Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk Ratu Kegelapan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : Debu di Balik Kejayaan
Ribuan tahun setelah **Kaisar Primordial Wang Tian** menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, **Lin Xuelan**, melahirkan garis keturunan *Penjaga Samudra*. Istri ketiga, **Mora**, melahirkan klan *Bayangan Langit*. Istri keempat, **Lin Xia** (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis *Pedang Dewa*. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, **Sui Ren**, Sang Permaisuri Angin.
dan istri ke 4
Garis keturunan **Sui Ren** dikenal sebagai **Keluarga Wang-Sui**. Mereka adalah penguasa badai dan pengatur cuaca Benua Tengah. Namun, seiring berjalannya ribuan tahun, kemurnian darah Primordial dalam keluarga ini mulai menipis. Cicit-cicit dari Sui Ren mulai terpecah, dan lahirlah seorang pemuda dari cabang keluarga yang paling terpinggirkan.
### **Identitas : Wang Jian**
* **Asal:** Cicit dari Sui Ren (Garis Keturunan Istri ke-2).
* **Kondisi Awal:** Lahir dengan meridian yang tampak "tersumbat", membuatnya dianggap sampah oleh keluarga besar Wang-Sui yang sombong.
Di Kota Badai, pusat kekuasaan Keluarga Wang-Sui, sedang diadakan ujian tahunan untuk menentukan siapa yang layak masuk ke **Ranah Pemurnian Qi (Bintang 1)**. **Wang Jian** berdiri di barisan paling belakang. Pakaiannya lusuh, sangat kontras dengan sepupu-sepupunya yang mengenakan sutra berhias emas.
"Wang Jian, Bintang 0. Gagal!" seru penguji dengan nada menghina.
Seluruh arena tertawa. Mereka tidak tahu bahwa "penyumbatan" di meridian Wang Jian bukanlah cacat, melainkan **Segel Kehendak Alam** yang ditinggalkan oleh kakek buyutnya, Wang Tian. Darah Sui Ren di tubuhnya terlalu murni, sehingga energi alam menolak untuk masuk jika tidak melalui cara yang benar
Malam itu, Wang Jian mendaki tebing terlarang di belakang kediaman keluarganya. Di sana terdapat sebuah gubuk tua milik pelayan lama yang sudah pikun. Saat Wang Jian membersihkan gubuk tersebut, ia menemukan sebuah gulungan tua yang warnanya sudah menguning.
Itu bukan teknik tingkat tinggi, melainkan catatan harian pribadi **Sui Ren** yang ditujukan untuk keturunannya yang paling malang.
> *"Jika kau membaca ini, berarti kau memiliki nasib yang sama denganku—dianggap lemah karena anginmu tidak menghancurkan. Ingatlah, angin yang paling kuat bukanlah badai yang terlihat, melainkan udara yang menyusup ke dalam tulang."*
>
Saat Wang Jian membaca kalimat itu, segel di tubuhnya bergetar. Sebuah teknik kuno bernama **"Napas Kehampaan Primordial"** mulai mengalir di benaknya.
Selain kultivasi, Wang Jian menemukan bakat unik lainnya. Ia tidak bisa mengeluarkan api untuk membakar kuali obat, namun ia bisa mengendalikan **Tekanan Udara**.
Di dunia alkemis, semua orang menggunakan api. Namun Wang Jian melakukan hal yang mustahil: **Alkimia Dingin**. Dengan memanipulasi tekanan udara di dalam kuali, ia mampu memeras sari pati tumbuhan tanpa merusak khasiatnya.
Ia berhasil menciptakan sebutir pil berwarna perak kusam. Tanpa ia sadari, itu adalah **Pil Pembersih Tubuh Kelas 3 (Bintang 9)**, sesuatu yang bahkan hanya bisa dibuat oleh **Alkemis Perunggu** senior.
