NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik, Detak Jantung, dan Sebuah Prioritas Baru

Lyra berhasil melarikan diri hingga ke ambang pintu koridor sayap VVIP. Napasnya terengah-engah, bukan karena ia berlari terlalu jauh, melainkan karena jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Wajahnya masih terasa panas membakar.

Ia bersandar pada dinding marmer koridor yang dingin, memejamkan mata, dan merutuki dirinya sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh, batin Lyra. Bagaimana bisa ia bertingkah seperti remaja yang tertangkap basah sedang berpegangan tangan? Ia adalah seorang ilmuwan, seorang Doktor!

Lyra menghela napas panjang, berusaha menatap kembali sisa-sisa harga dirinya. Ia merapikan kemejanya dan hendak melangkah menuju lift, ketika tangannya secara refleks meraba saku dadanya.

Kosong.

Lyra membeku. Kartu akses khusus Museum Nasional miliknya—kunci untuk masuk ke ruang arsip bawah tanah yang paling berharga—tidak ada disana. Memorinya berputar cepat. Ia ingat melepaskan kartu itu dari lehernya dan meletakkannya di atas meja nakas Rayyan saat ia mengeluarkan kopi tadi.

“Astaga…” keluh Lyra putus asa, menyandarkan dahinya ke dinding dengan bunyi thuk pelan. Ia tidak bisa pulang tanpa kartu itu.

Dengan langkah yang diseret layaknya narapidana menuju tiang gantungan, Lyra berbalik kembali ke kamar 412. Di depan pintu, Letnan Jati sedang berdiri kaku seperti patung penjaga istana. Wajah sang wakil komandan itu tampak tegang.

Melihat Lyra kembali, mata Jati seketika berbinar lega.

“Dokter Andini! Syukurlah Anda kembali,” bisik Jati tergesa-gesa, nyaris memohon. “Kolonel mengusir saya keluar hanya dalam hitungan sepuluh detik setelah Anda pergi. Beliau bahkan mengancam akan memindahkan saya ke pos perbatasan paling terpencil jika saya membuat Anda pulang. Silakan, silakan masuk lagi. Nyawa karier saya ada di tangan Anda.”

Jati bahkan membukakan pintu itu lebar-lebar untuk Lyra dan segera menyingkir dari pandangan.

Lyra menelan ludah, melangkah masuk kembali ke dalam ruangan yang didominasi bau antiseptik dan kopi itu. Pintu tertutup rapat dengan bunyi klik yang memblokir suara dari luar.

Rayyan masih berada di posisi yang sama di atas ranjang. Namun kali ini, pria itu tidak sedang membaca tabletnya. Tatapan obsidian Rayyan langsung mengunci sosok Lyra begitu gadis itu melangkah masuk. Di tangan kanannya yang besar, kartu akses museum milik Lyra menggantung santai di ujung jarinya.

“Mencari ini, Dr. Andini?” Suara Rayyan mengalun rendah, tenang, dan dipenuhi oleh kepercayaan diri yang melumpuhkan.

Lyra berdeham, berusaha mempertahankan ekspresi akademisnya. “Y-ya. Itu kartu akses ruang arsip saya, Kolonel. Saya tidak bisa bekerja tanpanya. Boleh… boleh saya ambil?”

Lyra melangkah mendekat ke sisi ranjang, mengulurkan tangannya untuk mengambil kartu tersebut. Namun, saat jari Lyra menyentuh plastik kartu itu, Rayyan menarik tangannya sedikit ke belakang, membuat Lyra gagal meraihnya.

Lyra mengerutkan kening, menatap pria itu dengan bingung. “Kolonel?”

“Seorang komandan tempur diajarkan untuk tidak pernah membiarkan targetnya lolos begitu saja dari perimeter,” ucap Rayyan. Nada suaranya tidak bercanda. Ada intensitas yang sangat dalam di sana. “Terutama ketika target itu melarikan diri tepat sebelum pembicaraan selesai.”

“Pembicaraan… pembicaraan apa?” Lyra pura-pura bodoh, kacamata bulatnya kembali melorot ke ujung hidung saking gugupnya.

Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Rayyan bergerak. Mengabaikan rasa sakit di perutnya yang robek, pria itu memutar pinggulnya sedikit, menggeser tubuhnya lebih dekat ke tepi ranjang tempat Lyra berdiri. Tangan kanannya yang bebas tiba-tiba menjulur, namun bukan untuk mengembalikan kartu itu.

Jari-jari Rayyan yang kasar dan kapalan menyentuh sisi wajah Lyra. Gerakannya begitu lambat, sangat hati-hati, seolah Lyra adalah artefak paling rapuh yang pernah ia sentuh. Rayyan menyelipkan sehelai anak rambut yang menjuntai di pipi Lyra ke belakang telinga gadis itu.

Lyra menahan napas. Seluruh tubuhnya menegang, kakinya terpaku ke lantai. Udara di sekitarnya mendadak tipis.

“Lyra,” panggil Rayyan pelan. Matanya menatap lurus ke kedalaman mata Lyra, menembus kacamata berembun gadis itu. “Selama lima belas tahun di militer, hidup saya adalah tentang memegang kendali. Saya membenci variabel yang tidak bisa ditebak. Saya membenci kekacauan. Bagi saya, apapun yang tidak berada di bawah kendali saya adalah sebuah ancaman.”

Ibu jari Rayyan bergerak mengusap rahang Lyra dengan sangat lembut, menciptakan sensasi terbakar yang menyenangkan di kulit gadis itu. Monitor detak jantung di samping ranjang mulai berbunyi sedikit lebih cepat, mengkhianati ketenangan wajah sang Kolonel. Jantung Rayyan berdebar sama kencangnya.

“Lalu,” lanjut Rayyan, suaranya berubah menjadi bisikan serak. “Intelijen mengirimkan seorang arkeolog mungil yang tersandung kabel di ruangan taklimat saya, menumpahkan kopi ke sepatu saya, dan tidak bisa berjalan di permukaan miring tanpa membahayakan nyawanya sendiri.”

Wajah Lyra memerah sempurna. “Kolonel, Anda tidak perlu mengabsen daftar kebodohan saya—“

“Dengarkan saya,” potong Rayyan lembut. Jari-jarinya kini turun ke tengkuk Lyra, menahan gadis itu agar tidak memalingkan wajah. “Kau adalah definisi mutlak dari kekacauan, Lyra. Kau adalah variabel paling tidak bisa saya kendalikan.”

Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Lyra bisa menghirup aroma maskulin pria itu—perpaduan antara sabun antiseptik rumah sakit yang tajam dan aroma kayu pinus dan peppermin alami dari tubuh Rayyan.

“Tapi saat aku melihatmu di pelataran kuil itu…” suara Rayyan bergetar oleh emosi yang sangat jarang ia perlihatkan. Matanya memancarkan kekaguman yang absolut. “Saat kau menghadapi ledakan bom tanpa mundur satu langkah pun demi melindungi sejarah yang kau cintai… semua logika militerku hancur.”

Rayyan memindahkan tangannya, meraih tangan kanan Lyra yang masih bergetar di sisi tubuhnya. Ia membawa tangan mungil itu ke dadanya yang telanjang, menempelkan telapak tangan Lyra tepat di atas jantungnya yang berdegup keras.

“Aku tidak ingin mengendalikan kekacauanmu, Lyra,” bisik Rayyan, bibirnya nyaris menyentuh kening Lyra. “Aku ingin melindunginya.”

Mata Lyra berkaca-kaca. Ia tidak pernah mendengar kalimat seindah itu dalam hidupnya. Pria ini tidak meminta Lyra untuk berubah. Pria ini tidak menuntutnya menjadi wanita yang rapi, tangguh, atau sempurna. Rayyan Aksara menerimanya secara utuh—lengkap dengan segala kecerobohan dan keanehannya—sebagai sesuatu yang sangat berharga.

“Rayyan…” bisik Lyra, tanpa sadar memanggil nama depan pria itu lagi. Suaranya serak. Jemarinya mencengkeram pelan otot dada Rayyan di bawah telapak tangannya. “Kehidupanku sangat membosankan. Aku hidup di antara debu dan buku-buku tua. Sedangkan kau… kau hidup diantara peluru. Dua dunia ini… bagaimana bisa…?”

