Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Jemari
Setetes air mata yang sedari tadi ditahan Naira akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pias. Bahunya bergetar hebat. Di tengah sisa-sisa bisik murid lain di kantin, Naira mendadak merasa dunianya runtuh bukan karena Arga, melainkan karena rasa bersalah yang amat besar kepada cowok di depannya ini.
Rama selalu ditarik masuk ke dalam badai kehidupannya. Mulai dari malam penyerangan itu, hingga hari ini, harga diri Rama harus diinjak-injak di depan umum hanya karena masa lalu Naira yang kelam.
Naira melangkah maju, mengabaikan semua pasang mata yang menonton. Dengan jemari yang gemetar, dia meraih ujung seragam Rama, mencengkeramnya erat seolah-olah jika dia melepaskannya, cowok itu akan menghilang.
"Ram... maaf," bisik Naira, suaranya serak dan tercekat di tenggorokan. Air matanya makin deras mengalir, merusak polesan lip tint tipis yang dia pakai pagi tadi. "Maaf atas semua perlakuan buruk Arga. Maaf karena aku, kamu harus dihina kayak gini di depan semua orang..."
Naira menunduk dalam-dalam, air matanya menetes jatuh ke lantai kantin. "Kamu orang baik, Ram. Kamu gak pantas dikatain kayak gitu. Harusnya aku gak usah dateng ke ruko kemarin, harusnya aku gak usah bawa barang-barang itu kalau ujung-ujungnya malah bikin kamu difitnah..."
Rama terdiam. Cowok lempeng itu menatap pucuk kepala Naira yang menunduk di depan dadanya. Cengkeraman tangan kecil Naira di seragamnya terasa begitu rapuh. Rama bisa merasakan ketakutan yang luar biasa dari gadis yang biasanya selalu bersikap angun dan tegar ini. Ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan kembali sendirian di dunianya yang sepi.
Naira mendongak dengan mata yang sembab dan merah, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Rama. Kalimat yang selama ini dia kunci rapat di dalam hatinya, akhirnya lolos begitu saja bersama tangisnya.
"Ram... tolong, jangan pernah tinggalkan aku, ya? Jangan jauhi aku cuma karena ucapan mereka. Aku... aku gak punya siapa-siapa lagi yang tulus selain kamu," pinta Naira dengan nada yang begitu memohon, sangat rapuh hingga siapa pun yang mendengarnya akan ikut merasakan sesak di dadanya.
Suasana di sekitar mereka mendadak terasa senyap.
Rama mengembuskan napas perlahan. Perlahan, tangan kirinya yang sehat bergerak naik. Bukan untuk merangkul, melainkan untuk mengusap air mata yang membasahi pipi Naira dengan ujung ibu jarinya yang sedikit kasar karena terbiasa bekerja keras. Sentuhannya begitu lembut, seolah sedang menyentuh barang kaca yang paling berharga dan mudah pecah.
"Ra, lihat aku," ucap Rama, suaranya terdengar sangat dalam, tenang, dan menenangkan.
Naira mengerjapkan matanya yang basah, menatap wajah Rama.
"Sejak malam aku mutusin buat putar balik sepeda dan nolongin kamu di jalan sepi itu, aku udah tahu risiko dekat sama kamu," kata Rama, seulas senyuman tipis sangat tipis namun penuh ketulusan muncul di bibirnya yang masih menyisakan bekas lebam. "Dunia kita memang beda, Ra. Tapi kata-kata orang kayak Arga gak akan pernah bisa bikin aku jalan mundur."
Rama menurunkan tangannya dari pipi Naira, lalu menepuk pelan puncak kepala gadis itu, merapikan kuncir kudanya yang sedikit berantakan karena emosi tadi.
"Aku gak akan ke mana-mana. Jadi, berhenti nangis. Masakan Ibu yang aku bawain tadi pagi harus dimakan habis pas jam istirahat kedua nanti. Aku gak mau denger alasan kamu gak nafsu makan," lanjut Rama, kembali ke mode lempeng andalannya untuk mencairkan suasana yang teramat haru itu.