Dengan pil buatannya sendiri, Wang Jian mulai berkultivasi secara rahasia. Dalam satu malam, ia melompati **Ranah Pembersihan Tubuh** dan langsung mencapai **Ranah Penguatan Tulang Bintang 3**.
Suaranya tulang-tulangnya berderak sekeras baja saat ia mengepalkan tangan. Angin di sekitarnya mendadak sunyi, seolah-olah udara itu sendiri tunduk pada perintahnya.
**Konflik Antar Keturunan**
Kehebatan Wang Jian mulai tercium saat ia secara tidak sengaja mengalahkan putra dari pemimpin klan Wang-Sui, **Wang Feng**, yang sudah mencapai **Ranah Pemurnian Qi Bintang 5**. Hanya dengan satu jentikan jari yang menciptakan tekanan udara tinggi, Wang Feng terlempar keluar arena latihan.
"Siapa kau sebenarnya?!" teriak Wang Feng penuh amarah.
Wang Jian berdiri tenang. Rambutnya yang sedikit keperakan tertiup angin sepoi-sepoi. "Aku hanya debu dari masa lalu yang akhirnya mulai terbang."
**Ancaman dari Klan Istri Lain**
Kabar tentang munculnya jagoan baru dari garis Sui Ren sampai ke telinga **Klan Wang-Xuelan** (Keturunan istri ke-1). Mereka yang selama ini merasa sebagai pewaris terkuat karena darah Samudra, merasa terancam.
Mereka mengirimkan jenius muda mereka, seorang gadis cantik namun dingin bernama **Wang Meili**, yang sudah mencapai **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 1**.
"Keturunan angin sudah lama melemah. Jangan coba-coba membangkitkan singa yang sudah mati," ucap Meili saat bertemu Jian di perbatasan kota.
**Awal dari Perjalanan Primordial Baru**
Wang Jian menyadari bahwa dunia sudah lupa siapa nenek moyang mereka sebenarnya. Mereka memperebutkan kekuasaan dengan nama Wang, tapi melupakan esensi dari kekuatan Primordial.
"Aku akan mengumpulkan kembali serpihan kejayaan kakek buyutku," gumam Wang Jian sambil menatap langit. "Dan aku akan memulainya dengan membuktikan bahwa angin adalah penguasa dari semua elemen."
**Status Kultivasi Wang Jian saat ini:**
* **Ranah:** Penguatan Tulang (Bintang 5).
* **Teknik Utama:** Napas Kehampaan Primordial (Warisan Sui Ren & Wang Tian).
* **Peringkat Alkemis:** Magang (Namun dengan teknik Alkimia Dingin yang unik).
**Apakah Wang Jian akan mampu menghadapi sepupu-sepupunya dari garis keturunan istri yang lain dan mencapai Ranah Eternal Dao seperti kakek buyutnya?**
# tapi cerita berlanjut untuk fokus pada istri ke 4 dan keturunannya #
di mana konspirasi besar dari garis keturunan istri keempat mulai terkuak.
## **SAGA: PENGKHIANATAN DARAH SURGA**
** Bayangan dari Lembah Pedang Suci**
Langit di atas Benua Tengah biasanya berwarna biru cerah dengan sapuan awan putih yang diatur oleh Keluarga Wang-Sui. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Awan-awan itu tidak bergerak mengikuti arus angin. Mereka diam, membeku, seolah-olah ruang di atas sana telah dikunci oleh ribuan benang yang tak terlihat.
Wang Jian berdiri di puncak menara pengawas Kota Badai. Matanya yang tajam, hasil dari kultivasi *Napas Kehampaan Primordial*, menangkap distorsi di cakrawala. Di tangannya, sebuah kompas perunggu tua bergetar hebat.
"Energi ini... ini bukan angin, bukan pula air," gumam Jian. "Ini adalah niat pedang yang sangat tajam hingga mampu memotong aliran udara."
