NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Misi Sistem

Langkah mereka kembali bergema di lorong sempit itu, namun suasana sudah berubah tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata. Keheningan yang menyelimuti terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah masing-masing membawa sesuatu yang sengaja disimpan rapat di dalam kepala. Tidak ada yang berusaha mencairkan suasana, dan tidak ada pula yang mencoba mengalihkan pikiran dari apa yang baru saja terjadi.

Jeritan Valtheris masih tertinggal samar, bukan sebagai suara yang jelas, melainkan sebagai ingatan yang menempel dan sulit diabaikan. Semua orang mendengarnya, tetapi memilih untuk tidak mengakuinya, karena mengakui berarti harus menerima kenyataan yang tidak ingin disentuh. Tidak ada yang menoleh ke belakang lagi, seolah lorong di belakang mereka sudah tidak ada.

Kaelvarion Thorne tetap berjalan di depan dengan ritme yang stabil, langkahnya tidak berubah sejak awal, seakan kejadian tadi tidak memiliki arti khusus. Nerithra Solen bergerak di sampingnya dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca, matanya sesekali menyapu sekitar tanpa menunjukkan reaksi berlebih. Di belakang, Lysera Virel menjaga jarak yang cukup jelas dari yang lain, sikapnya lebih tertutup dibanding sebelumnya, sementara Eryndor Vale terlihat semakin gelisah meskipun ia berusaha menutupinya.

Serin Althaea berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya, matanya beberapa kali bergerak ke belakang sebelum kembali ke depan. Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi perubahan kecil dalam gerakannya cukup untuk menunjukkan bahwa fokusnya tidak lagi sepenuhnya pada jalur yang mereka tempuh. Alverion Dastan tetap berada di posisi tengah, tidak terlalu maju dan tidak tertinggal, menjaga sudut pandang yang memungkinkannya melihat semua orang sekaligus.

Ia tidak berbicara, tetapi pengamatannya tidak berhenti.

Dungeon ini sudah menunjukkan sifatnya tanpa perlu disembunyikan lagi, dan yang diuji bukan hanya kemampuan bertarung atau ketahanan fisik. Setiap keputusan, sekecil apa pun, membawa konsekuensi yang langsung terasa, dan tidak semua orang siap menghadapi itu dengan cara yang sama. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan cara berpikir menjadi lebih tajam, dan jarak antar individu semakin jelas meskipun mereka berjalan dalam satu kelompok.

Di tengah alur pikirannya, sesuatu muncul tanpa peringatan yang halus seperti biasanya. Notifikasi sistem muncul dengan tekanan yang terasa lebih tajam, seolah sengaja menarik perhatiannya secara paksa. Alverion menghentikan langkahnya tanpa benar-benar menyadari kapan ia melakukannya, dan perubahan kecil itu langsung ditangkap oleh Lysera yang berjalan di dekatnya.

“Kenapa?” tanyanya pelan, tanpa nada menekan.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Alverion singkat, meskipun matanya tidak sepenuhnya kembali ke lingkungan sekitar.

Perhatiannya tertuju pada tampilan yang hanya bisa ia lihat, dan kali ini isi notifikasi itu membuatnya tidak langsung melanjutkan langkah. Misi yang muncul bukan seperti biasanya, karena informasi yang diberikan justru terasa tidak lengkap dan sengaja disamarkan. Judulnya jelas, tetapi detail di dalamnya tidak memberi pegangan yang cukup untuk dipahami dengan cepat.

Misi khusus dengan tipe opsional, namun pilihan yang ditawarkan tidak terasa benar-benar opsional. Deskripsinya menyebutkan dua jalur yang bisa diambil, yaitu memasuki area terlarang tingkat bawah atau mengeliminasi target spesifik yang tidak dijelaskan identitasnya. Tidak ada lokasi, tidak ada petunjuk tambahan, dan tidak ada batasan yang membantu mempersempit kemungkinan.

