NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / CEO
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Suara gemercik minyak panas di wajan mendadak senyap di telinga Alyssa, digantikan oleh debaran jantungnya yang kian berpacu cepat. Map hitam di atas meja konter dapur seolah memanggilnya untuk segera dikuliti. Setelah mematikan kompor dan memindahkan sarapan ke atas piring, Alyssa menarik kursi kayu, duduk dengan tegap, lalu membuka lembaran demi lembaran dokumen resmi tersebut.

Sebagai mahasiswi tingkat akhir jurusan bisnis yang cerdas, Alyssa tidak sekadar membaca kata per kata. Matanya bergerak taktis, memindai deretan angka, grafik neraca keuangan, hingga klausul hukum yang tertera di sana. Namun, semakin jauh lembaran itu dibuka, cengkeraman jemarinya pada kertas putih itu kian mengencang hingga kukunya memutih.

Napasnya tertahan. Lembar demi lembar laporan audit independen yang dilampirkan oleh pihak Maheswara menunjukkan fakta yang jauh lebih mengerikan dari apa yang diucapkan ayahnya semalam.

Ini tidak masuk akal, batin Alyssa, matanya melebar menatap total nominal angka di kolom paling bawah.

Jumlah utang yang mengikat Grup Pradipta ternyata berlipat-lipat ganda dari estimasi kasat mata yang selama ini ia ketahui dari berita ekonomi luar. Kerugian dari kegagalan proyek di sektor hulu hanyalah puncak dari gunung es. Di bawahnya, terdapat gurita utang piutang terstruktur, bunga berbunga yang mencekik, serta penalti dari pemutusan kontrak sepihak oleh para mitra yang mendadak lari. Ini bukan sekadar ambang kebangkrutan biasa, ini adalah sebuah skenario penghancuran yang masif dan sistematis.

"Bagaimana bisa Ayah menyembunyikan angka sebesar ini?" bisik Alyssa pada dirinya sendiri, merasakan hawa dingin mulai merayap naik ke tengkuknya. Ada rantai utang yang tak terlihat yang sengaja dililitkan di leher keluarga mereka, dan entah sejak kapan lilitan itu dimulai.

...----------------...

Di saat yang sama, di ruang kerja pribadinya yang temaram, Adrian Pradipta sedang menatap layar ponselnya yang menyala di atas meja kerja. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di sana, berkedip-gridik memecah keheningan ruangan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Adrian menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Halo?"

"Selamat pagi, Tuan Adrian Pradipta," sebuah suara bariton yang berat dan terdengar asing menyahut dari seberang sana. Nada bicaranya begitu tenang, namun menyimpan distorsi yang aneh, seperti menggunakan alat pengubah suara. "Saya mendengar kabar bahwa Anda sedang bersiap menyerahkan putri sulung Anda ke dalam sangkar singa Maheswara malam ini."

Adrian tersentak, punggungnya menegak seketika. "Siapa Anda? Dari mana Anda tahu hal itu?!"

Pria di seberang telepon terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar dingin dan meremehkan. "Itu tidak penting. Yang penting adalah, saya punya penawaran yang jauh lebih menarik daripada kontrak pernikahan Mahendra Maheswara. Saya bisa melunasi seluruh utang tersembunyi Grup Pradipta dalam waktu dua puluh empat jam. Tanpa syarat pernikahan, tanpa mengorbankan putri Anda."

Jantung Adrian berdegup kencang. Tawaran itu terdengar bagaikan mukjizat yang turun dari langit di tengah badai, terlalu indah dan sempurna untuk menjadi kenyataan. Logika bisnisnya berteriak bahwa ini adalah jebakan, namun keputusasaan di dalam dirinya mulai mengikis akal sehat. Ketika seseorang berada di dasar jurang, seutas tali rapuh pun akan dianggap sebagai dewa penyelamat.

"Apa imbalannya?" tanya Adrian dengan suara tercekat. "Tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Apa yang Anda inginkan dari saya?"

"Cukup lakukan satu hal kecil untuk saya nanti malam di kediaman Maheswara," bisik suara misterius itu penuh intrik, membisikkan sebuah instruksi yang membuat darah Adrian mendadak berdesir dingin. "Pikirkan baik-baik, Tuan Adrian. Pilihan ada di tangan Anda. Menyerahkan putri Anda pada kepunahan, atau bekerja sama dengan saya."

Klik.

