Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Bab 5
Malam hari di kediaman andi pratama,
Suasana rumah kembali hadir,
Semenjak anak pertamanya menikah dan bianca memilih tinggal sendiri rumah terasa sangat sepi.
"Kamu akan kembali tinggal disini kan sayang.."
"Kakakmu jarang sekali berkunjung,kadang mamah yang kerumah mereka untuk menengok cucu.."
ucap nyonya fara ditengah moment makan malam keluarga.
"Mmm..belum tau ma.." ucap bianca
"Kalau sesekali kesini gapapa.."
"Capek kalau tiap hari,jalanan lagi macet terus karna adanya pembangunan.."
"Jauh juga.."
"Paahh...kok gitu.." keluh nyonya fara
"Gapapa mah..kasian bianca.."
"Biarin dia tinggal di apartment toh lebih dekat ke kantornya.."
"Mamah juga biasanya pergi kok bi,.kadang bisa seminggu di rumah,seminggu keluar negri.." ledek tuan andi.
"Temen mamah anaknya ada yang mau kenalan sama kamu.."
"Dia kerja di kejaksaan.."
"Masih muda..pinter loh bi..." ucap nyonya fara dengan semangat.
"Ihh mamah apaan si.."
"Pah,mamah nih..main kenal-kenalin aja.." gerutu bianca.
Disudut kolam,ia duduk dengan kaki masuk kedalam air.
Suasana malam yang asri,
Angin berhembus perlahan,
Bulan yang menampakkan diri hampir sempurna.
Ting "bianca.."
Ting "udah denger kabar belum,katanya devan udah balik dari luar negri.."
Bianca melengos membaca pesan yang sahabatnya kirim,.
Bukan karna pengirimnya tapi karna isi pesan yang ia baca.
Bianca kini menyeburkan diri kedalam kolam sepenuhnya,
Suasana yang tadinya sangat ia nikmati berubah menjadi menjengkelkan.
2 tahun yang lalu,hubungannya dengan devan berakhir begitu saja.
"Aku minta maaf bi..tapi aku ga bisa nerusin hubungan ini.."
"Orang tuaku memintaku kembali ke bandung.."
"Akan sangat susah bagi kita berhubungan jarak jauh.."
Iya,devan beralasan kembali kebandung atas permintaan orang tuanya, Namun setelah bianca menyelidiki lebih lanjut ternyata devan berbohong.
Devan ternyata keluar negri mengikuti pendidikan bersama kekasih barunya.
"Devan yang terlihat sangat baik dan penyanyang saja mampu berbohong,
Semua pria pasti akan sama.."
"Apalagi jonathan..pria brengs*k yang sudah memperko** ku.."
"Kini dia bekerja sebagai wakil pemimpin dikantor.."
Bianca tak henti-hentinya melontarkan rasa kesalnya.
10:30
"Riana pesankan aku 2 kopi dan beberapa cemilan.." terlihat jonathan baru saja keluar dari ruang meeting.
"Jika bianca sudah datang suruh segera masuk keruanganku.." perintahnya.
"Baik pak jo..akan saya sampaikan segera ke bu bianca.."
"Kopinya untuk panas atak kopi dingin pak..?"
"Kamu sudah lama disini kan..?"
"Kamu pasti tau selera bianca.."
"Kalau saya yang panas saja.."
"Ah sudah pak.."
"Baik pak,segera kopi akan diantarkan kedalam ruangan bapak.."
Riana segera menghubungi salah satu ob disana,
Ia yang awalnya ingin sedikit bercanda dengan jonathan,melihat sikapnya yang sedikit dingin menjadi sedikit takut.
"Jangan lama ya pak.."
"Oh iyaa aku mau keluar sebentar ambil peralatan atk di gudang,kalau sudah sampai ketok-ketok dulu yaa.." ucap riana lalu mengakhiri panggilan melalui ponselnya.
"Mau kemana ri buru-buru amat.." tegur bianca yang baru saja datang bersama pegawai yang lain.
"Sini deh bu.." ucap riana langsung berlari kecil mendekat ke arah bianca.
"Pak jo meminta anda keruangannya.."
"Iii sikapnya dingin banget.."
Melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh riana membuat bianca tidak memahami situasi yang telah terjadi,
Jonathan memang terlihat dingin,tapi jo tidak pernah menunjukkan sikap itu didepannya.
Tok tok tok
"Permisi.." ucap bianca sedikit berteriak.
"Masuk.." ucap jo yang tengah membukakan pintu untuk bianca.
Bianca melangkahkan kakinya kedalam ruang kerjo jonathan,ia melihat sekeliling bahwa hanya ada mereka berdua.
Klek
"Kok dikunci pak.."