NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH BELAS TAHUN

Arka berdiri di depan pagar rumah lamanya selama hampir sepuluh menit sebelum dia berani mengetuk.

Rumah itu—rumah yang sama, dengan cat yang sudah berubah warna jadi hijau pucat alih-alih putih yang dia ingat, dengan pohon mangga yang sekarang sudah jauh lebih besar dari yang dia ingat, cabang-cabangnya menjorok hingga ke atas pagar.

Tujuh belas tahun. Itu yang akan terjadi jika dia menghitung sejak hari di masa lalu itu—14 Maret, hari yang seharusnya menjadi hari terakhir, tapi tidak.

Dia mengetuk pintu. Tiga kali. Pelan.

Suara langkah kaki dari dalam—langkah yang lebih lambat dari yang Arka ingat, tapi familiar dengan cara yang membuat dadanya sesak sebelum pintu itu terbuka.

Pintu terbuka.

Dan di sana, berdiri seorang wanita berusia akhir lima puluhan, rambutnya sudah banyak yang memutih, dikumpulkan dengan jepit sederhana, mengenakan daster rumahan dengan motif bunga yang pudar. Wajahnya—wajah yang Arka kenal, tapi dengan garis-garis waktu yang seharusnya tidak pernah ada, garis-garis yang seharusnya hanya ada dalam bayangannya.

Ibunya.

Hidup. Tua. Nyata.

"Eh?" Wanita itu mengangkat alis, menatap Arka dengan ekspresi bingung yang ramah. "Cari siapa, ya, Mas?"

Arka membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menatap wajah itu—wajah yang sudah tujuh belas tahun lebih tua dari yang terakhir dia lihat secara langsung (dalam ingatan dunia lama, ibunya meninggal di usia 38 tahun)—dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa berhenti.

"Mas?" ibunya—wanita itu—memanggil lagi, sedikit khawatir sekarang. "Mas baik-baik aja?"

"Maaf," kata Arka akhirnya, suaranya serak. "Saya... saya cuma... rumah ini dulu pernah saya... kenal seseorang yang tinggal di sini."

Wanita itu tersenyum—senyum yang membuat sesuatu di dalam dada Arka runtuh, karena senyum itu, persis, sama persis, dengan senyum yang dia ingat dari enam belas—tujuh belas—tahun lalu.

"Oh ya? Siapa? Mungkin saya kenal, saya udah tinggal di sini lama banget."

"Nggak—" Arka menggeleng cepat, mencoba mengumpulkan dirinya. "Bukan apa-apa, Bu. Maaf udah ganggu."

Dia berbalik, mulai berjalan menjauh, tapi suara wanita itu memanggilnya lagi.

"Mas, tunggu—"

Arka berhenti, menoleh.

Wanita itu menatapnya dengan ekspresi yang berbeda sekarang—lebih lembut, lebih... seperti mengenali sesuatu, meski tidak tahu apa.

"Maaf kalau ini aneh," kata wanita itu, "tapi... Mas pernah ke sini sebelumnya? Rasanya... rasanya saya kayak pernah lihat Mas. Tapi nggak inget di mana."

Jantung Arka berdebar keras. Apakah dia merasakan sesuatu? Apakah ada bagian dari ibunya—dari ingatan yang seharusnya tidak ada—yang masih tersisa, seperti gema?

"Mungkin... mungkin saya cuma mirip sama orang lain, Bu," kata Arka, suaranya bergetar.

Wanita itu—ibunya—menatapnya sebentar lagi, lalu tersenyum, kali ini lebih santai. "Mungkin. Maaf ya, saya jadi aneh. Mas mau masuk dulu? Kayaknya capek banget habis jalan."

Tawaran itu—sederhana, tulus, persis seperti yang akan dilakukan ibunya, persis seperti yang Arka ingat—membuat air mata Arka hampir tumpah.

"Nggak usah, Bu. Terima kasih banyak," kata Arka, tersenyum—senyum pertama yang benar-benar tulus dalam beberapa hari ini. "Saya cuma... saya cuma seneng ngeliat Ibu sehat-sehat aja."

Wanita itu tertawa kecil, sedikit bingung dengan kalimat itu, tapi menerimanya dengan ramah. "Ya, Alhamdulillah, Mas. Hati-hati di jalan, ya."

Pintu tertutup pelan.

Arka berdiri di depan pagar, menatap pintu yang baru tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia menangis—bukan karena kesedihan, bukan karena penyesalan, tapi karena sesuatu yang lebih murni dari itu.

Syukur.

Dia berjalan pulang sore itu—bukan naik motor, hanya berjalan, membiarkan dirinya menyusuri jalan-jalan yang familiar, melewati toko-toko yang sudah berganti pemilik, melewati anak-anak yang bermain di gang yang sama tempat dia dulu bermain.

Di tengah jalan, ponselnya berbunyi. Nadia.

"Hei, kamu di mana? Aku udah di kafe."

Arka tersenyum, mengetik balasan. "Maaf, aku lagi jalan kaki. Lima belas menit lagi sampai. Ada yang mau aku ceritain."

"Cerita apa?"

Arka menatap pesan itu, jari-jarinya berhenti sebentar di atas keyboard. Dia tidak akan menceritakan semuanya—tidak tentang perjalanan waktu, tidak tentang Damar, tidak tentang Sera. Beberapa hal terlalu berat, terlalu mustahil untuk dipercaya, dan mungkin—seperti kata Sera—lebih baik disimpan, dilindungi, agar tidak menjadi bagian dari "perubahan" lain yang tidak terduga.

Tapi ada satu hal yang bisa dia bagikan. Satu hal yang nyata, yang benar, dan yang—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—dia ingin orang lain tahu.

"Cerita tentang Mama," ketiknya. "Aku belum pernah cerita banyak soal dia ke kamu. Tapi aku pengen, sekarang."

Balasan datang cepat, penuh kehangatan yang Arka rasakan bahkan lewat teks.

"Aku tunggu. Pelan-pelan aja, ya."

Arka memasukkan ponselnya ke saku, dan melanjutkan jalannya, langkahnya lebih ringan dari sebelumnya—meski di dasar hatinya, dia tahu, bayang-bayang Damar dan Sera tidak akan pernah benar-benar pergi.

Tapi untuk pertama kalinya, dia merasa siap untuk membawa bayang-bayang itu bersamanya—bukan sebagai beban yang harus dia hapus, tapi sebagai bagian dari dirinya yang sudah terbentuk, yang tidak bisa—dan tidak perlu—diubah lagi.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!