Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Tatapan Alena terus mengintimidasi Tiyas, hingga gadis cantik itu masih berpikir, alasan logis apa yang akan ia jabarkan kepada sang Kakak.
"Kenapa diam, Tiyas? JAWAB?!" suara Alena naik satu oktav. Kemarahan tak terbendung lagi di matanya.
"E-em... Itu... Lingerie itu buat aku jualan, Mbak. Temenku minta aku untuk bantuin dagangannya. Karena aku nggak enak, jadi ya... Sambil bantu Mbak Lena jaga Delan, aku jualan aja online."
Tiyas mencoba memaksakan senyumnya. Berjalan mendekat ke arah sang Kakak, lalu menggapai satu lengan itu. "Mbak Alena pasti khawatir kalau aku jadi perempuan malam, ya?"
Sambil menarik napas, dan mengusap air matanya, Alena mengangguk kecil. "Mbak hanya tidak ingin kamu salah pergaulan saja. Lain kali, kalau ada apa-apa... Kamu bilang ya, sama Mbak! Biar Mbak nggak salah paham kaya gini."
Tiyas menangguk dapat menghembuskan napas lega. Ia memeluk kakaknya sekilas, lalu melerai. Dan di saat itu, pandangan Alena menajam kearah dalam kamar mandi, yang Alena rasa di atas wastafel terdapat sebuah kemeja pria bewarna coklat. Kemeja itu sangat mirip milik suaminya, Dewan.
Saking penasarannya, tanpa sadar kaki Alena ingin melangkah, mendekat.
Tiyas tersadar. Seolah teringat sesuatu, ia menutup kamar mandinya rapat. "Mbak Lena mau kemana?"
"Nggak... Cuma... Kok kaya ada-" kalimat Alena menggantung ragu.
Tiyas lebih dulu menyelanya. "Itu, Mbak... Bukanya apa-apa, cuma Tiyas malu. Soalnya di dalem ada pakaian dalam Tiyas yang belum di cuci. Mbak Lena kalau nggak keberatan, Tiyas mau ganti baju dulu, ya?!" usirnya secara halus.
Alena hanya mampu mengangguk pasrah. Lalu segera keluar dari kamar adiknya itu.
Tak ingin berlarut memikirkan adiknya, Alena lebih memilih turun dan menuju kamar bayinya di lantai dasar. Setelah pintu terbuka, tatapan yang tadinya penuh emosi, kini meleleh kala melihat Delan tampak nyenyak dalam tidurnya.
Di dalam box, Delan terlelap dengan dengkuran halus dan deru napas yang teratur. Sesekali bayinya itu tersenyum sendiri menunjukan kedua gusinya yang masih merah.
"Selamat tidur, sayang...." Alena mengecup kepala Delan sesaat, lalu bangkit menuju lemari untuk mengambil alat pompa ASI.
Baru membalikan badan, pintu terbuka lagi dari luar. Dewan masuk sambil mengulas senyum penuh maaf.
"Alena... Maaf ya, tadi saya nggak sempet jemput kamu di rumah sakit. Ini saya baru pulang. Tadi saya ikut kirim cengkeh ke Jogja!" Dewan berusaha menjelaskan.
Pria berusia 37 tahun itu berjalan menghampiri sang Istri. Mengecup pucuk kepala Alena sekilas. "Nggak biasanya, Mas? Kok dadakan sekarang kirimnya? Mana hp kamu juga nggak aktif. Siapa yang nggak kesel coba?!"
Alena merajuk, lalu segera duduk di atas sofa tengah membuka kotak tempatnya menyimpan alat Pompa.
Dewan menahan napas penuh. Ia tak menyerah. Menyusul Istrinya duduk, dan mengambil alih alat pompa tadi sambil dirinya lap dengan tisu.
"Tadi siang saya sudah berniat kembali ke rumah sakit. Tapi Pak Ihsan menelfon, suruh kirim siang itu juga. Dan kamu tahu sendiri, Lena... Mukti masih belum masuk kerja. Jadi harus Mas yang terjun ke lapangan langsung."
Alena menghembuskan napas panjang. Ia tak ingin mendebat lagi masalah kecil yang tak seharusnya di perpanjang. Alena hanya mengangguk sambil mengusap lengan suaminya.
"Aku percaya sama kamu, kok Mas...."
Setelah semuanya Dewan siapkan, Alena langsung saja memompa Asinya yang sudah terasa sesak dan penuh. Alena sejujurnya ingin mengAsihi bayinya secara langsung. Namun, ada kalanya ia harus menghadiri rapat di pabrik, dan mendampingi Dewan saat pertemuan di luar.