Sambungan telepon diputus sepihak, meninggalkan Adrian yang terpaku dengan napas memburu di kursinya.

...----------------...

Di luar ruang kerja, Alyssa berjalan melintasi koridor sambil membawa nampan berisi teh hangat untuk ayahnya. Namun, langkah kakinya terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu kayu yang sedikit retak itu. Sayup-sayup, ia mendengar sisa percakapan sang ayah yang bernada tegang, disusul oleh keheningan yang berat.

Alyssa mengerutkan keningnya dalam-dalam. Keberanian dan intuisi tajamnya menangkap sinyal yang salah. Ekspresi wajah ayahnya yang berubah total saat keluar dari ruangan beberapa saat kemudian tampak seperti orang yang sedang memikul rahasia besar yang mematikan, membuat kecurigaan di hati Alyssa semakin mengakar.

Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh keluarganya darinya. Dan sesuatu itu... jauh lebih berbahaya daripada sekadar angka-angka utang yang tercetak di atas kertas dokumen Maheswara.

...****************...

Alyssa mundur satu langkah, menahan napas agar derit lantai kayu tidak membongkar keberadaannya. Ia menatap pintu kerja ayahnya yang tertutup rapat dengan tatapan tajam. Nampan di tangannya mendadak terasa begitu berat. Sesuatu sedang terjadi di dalam sana, sebuah variabel baru yang tidak ada dalam dokumen resmi yang baru saja ia baca.

Siapa yang menelepon Ayah sepagi ini? Dan mengapa ekspresi Ayah terlihat seolah baru saja melihat hantu? pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Alyssa, memicu insting detektifnya.

Memutuskan untuk bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, Alyssa mengetuk pintu dengan sikunya yang bebas. "Ayah? Ini Alyssa. Aku bawakan teh hangat."

Jeda beberapa detik berlalu sebelum terdengar suara langkah kaki yang tergesa dari dalam. Ketika pintu terbuka, Adrian tampak terkejut melihat Alyssa berdiri di sana. Pria itu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, sebuah gerakan refleks yang sangat mencurigakan di mata Alyssa yang jeli.

"Ah, Alyssa... terima kasih, Sayang," ujar Adrian dengan senyum yang dipaksakan. Suaranya masih menyisakan getaran tegang dari percakapan telepon sebelumnya.

Alyssa melangkah masuk, meletakkan nampan di atas meja kerja yang berantakan oleh tumpukan surat tagihan. Matanya dengan cepat memindai meja, mencari petunjuk visual. "Ayah baik-baik saja? Wajah Ayah pucat sekali."

"Ayah hanya... kurang tidur, tidak ada apa-apa," jawab Adrian cepat, terlalu cepat untuk ukuran seseorang yang biasanya berbicara dengan tenang dan terstruktur. Ia menghindari tatapan mata Alyssa, pura-pura sibuk merapikan kertas-kertas di mejanya. "Bagaimana dengan dokumen yang Ayah berikan tadi? Apa sudah kamu baca?"

"Sudah," jawab Alyssa, sengaja menahan informasi tentang keterkejutannya atas jumlah utang yang sebenarnya. Ia ingin melihat sejauh mana ayahnya akan menutupi kenyataan. "Nilainya sangat besar, Ayah. Jauh lebih besar dari yang diberitakan di media."

Adrian menghela napas berat, bahunya merosot. "Itulah mengapa Ayah merasa sangat bersalah kepadamu. Maheswara adalah satu-satunya raksasa yang bisa menelan angka sebesar itu tanpa berkedip."

Alyssa memperhatikan gerak-gerik ayahnya. Ada sesuatu yang janggal. Jika Maheswara adalah satu-satunya jalan keluar, mengapa setelah menerima telepon misterius tadi, sorot mata ayahnya tidak lagi memancarkan keputusasaan yang sama seperti semalam? Ada kilat spekulasi dan ketakutan baru yang bercampur aduk di sana. Ayahnya sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat berisiko.

"Ayah," Alyssa melangkah mendekat, suaranya merendah penuh penekanan. "Jika ada masalah lain... jika ada pihak lain yang mencoba menekan Ayah, tolong katakan padaku. Kita tidak bisa salah langkah sekarang. Malam ini kita akan mendatangi Maheswara, kita tidak boleh membawa beban rahasia lain yang bisa menghancurkan kita."

