Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.. Penangkapan DPO yang dramatis
XXX Club, Jakarta.
Hingar-bingar suara musik di dalam klub malam itu makin memekakkan telinga menjelang malam. Meski baru hari Jumat dan awal akhir pekan, tempat itu sudah dipadati pengunjung yang ingin menikmati indahnya malam, menghabiskan waktu, dan mengejar kenikmatan duniawi yang terlihat begitu menggoda di sana.
"Bang, sepertinya pergerakan orang-orang itu belum terlihat" Bisik Marcus pelan.
Arka hanya menyesap minumannya, matanya tajam mengawasi setiap sudut ruangan sementara telinganya mendengarkan instruksi. Alat komunikasi terpasang di telinganya, sejak tadi ia menggunakannya untuk berhubungan dengan petugas polisi yang sudah bersiaga di posisi masing-masing.
"Diamlah! Kita harus tetap waspada. Siapkan senjatamu, jangan lengah. Kita awasi sekitar," Jawab Arka datar tanpa mengalihkan pandangan.
Marcus berdecak lalu mengangguk pelan, berusaha tetap santai menikmati suasana ramai di sana. "Sepertinya Pak Kepala Kejaksaan paham betul seleraku, dia sengaja menempatkan kita di posisi paling strategis nih. Lihatlah, Bang... di mana-mana wanita seksi bertebaran. Ckck, sayang sekali aku sedang dalam tugas"
Arka hanya mendecakkan bibirnya risih. Memang benar, sejak tadi ada saja wanita-wanita seksi yang menghampiri mereka, melancarkan jurus rayuan, mulai dari tawaran minum bersama hingga ajakan untuk pulang bersama, istilah ONS yang marak di zaman ini.
"Mas ganteng, mau ditemani minum tidak?"
Marcus menyeringai senang saat seorang wanita bertubuh sintal dengan gaun one-piece minim tiba-tiba menempel di punggung lebar temannya. Dengan lancang, wanita itu bahkan memeluk leher jaksa tampan itu sambil tersenyum menggoda.
"Kami sedang sibuk, pergilah sana!" ketus Arka dingin.
Tatapan wanita itu berubah kaget, lalu berdecih kesal karena ditolak. "Ah, aku cuma ingin berkenalan kok sama Mas yang ganteng ini. Hehehe, ayo saja kita minum bersama..."
Marcus mulai merasa risih dengan pemandangan itu dan memalingkan wajah. Namun, dia terkejut luar biasa saat Arka dengan kasar meremas lengan wanita yang masih memeluk punggungnya. Dengan cepat Arka mengeluarkan lencana kejaksaan di depan wajah wanita itu.
"Pergilah!! Atau kamu mau berurusan dengan aparat negara? Dasar sialan~" Bentak Arka rendah.
"Ba...baik... maafkan saya, Pak Jaksa..." Wanita seksi itu terbelalak kaget melihat lencana jaksa itu, dia buru-buru menutup mulutnya, mengangguk takut, lalu pergi menjauh secepat mungkin. Setelah wanita itu pergi, Marcus justru terbahak-bahak melihat kelakuan rekannya yang sekejam itu mengusir wanita cantik.
"Argh... kita sudah di sini lebih dari satu jam. Kenapa si DPO itu belum kelihatan juga ya?!" Keluh Arka lewat alat komunikasi.
"Maaf Pak Arka, informasi mata-mata kami kemarin memang demikian," suara Adrian terdengar jelas dari balik telinga. Adrian adalah petugas kepolisian yang sudah bersiaga di pos pengawasan luar gedung.
"Kenapa tak ada tanda-tanda mereka datang juga sih? Jangan-jangan ini jebakan mereka?" Tanya Arka mulai curiga.
"Mungkin sebentar lagi. Kita tunggu saja setengah jam lagi, jangan khawatir..." jawab Adrian berusaha menenangkan.
Marcus mulai merasa resah juga. Kalau ini memang jebakan, tamatlah riwayat mereka berdua. Arka berkali-kali melirik jam tangan mahalnya, rasa putus asa mulai merayap. Jangan-jangan informasi yang diterima pihak kepolisian itu salah total.
Namun, mata Marcus tiba-tiba melebar penuh kekaguman, tak berkedip menatap suatu objek tak jauh di belakang punggung Arka.
