Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sesuai Harapan
Jumat sore itu, langit di atas Jakarta tampak begitu terik, memancarkan hawa panas yang membakar aspal dan menyiksa siapa saja yang nekat berkendara tanpa atap. Namun, bagi Rangga, panasnya cuaca sore itu sama sekali tidak sebanding dengan gemuruh di dalam dadanya. Sore ini adalah waktu eksekusi dari misi penyamaran paling nekat yang pernah dia rencanakan bersama Aldi.
Sesuai dengan kesepakatan mereka di kamar semalam, Rangga sudah tampil maksimal. Dia mengenakan kaus putih polos distro yang dilapisi jaket bomber hitam andalannya. Celana jins hitam bermodel slim fit yang dulu dibelinya untuk acara perpisahan SMP sengaja dia pakai lagi, memberikan kesan tubuh yang tegap dan rapi. Di jok belakang, Aldi juga tidak kalah mentereng. Sahabat badungnya itu mengenakan kemeja oversize hitam lengan pendek yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya, lengkap dengan celana *cargo* banyak kantong yang membuatnya mirip personel band indie.
Harus diakui, dari segi penampilan atas, kegantengan mereka naik drastis hingga lima puluh persen. Namun sayang seribu sayang, semua karisma itu mendadak luntur dan berceceran di jalanan karena faktor kendaraan. Si Vega—Vespa butut tahun delapan puluhan milik Rangga—kembali menunjukkan gejala stroke ringan. Motor itu mendadak batuk-batuk keras, mengeluarkan bunyi 'pret... pret... yang nyaring, sebelum akhirnya mati total tepat di tengah lampu merah perempatan besar menuju kawasan bisnis Sudirman.
"Ngga! Buruan sela, Ngga! Mati gue, malu banget ini dilihatin mbak-mbak kantoran naik Honda Jazz di sebelah lu!" bisik Aldi panik setengah mati. Dia mati-matian menutupi wajahnya dengan telapak tangan, berpura-pura tidak kenal dengan Rangga yang sedang keringatan.
"Sabar, Al! Lu pikir nyela Vespa gampang apa? Ini si Vega mendadak kaget denger klakson mobil-mobil mewah di belakang kita!" gerutu Rangga.
Dengan napas terengah-engah dan peluh yang mulai membasahi dahi, Rangga sekuat tenaga menghentakkan kaki kanannya ke tuas sela motor. Satu kali, dua kali, mesinnya hanya mengerang malas. Baru pada hentakan kelima yang disertai doa, mesin Vega akhirnya menderu kembali, melepaskan kepulan asap putih tipis dari knalpotnya yang langsung disambut tatapan sinis pengendara lain.
Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah compang-camping, duo badung dari SMA Bina Karya itu akhirnya tiba di depan kafe *The Glasshouse*. Sesuai dengan namanya, bangunan kafe itu berdiri megah dengan seluruh dindingnya yang terbuat dari kaca transparan raksasa, memancarkan kesan mewah, modern, dan sangat intimidatif bagi dompet pelajar berkantong tipis. Di dalam sana, terlihat jelas lalu lalang anak-anak berseragam SMA Garuda Bangsa yang tampak sangat modis dan berkelas.
Rangga perlahan mengarahkan ban Vega mendekati deretan parkiran. Di sana, motornya terlihat sangat kontras karena harus bersanding dengan barisan motor *sport* matik bongsor keluaran terbaru dan motor gede yang mengkilap.
Baru saja Rangga menurunkan standar motornya, seorang satpam berbadan tegap dengan seragam safari hitam langsung melangkah cepat menghampiri mereka. Wajah satpam itu tampak datar dan penuh selidik.
"Maaf, Dek. Kalau mau antar paket ojek online atau kurir makanan, jalurnya lewat pintu belakang ya. Jangan parkir di depan sini," ucap satpam itu dengan nada ketus, langsung menghakimi penampilan mereka.
Mendengar itu, darah Aldi langsung mendidih. Dia yang dasarnya badung dan tidak suka diremehkan segera merapikan kerah kemeja oversize nya dan maju selangkah. "Heh, Pak! Tolong ya, mata layangan itu dipakai buat ngelihat muka! Muka seganteng member boyband begini dikira kurir paket? Kita ini mau nongkrong di dalam, Pak! Mau beli kopi, punya duit kita!" semprot Aldi dengan nada ngegas yang khas.
Satpam itu agak terkejut mendengar gertakan Aldi. Dia kembali memandangi mereka dari atas ke bawah, mengamati jaket bomber Rangga, lalu pandangannya turun dan tertuju pada ujung sepatu kets Rangga yang sedikit menganga karena lemnya sudah lepas. Setelah menimbang-nimbang, satpam itu akhirnya mengangguk terpaksa sambil menunjuk ke arah sudut terjauh. "Oh, silakan. Tapi motornya taruh di pojok sana ya, dekat tempat pembuangan sampah. Biar nggak menghalangi mobil-mobil mewah yang mau lewat dan drop off penumpang."
Rangga hanya bisa menghela napas panjang, menahan dada yang terasa sesak bahkan sebelum misi dimulai. "Sabar, Al. Jangan kepancing emosi. Anggap ini ujian pertama buat mental kita," bisik Rangga sambil menarik lengan Aldi agar tidak memperpanjang urusan dengan petugas keamanan.
Begitu mereka melangkah melintasi pintu kaca otomatis, hembusan AC yang sangat dingin langsung menyapa kulit mereka yang basah oleh keringat. Aroma biji kopi premium yang mahal langsung menyeruak, berpadu sempurna dengan alunan musik jazz bertempo lambat yang mengalun dari pelantang suara di sudut ruangan. Suasana di dalam sangat estetik, sangat jauh berbeda dengan warung kopi Mak Iyoh yang biasa menjadi tempat tongkrongan mereka.
Jantung Rangga seketika berdegup dua kali lebih cepat saat matanya menangkap sosok yang dicarinya sejak tadi pagi. Di sebuah meja bundar besar dekat jendela yang menghadap ke jalan raya, duduklah Cinta Alisya.
Gadis itu terlihat luar biasa cantik sore ini. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir kuda saat di SMA Bina Karya, kini dibiarkan tergerai indah, membingkai wajahnya yang putih bersih. Dia tampak sedang tertawa lepas, mengobrol dengan akrab bersama tiga orang cewek modis dan dua orang cowok yang penampilannya tampak sangat high-class.
Melihat tawa itu, ada rasa rindu sekaligus sesak yang bercampur aduk di dalam dada Rangga. Dia kelihatan bahagia banget di sini,"batin Rangga perih.
"Taktik satu dimulai, Ngga. Lu jangan melamun kayak orang bego gitu. Kita cari meja yang agak dekat, biar rencana si Tasya jalan," bisik Aldi menyenggol siku Rangga, memecah lamunannya.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah meja kayu kecil berkursi dua yang berjarak sekitar tiga meter dari sirkel Cinta. Rangga duduk dengan posisi membelakangi jendela, sehingga dia bisa mengawasi Cinta secara langsung. Untuk menutupi kegugupannya, Rangga pura-pura membuka buku menu berlapis kulit yang ada di atas meja. Namun, matanya hampir saja melotot keluar saat melihat deretan angka di sana. Harga segelas Ice Coffe Latte di kafe ini setara dengan ongkos makannya selama tiga hari, atau sama dengan modal membeli bensin Vega untuk dua minggu penuh.
"Gila, Ngga... ini kopi dicampur emas murni apa gimana? Mahal amat," gumam Aldi yang ikut syok melihat harga menu, meskipun dia berusaha tetap memasang muka santai.