Adrian tersentak mendengarnya. Ia menatap putri sulungnya, melihat kecerdasan dan keberanian yang berkilat di mata Alyssa. Untuk sesaat, Adrian ingin menumpahkan segalanya, tentang telepon misterius, tentang tawaran gila yang bisa membebaskan Alyssa dari Alvaro. Namun, bayangan tentang ancaman terselubung dari si penelepon jika rencana ini bocor membuat Adrian mengurungkan niatnya.

"Tidak ada apa-apa, Alyssa. Sungguh," bohong Adrian, memegang pundak Alyssa dengan tangan yang masih terasa dingin. "Ayah hanya memikirkan bagaimana cara kita menghadapi Mahendra Maheswara nanti malam. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Persiapkan dirimu dengan baik."

Alyssa tahu ayahnya sedang berbohong. Dan kebohongan itu justru membuat bulu kuduknya meremang. Sesuatu yang tak terlihat kini sedang mengintai keluarganya dari kegelapan, bergerak secara simultan bersamaan dengan jerat kontrak dari keluarga Maheswara.

Sambil melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya, tangan Alyssa mengepal kuat di sisi roknya. Sifatnya yang tidak mudah ditindas bergolak. Jika keluarganya memilih untuk menyembunyikan kebenaran demi melindunginya, maka Alyssa yang akan membongkar rahasia itu sendiri, sebelum makan malam maut nanti malam dimulai.

...****************...

Alyssa berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah yang disengaja pelan, membiarkan pikirannya berputar cepat memetakan setiap keganjilan yang baru saja ia tangkap. Otaknya yang cerdas menolak untuk mengabaikan fakta-fakta yang tidak sinkron. Jumlah utang yang membengkak tidak masuk akal, sikap ayahnya yang mendadak menyembunyikan ponsel, hingga keputusasaan yang berganti menjadi ketegangan yang sarat rahasia.

Ada yang salah dengan semua ini. Runtuhnya Grup Pradipta bukan sekadar kegagalan bisnis biasa, batin Alyssa tajam.

Begitu sampai di dalam kamar, ia mendapati Keira sudah terbangun dan sedang duduk di tepi ranjang sambil mengucek matanya. Alyssa segera menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam untuk memastikan percakapan mereka tidak akan terdengar oleh siapa pun.

"Kak? Ada apa? Wajah Kakak serius sekali," tanya Keira, seketika kehilangan rasa kantuknya melihat gurat ketegangan di wajah sang kakak.

Alyssa berjalan mendekat, lalu duduk di samping adiknya. "Keira, aku butuh bantuanmu. Tapi kamu harus berjanji untuk tidak panik dan tidak mengatakan hal ini pada Ayah atau Ibu."

Melihat keseriusan Alyssa, Keira menelan ludah lalu mengangguk cepat. "Iya, Kak. Aku janji. Ada apa?"

"Grup Pradipta tidak hanya terlilit utang biasa. Jumlahnya berkali-kali lipat dari yang kita bayangkan. Seseorang atau sebuah kekuatan besar sengaja merancang skenario untuk menghancurkan bisnis Ayah dari dalam," ujar Alyssa, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Dan beberapa menit yang lalu, Ayah menerima telepon misterius di ruang kerjanya. Sikap Ayah langsung berubah. Dia menyembunyikan sesuatu dari kita."

Keira membelalakkan mata, tangannya refleks mencengkeram sprei. "Telepon misterius? Dari siapa?"

"Itu yang harus kita cari tahu," jawab Alyssa, kilat berani terpancar dari sepasang manik matanya. "Aku butuh kamu untuk mengawasi Ayah secara diam-diam hari ini. Perhatikan apakah dia menerima telepon lagi atau pergi menemui seseorang sebelum jamuan makan malam nanti. Sementara itu, aku akan menghubungi Clarissa."

Mendengar nama Clarissa disebut, Keira langsung mengerti. Clarissa Wijaya, sahabat karib Alyssa, bukan sekadar mahasiswi biasa. Gadis itu memiliki hobi dan intuisi bak detektif cinta yang selalu tahu gosip dan informasi paling valid dari kalangan jetset, bahkan informasi yang sengaja dikubur rapat oleh media.Jika ada konspirasi di balik kebangkrutan keluarga Pradipta, Clarissa adalah orang pertama yang bisa membantu mencari celah informasinya.

Alyssa segera meraih ponselnya di atas nakas, jemarinya bergerak cepat mengetik pesan singkat kepada Clarissa, memintanya untuk bertemu secara darurat di sebuah kafe dekat kampus siang ini.