“Dunia kita memang bertabrakan,” potong Rayyan. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya ke dahi Lyra. Sentuhan kulit bertemu kulit itu terasa seperti aliran listrik yang menghangatkan sekujur tubuh Lyra. “Dan aku siap menghadapi tabrakan itu setiap hari, asalkan kau berada di dalamnya.”

Rayyan sedikit memiringkan kepalanya. Ia tidak memburu. Sebagai seorang penembak jitu, ia tahu persis kapan harus menekan pelatuk, kapan harus menunggu targetnya menyerah. Ia memberikan Lyra ruang untuk mundur jika gadis itu mau.

Namun Lyra Andini, yang selama ini selalu penakut dalam hal fisik, ternyata memiliki keberanian seorang pejuang dalam hati.

Lyra berjinjit sedikit, menahan napasnya, dan menutup jarak yang tersisa di antara mereka.

Bibir mereka bertemu.

Itu bukan ciuman yang meledak-ledak dan tergesa-gesa. Ciuman itu pelan, sangat berhati-hati, dan dipenuhi oleh rasa hormat. Bibir Rayyan terasa hangat dan sedikit kering, tetapi cara pria itu melumat bibir Lyra dengan lembut membuat kepala Lyra seketika berputar. Tangan Rayyan yang besar memeluk pinggang Lyra, menarik gadis itu lebih dekat hingga menempel di tepi ranjang, memastikan tubuh mungil itu benar-benar masuk ke dalam zona amannya.

Lyra memejamkan mata rapat-rapat, merespons ciuman itu dengan kepolosan dan gairah yang sama besarnya. Tangan kirinya bergerak naik, meremas rambut gelap Rayyan yang sedikit memanjang di bagian tengkuk. Pria itu menggeram rendah, sebuah suara maskulin penuh kepuasan yang menggetarkan dada Lyra, sebelum memperdalam ciuman mereka.

Waktu terasa berhenti di ruang rawat VVIP tersebut. Tidak ada lagi ketegangan misi, tidak ada lagi bom yang berdetak. Yang ada hanyalah aroma peppermin, kehangatan pelukan, dan janji tak terucap dari seorang tentara baja kepada wanita yang telah meruntuhkan pertahanannya.

Ketika mereka akhirnya melepaskan diri karena kekurangan oksigen, keduanya terengah-engah. Wajah Lyra semerah kepiting rebus, napasnya memburu. Kacamata bulatnya sudah benar-benar miring tak karuan.

Rayyan menatap gadis di pelukannya dengan seringai tipis yang luar biasa tampan. Tangan besarnya naik, membetulkan letak kacamata Lyra dengan sentuhan sayang, sebelum menyentil pelan hidung bangir gadis itu.

“Kartu aksesmu,”Rayyan menyelipkan kartu plastik itu ke dalam saku kemeja Lyra, lalu menahan pandangan gadis itu. “Kau boleh kembali ke museummu sekarang, Dr. Andini. Tapi bersiaplah.”

Lyra mengerjap, berusaha mengumpulkan kembali kewarasannya. “B-bersiap untuk apa?”

Mata obsidian Rayyan berkilat penuh teka-teki. “Misi ekstraksiku di hutan mungkin sudah selesai. Tapi operasiku untuk menaklukanmu secara resmi baru saja dimulai. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam hari Jumat depan. Pakai sesuatu yang bukan rompi anti-peluru.”

Lyra terpaku, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. Sang Kolonel baru saja secara sepihak menjadwalkan kencan pertama mereka dengan nada perintah operasi militer.

Alih-alih protes, sebuah senyum manis perlahan mengembang di bibir Lyra. Ia mundur selangkah, menatap wajah pria tangguh itu dengan sorot mata yang tak kalah menantang.

“Siap laksanakan, Kolonel,” balas Lyra pelan, sebelum membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Kali ini, tanpa tersandung apa pun.

Rayyan bersandar kembali ke tumpukan bantalnya, matanya terus mengikuti kepergian Lyra hingga pintu tertutup. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Kolonel Rayyan Aksara, ia tersenyum lebar. Rasa sakit di perutnya bahkan tidak lagi terasa.

Jumat malam. Misi baru. Dan Rayyan tidak pernah gagal dalam misinya.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!