Tak lama setelah mereka duduk dan memesan minuman paling murah yang ada di daftar, rencana yang mereka susun matang-matang semalam akhirnya mulai berjalan. Tasya, sepupu Aldi yang juga bersekolah di SMA Garuda Bangsa, keluar dari arah toilet. Sesuai skenario, cewek itu sengaja berjalan memutar melewati meja Rangga dan Aldi, lalu menghentikan langkahnya dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
"Eh? Bang Aldi? Kok ada di sini?" suara Tasya sengaja dikeraskan selevel lebih tinggi, cukup nyaring untuk membuat beberapa pengunjung di sekitar mereka menoleh—termasuk seluruh anggota circle nya Cinta Alisya.
"Eh, Tasya! Iya nih, kebetulan lagi ada urusan di daerah sini, jadi sekalian nongkrong santai sama sohib gue," balas Aldi dengan akting yang tak kalah meyakinkan, sambil menunjuk Rangga dengan jempolnya.
Sesuai dengan apa yang tertulis di buku catatan mereka, Tasya kemudian menoleh ke arah teman-temannya di meja bundar dan melambaikan tangan dengan ceria. "Guys! Sini deh bentar, ini ada sepupu gue yang sering gue ceritain!"
Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di sekitar Rangga rasanya lenyap. Jantungnya bergemuruh hebat, menciptakan sensasi dingin di ujung-ujung jarinya. Rangga buru-buru menegakkan badannya, membetulkan letak jaket bomber nya, dan mencoba memasang senyum terbaik, paling ramah, dan paling tulus yang dia miliki saat rombongan anak-anak elite itu melangkah mendekati meja mereka. Tatapan mata Rangga langsung terkunci sepenuhnya pada Cinta yang berjalan di barisan paling belakang.
"Cinta," sapa Rangga dengan suara yang sedikit bergetar saat gadis itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
Namun, harapan indah dan ribuan skenario romantis yang dibangun Rangga sepanjang malam seketika runtuh, hancur berkeping-keping menjadi debu dalam hitungan detik.
Ekspresi wajah Cinta yang awalnya tampak penasaran langsung berubah drastis saat menyadari siapa yang duduk di meja itu. Tidak ada binar bahagia, tidak ada senyuman hangat yang biasa dia berikan pada Rangga saat mereka masih sekelas di SMA Bina Karya. Yang terlihat di wajah cantik itu justru adalah sebuah ekspresi ketegangan yang amat sangat, rasa canggung, ketidaknyamanan, dan yang paling menyakitkan bagi Rangga... ada kilat ketakutan serta rasa malu yang mendalam di matanya. Seolah-olah, kehadiran Rangga di kafe mewah itu adalah sebuah aib besar yang bisa merusak reputasi barunya di mata teman-teman elitenya.
"Lho, Cinta, kamu kenal sama cowok ini?" tanya salah satu teman perempuan Cinta yang sedang memegang tas kecil bermerek mewah, sambil menatap Rangga dengan pandangan menilai.
Cinta berdehem kecil, wajahnya tampak memerah karena canggung. Matanya melirik gelisah ke arah teman-teman barunya sebelum akhirnya menatap Rangga sekilas—sebuah tatapan yang sangat asing, dingin, dan penuh jarak.
"Oh... iya. Dia... Rangga. Teman sekelas aku di sekolah yang lama," jawab Cinta dengan nada suara yang datar dan pelan.
Kalimat itu meluncur dari bibir Cinta seperti sebilah belati tajam yang langsung menusuk dan merobek dada Rangga. *Teman sekelas di sekolah yang lama.* Hanya sebatas itu. Bukan cowok yang selama dua tahun ini selalu mengantarnya pulang saat angkot mogok, bukan cowok yang sering membelanya saat dia dihukum guru, melainkan hanya sekadar figuran dari masa lalu yang tidak penting. Setelah mengucapkan kalimat itu, Cinta sengaja mengambil langkah mundur, menyembunyikan dirinya di balik punggung temannya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dan berpura-pura sibuk menatap layar, sama sekali enggan berurusan lebih jauh atau bahkan sekadar menatap mata Rangga lagi.