Di sisi lain benua, di wilayah yang dikenal sebagai **Lembah Pedang Suci**, garis keturunan **Lin Xia** (Istri Keempat) sedang berkumpul. Berbeda dengan klan lain yang merayakan warisan Wang Tian dengan menjaga keseimbangan, keturunan Lin Xia—Klan **Wang-Xia**—telah lama memendam api kecemburuan.
Lin Xia, yang dulunya adalah seekor rubah yang berubah menjadi manusia, memiliki ambisi yang jauh lebih liar daripada istri-istri Wang Tian lainnya. Bagi keturunannya, menjadi "penjaga" adalah penghinaan. Mereka ingin menjadi "pemilik".
### **Kebangkitan Sang Pangeran Iblis: Wang Ruo**
Di dalam aula utama yang dingin, seorang pemuda duduk di singgasana yang terbuat dari ribuan pedang patah. Ia adalah **Wang Ruo**, jenius nomor satu dari garis keturunan istri keempat. Wajahnya tampan namun pucat, dengan tanda lahir berbentuk pedang merah di keningnya.
"Ayah," suara Ruo terdengar seperti gesekan logam. "Apakah segel itu sudah melemah?"
Seorang pria paruh baya, **Wang Zhun**, pemimpin Klan Wang-Xia saat ini, mengangguk perlahan. "Benar, anakku. Segel yang dipasang Wang Tian pada garis keturunan kita untuk menekan aura 'Iblis Langit' dari sisi ibunda Lin Xia telah retak. Kita tidak lagi perlu berpura-pura menjadi pendekar pedang yang budiman."
Wang Ruo berdiri, dan seketika itu juga, suhu di ruangan turun drastis. Sebuah pedang hitam legam muncul di tangannya. Ini adalah **Pedang Pemakan Surga**, senjata yang konon ditempa dari sisa-sisa tulang naga primordial yang dibunuh secara diam-diam oleh Lin Xia ribuan tahun lalu.
"Klan Wang-Sui di tengah hanya tahu cara bermain dengan angin. Klan Wang-Xuelan di timur hanya tahu cara berenang di air. Dan Klan Mora di barat bersembunyi dalam bayang-bayang seperti pengecut," Wang Ruo mengayunkan pedangnya, membelah udara hingga menciptakan celah dimensi kecil. "Dunia ini milik mereka yang memiliki ketajaman untuk memotong takdir. Kita akan menyatukan seluruh klan Wang di bawah satu kaki: Kaki kita."
### **Rencana Pembersihan Darah**
Strategi Klan Wang-Xia sangat licik. Mereka tidak menyerang secara terbuka. Mereka mulai mengirimkan "Duta Perdamaian" ke klan-klan lain, membawa hadiah berupa pil dan senjata tingkat tinggi. Namun, di dalam hadiah-hadiah itu tersembunyi **Racun Pemutus Meridian** yang hanya akan bereaksi jika terkena energi alam tertentu.
Target pertama mereka adalah Wang Jian. Mengapa? Karena laporan dari Wang Meili (Keturunan Istri Pertama) menyebutkan bahwa Jian memiliki teknik yang sangat mirip dengan catatan asli Wang Tian.
"Jika dia benar-benar memiliki *Napas Kehampaan Primordial*, dia adalah ancaman terbesar kita," ujar Wang Zhun. "Udara ada di mana-mana. Jika dia bisa mengendalikan tekanan udara di dalam tubuh lawan, bahkan seorang ahli Ranah Kristalisasi Inti bisa meledak dari dalam."
Wang Ruo tersenyum tipis. "Biarkan aku yang pergi. Aku ingin melihat apakah 'debu dari masa lalu' itu bisa menahan satu tebasan dari pedangku."
### **Pertempuran di Perbatasan Angin dan Logam**
Beberapa hari kemudian, di perbatasan wilayah Barat dan Tengah, Wang Jian yang sedang melakukan perjalanan untuk mencari tanaman obat langka dihadang oleh sekelompok pria berpakaian zirah perak. Di tengah mereka, berdiri Wang Ruo dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Wang Jian dari cabang sampingan Sui Ren," panggil Ruo. "Kau cukup berani menampakkan diri setelah mempermalukan sepupu-sepupumu."