"Bang, coba lihat! Ada gadis cantik di sini! Astaga, aku tak menyangka di tempat sekeruh ini ada bidadari secantik itu..." Seru Marcus berbisik antusias.
Arka hanya menanggapi acuh sambil meneguk minumannya hingga tandas. Tapi Marcus masih saja memandangi sosok gadis yang duduk di kursi tak jauh dari mereka, penuh minat.
"Ah, sial... dia ternyata bersama pacarnya. Ckck... padahal tadi ku pikir bisa ku dekati" Gerutu Marcus kecewa.
"Seriuslah sedikit, dasar setan gendut! Matamu itu tidak bisa ya menganggur sebentar tanpa melihat gadis cantik?" Sentak Arka sebal.
Marcus tersenyum malu, namun tetap menunjuk ke arah objek tadi dengan jari telunjuknya. "Tapi dia sungguh cantik, lho. Hei Bang, kalau loe melihatnya, pasti loe juga ikut kagum." Arka yang penasaran akhirnya menoleh juga ke belakang. Marcus menunjuk dengan antusias.
"Arah jam dua belas! Baju warna merah muda dan rok hitam. Lihat deh, gadis itu persis seperti bidadari kan?" Bisik Marcus nakal.
"Ya Tuhan...?!" Wajah Arka berubah bukan hanya kaget, tapi kedua matanya melotot lebar penuh amarah, demi melihat siapa sosok wanita itu.
"Jesylyn?!" Arka meremas tangannya kuat-kuat, ingin sekali menyemburkan seluruh amarah dan murkanya demi melihat pemandangan terkutuk itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berdiri dan berjalan tegap menghampiri perempuan yang tengah bermesraan dengan seorang pria muda itu.
"Jesylyn!!! Sedang apa loe di sini, hah?!"
Perempuan cantik yang tadi berpelukan bersama seorang lelaki muda seumuran dengannya itu terlonjak kaget, hampir saja jatuh terjengkang saat melihat sosok yang paling ia takuti berdiri di hadapannya.
"Bang Arka? Kok... kok kamu bisa ada di sini?" Tanyanya gugup.
"Loe nggak lihat ini jam berapa, hah?! Apa Mommy tahu loe kelayapan di luar sampai malam begini? Kamu bahkan berani pergi berdua dengan bocah ini?!" Arka melotot tajam ke arah pemuda yang ada di sisi adiknya itu.
"Maaf Bang, aku... aku akan pulang sekarang kok," jawab Jesylyn takut-takut.
"Kalau Mommy dan Daddy sampai tahu loe berani clubbing, loe bisa dihukum berat!" Arka bertolak pinggang, lalu kembali menatap tajam ke arah pemuda itu yang kini berdiri gemetar hebat.
"Siapa nama loe?" Mata mono Arka menyipit tajam. Pemuda yang terciduk membawa adik bungsu itu mengusap tengkuknya yang dingin oleh keringat. "A...anu Bang, a...aku... Kevin?"
"Dia... dia cuma teman kerja ku, Bang! Sungguh, dia cuma teman!" Potong Jesylyn cepat.
"Aku bertanya sama dia! Loe diam lah!" Bentak Arka membuat Jesylyn langsung bungkam ketakutan, meremas ujung roknya kuat-kuat.
Pria bernama Kevin Atmaja itu membungkuk hormat penuh segan. "Maafkan saya, Bang."
"Siapa yang bilang aku Abangmu, hah?!" Arka membalas sinis dengan nada tajam mengintimidasi. "Kamu tahu tidak? Membawa pergi adikku tanpa izin dari orang tua itu adalah pelanggaran berat. Apalagi kamu berani membawanya ke tempat seburuk ini. Jangan berpikir aku akan diam saja ya!"
"I...iya, sekali lagi maafkan saya, Bang..."
"Aku BUKAN Abangmu! Berhenti memanggilku begitu! Pergi sekarang! Dan kamu Jes, ikut aku pulang SEKARANG!"
"Maaf... s...saya pergi duluan. Sekali lagi maaf, Tuan..." Kevin membungkuk berkali-kali lalu pergi menjauh terbirit-birit keluar dari klub malam itu.
"Kamu juga harus dihukum berat! Berani sekali kamu main cinta-cintaan dengan lelaki sembarangan. Aku laporin Mommy dan Daddy nanti, biar kapok kamu!" Ancam Arka.