Di tengah keheningan yang mendadak terasa begitu mencekam dan canggung itu, seorang cowok berwajah tampan dengan potongan rambut rapi ala model melangkah maju ke depan. Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam tangan mewah yang berkilau terkena cahaya lampu kafe. Cowok itu adalah Nicholas, atau yang akrab dipanggil Niko, ketua OSIS sekaligus cowok paling berpengaruh di sirkel SMA Garuda Bangsa.
Niko melipat kedua tangannya di dada, menatap Rangga dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. Sebuah senyuman sinis yang penuh penghinaan terukir di sudut bibirnya.
"Oh, jadi ini anak SMA Bina Karya yang sering digosipin itu?" tanya Niko dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, membuat beberapa pengunjung di meja lain ikut mengalihkan perhatian ke arah mereka. "Sekolah yang lokasinya di dalam gang sempit dekat pasar tradisional itu, kan? Pantesan aja..."
Niko sengaja menghentikan kalimatnya, lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengibas-ngibaskan udara di depan hidungnya dengan gaya teatrikal. "Bau asap knalpot dua tak dari motor bututnya sampai kecium menembus masuk ke dalam kafe ber-AC begini. Sya, lain kali kalau mau bawa tamu ke tempat tongkrongan kita, tolong disaring dulu ya kualitasnya. Kasihan pengunjung lain kalau harus keganggu sama bau-bau jalanan yang nggak jelas begini."
*Brak!*
Aldi tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menggebrak meja kayu di depannya dengan sangat keras hingga cangkir kopi mereka bergetar. Aldi langsung berdiri dengan tubuh menegang, matanya melotot merah menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Heh, jaga mulut lu ya, belagu amat! Maksud lu apa ngomong begitu, hah?! Ngomong sekali lagi di depan muka gue kalau lu punya nyali!" bentak Aldi, siap melayangkan pukulan.
Beberapa teman Niko langsung bersiap maju untuk menahan Aldi, menciptakan ketegangan yang membuat suasana kafe mendadak hening.
"Al, udah. Tolong, jangan di sini," tahan Rangga cepat. Dia langsung berdiri dan memegang erat lengan Aldi, mencegah sahabatnya berbuat lebih jauh.
Suara Rangga terdengar sangat pelan dan bergetar. Namun, getaran itu bukan karena dia takut pada ancaman fisik Nicholas atau gertakan anak-anak kaya di sana. Getaran itu murni karena dia sedang menahan rasa perih yang teramat sangat, sebuah luka emosional yang menghantam telak harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Rangga memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Cinta Alisya. Di dalam hatinya yang paling dalam, dia masih menaruh secercah harapan kecil. Dia berharap gadis itu akan bersuara, setidaknya mengeluarkan satu patah kata untuk membela dirinya, atau menegur kesombongan Nicholas yang sudah keterlaluan. Namun, harapan itu kembali menguap. Cinta tetap diam seribu bahasa. Gadis itu hanya menunduk dalam-dalam, jemarinya sibuk memilin ujung seragamnya sendiri tanpa berani mengangkat wajah, apalagi menatap mata Rangga. Diamnya Cinta sore itu adalah sebuah konfirmasi paling menyakitkan bagi Rangga bahwa pesona dunia baru telah berhasil melenyapkan sosok Cinta yang dulu dia kenal. Perasaan tulus yang dia bawa dari SMA Bina Karya ternyata sama sekali tidak memiliki nilai di tempat ini.
Melihat Rangga yang hanya diam, teman-teman Nicholas di belakang mulai tertawa kecil, saling berbisik sambil melempar tatapan sinis, sangat menikmati pemandangan dua anak pinggiran yang sedang dipermalukan di habitat mereka sendiri.