Jian berhenti melangkah. Ia bisa merasakan tekanan udara di sekitar Ruo sangat kacau. "Keturunan Istri Keempat... Kalian biasanya mengurung diri di lembah. Apa yang membawa 'pedang-pedang haus darah' ke wilayah terbuka ini?"
"Kepalamu," jawab Ruo singkat.
Tanpa peringatan, Ruo bergerak. Kecepatannya melampaui suara. **Teknik Pedang: Seribu Cahaya Pemutus Jiwa!**
Ribuan bayangan pedang berwarna merah darah menghujani Jian. Tanah di bawah kaki Jian hancur berkeping-keping. Namun, Jian tidak menghindar. Ia mengambil napas dalam-dalam—bukan napas biasa, melainkan cara bernapas yang menyerap keheningan.
**Teknik Pertahanan: Dinding Vakum Primordial!**
Seketika, dalam radius tiga meter di sekitar Jian, udara menghilang total. Karena tidak ada udara untuk menghantarkan energi dan gesekan, serangan pedang Ruo yang bergantung pada momentum udara menjadi melambat secara drastis.
*Clang! Clang! Clang!*
Pedang-pedang itu seolah menabrak dinding yang tak terlihat namun sangat keras.
"Apa?!" Ruo terkejut. "Kau menciptakan ruang hampa?"
"Angin bukan hanya tentang tiupan, Ruo," ujar Jian dengan tenang. "Angin adalah tentang keberadaan udara. Dan aku adalah penguasa atas ada atau tidaknya udara itu."
Jian membalas. Ia menghentakkan kakinya, dan tekanan udara di bawah kaki Ruo tiba-tiba meningkat 100 kali lipat. Ruo merasa seolah-olah sebuah gunung jatuh menimpa pundaknya. Tanah di bawah Ruo amblas sedalam dua meter.
"Cukup menarik," Ruo menyeringai, matanya mulai berubah menjadi merah menyala. "Tapi kau lupa satu hal. Pedang kami tidak hanya memotong fisik. Kami memotong *Qi*."
Ruo melepaskan segel pada lengannya. Aura hitam pekat keluar, membentuk sayap rubah di punggungnya. Ini adalah kekuatan warisan Lin Xia yang telah terkontaminasi oleh ambisi kegelapan.
Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai. Di belakang mereka, ribuan anggota klan Wang-Xia mulai bergerak keluar dari lembah, memulai invasi besar-besaran untuk menjajah benua. Target mereka bukan hanya kekuasaan, tapi untuk membangkitkan kembali **Lin Xia** yang jiwanya ternyata tersimpan di dalam sebuah artefak terlarang, menunggu cukup banyak darah keturunan Wang Tian untuk tumpah agar ia bisa hidup kembali.
**Status Kultivasi Terbaru Wang Jian (Bab 31):**
* **Ranah:** Penguatan Tulang (Bintang 9 - Puncak).
* **Wawasan:** Memahami konsep "Vakum" (Hampa Udara).
* **Kondisi:** Terancam oleh kekuatan Iblis Rubah dari garis keturunan Lin Xia.
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam.
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru
narasi jadi terlalu singkat tanpa di sadari cerita sudah tamat
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru... tetapi ini membuat narasi cerita jadi pendek
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
lanjut kaka
Cerita mengikuti wang tian seorang pemuda yang awalnya dianggap sampah/cacat/berasal dari klan kecil. Namun, sebuah pertemuan takdir dengan kitab kuning dan guru misterius mengubah jalannya.
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam]. Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pacing: Alur ceritanya terasa cepat namun mendalam, Penulis berhasil membangun ketegangan setiap kali tokoh utama naik ke ranah (realm) baru.
World Building: Dunia yang dibangun sangat luas, mencakup berbagai sekte tersembunyi, alam dewa, hingga lembah iblis yang mencekam.