Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam di hari ketiga, akhirnya tugas kimi selesai. Lega? Bukan lagi.
Walau tiap kali Ruby membantunya selalu ada Anela di sana, setidaknya kali ini cewek itu cuma bisa diam karena tugasnya sudah kelar duluan.
Awalnya kimi sempat senyum-senyum mencurigakan, tapi Ruby berusaha terbiasa dan mengabaikan nya.
Yah, bukan tanpa alasan, soalnya meski bisa dibilang 'refleks', tapi kimi berhasil meluk Ruby tanpa penolakan. Dan isi kepalanya langsung kacau: Badan Ruby wangi, tegap, anget.. lumayan lah.
Dari situ Kimi sadar, berdekatan dengan perempuan yang dia tahu punya ketertarikan dengan sesama rasanya.. aneh. Bukan takut, bukan juga jijīk, lebih ke geli yang bikin penasaran.
Ada sesuatu dari Ruby yang beda dari yang lain. Entah efek kepo, atau memang aura magnet Ruby yang kebangetan. Yang jelas, ini tak pernah Kimi rasakan saat dekat dengan siapapun, entah itu cowok atau cewek.
Begitu tugas diserahkan ke pembimbing, beban kimi resmi lenyap. Untuk merayakannya, ia keluyuran sendirian keliling area pelatihan. Entah apa maksudnya, mungkin cuma kurang kerjaan.
"Loh, ini tempat apa?" gumamnya saat nyasar ke belakang kampus.
Ada ruangan kecil yang bersih tapi tersembunyi, menempel di belakang dinding kampus. Di dalamnya cuma ada satu set meja-kursi kantor, plastik berisi bungkus cemilan, kaleng minuman, lalu..
Kimi jongkok, mengambil sesuatu dari bawah meja. Sebelah anting.
Matanya menyipit. "kayak pernah liat deh. Tapi di mana ya?"
Beberapa detik kemudian, "Kayaknya punya pembimbing. Tapi siapa ya? Sumpah, familiar banget."
Ia berniat menanyakannya ke peserta lain, tapi ide yang lebih menarik muncul. Tempat sepi begini cocok dijadikan markas rahasia. Kalau mau ngobrol dengan Ruby tanpa gangguan, ini tempat yang pas!
Kimi langsung nyengir dan putar balik, tanpa sadar melupakan satu hal penting: memastikan hubungan Ruby dan Anela.
Kimi memang berniat menanyakannya, tapi ya... nanti saja, tunggu Ruby mulai nyaman. Soalnya dari pengalamannya, Ruby suka agak sensi kalau Kimi nyenggol-nyenggol soal Anela.
"Dari mana?" tanya Janu saat berpapasan di depan asrama.
"Abis ngiter. Kamu dari mana?"
"Nih." Janu mengangkat komponen komputer yang bikin dahi Kimi berkerut.
"Itu rongsokan?"
"Yeh, si bocil." Janu langsung merangkul Kimi masuk ke asrama. "Ini namanya sisa penjajahan. Lo tau nggak, isi komputer bisa kita ubah sesuka hati."
"Maksudnya kamu bisa ubah komputer jadi mesin cuci?" tanya Kimi polos.
"Ya enggak lah. Bajunya mau kamu masukin ke mana, Kim? Ada-ada aja." Janu melirik Juli dan Septi yang lagi turun tangga. "Eh, malem Jum'at nih, Sis. Pada ng-we di mana?"
"Anjir, bacotnya," semprot Septi.
"Emak-emak satu ini emang beda otaknya. Buruan telpon pacar lo sono. Jadi cewek kok birahi mulu." timpal Juli.
Janu cuma cekikikan, puas bikin dua temannya sewot.
"Mama aku juga gitu ke Papa. Suka kode-kode tiap malam Jumat. Kata Abang, mereka mau cetak gol." celetuk Kimi tanpa dosa.
Tiga orang langsung bengong, lalu ngakak sampai batuk.
"Lo pernah nggak?" tanya Janu, kali ini sambil melirik Ruby dan Anela yang baru masuk.
"Pernah apa? Cetak gol? Enggak lah. Aku mah perawan tingting," jawab kimi santai.
"Semi-semi gitu pernah kali," goda Juli.
"Enggak. Abang bilang harus hati-hati sama cowok."
"Betul. Tapi kalau disosor cewek, lo tampol aja," ujar Janu pura-pura serius.
Kimi meringis, matanya melirik Ruby dan Anela yang naik tangga.
Aneh. kenapa tiap Ruby ada di sekitar, suasananya langsung berubah jadi ajang sindiran?
~
Setelah mandi sore, kimi melangkah ke kamar Febi. Bukan mau belajar, cuma mau ngobrol. Semacam niat baik tanpa tujuan jelas.
Kalau Kimi perhatikan dari semua peserta, cuma Febi yang hampir tak pernah komentar soal Ruby. Mungkin Desi juga, tapi itu karena Desi memang tipe lembut.
"Kim, aku baru dapet paket dari rumah nih. Coba deh," kata Febi sambil menyodorkan kotak kue.
Kimi menatap isinya serius, seperti sedang menilai calon suami.
"Ini... kue labu? Eh, atau bukan? Soalnya warnanya kayak labu."
Kimi mengangguk, langsung nyomot satu potong. Begitu digigit, matanya langsung berbinar.
"Enak banget. Lembut, gak terlalu manis, creamy, terus ada aroma.. kayu manis? Eh, cengkeh? Atau ketumbar?"
"Ya kali kue pake ketumbar, Kim." Febi ketaWa. "Aku aja gak tau resepnya. Aku cuma bisa masak mie rebus doang."
Kimi ikutan terkekeh, tapi tak lama kemudian, nadanya mulai serius.
"Oya, Feb. Aku denger dari Agus, katanya kamu pernah dipeluk Ruby. Itu bener ya?"
Febi sempat diam sebentar. " Oh, itu.. bukan peluk sih. Dia cuma pegang lengan aku, tapi posisinya emang deket banget. kenapa emangnya?"
Kimi menatapnya lekat-lekat, seolah mau mendeteksi sisa trauma, "Enggak, cuma nanya aja. kata Agus kamu sampai trauma, "
Febi langsung ngakak. "Trauma darimana. Dia kan nolongin aku, malah punggungnya yang ketiban buku. Aku yakin itu sakit banget. Tapi anak-anak keburu heboh, bilangnya Ruby sengaja meluk. Udah aku jelasin, tetep aja mereka drama."
"Jadi mereka fitnah dong."
"Entahlah. Emang gitu kan? Kalau udah gak suka, apapun yang dilakuin tetep aja dianggap negatif."
Kimi manggut-manggut pelan. "Jadi kamu gak gimana-gimana ke Ruby?"
"Enggak, tapi aku juga gak pengen deket. Gak mau kayak Anela. Aku gak pernah musuhin juga sih. Ruby orangnya baik, cuma... ya kamu tau sendiri, kadang ada hal-hal yang mending di hindarin, kan?"
Kimi mengangguk lagi, kali ini sambil nyomot sepotong kue lagi biar tidak terlalu kelihatan kepo.
Menurutnya, Febi termasuk normal-eh maksudnya
netral. Hanya terlalu hati-hati. Dan ya, wajar juga sih.
Tapi dari obrolan ini, ada satu hal yang akhirnya jelas bagi Kimi: Kasus pelukan Ruby ke Febi itu cuma salah paham. Atau Ruby memang sudah keburu dicap buaya laut.
Entahlah.
Yang jelas, target berikutnya: Anela.
**