Nicholas kembali melangkah maju, kali ini dengan sengaja dia mengulurkan tangannya dan merangkul pundak Cinta secara protektif tepat di depan mata Rangga, seolah ingin menegaskan status kepemilikannya. "Lagian, tempat ini jelas bukan level kalian berdua. Di sini kita bayar pakai kartu, bukan pakai uang receh hasil patungan seminggu. Mendingan kalian berdua pulang deh sekarang, sebelum sekuriti di depan saya panggil masuk buat ngusir kalian secara kasar."
Harga diri Rangga rasanya sudah dijatuhkan ke tingkat paling bawah, diinjak-injak hingga lumat tak bersisa di depan gadis yang dia puja. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabat dan kekuatan yang masih tersisa di dalam tubuhnya yang mendadak terasa lemas. Rangga menatap Nicholas dengan pandangan yang tajam namun penuh ketenangan yang dipaksakan, lalu sedetik kemudian beralih menatap wajah Cinta untuk yang terakhir kalinya sore itu.
"Yuk, Al. Kita cabut dari sini," ucap Rangga lirih, namun ada penekanan yang kuat di setiap katanya.
"Tapi, Ngga! Ini cowok sialan harus dikasih pelajaran dulu! Gak bisa kita diam aja diginiin!" protes Aldi yang rahangnya sudah mengeras dan urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah yang luar biasa.
"Gak perlu, Al. Gak ada gunanya. Kita emang salah tempat dari awal. Tempat ini... ternyata terlalu wangi buat kita berdua," kata Rangga dengan senyum getir yang sangat dipaksakan di bibirnya yang pucat.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Rangga berbalik arah. Dia melangkah lebar, berjalan cepat meninggalkan meja tersebut dan menuju pintu keluar tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Aldi memberikan tatapan maut yang seolah ingin membunuh Nicholas sebelum akhirnya berbalik menyusul langkah sahabatnya. Sementara itu, Cinta sekilas melirik Rangga yang berjalan menuju pintu kaca, terlihat embun di pelupuk matanya namun dengan cepat di tepis nya. Tasya yang merasa sangat bersalah atas kegagalan rencana ini hanya bisa berdiri terpaku dengan wajah pucat di samping meja.
Mereka berdua berjalan keluar, melintasi pintu kaca otomatis 'The Glasshouse' yang menutup kembali di belakang mereka dengan bunyi klik yang dingin. Angin sore kawasan bisnis yang kering dan berdebu langsung menerpa wajah Rangga, namun rasa panasnya sama sekali tidak sebanding dengan perihnya rasa kecewa yang menjalar di seluruh aliran darahnya. Mimpi indah tentang perjuangan cinta dan ungkapan "Katakan Cinta" yang dia bawa dari SMA Bina Karya kini telah hancur berkeping-keping di atas lantai kafe mewah tersebut.
Di parkiran sudut yang pengap di dekat tempat pembuangan sampah, Rangga menyandarkan tubuhnya yang lemas ke atas jok si Vega yang butut. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya yang menganga dengan pandangan kosong. Air matanya hampir saja menetes, namun dia tahan sekuat tenaga.
Hari itu, di bawah sengatan matahari sore yang mulai meredup, Rangga akhirnya tersadar akan sebuah kenyataan pahit. Jarak di antara dirinya dan Cinta Alisya sekarang bukan lagi sekadar jarak geografis antar gedung sekolah, melainkan sebuah tembok kasta sosial yang sangat tinggi, kokoh, dan tebal. Dan yang paling menghancurkan hatinya adalah kenyataan bahwa Cinta sendiri yang memilih untuk melangkah masuk dan berdiri dengan nyaman di balik tembok tinggi itu, membiarkan Rangga tertinggal di luar sendirian bersama motor bututnya yang berdebu. Perjuangan Rangga terhenti sebelum sempat dimulai, menyisakan luka dalam yang mengubah segalanya.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/