Siapa yang cetak gol lebih banyak, dia pemenangnya," ujar Yudha dengan senyum tipis.

​"Taruhannya apa?" tanya si pemuda, mulai terpancing.

​"Siapa pun yang kalah, harus angkat kaki dari lapangan ini!" Yudha menepuk-nepuk lengannya yang berotot, masih dengan senyum yang sama.

​"Oke! Tantangan diterima!" Pemuda itu tertawa, namun tatapannya tetap dingin. "Siapa yang mau mulai duluan?"

​"Kamu tamu di sini, jadi silakan mulai duluan," jawab Yudha. Ia ingin mengamati sejauh mana kemampuan serangan lawannya.

​Bab 528: Persaingan di Lapangan Basket (5)

​Melihat dua pemain bersiap untuk duel satu lawan satu, para siswi di pinggir lapangan pun semakin bersemangat. Meski tim penantang cukup tampan, Yudha adalah "produk lokal" kampus mereka, dan itu memberikan perbedaan besar dalam hal dukungan. Beberapa mahasiswi dari Jurusan Akuntansi langsung berteriak, "Semangat, Yudha!" Salah satunya adalah Mina. Melihat sorot mata penuh semangat dari gadis itu, Yudha tidak tahan untuk tidak mengedipkan sebelah matanya.

​Para penghuni asrama Yudha dan rekan-rekan tim lawan mundur ke pinggir lapangan untuk menonton. Mereka yang tahu kekuatan si pemuda penantang tampak tenang, sementara Wahno dan yang lainnya terlihat cemas karena belum pernah melihat Yudha bermain basket secara serius.

​"Sepertinya kamu cukup populer di sini. Biar aku uji kemampuanmu! Ingat namaku, aku Haidar," ujar pemuda bernama Haidar itu sambil menyeringai.

​Yudha hanya tersenyum acuh tak acuh. Baginya, gertakan itu tidak berarti apa-apa.

​Melihat Haidar mulai melakukan dribble, Yudha mengangguk dalam hati. Meski berposisi sebagai center, penguasaan bolanya cukup lincah dan terlatih.

​Haidar melesat ke arah Yudha, kakinya terbuka lebar dengan lutut sedikit menekuk. Ia menggiring bola ke kiri, lalu tiba-tiba mundur, melakukan breakthrough dari sisi kanan, dan menarik bola kembali. Haidar sedang menguji reaksi Yudha.

​Kemampuan basket Yudha sebenarnya hanya setingkat hobi amatir; ia bahkan tidak paham teknik pertahanan yang benar. Haidar bisa melihat dari posisi tangan Yudha yang kaku bahwa lawannya ini adalah seorang pemula.

​Haidar tersenyum sinis, merendahkan posisi bola, dan memindahkan bola dari tangan kiri ke kanan dengan sangat cepat. Ia bersiap untuk melakukan terobosan maut.

​Yudha tahu lawannya akan merangsek masuk, namun gerakan Haidar memang cukup tak terduga. Setelah melakukan beberapa kali dribble di belakang punggung yang memukau, perhatian Yudha seolah terpaku pada bola. Tak lama kemudian, Haidar berakselerasi dan berhasil melewati Yudha. Haidar sempat merasa jumawa sekaligus meremehkan Yudha. Namun, tepat saat ia melompat untuk melakukan lay up, ia terkejut setengah mati mendapati tangannya telah kosong.

​"Hei! Ngapain bengong di sana? Bolanya ada padaku!" Sebuah suara yang terdengar begitu tenang namun menyebalkan terdengar dari belakangnya.

​Haidar melongo, sama sekali tidak paham bagaimana bola di tangannya bisa dicuri secepat itu.

​Meskipun Yudha bukan pemain hebat, ia telah mendapatkan banyak pengalaman berharga setelah mengalahkan musuh-musuh kuat sebelumnya di dunia nyata. Jika dibandingkan dengan lawan-lawan yang menggunakan kekuatan supranatural, gerakan Haidar yang murni manusia biasa hanyalah seperti gerakan lambat di matanya.

Tak ada satu pun orang di sana yang tahu bagaimana cara Yudha mencuri bola dari tangan Haidar. Mereka hanya melihat Haidar melakukan manuver terobosan yang sangat cantik, namun sedetik kemudian bola itu sudah berpindah ke tangan Yudha. Rasanya seperti melihat trik sulap. Semua orang di sekitar tertegun, benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!