Jesylyn menunduk dalam, meremas ujung roknya. "Nggak kok... dia cuma teman aku aja. Hiks... sungguh, Bang..."
"Diam!!"
Jesylyn menggeleng ketakutan saat tangan kecilnya ditarik kasar oleh Arka menjauh dari keramaian. Tak jauh di sana, Marcus hanya diam menjadi penonton yang bengong setengah mati, bingung melihat rekannya berdebat hebat dengan dua orang asing itu.
Tiba-tiba suara serak terdengar dari alat komunikasi di telinga Arka.
"Pak Arka, gawat! Mereka ternyata sudah berada di ruang VIP lantai tiga gedung ini. Segera lakukan penggerebekan SEKARANG!"
Titt... Suara sambungan terputus.
"Baik, aku ke sana sekarang," Geram Arka kesal.
Arka hampir lupa jika tujuan utamanya berada di tempat ini adalah misi kepolisian untuk menangkap gembong narkoba kelas kakap dan DPO buronan lama kepolisian, Suhendra.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Loe paham, Jes?" perintah Arka tegas.
Arkanendra mengeluarkan revolver dari saku jaket kulitnya. Dia sempat menghubungi Marcus lewat radio. "Bang, aku ke sana sekarang!" jawab Marcus dari kejauhan.
Namun baru saja Marcus berucap, mendadak seluruh ruangan luas klub malam itu dipenuhi kepulan asap tebal berwarna abu-abu. Itu adalah gas air mata!
Marcus terkejut luar biasa sambil batuk-batuk hebat, matanya terasa sangat perih dan panas.
"Sial! Mereka tahu gerakan kita! Uhuk uhuk... Ya ampun Bang, kamu di mana?! Argh dadaku sesak sekali..." Teriak Marcus panik di tengah kepanikan pengunjung lain.
"Pak Marcus, pakai maskernya! Ini gas beracun!" Teriak salah satu petugas polisi yang berlarian masuk. Mereka bersiap menyiapkan senjata, menerobos di antara tubuh para pengunjung yang sudah banyak tergeletak pingsan bahkan tak bergerak lagi di lantai akibat racun itu.
"Uhuk... uhuk... Bang Arka, aku takut..." Isak Jesylyn.
Saat ini Arka bersembunyi di sela-sela anak tangga, menutup hidung dan mulut adiknya dengan saputangan basah. Dia terpaksa membawa gadis itu naik ke lantai tiga, daripada meninggalkannya di bawah yang kondisinya sudah kacau balau dan penuh korban berjatuhan.
Dor...!!
Dor...!!
Suara tembakan meletus dari arah lantai atas. Jesylyn menjerit takut, dia belum pernah sekalipun berada dalam situasi mencekam seperti ini.
"Sembunyi di sini dan tetap tutup hidungmu! Jangan keluar apapun yang terjadi! Paham?!" Perintah Arka tegas.
Arka menutup pintu ruangan kecil di pertengahan tangga darurat yang menyerupai gudang itu. Baru saja dia memutar kunci, tiba-tiba seseorang menyerang dari belakang dengan sebatang balok kayu!
Bugh...!!
Arka berhasil menangkis serangan itu dengan gerakan cepat, lalu membalasnya dengan pukulan keras ke ulu hati penyerangnya.
"Brengsek! Berani sekali kalian menyerangku!!" geram Arka marah.
Dengan gerakan bela diri Taekwondo yang sudah dia kuasai sejak SMA, Arka menangkis dan sendirian melawan dua orang yang menyerang bersamaan itu. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah terkapar tak berdaya dan diborgol di lantai. Arka menendang tubuh pingsan itu dengan senyum mencemooh.
"Cih... kalian bersiaplah membusuk di penjara! Dasar tikus sialan!" Umpatnya.
Dia mengisi kembali peluru ke senjatanya dengan tenang, menatap kedua musuh yang baru saja ia lumpuhkan.
Jangan pernah memanggil Arka seorang jaksa jika dia belum berhasil melumpuhkan musuhnya. Meski di jajaran pegawai kejaksaan usianya masih tergolong muda, ketangkasan dan gerak cepatnya melumpuhkan penjahat di lapangan sudah patut diacungi jempol.