Alverion mengernyit pelan saat membaca ulang bagian itu, mencoba mencari pola yang mungkin terlewat. Biasanya sistem memberinya arah yang cukup jelas, bahkan jika risikonya tinggi, setidaknya ada konteks yang bisa dianalisis. Namun kali ini, ketidakjelasan justru menjadi bagian utama dari misi itu sendiri.

Ia tidak langsung mengambil kesimpulan, tetapi pikirannya mulai menyusun kemungkinan satu per satu. Area tingkat bawah jelas membawa risiko yang lebih tinggi, karena sejak awal ia sudah merasakan bahwa energi dungeon semakin tidak stabil seiring kedalaman. Itu berarti ancaman yang muncul tidak hanya lebih kuat, tetapi juga lebih sulit diprediksi.

Namun opsi kedua terasa jauh lebih mengganggu.

Membunuh target tanpa identitas bukan hanya soal kesulitan, melainkan soal arah yang tidak jelas. Tanpa informasi dasar, siapa pun bisa menjadi kemungkinan, dan itu membuat misi ini tidak lagi terasa seperti tugas biasa. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan penilaian bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain yang berada di sekitarnya.

Alverion membiarkan notifikasi itu tetap terbuka di benaknya, tetapi ia tidak terburu-buru menindaklanjuti. Langkahnya kembali berjalan mengikuti ritme kelompok, meskipun fokusnya terbagi antara lingkungan sekitar dan sistem yang terus ia analisis. Ia mencoba memahami kenapa misi seperti ini muncul sekarang, dan kenapa bentuknya berbeda dari yang sebelumnya.

Di depan, langkah Kaelvarion melambat sebelum akhirnya berhenti, dan semua orang langsung mengikuti tanpa perlu instruksi tambahan. Lorong yang mereka lalui kembali melebar, membentuk ruang terbuka yang cukup luas untuk memberi jarak antar anggota tim. Dindingnya lebih tinggi dari sebelumnya, dan retakan energi yang menyebar di permukaannya memancarkan cahaya yang lebih terang.

“Kita istirahat sebentar,” kata Kaelvarion dengan nada datar.

Tidak ada yang menolak keputusan itu, karena semua orang merasakan tekanan yang terus meningkat sejak mereka memasuki bagian ini. Mereka menyebar secara alami, menjaga jarak tanpa benar-benar menjauh, seolah setiap orang ingin memiliki ruang sendiri tanpa kehilangan kesadaran akan posisi yang lain. Tidak ada yang benar-benar santai, karena bahkan saat berhenti, kewaspadaan tetap terjaga.

Alverion bersandar ringan pada dinding, matanya setengah tertutup seolah beristirahat, padahal fokusnya sepenuhnya tertuju pada sistem. Ia membuka kembali detail misi yang tadi muncul, berharap ada perubahan atau informasi tambahan yang bisa memberinya arah. Namun tampilan itu tetap sama, tidak bertambah dan tidak berkurang.

Ia mengalihkan perhatiannya ke bagian reward, mencoba melihat apakah ada petunjuk yang tersembunyi di sana. Saat itulah sesuatu berubah tanpa peringatan yang jelas, dan bagian reward yang sebelumnya kosong kini terisi dengan informasi baru. Perubahan itu cukup untuk membuatnya membuka mata sepenuhnya.

Energi inti tingkat tinggi, akses ke kemampuan baru, dan peningkatan sinkronisasi sistem muncul sebagai imbalan. Semua itu bukan sesuatu yang biasa ia dapatkan dalam satu misi, apalagi misi yang tidak memiliki penjelasan yang memadai. Nilainya terlalu besar jika dibandingkan dengan informasi yang diberikan.

Ia tidak langsung merasa tertarik, justru sebaliknya, rasa curiga muncul lebih dulu sebelum hal lain. Pengalaman sebelumnya membuatnya memahami bahwa sistem selalu memiliki pola, dan reward sebesar ini biasanya datang setelah proses yang panjang. Namun kali ini, semuanya terasa dipercepat tanpa alasan yang jelas.