Naira tertegun, lalu sebuah tawa kecil spontan lolos dari bibirnya di sela-sela tangisnya. Dia menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, menatap Rama dengan perasaan lega yang membuncah luar biasa di dalam dadanya.
Di sudut kantin sekolah yang bising ini, di tengah tatapan ratusan orang, Naira tahu satu hal pasti. Tembok es di hatinya telah runtuh sepenuhnya, bukan oleh kemewahan atau janji-janji manis, melainkan oleh ketulusan seorang cowok kaku yang berjanji akan selalu menjadi perisainya, apa pun yang terjadi.
Naira meremas botol air mineral di tangannya. Meskipun tangisnya sudah mereda dan Rama sudah menepuk kepalanya dengan lembut, rasa cemas di lubuk hatinya yang terdalam belum sepenuhnya sirna. Trauma masa lalu saat dikhianati oleh Arga dan Arini membuat kepala Naira selalu memikirkan skenario terburuk.
Dia mendongak lagi, menatap mata hitam Rama yang tenang. Kali ini, tatapan Naira begitu lurus, menyuarakan isi kepalanya yang paling jujur dan rapuh.
"Jangan pernah tinggalin aku ya, Ram... Jangan pernah tiba-tiba hilang tanpa kabar," ucap Naira, suaranya mengecil, hampir seperti bisikan yang sarat akan ketakutan.
Rama diam, mendengarkan dengan saksama tanpa memotong.
Naira menarik napas dalam-dalam, menahan debaran aneh di dadanya sebelum melanjutkan. "Kalau... kalau misalnya suatu saat nanti kamu emang mau jaga jarak sama aku, entah karena kamu bosan, atau karena kamu udah punya pacar... tolong bilang ya, Ram. Jangan hilang gitu aja. Kalau kamu bilang, aku bakal tahu diri. Aku akan jaga jarak kok... tapi please, bilang ya?"
Mendengar rentetan kalimat itu, seulas senyum tipis kali ini sedikit geli muncul di wajah lempeng Rama. Cowok itu memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana abu-abunya, lalu menggelengkan kepala pelan.
"Pacar?" Rama mengulang kata itu dengan nada lempeng andalannya. "Ra, jangankan buat pacaran. Waktu aku sehari-hari aja udah habis buat sekolah, sama angkat kardus di ruko sampai malam. Mana sempat aku mikirin punya pacar."
Naira mengerjapkan matanya, agak salah tingkah karena tanggapannya yang terlalu serius justru dibalas dengan jawaban sewajar itu oleh Rama.
Rama melangkah satu langkah lebih dekat, membuat bayangan tubuh tingginya menutupi Naira dari silau matahari kantin. Tatapan matanya berubah menjadi sangat bersungguh-sungguh.
"Aku bukan tipe orang yang suka lari dari masalah, Ra. Dan aku juga gak akan hilang tanpa kabar kayak anak kecil," kata Rama, suaranya terdengar begitu menenangkan, mengusir semua kabut ketakutan di kepala Naira. "Kalau aku udah bilang gak akan ke mana-mana, artinya aku bakal tetap di sini. Jadi, kamu gak usah mikir yang aneh-aneh lagi."
Rama melirik jam dinding kantin yang sudah menunjukkan waktu hampir masuk kelas.
"Udah, yuk balik ke kelas. Tuh, anak-anak yang lain udah pada ngeliatin kita kayak lagi nonton syuting sinetron," ajak Rama sambil menunjuk sekilas dengan dagunya ke arah kerumunan murid yang masih penasaran.
Naira menoleh sekeliling dan seketika wajahnya merona merah padam karena baru sadar kalau mereka menjadi pusat perhatian sejak tadi. Dia buru-buru menyamakan langkahnya di samping Rama, berjalan beriringan meninggalkan kantin.
Ketakutan akan ditinggalkan itu perlahan-lahan menguap. Di samping cowok kaku yang berjalan dengan tenang ini, Naira akhirnya percaya, bahwa tidak semua orang di dunianya akan melepaskan genggaman tangan sesuka hati.