Aku butuh bantuanmu, Cla. Ini darurat. Ini soal Maheswara dan masa depan keluargaku, tulis Alyssa dalam pesan tersebut.

Tidak butuh waktu lama hingga ponselnya bergetar, menampilkan balasan dari Clarissa: Sepuluh menit lagi aku meluncur ke tempat biasa. Bawa semua dokumen yang kamu punya.

Alyssa menarik napas dalam-dalam, merasakan ketegangan yang kini mulai membakar adrenalinnya. Permainan ini ternyata jauh lebih luas dan berbahaya dari sekadar kontrak pernikahan di atas kertas. Di satu sisi, ia dijebak oleh jerat hukum keluarga Maheswara. Di sisi lain, ayahnya sedang bermain api dengan sosok misterius yang tak terlihat.

Sambil bersiap-siap untuk pergi menemui Clarissa, Alyssa menatap pantulan dirinya di cermin lemari pakaian. Ia meyakinkan hatinya bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menjadikan dirinya maupun keluarganya sebagai pion di atas papan catur bisnis ini. Tirai misteri ini harus disingkap, sebelum jam berdenting menunjukkan waktu makan malam di kediaman Maheswara tiba.

...----------------...

Alyssa menyambar tas selempang kulitnya, memasukkan map hitam berisi dokumen Maheswara ke dalamnya dengan gerakan taktis. Ia menoleh ke arah Keira yang masih menatapnya dengan pandangan cemas.

"Ingat rencana kita, Keira. Tetap di rumah, awasi gerak-gerik Ayah, tapi jangan sampai dia menaruh curiga," bisik Alyssa sambil memegang kedua pundak adiknya, menyalurkan kekuatan.

"Hati-hati, Kak. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku," jawab Keira dengan nada khawatir yang tertahan.

Alyssa mengangguk pasti. Ia membuka kunci pintu kamar, lalu melangkah keluar dengan raut wajah yang sengaja diatur senormal mungkin. Saat melewati ruang tengah, ia melihat ibunya sedang duduk melamun di sofa sambil memandangi foto keluarga mereka. Alyssa tidak tega untuk berpamitan dengan banyak alasan, jadi ia hanya berteriak pamit untuk pergi ke kampus sebentar demi mengurus berkas bimbingan skripsi yang tertunda.

Langkah kakinya membawa Alyssa keluar dari gerbang rumah Pradipta. Udara pagi yang basah sisa hujan semalam menerpa wajahnya, sedikit memberikan kesegaran di tengah otaknya yang mendidih. Ia segera memesan taksi daring dan meluncur membelah jalanan kota menuju kafe bernuansa klasik yang terletak di sudut area kampus tempat persembunyian favoritnya dan Clarissa.

Sesampainya di sana, denting loncek di pintu kafe menyambut kedatangannya. Suasana kafe masih sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop mereka. Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, sosok Clarissa Wijaya sudah duduk manis dengan secangkir es kopi di hadapannya. Rambut pendeknya yang modis dan matanya yang jeli langsung mengenali Alyssa.

"Alyssa! Di sini!" lambai Clarissa setengah berbisik namun penuh penekanan.

Alyssa bergegas mendekat, menjatuhkan dirinya di kursi di hadapan sang sahabat. Wajah Clarissa yang biasanya dipenuhi tawa renyah, kini berubah serius. Aura detektif cinta yang selalu haus akan informasi rahasia di dalam dirinya langsung menyala melihat lingkaran hitam di bawah mata Alyssa.

"Demi apa, Al? Pesanmu tadi membuatku jantungan. Ada apa dengan Maheswara? Jangan bilang..." Clarissa menggantung kalimatnya, matanya membelalak lebar.

Tanpa membuang waktu, Alyssa mengeluarkan map hitam dari dalam tasnya dan menggesernya di atas meja, tepat di depan Clarissa. "Grup Pradipta di ambang kehancuran total, Cla. Dan satu-satunya cara Ayah bisa melunasi ini semua adalah... menyerahkanku pada Maheswara."

Clarissa menahan napas. Jemarinya dengan cepat membuka dokumen tersebut, memindai lembaran audit independen dengan ekspresi yang kian menegang dari detik ke detik. Sebagai anak dari keluarga yang juga bergerak di lingkaran sosialita atas, Clarissa tahu betul seberapa mengerikannya reputasi keluarga Maheswara, terutama sang pewaris tunggal, Alvaro.