Lysera mendekat sedikit, memperhatikan perubahan ekspresinya yang halus namun cukup terlihat bagi orang yang peka.

“Kamu terlihat berpikir keras,” katanya tanpa memaksakan jawaban.

“Hanya mencoba memahami pola,” balas Alverion pelan, tidak sepenuhnya menutup percakapan tetapi juga tidak membuka terlalu banyak.

Lysera menyilangkan tangan, matanya tetap mengarah ke depan meskipun perhatiannya jelas tertuju pada Alverion.

“Kalau kamu sudah sampai berpikir seperti itu, berarti ada sesuatu yang tidak beres.”

Alverion meliriknya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya.

“Kamu tidak salah.”

Lysera tidak melanjutkan, karena ia tahu batas yang tidak perlu dilewati. Di sisi lain, Eryndor duduk di atas batu rendah sambil menghela napas panjang, ekspresinya menunjukkan ketidaksabaran yang mulai sulit disembunyikan.

“Kita kehilangan satu orang dan sekarang malah berhenti,” katanya dengan nada yang tidak sepenuhnya pelan.

Nerithra menoleh sedikit, tatapannya langsung mengunci ke arah Eryndor tanpa perlu mengubah posisi tubuhnya.

“Kalau kamu tidak bisa menahan diri beberapa menit, kamu akan jadi yang berikutnya.”

Eryndor tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mengandung humor.

“Ancaman?”

“Peringatan.”

Percakapan itu berhenti di sana tanpa perlu diperpanjang, karena tidak ada yang benar-benar ingin memancing konflik lebih jauh dalam kondisi seperti ini. Kaelvarion berdiri terpisah dari yang lain, matanya bergerak mengamati area sekitar dengan fokus yang tidak terlihat berlebihan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-benar lengah.

Namun bagi Alverion, ada sesuatu yang lain dalam cara Kaelvarion memperhatikan lingkungan. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada ruang di sekitar mereka, tetapi juga pada orang-orang yang berada di dalamnya. Ia mengamati satu per satu dengan cara yang halus, seolah menghitung sesuatu yang tidak diucapkan.

Hal itu membuat Alverion semakin yakin bahwa situasi ini tidak hanya tentang dungeon atau sistem. Arah yang sedang terbentuk juga dipengaruhi oleh keputusan orang-orang di dalamnya, dan tidak semua keputusan itu bisa ditebak dengan mudah.

Ia kembali memikirkan misi yang diberikan, mencoba melihat kemungkinan dari sudut yang berbeda. Dua pilihan yang ditawarkan tidak terasa seimbang, dan justru itu yang membuatnya berbahaya. Jika target yang dimaksud bukan monster, maka kemungkinan lain mulai muncul, meskipun ia tidak langsung menyukainya.

Pikirannya sempat berhenti sejenak saat ia melirik ke arah tim. Delapan orang tersisa, masing-masing dengan niat dan batasan yang tidak sepenuhnya diketahui oleh yang lain. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan kecil bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar tanpa peringatan.

Alverion menghela napas pelan, lalu menutup tampilan sistem untuk sementara. Ia tidak ingin mengambil keputusan dalam kondisi seperti ini, terutama ketika informasi yang dimiliki belum cukup untuk memastikan arah yang tepat. Namun rasa tidak nyaman itu tidak hilang, justru menetap di belakang pikirannya.

“Sudah cukup,” suara Kaelvarion memotong suasana tanpa nada tinggi. “Kita lanjut.”

Mereka kembali bergerak, tetapi ritme langkah kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan karena kelelahan, melainkan karena tekanan yang tidak terlihat mulai mempengaruhi cara mereka berjalan. Lorong di depan semakin gelap, dan cahaya dari retakan dinding tidak lagi cukup untuk menerangi seluruh jalur.

