Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada rasa tertarik
Shintia terkekeh kecil lalu hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat salah satu dosen memanggilnya.
“Shintia.”
Gadis itu langsung menoleh sopan.
“Eh, Bu Rina.”
Dosen wanita paruh baya itu tersenyum tipis sambil membawa beberapa berkas.
“Kamu lihat pengumuman magang Hotel Permata?”
Shintia mengangguk pelan.
“Lihat sih, Bu.”
“Daftar.”
“Hah?”
Bu Rina menatapnya serius.
“Kamu salah satu mahasiswa terbaik jurusan ini. Nilai praktikmu bagus, komunikasi bagus, attitude juga bagus. Sayang kalau tidak ambil kesempatan.”
“Tapi saya belum kepikiran magang di hotel besar, Bu.”
“Kenapa?”
Shintia mengangkat bahu kecil.
“Capek aja kayaknya… lingkungan hotel besar pasti ribet.”
Tari yang berdiri di samping langsung menyela cepat.
“Bu! Dia tuh emang suka menolak takdir kaya!”
“DIAM TARI!” kesal Shintia.
Bu Rina malah tertawa kecil melihat mereka.
“Pikirkan dulu. Hotel Permata tidak sembarangan membuka program magang. Banyak mahasiswa dari kampus lain juga mengincarnya.”
Shintia hanya tersenyum tipis sopan.
“Iya, Bu. Nanti saya pikirkan.”
Setelah dosennya pergi, Tari langsung menepuk lengan Shintia gemas.
“Lo tuh aneh ya.”
“Aneh kenapa?”
“Orang-orang rebutan masuk Hotel Permata, lah lo malah santai.”
“Aku gak suka tempat terlalu mewah.”
“Kalau direktur gantengnya suka gimana?”
Shintia mendelik tajam. “Tari.”
“Iya iya, aku diam.”
Namun sedetik kemudian Tari kembali mendekat sambil berbisik.
“Tapi serius… jangan-jangan cowok di parkiran tadi itu orang Hotel Permata.”
Shintia mendengus.
“Kalau iya terus kenapa?”
“Berarti hidup lo bentar lagi masuk genre CEO romance.”
“Masuk genre pukul sahabat juga bisa.”
Tari langsung ngakak keras.
***
Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung megah di pusat kota, pria yang tadi pagi berada di mobil hitam tengah duduk santai di ruang kerjanya.
Jas mahal tergantung rapi di kursi, sementara jemarinya memainkan pulpen perlahan.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depannya sambil menyerahkan data mahasiswa magang.
“Ini kandidat terbaik dari beberapa kampus, Pak Raffa.”
Pria muda yang bernama Raffa sanjaya itu menerima berkas tersebut dengan malas. Namun gerak tangannya berhenti saat melihat satu nama.
Shintia Almahira.
Raffa Sanjaya menyandarkan tubuhnya pelan di kursi kerja mewahnya. Tatapannya masih terpaku pada lembar data mahasiswa di tangannya.
Shintia Almahira.
Sudut bibir pria itu terangkat tipis.
“Gadis ini…” gumamnya pelan.
Ia mengingat jelas bagaimana gadis itu berlari panik di parkiran kampus tadi pagi dengan wajah merah karena kelelahan. Lucu, berisik, tapi entah kenapa menarik perhatiannya.
Raffa mengetuk meja perlahan menggunakan pulpen.
“Dia yang tadi ketemu aku.”
Pria paruh baya di depannya mengernyit heran.
“Bapak mengenalnya?”
“Belum.” Raffa tersenyum kecil. “Tapi saya lihat dia dari lantai dua gedung kampus waktu bicara dengan Bu Rina.”
“Mahasiswi itu memang cukup terkenal di jurusannya, Pak. Nilainya bagus, aktif, dan katanya susah didekati.”
“Susah didekati?” ulang Raffa santai.
“Iya. Banyak yang suka tapi dia cuek.”
Alih-alih biasa saja, Raffa malah terkekeh pelan.
“Menarik.”
Ia kembali melihat lembar biodata Shintia. Foto formal gadis itu terlihat sederhana dengan senyum tipis yang manis.
“Dia belum daftar magang?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum, Pak.”
“Kenapa?”
“Kurang tahu. Katanya tidak tertarik kerja di hotel besar.”
Hening sesaat.
Lalu Raffa tertawa kecil seolah baru mendengar hal paling aneh hari itu.
“Orang lain berebut masuk Hotel Permata.” Ia menggeleng pelan. “Dia malah nolak.”