"Ini gila, Al..." bisik Clarissa, suaranya tercekat saat matanya tertuju pada angka nominal utang yang tertera. "Angka ini... ini bukan utang operasional biasa. Ini sabotase. Seseorang sengaja memotong jalur likuiditas perusahaan ayahmu dari berbagai penjuru dalam waktu bersamaan."

"Aku tahu," sahut Alyssa, tubuhnya condong ke depan, merendahkan suaranya hingga batas minimal. "Tapi ada yang lebih gila dari ini. Subuh tadi, Ayah menerima telepon dari nomor tidak dikenal. Seseorang menawarkan untuk melunasi semua utang ini dalam waktu dua puluh empat jam tanpa syarat pernikahan. Tapi Ayah harus melakukan sesuatu untuk orang itu di kediaman Maheswara nanti malam."

Clarissa menutup mulutnya dengan tangan, matanya bergetar. "Tunggu... jadi maksudmu, ada pihak ketiga yang sedang memanfaatkan kehancuran keluargamu untuk menyerang Maheswara lewat tangan ayahmu?"

"Tepat," jawab Alyssa, kilat berani dan kecerdasan mematikan berkumpul di sepasang manik matanya. "Dan malam ini adalah jamuan makan malam resmi di kediaman Maheswara. Aku tidak tahu apa yang direncanakan si penelepon misterius, dan aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Alvaro padaku nanti. Yang aku tahu, aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pion buta di antara pertempuran mereka."

Clarissa menutup map hitam itu dengan hentakan pelan, ekspresi detektifnya kini sepenuhnya mengambil alih. "Beri aku waktu tiga jam, Al. Aku akan mengorek jaringan informasiku untuk mencari tahu siapa saja musuh dalam selimut Grup Pradipta, dan siapa saja orang yang paling bernafsu menjatuhkan Alvaro Regantara saat ini."

Alyssa menggenggam tangan sahabatnya, merasakan sedikit kelegaan di tengah kepungan konspirasi yang mencekiknya. Detik demi detik terus bergulir, merayap pasti menuju malam yang menakutkan. Utang yang tak terlihat itu kini mulai memunculkan bayangannya, dan Alyssa bersiap untuk mencabik-cabik siapa pun yang berani menghancurkan keluarganya.

1
THE GIRL COOL😑
peransaran gue sama foto nya
THE GIRL COOL😑
wkwkwk! pas di meja makan gue sampe mau ketawa untuk ke tahan😭
THE GIRL COOL😑
gue baca nya ngakak banget!!! bagus thor kau berbakat👍👍👍😍
reyanzarayyanfahlevy_: hehehhe bisa aja😍, masih pemula kakak😭😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
gue kadang heran... Alvaro sama cewek nya Alyssa sama "AL" depan nya😍
reyanzarayyanfahlevy_: iyaaaapppp🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
brak² aja🤣 sabar²👍
reyanzarayyanfahlevy_: wkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
gue baca peraturannya kesel cok
THE GIRL COOL😑
Berarti si Al Siapa namanya Si ceweknya itu nggak usah membuat makanan buat dia nggak boleh nyiapin apalah Pokoknya nggak boleh gituan dilarang sekalian gitu biar Alvaro nya tuh gua kesel
THE GIRL COOL😑
wow sok kali ini alvaro🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
seangkuh itukah seangkuh itukah Alvaro
reyanzarayyanfahlevy_
Aku Bangga dengan Karya Ku...........
THE GIRL COOL😑
gue yg baca aja sakit cok🤣
THE GIRL COOL😑: yg alvaro bilang kalau apa gitu ada lah😭😭🤣🤣🤣
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
kejambah woiii😭😭😭
reyanzarayyanfahlevy_: wekduyyy
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jjangan di kasihani al!!!
reyanzarayyanfahlevy_: 😭🤭🤭 wkwkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jijik
THE GIRL COOL😑
terharu wehhh😭
THE GIRL COOL😑
di jodohi emang gak enak, bukti nya kk aku
THE GIRL COOL😑: serius!!!
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
isss sombong
THE GIRL COOL😑
bagusss menunjukan ke dewasaan yg kuat💪💪
THE GIRL COOL😑: hehehe🤭
total 9 replies
THE GIRL COOL😑
aduhhhh alvaro
reyanzarayyanfahlevy_: wkwk😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!