Energi di sekitar berubah secara perlahan, menjadi lebih padat dan sulit dipahami. Serin mengerutkan kening, merasakan pergeseran itu dengan lebih jelas dibanding yang lain.

“Ini bukan jalur biasa,” katanya dengan nada rendah.

“Artinya kita mendekati sesuatu,” jawab Kaelvarion tanpa ragu.

Alverion memperhatikan arah mereka, mencoba mengingat jalur yang sudah dilalui. Tanpa disadari, mereka bergerak menuju bagian yang lebih dalam dari dungeon, dan perubahan lingkungan mulai menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Ada kemungkinan bahwa arah ini sudah terbentuk sejak awal, meskipun tidak terlihat secara langsung.

Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi kesadarannya terhadap hal itu semakin kuat. Sistem tidak hanya memberi misi, tetapi juga mengarahkan pergerakan mereka secara perlahan, tanpa terlihat memaksa. Lysera berjalan lebih dekat, seolah merasakan hal yang sama meskipun tidak melihat apa yang Alverion lihat.

“Ada yang aneh,” katanya pelan.

“Banyak,” jawab Alverion singkat.

Lysera menghela napas kecil, lalu menambahkan dengan nada yang lebih hati-hati.

“Bukan cuma dungeon.”

Alverion tidak menjawab, tetapi ia memahami maksudnya tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. Beberapa langkah di depan, Kaelvarion tiba-tiba berhenti lagi, kali ini lebih mendadak dari sebelumnya, membuat semua orang langsung meningkatkan kewaspadaan.

Nerithra sedikit mengubah posisinya, siap bereaksi jika diperlukan.

“Ada sesuatu,” katanya tanpa menoleh.

Semua perhatian langsung tertuju ke depan, ke arah lorong yang berakhir pada ruang yang lebih luas. Ruangan itu menyerupai aula alami dengan langit-langit tinggi dan dinding yang dipenuhi retakan energi. Di tengahnya, sebuah pusaran kecil terbentuk, berputar dengan ritme yang tidak stabil dan memancarkan cahaya yang tidak merata.

Di sekelilingnya, bayangan bergerak dengan pola yang sulit dipastikan, jumlahnya lebih dari satu dan tidak sepenuhnya terlihat jelas. Alverion menyempitkan pandangannya, mencoba menangkap detail yang tersembunyi di balik cahaya yang tidak stabil itu.

Ia langsung memahami bahwa ini bukan pertemuan biasa.

Ini titik penting yang tidak bisa dihindari.

Pada saat yang sama, notifikasi sistem kembali muncul, menampilkan pilihan misi yang tadi sempat ia abaikan. Kemunculannya kali ini terasa lebih sinkron dengan kondisi di depan mereka, seolah dua hal itu memang saling berkaitan sejak awal.

Alverion merasakan perubahan kecil dalam detak jantungnya, bukan karena panik, melainkan karena kesadaran bahwa semua ini tersusun dengan rapi. Jalur yang mereka ambil, ruang yang mereka temui, hingga pilihan yang diberikan sistem, semuanya mengarah ke satu titik yang sama.

Ia menatap pusaran energi di tengah ruangan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke orang-orang di sekitarnya. Masing-masing berdiri dengan kesiapan yang berbeda, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan muncul berikutnya.

Di antara mereka, kemungkinan yang tidak ingin ia akui mulai terasa lebih nyata. Misi ini mungkin tidak hanya berbicara tentang bertahan hidup atau melawan sesuatu yang ada di depan mata. Ada kemungkinan lain yang jauh lebih tidak nyaman, dan itu berkaitan dengan pilihan yang harus dibuat ketika semua opsi tidak benar-benar aman.

Alverion tetap diam, tetapi pikirannya tidak berhenti bergerak. Ia tahu bahwa keputusan yang diambil di tempat seperti ini tidak bisa ditarik kembali, dan setiap langkah yang diambil akan membawa konsekuensi yang harus diterima, baik ia siap atau tidak.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!