“Perlu saya hubungi pihak kampus lagi?”
Raffa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh santai.
“Tidak usah.”
“Tapi...”
“Kalau dipaksa masuk, itu membosankan.”
Pria itu menatap keluar jendela gedung tinggi yang memperlihatkan ramainya kota di bawah sana.
Tatapannya perlahan menyipit penuh rasa penasaran.
“Saya lebih suka kalau dia datang sendiri.”
Sementara itu di kampus, Shintia sama sekali tidak tahu namanya sedang dibahas di hotel terbesar di kota itu.
Ia justru sedang duduk di kantin bersama Tari sambil mengaduk es teh malas-malasan.
“Gue masih gak ngerti kenapa lo gak tertarik,” oceh Tari untuk kesekian kalinya.
“Karena aku pengen hidup tenang.”
“Magang doang, bukan jadi mata-mata negara.”
Shintia terkekeh kecil.
“Aku capek kalau lingkungan kerja terlalu formal.”
“Padahal cocok loh sama muka lo.”
“Muka aku kenapa?”
“Cantik mahal.”
“Mulai lagi.”
Tari tertawa ngakak.
Namun obrolan mereka terhenti saat beberapa mahasiswi di meja sebelah tiba-tiba heboh sendiri.
“Eh serius direktur Hotel Permata datang langsung ke kampus tadi?”
“Iya! Ganteng banget katanya!”
“Kaya raya lagi…”
“Aku dengar dia masih muda dan belum nikah.”
Tari langsung melirik Shintia dengan wajah penuh arti.
Sedangkan Shintia malah sibuk memakan gorengannya tanpa minat sedikit pun.
“Kalau ganteng bisa bikin skripsi selesai sih aku tertarik,” gumamnya santai.
Tanpa Shintia sadari, di saat yang sama seseorang baru saja mengirim permintaan data lengkap dirinya ke pihak kampus.
...
Siang itu tepat pukul setengah dua, lorong kampus mulai ramai. Mahasiswa jurusan perhotelan berhamburan keluar kelas sambil bercanda dan mengeluh soal tugas.
Shintia berjalan santai menuju parkiran sambil memainkan kunci motor di jarinya. Angin siang menerbangkan sedikit rambutnya yang terikat asal.
Setelah sampai di depan motor, ia langsung mengenakan helm lalu mengeluarkan ponselnya.
Nama Andreas terpampang di layar.
Tak lama kemudian panggilannya tersambung.
“Iya?” suara berat kakaknya terdengar dari seberang.
“Kak, aku mau pulang ke rumah Mama sama Ayah nanti sore.”
Hening beberapa detik.
“Naik apa?”
“Motor.”
“Jangan.”
Jawabannya cepat dan tegas.
Shintia mendesah kecil. “Kak, aku kangen Mama…”
“Rumah mereka jauh.”
“Aku tahu.”
“Jalanan luar kota lagi sering macet.”
“Aku bisa hati-hati.”
“Shintia.”
Nada suara Andreas berubah serius. Sangat serius.
Gadis itu langsung terdiam sejenak.
“Aku gak suka kamu pergi jauh sendirian.”
Shintia menggigit bibir pelan. Ia tahu alasan di balik ketakutan kakaknya.
Dulu, Andreas pernah mengalami kecelakaan hebat bersama tunangannya saat perjalanan. Andreas selamat, tapi wanita yang dicintainya meninggal di tempat.
Sejak saat itu Andreas berubah. Pendiam, Dingin, Dan terlalu protektif padanya.
“Kak…” suara Shintia melunak. “Aku cuma pengen pulang bentar.”
“Kalau kamu kenapa-napa gimana?”
Bentakan kecil itu membuat Shintia terdiam. Namun ia tidak marah, karena ia tahu, Andreas bukan melarangnya. Andreas hanya takut kehilangan lagi.
Akhirnya Shintia menghela napas kalah.
“Iya deh… aku gak jadi pergi.”
“Bagus.”
“Tapi aku kangen Mama sama Ayah.”
“Video call nanti malam.”
“Gak mau. Aku mau ketemu.”
Beberapa detik kemudian, wajah Shintia mendadak cerah.
“Nah! Suruh Mama sama Ayah aja datang ke rumah kita!”
Andreas terdiam sebentar sebelum akhirnya mengembuskan napas pasrah.
“Terserah kamu. Yang jelas, kakak tidak mengizinkan kamu pergi sendiri."
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