Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara kebencian dan teror
Tiana kini berdiri mematung di depan papan kayu besar. Di atas kepalanya, sebuah apel merah diletakkan dengan posisi yang sangat goyah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.
Di kejauhan, salah satu penembak terbaik Alex sudah mengokang senapannya, membidik tepat ke arah Tiana.
Suasana di lapangan latihan itu mendadak hening seketika. Suara tawa para anak buah klan Ferguson lenyap, digantikan oleh ketegangan yang mencekik udara.
Alex bangkit dari kursi kebesarannya dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. Ia meletakkan gelas wiskinya, lalu melangkah mantap menghampiri anak buahnya yang sedang membidik. Dengan satu gerakan dominan, Alex merampas senapan laras panjang itu.
"Biarkan aku yang membunuhnya sendiri," ucap Alex dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Mendengar itu, jantung Tiana seolah berhenti berdetak. Seluruh aliran darahnya terasa membeku. Ia menatap sosok Alex di kejauhan yang kini mulai mengangkat senapan, membidik tepat ke arah wajahnya.
Glekk.
Tiana menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku di atas tanah. Tidak ada lagi pangeran tampan, tidak ada lagi pelindung. Hanya ada maut yang sedang mengincarnya lewat tangan pria yang baru saja ia "pukul" semalam.
Tiana memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran seragam pelayannya hingga buku-bukunya memutih. "Ayah... tolong Ana..." bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar di tengah deru angin lapangan.
"Bersiaplah, baby..." desis Alex dari kejauhan.
Alex memicingkan satu matanya, jarinya perlahan menarik pelatuk senapan itu. Ia sengaja membiarkan suara mekanis senapan itu terdengar jelas di telinga Tiana untuk menyiksa mental gadis itu.
KLIK.
Suara pelatuk yang ditarik menggema di keheningan. Tiana tersentak, tubuhnya bergetar hebat menantikan peluru yang akan menembus kepalanya. Namun, sedetik kemudian...
DORRR!
Suara ledakan senapan itu memekakkan telinga. Tiana merasakan sesuatu yang panas melesat sangat dekat dengan telinganya, disusul suara benda yang pecah berantakan di belakang kepalanya.
Tiana tetap memejamkan mata, napasnya tersengal-sengal, air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat. Ia masih hidup.
"Buka matamu, Tiana," perintah Alex, kini suaranya terdengar jauh lebih dekat.
Saat Tiana membuka matanya dengan gemetar, ia melihat Alex sudah berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Di tanah, serpihan apel merah berserakan. Peluru Alex tepat mengenai sasaran, namun ia sengaja membidik sangat tipis di atas kepala Tiana untuk memberikan teror yang nyata.
Alex menyeringai, menatap wajah Tiana yang hancur karena ketakutan. "Kau masih hidup. Tapi ingat, setiap detak jantungmu sekarang adalah pinjaman dariku. Jika kau berani melawanku lagi, peluru selanjutnya tidak akan mengenai apel itu."
------------------------------
Tiana merosot ke tanah dengan lemas, kedua tangannya mencengkeram dadanya yang naik-turun tak beraturan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan, seolah ingin meledak keluar dari rusuknya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan wajahnya sepucat kertas. Suara ledakan senapan tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, menyisakan rasa berdenging yang menyakitkan.
"Hiks... kau gila... kau benar-benar iblis..." isak Tiana lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara deru napasnya yang tersengal-sengal.
Alex tidak memedulikan penderitaan gadis itu. Ia menyerahkan kembali senapan panjangnya kepada anak buahnya dengan gerakan santai, seolah baru saja menyelesaikan permainan lempar bola yang membosankan. Ia melangkah mendekati Tiana, bayangannya yang besar menelan tubuh mungil Tiana yang masih bersimpuh di atas rumput.
"Masuklah ke kamarku, baby. Aku ada tugas untukmu lagi," perintah Alex dengan nada bariton yang dingin dan mutlak. Matanya yang tajam menatap Tiana tanpa setitik pun rasa iba.
Tiana mendongak, matanya yang basah menatap Alex dengan kebencian yang mendalam. "Apa lagi? Belum cukup kau hampir membunuhku hari ini?!"
Alex menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Tiana meremajang. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Tiana yang masih memerah. "Jika kau tidak segera beranjak, tugasmu di kamar nanti akan jauh lebih berat dari sekadar membersihkan debu, Tiana. Pilihannya ada padamu."
Tiana tertegun, ancaman terselubung itu langsung menusuk mentalnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia memaksakan diri untuk berdiri. Kaki-kakinya terasa seperti jeli, namun ia tetap melangkah menuju mansion, melewati barisan anak buah Ferguson yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan—kasihan, namun juga penuh rasa lapar.
Sesampainya di dalam kamar mewah Alex, Tiana hanya bisa berdiri mematung di tengah ruangan. Ia bertanya-tanya, "tugas" gila apalagi yang akan diberikan pria manipulatif ini padanya?