Itulah sebanya Alena menyimpan Asinya, agar tidak menimbulkan kecemasan yang terlalu berat.
****
Sudah beberapa hari belakang ini, semenjak Alena menemukan sejumlah pakaian haram di kamar adiknya, sebagai seorang Ipar -- penampilan Tiyas semakin hari semakin ketat dan tipis.
Contohnya pagi ini. Disaat Alena tengah menikmati sarapan pagi dengan suaminya, Adiknya itu datang hanya mengenakan daster tipis yang panjangnya sebatas paha dengan dua tali kecil sangat terlihat vulgar.
Alena tersentak. Ia merasa malu dengan suaminya sendiri. Sementara Dewan, pria itu bergeming, fokus menatap makannya, tak peduli dengan keadaan sekitar.
"Pagi, Mbak Lena... Mas Dewan," sapa Tiyas sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
Dewan tak menjawab, sementara Alena masih menatap Adiknya sangat tajam, sudut matanya seolah berbicara akan penampilan Tiyas saat ini.
Tiyas tersadar. Ia menatap Dewan sekilas. Merasa malu sambil menggigit bibirnya.
Tiba-tiba saja Dewan bangkit sambil menggeser kursinya. Alena juga ikut bangkit. "Mas... Nggak di habisin sarapannya?" tanyanya sambil menepuk lengan sang suami.
Dewan menatap, tanganya menyisipkan anak rambut Alena ke sela telinga. "Sudah kenyang! Saya langsung berangkat ke pabrik saja. Nanti ada hasil panen yang masuk lagi. Baik-baik di rumah sama Delan."
Tiyas membuang muka. Tanganya masih meremat sendok beserta garpu tadi.
Setelah mengecup pucuk kepala Alena, Dewan melirik Tiyas sekilas, lalu melenggang begitu saja. Setelah itu Alena kembali menatap Adiknya.
"Tiyas kamu lihat sendiri 'kan? Mas Dewan sampai nggak ngabisin sarapannya? Dia itu malu lihat penampilan kamu seperti ini! Mbak itu nggak melarang kamu mau pake apa. Bukanya Mbak cemburu juga, bukan! Mas Dewan juga sudah menganggap kamu sebagai adik kandungnya sendiri. Tapi kamu juga harus ingat batasan. Sekarang lebih baik kamu ganti baju yang lebih sopan!"
Tiyas hanya mampu tertunduk. Ia mengangguk kecil, lalu segera berbalik menuju kamarnya di lantai atas.
Drttt!!!
Sebuah pesan masuk kedalam gawai Tiyas yang saat ini ia genggam. Pesan itu tertulis dari seorang pria pujaannya yang entah siapa.
"Saya tunggu di ujung jalan! Jangan lupa bawa Lingerie Merah yang saya belikan waktu itu. Nggak usah sedih! Kamu semakin mempesona dalam mata saya."
Belum sampai masuk, wajah Tiyas sudah berubah cerah kembali. "Yesss...." Pekik Tiyas merasa bahagia. Wanita cantik itu segera masuk, lalu bergegas mengganti pakaiannya.
Di halaman depan, Alena saat ini tengah duduk tenang menatap sang Putra di dalam kereta bayinya; Delan tampak anteng menikmati hangatnya mentari pagi.
Bayi kecil itu memekai pelindung mata khusus, dan badanya terbuka hanya memakai diapers saja.
Tiba-tiba dari belakang suara Tiyas menyadarkan lamunannya. "Mbak Lena...."
Alena menoleh. Ia menatap adiknya yang sudah rapi sambil mengapit tas bahu, dan satu tanganya membawa satu paperbag kecil.
"Mau kemana, Yas?"
Tiyas mengangkat paperbag di tanganya sekilas. "Ini, Mbak... Ada yang mau pesan dress lingerie. Nggak jauh kok, dia tunggu deket alun-alun saja."
Alena manggut-manggut. "Naik apa? Nggak di anterin sama Mang Joko saja?"
"Oh, nggak usah, Mbak! Aku naik ojek aja kok. Udah ya, Mbak... Nanti ke buru siang."
Tiyas mengusap wajah Delan sekilas, lalu segera berjalan keluar dari rumah. Setelah kepergian Tiyas, Alena kini berpikir.
"Kok aku baru tahu ya, kalau Tiyas jualan Lingerie? Jika pun iya, kenapa dia nggak pernah uplod ke sosial medianya? Lalu, siapa yang beli?"
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa