NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlawanan

Sentuhan itu tidak hanya terasa di permukaan kulit. Dingin langsung merayap masuk, menembus otot, lalu menjalar perlahan hingga ke tulang.

Tubuh Endric menegang kaku. Napasnya tertahan dan tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan.

“Lepasin,” katanya pelan. Suaranya terdengar jauh lebih lemah dari yang ia harapkan.

Sosok itu tidak menjawab. Ia justru mendekat, membuat wajahnya semakin jelas namun semakin tidak berbentuk. Bentuk yang tadi menyerupai Ningsih kini berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, bayangan yang memakai wajah manusia.

“Sekarang kamu milikku,” bisiknya.

Endric menelan ludah. “Gue gak daftar, ya,” jawabnya refleks meski tubuhnya tak berdaya.

Di sampingnya, Gandhul langsung bereaksi. “LAWAN, REK!”

Suara itu menyentak kesadaran Endric. Ia mencoba menarik tangannya dengan seluruh tenaga, namun hasilnya nihil. Perlawanan itu terasa sia-sia karena ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut menahan.

“Anjir... ini bukan pegangan biasa,” gumamnya panik.

Lingkaran warga di sekeliling mereka mulai berubah. Mereka mundur perlahan bukan untuk memberi jalan keluar, melainkan untuk menikmati pemandangan di depan mata. Pria tua itu tetap berdiri diam tanpa niat membantu.

“Ndhul, ini makin gak enak,” bisik Endric.

“Makanya lawan! Lo masih punya kendali!” jawab Gandhul cepat.

Endric menggertakkan gigi. Ia menutup mata sejenak dan mencoba fokus. Ia merasakan ada benda asing di dalam tangannya yang mencoba menarik ke arah berlawanan. Ia menahan bukan dengan otot, melainkan dengan tekad.

“Ini badan gue,” katanya pelan namun tegas.

Sosok itu mendekat lagi, hampir menempel. “Kamu salah,” bisiknya.

Endric membuka mata. “Gue gak salah,” balasnya kali ini lebih keras.

Tanpa berpikir panjang, tangan bebasnya bergerak cepat.

Plak.

Suara tamparan itu terdengar nyaring memecah keheningan. Seluruh hadirin langsung terdiam.

Gandhul ikut membeku. “Anjir, lo serius?” gumamnya.

Endric terengah, baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. “Refleks,” katanya singkat.

Sosok itu diam beberapa detik. Kemudian ia tertawa pelan. Suaranya tidak keras, namun cukup membuat bulu kuduk merinding dan suasana menjadi semakin mencekam.

“Menarik,” katanya.

Endric menghela napas kasar. “Gue capek dibilang menarik.”

Tiba-tiba genggaman itu mengencang berkali-kali lipat. Sangat kuat hingga tulang-tulang jari Endric seolah hendak remuk.

“AAH!” teriaknya kesakitan.

Rasa dingin berubah drastis menjadi panas yang membakar. Sensasi itu menjalar dari tangan naik ke lengan, seolah ada sesuatu yang memaksa masuk lebih dalam untuk mengunci dirinya.

“Ndhul!” teriaknya panik.

“Tarik balik! Jangan kasih masuk!” seru Gandhul.

“Gimana caranya?!”

“Lawan dari dalam! Jangan cuma pakai tenaga!”

Endric kembali memejamkan mata. Ia fokus menahan rasa sakit itu dengan kesadaran penuh. Ia menegaskan batas antara dirinya dan benda asing yang mencoba menguasai.

“Gue gak mau,” katanya lirih.

“Kamu sudah setengah masuk,” bisik sosok itu.

“Setengah mana?” bentak Endric.

“Setengah ke bawah.”

Endric menggeleng keras. “Gue gak mau ke bawah!”

Saat itu juga, ia merasakan perubahan aneh. Kuku hitam di jarinya berdenyut kencang, seolah merespons panggilan dari luar.

Endric membuka mata dan menatap tangannya. Bagian yang tadi patah mulai tumbuh kembali dengan cepat dan jelas.

“Anjir... gak lucu,” bisiknya.

Sosok itu tersenyum. “Kamu sudah terbuka.”

Endric mengumpat pelan. Namun sebelum ia kehilangan fokus sepenuhnya, Gandhul bertindak. Pocong itu melompat dan menghantam tangan Endric dengan keras.

Buk.

Endric tersentak. “WOI!”

Genggaman itu sedikit melemah. “LAGI!” teriak Endric.

Gandhul menghantam lagi dengan kekuatan penuh.

Buk.

Sosok itu terdorong mundur sedikit. Ekspresinya berubah tidak lagi tenang. Endric memanfaatkan momen itu untuk menarik tangannya sekuat tenaga. Kali ini berhasil.

Tangannya lepas.

Ia jatuh terduduk ke belakang. Napasnya memburu dan jantungnya berdegup kencang.

“Gue masih hidup,” katanya pelan.

Gandhul mendarat di sampingnya. “Tipis, tapi iya.”

Endric tertawa pendek. “Yang penting masih.”

Namun saat ia melihat telapak tangannya, tawanya lenyap seketika. Garis hitam muncul di bawah kulit, menjalar seperti urat yang bergerak hidup.

“Ini bonus, ya?” gumamnya.

Sosok itu berdiri diam di depan. Ia tidak menyerang lagi, tapi tatapannya kini jauh lebih tajam dan penuh ancaman.

“Belum selesai,” katanya.

Endric berdiri perlahan. Kakinya gemetar, tapi ia tidak mundur. “Gue juga belum.”

Lingkaran warga mulai bergerak tidak menentu. Sebagian maju, sebagian diam, dan sebagian lagi mundur. Terlihat tidak semua pihak memiliki pendapat yang sama.

Endric melirik Gandhul. “Ini mulai kacau.”

“Dan itu bagus buat lo,” jawab Gandhul.

Endric menghela napas. “Gue mulai suka kacau.”

Tiba-tiba pria tua itu melangkah maju. Satu langkah saja sudah cukup membuat seluruh keributan mereda. Sosok misterius itu pun berhenti. Untuk pertama kalinya, kedua kekuatan itu saling bertatapan.

Suasana berubah menjadi jauh lebih berat dan mencekam.

“Cukup,” kata pria tua itu. Suaranya tidak keras, namun memiliki wibawa yang tak bisa dibantah.

Sosok itu tidak menjawab, tapi perlahan mundur. Ia berhenti di pinggir lingkaran sambil tetap menatap Endric.

“Ini belum selesai,” ucapnya.

Endric mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Gue juga belum selesai.”

Sosok itu tersenyum tipis lalu lenyap begitu saja. Endric berdiri tegak di tengah kerumunan. Napasnya masih berat, tangannya masih gemetar, tapi ia tetap bertahan.

Pria tua itu menatap Endric lebih lama dari sebelumnya.

“Mas Endric,” panggilnya akhirnya.

“Iya, Pak.”

“Menarik.”

Endric mendesah keras. “Ya Tuhan, lagi.”

Warga mulai bubar satu per satu. Namun mereka tidak pergi begitu saja. Mereka menoleh berulang kali, seolah sedang mencatat data penting tentang dirinya.

Pria tua itu menunjuk tangan Endric. Garis hitam itu masih bergerak pelan.

“Belum milik siapa pun,” katanya.

Endric mengernyit. “Bagus, dong.”

“Berarti diperebutkan.”

Endric langsung terdiam.

Gandhul berbisik pelan, “Itu gak bagus.”

Endric menelan ludah. “Gue tahu.”

“Untuk sementara dilepas,” kata pria tua itu sebelum akhirnya berbalik pergi.

Lingkaran pun bubar total. Suasana menjadi sunyi senyap, namun terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Endric tetap berdiri di tempat hingga hanya tersisa dirinya dan Gandhul.

“Gue lolos?” tanya Endric pelan.

Gandhul mengangguk. “Untuk malam ini.”

Endric menghela napas panjang. Seluruh tenaganya seketika terkuras habis. “Gue capek banget, sumpah.”

“Selamat,” ucap Gandhul.

“Selamat apaan?”

Gandhul menunjuk tangannya lagi. “Sekarang lo bukan cuma target.”

Endric semakin bingung. “Terus?”

“Lo jadi masalah utamanya.”

Belum sempat Endric membalas, tiba-tiba garis hitam di tangannya bergerak jauh lebih cepat dan ganas. Sesuatu di dalam tubuhnya seolah baru saja bangun dari tidur panjang.

Dan pelan, sangat pelan, Endric mendengar suara itu.

Bukan dari luar. Bukan dari Gandhul.

Suara itu berasal dari dalam tangannya sendiri.

“...akhirnya...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!