Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 dan 13
..."Keputusan terbaik adalah keputusan yang ketika itu memang benar-benar secara matang terpikir bukan hanya pikiran belaka"....
"Keputusan Abah tidak bisa kamu tolak, Nduk. Umik yakin ini adalah ya g terbaik buat kamu" kata Umik dengan mengelus puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang
"Tapi apa Moza nggak berhak tau tentang perjodohan ini ya, Mik?. Ko sampai 6 tahun Moza nggak tau Apa-apa".kataku dengan air mataku yang lolos keluar tanpa sungkan nya
"Kamu nggak lupa kan yang dulu Abah bilang? Kamu bebas memilih pendidikan kamu kemana saja tapi Masa depan kamu adalah pilihan Abah. Bukankah begitu? ".
"Njih mik, leres".
"Ya sudah berarti kamu harus mencoba bisa menerima ini semua".
"Njih mik. InsyaAllah Moza usahakan".
"Masih ada waktu satu bulan, Nduk. Kamu bisa membiasakan diri".
"Njih Mik".
*****
"Gimana? ".Tanya Bang Syafiq yang tiba-tiba sudah duduk disampingku
"Gimana apanya? ".Tanyaku bingung
"Gus Alvaro" katanya dengan menatapku
"Yaaaa. Mau gimana lagi?. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Lagian kalo aku nolak pastinya Bang Syafiq bakal marah ke aku" kataku pasrah
"Abang marah bukan karena benci atau gimana. Cuman apakah baik menolak keputusan, Abah?. Kan dulu Abah dah bilang ke kamu. Kamu bebas menerus kan pendidikan kamu di mana aja, tapi soal masa depan kan sudah Abah yang memilihkan untuk kamu".Jelasnya Buat Syafiq
Iya aku ngerti apa maksud perkataan Bang Syafiq. Bang Syafiq cuman nggak mau karena adiknya ini menjadi seorang putri satu satunya yang diharapkan oleh keluarga justru malah tak ber sependapat dengan pilihan Abah.
"Iya. Moza ngerti kok. Niat Bang Syafiq itu baik" kataku
"Pinter adiknya Abang" katanya dengan mengelus puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang
"Bang tapi kan Moza nggak tau apa apa tentang Gus Alvaro".kataku dengan mataku yang sudah berkaca kaca
"Abang bantu nanti" kata Bang Syafiq menyemangati ku
"Memang Bang Syafiq mau bantu apa? ".
"Yo pokok e ono lah".
"Aku itu susah bergaul nya Bang".
"Susah bergaul, tapi temen cowok kamu banyak sekali".
"Ya itu kan beda. Temen sekolah sekaligus kuliah. Sedangkan Gus Alvaro aja aku baru tau ".
"Ya makanya nanti Abang bantu. Biar jadi kenal".
"Nggak usah".
"kenapa?".
"Yaaa. Nggak usah aja ".
"Sudah besok ikut Abang" katanya sebelum pergi meninggalkan kamarku "Kemana? ".tanyaku
"Wes e manut".katanya sebelum tubuhnya benar benar hilang dari penglihatan ku.
*****
"Assalamu'alaikum, Ning". Sapanya mbak mbak yang kebetulan papasan denganku, sembari bersalaman dengan ku
"Waalaikumşalam "balasku dengan tersenyum ramah
"Ampun di cium mbak" kataku dengan menarik tanganku ketika mbak2 akan mencium punggung tanganku
Pasti kalian sudah paham diluar kepala. Bahwasanya di kalangan pesantren atau kalangan santri memang mencium tangan itu sudah biasa. Itu sebagai cara mereka menghormati dan mengabdi, kalo bahasa santrinya ngalap barokah.
"Badhe teng pundi Ning? "Tanyannya dengan sopan
"Niki mbak badhe ke kamarnya, Mbak Fisya. Mbak Fisya nya ada mbak? ".Jawabku pada mbak mbak sekalian bertanya
"Njih wonten Ning. Mari kulo derek ke "kata mbak Hana
"Maturnuwun. Kok malah dadi ngerepotke sampeyan ".kataku dengan tersenyum
"Njih mboten nopo nopo Ning" kata mbak Hana Mbak
Hana mengantarkan ku kekamar nya Fisya. Ya Fisya adalah teman dekatku katika aku duduk di madrasah tsanawiyah. Kami berdua selalu bareng, kemana-mana pasti berdua.
"Assalamualaikum". Ucap ku dan mbak Hana bersamaan
"Waalaikumsalam "jawab mereka serentak Mereka langsung menghampiri ku lalu bersakaman denganku.
"Wonten Mbak Moza. Badhe bertemu sama mbak Fisya nggeh? "Tebakan Mala sangat pas sasaran. Aku tak merasakan asing jika Mala memanggilku dengan sapaan Mbak. Karena kamu lumayan dekat juga. Sebenarnya aku lebih nyaman juga dengan panggilan Mbak dari pada Ning.
Diantara mereka yang ku kenal hanya Mala.
Sepertinya mereka santri baru. Mala ini adik kelas ku. Makanya Mala tau kalo aku pasti kesini sedang mencari Fisya.
"Ngerti wae awakmu Mal?"gurau ku
"Jelas to kulo ngertos mbak. Mbak Fisya lagi mandi Mbak".
"Sekarang gimana nerusin di sini juga?" tanyaku dengan duduk disamping Mala
"Njih Mbak.Lha mau gimana lagi. Orang tua lebih setuju disini sekalian mondok. Padahal kulo pengennya seperti njenengan".jawab Mala
"Ya sudah nggak pa-pa. Terus ambil jurusan apa kamu?" tanyaku
"Kulo mendete jurusan Bahasa Arab, Mbak".
"Loh bukannya dulu kamu pengen ambil jurusan bahasa Inggris ya?" tanyaku
"Iya Mbak. Dulu kulo pengen ambil jurusan bahasa Inggris, tapi kok kalo dipikir pikir kulo lebih nyaman bahasa Arab".
"Gitu to?. Aku ya mbatin wae. Padahal kamu itu sering berdialog dengan ku pake bahasa Arab. Eh ko kamu malah pengen nya ambil ilmu bahasa Inggris. Tapi bahasa Inggris mu juga bagus kok".
"Iya. Dulu kan kulo les nya sama njenengan kaleh Mbak Fisya. Yo mestinya bagus"kata Mala dengan tertawa
"Loh? Mozaaaaaa" terkejutnya Fisya dengan memelukku erat "YaAllah bener ora sih?".tak percayanya " Mała ini beneran? ".Tangannya pada Mala
"Iya benar lah Mbak Fisya ".
"Kamu pulangnya sudah dari kapan?. YaAllah ".tanyanya Fisya
"Sudah 2 minggu ini".jawabku
"La kok gak kasih tau aku loh?"
"Pengen kasih suprise".
"YaAllah ".
"Lagian kemarin 2 minggu itu kamu kan nggak di pondok".
"Iya sih aku ada kegiatan gitu selama 2 minggu".
" Katanya mau nyusul ke Jakarta? ".
" iya 3 tahun yang lalu sudah ada rencana. Ya gitu. Orangtua pengen nya aku mondok sama kuliah ".
Sebenarnya Fisya juga mendapatkan beasiswa sepertiku namun Fisya tidak mengambil nya karena orangtua nya lebih setuju kalo Fisya mondok sambil kuliah.
*****