NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Padepokan Bambu Kuning.

Malam turun perlahan, menelan sisa cahaya merah saga yang tadi membakar cakrawala. Hutan bambu di sekeliling lembah bergemerisik lirih, seolah berbisik tentang sesuatu yang belum terungkap. Sisa benturan tenaga dalam antara Ki Ranca dan Rangga Nata masih terasa menggantung di udara, halus namun menekan.

Ki Ranca berdiri tegak beberapa langkah di depan Rangga. Sorot matanya kini tak lagi setajam tadi. Kecurigaan yang semula menggelora perlahan luruh, berganti dengan kekaguman yang sulit disembunyikan.

“Anak muda,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali dalam dan berwibawa, “tidak baik berjalan sendiri di daerah ini. Apalagi setelah apa yang terjadi tadi. Banyak mata yang mungkin telah memperhatikan.”

Rangga menunduk hormat. “Aku hanya seorang pengembara, Ki. Tidak berniat menimbulkan keributan.”

“Justru karena itu,” sahut Ki Ranca, “kau semakin menarik perhatian.” Ia menghela napas pendek. “Ikutlah ke Perguruan Bambu Kuning. Setidaknya untuk malam ini, kau berada di tempat yang aman.”

Rangga terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Baik, Ki. Aku menerima.”

Tanpa banyak bicara, Ki Ranca berbalik. Para murid segera mengikuti di belakang. Rindu berjalan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Rangga, sedangkan Kemboja tetap diam dengan sorot mata tajam, seolah mencoba mengukur kedalaman ilmu pemuda itu.

---

Perguruan Bambu Kuning terletak di lembah yang dikelilingi rumpun bambu tua. Bangunan-bangunannya sederhana, namun tersusun rapi. Di tengahnya berdiri sebuah pendopo besar dengan tiang-tiang bambu kuning yang tampak mengilap seperti dilapisi minyak. Aura tenang namun kuat terasa menyelimuti seluruh tempat itu.

Begitu mereka tiba, para murid yang sedang berlatih segera menghentikan gerakan. Tatapan mereka tertuju pada Rangga, penuh rasa ingin tahu dan kagum yang tak tersamar.

Ki Ranca melangkah ke tengah pendopo, lalu menghentakkan tongkatnya pelan.

“Keluar kalian berdua!”

Suara itu menggema.

Tak lama kemudian, dua pemuda muncul dari bagian dalam. Langkah mereka mantap, napas teratur, dan sorot mata tajam. Wajah keduanya mirip, namun pembawaan mereka berbeda.

Yang pertama berwajah tenang, gerakannya halus seperti air mengalir. Yang kedua lebih tajam, penuh semangat seperti api yang siap menyala. Di tangan mereka masing-masing tergenggam tongkat bambu kuning.

“Ini kedua putraku,” kata Ki Ranca. “Sanca… dan Sona.”

Keduanya memberi hormat singkat, namun mata mereka tetap menatap Rangga tanpa berkedip.

“Orang ini Rangga Nata,” lanjut Ki Ranca. “Ia mampu menahan seranganku barusan.”

Ucapan itu membuat suasana seketika sunyi.

Sanca sedikit mengernyit. Sona tersenyum tipis, namun sorot matanya menajam.

“Begitu?” ujar Sona. “Kalau begitu, izinkan kami memastikan sendiri.”

Rangga tidak bergerak. “Silakan.”

Belum habis kata itu terucap, tubuh Sona sudah melesat. Gerakannya cepat, ringan, seperti bayangan yang terlempar angin.

Tongkatnya bergerak dalam jurus “Sabetan Bambu Patah Angin”—serangan lurus yang tiba-tiba berbelok di tengah jalan, mengincar bahu Rangga dari sudut yang sulit diperkirakan.

Namun Rangga hanya mengangkat tangan kanannya.

Dua jari menjepit.

Tap!

Tongkat itu berhenti seketika.

Sona tertegun. Ia mencoba menarik tongkatnya, namun terasa seperti menjepit batu karang.

“Tenagamu terlalu terbuka di awal,” ujar Rangga tenang. “Kecepatan tanpa penutup celah hanya akan memperlihatkan kelemahan.”

Ia melepaskan jepitan. Sona mundur dua langkah, napasnya sedikit berubah.

Kini Sanca melangkah maju.

“Giliranku.”

Ia memutar tongkatnya perlahan. Tidak ada gerakan mencolok, namun udara di sekelilingnya terasa berat. Kaki kirinya maju setengah langkah, sementara tangan kanannya menggenggam tongkat dengan posisi rendah.

“Jurus ‘Bambu Menghantam Gunung’,” gumamnya.

Tiba-tiba tongkat itu bergerak.

Tidak cepat.

Namun berat.

Ayunannya turun dari atas dengan lintasan lurus, membawa tekanan seperti runtuhan batu besar. Udara di sekitarnya bergetar halus, menandakan pengerahan tenaga dalam yang padat.

Rangga tetap berdiri di tempat.

Saat tongkat itu hampir mengenai kepala, ia mengangkat telapak tangan kiri.

Dum!

Benturan terjadi.

Gelombang tenaga menyebar ke segala arah, membuat debu di lantai terangkat. Retakan halus muncul di tanah di bawah kaki mereka.

Namun tongkat itu tertahan.

Tidak bergerak.

Hanya dengan satu tangan.

Sanca mengerahkan tenaga lebih dalam, urat di lengannya menegang. Namun semakin ia menekan, semakin terasa tenaga itu tenggelam seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar.

Rangga menggeser langkahnya sedikit, lalu memutar pergelangan tangannya.

Gerakan itu sederhana, namun mengandung putaran tenaga dalam yang halus.

Sanca tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Rangga mendorong pelan.

Sanca terpental mundur tiga langkah, hampir kehilangan pijakan.

Pendopo menjadi sunyi.

Para murid menahan napas.

Sona kini benar-benar serius. Sanca menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dalam tubuhnya.

Ki Ranca tersenyum tipis.

“Cukup.”

Suaranya tidak keras, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.

Kedua pemuda itu segera menurunkan tongkat mereka.

“Kalian sudah melihat,” lanjut Ki Ranca. “Ilmu bukan hanya soal kekuatan. Ada kedalaman yang tidak bisa diukur dengan tenaga semata.”

Sanca menunduk. “Kami mengerti, Ayah.”

Sona terdiam sejenak, lalu menyeringai kecil. “Baik. Kali ini aku mengaku kalah. Tapi lain kali, aku tidak akan memberi kesempatan.”

Rangga mengangguk. “Aku akan menunggu.”

Suasana perlahan mencair. Namun Ki Ranca justru memandang ke arah langit malam yang mulai gelap. Angin berembus lebih dingin dari sebelumnya.

“Aku harap… kedatanganmu bukan pertanda buruk,” gumamnya pelan.

Rangga tidak menjawab. Matanya ikut menatap ke arah yang sama.

Di balik pegunungan Balakambang, sesuatu yang lama tertidur perlahan mulai bangkit. Sebuah kekuatan yang telah lama dilupakan, kini kembali menggerakkan bayangannya di dunia persilatan.

Dan ketika saat itu tiba…

Darah akan kembali mengalir.

Bersambung… 🔥

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!