Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2: Undangan Sang Elang
Cahaya matahari pagi mulai menembus kaca depan Warnet Abadi yang berdebu. Reno mengucek matanya yang merah karena kurang tidur. Shift-nya hampir berakhir, namun pesan dari akun berlogo emas bernama Eagle_Eye semalam masih terus terngiang di kepalanya.
"Reno! Bengong aja lo! Itu nomor 15 billingnya udah lewat lima menit, matiin!" suara melengking Bang Jago, pemilik warnet, membuyarkan lamunan Reno.
Reno menghela napas panjang, jarinya bergerak lincah di keyboard server untuk mematikan akses PC nomor 15. Pelanggannya, seorang remaja berseragam sekolah yang bolos, mendengus kesal sebelum pergi meninggalkan sisa bungkus camilan yang berserakan.
Kembali ke layarnya sendiri, Reno menatap alamat yang dikirimkan oleh Eagle_Eye. Sebuah gedung perkantoran di pusat kota, tempat yang jauh dari aroma pengap kabel terbakar dan mi instan yang biasa ia hirup setiap hari.
"Bang, besok saya izin setengah hari boleh?" tanya Reno ragu-ragu.
Bang Jago yang sedang menghitung uang receh di laci menoleh, alisnya bertaut. "Izin? Mau ke mana lo? Tumben banget. Jangan bilang mau ikut tawuran."
"Bukan, Bang. Ada... urusan sebentar," jawab Reno singkat. Ia tidak ingin memberi tahu siapa pun tentang dunia virtualnya. Baginya, menjadi 'Phantom' adalah pelarian rahasia dari kenyataan bahwa ia hanyalah penjaga warnet dengan gaji pas-pasan.
Bang Jago mendengus. "Ya sudahlah, asal jangan telat shift malamnya. Kalau telat, potong gaji!"
Reno mengangguk. Ia kembali duduk di PC nomor 42, PC "keramat" miliknya. Ia membuka kembali rekaman pertandingan semalam di mana ia menghabisi satu tim lawan hanya dengan sepuluh butir peluru pistol. Ia memperhatikan setiap gerakannya sendiri dalam gerakan lambat.
Satu ketukan.
Peluru itu seolah memiliki mata, selalu mendarat tepat di titik terlemah lawan. Bagi orang awam, itu terlihat seperti keajaiban atau kecurangan, tapi bagi Reno, itu adalah geometri murni. Kecepatan angin, jarak jatuh peluru, dan pola lari musuh semuanya terhitung otomatis di kepalanya.
Tiba-tiba, pintu warnet terbuka dengan kasar. Tiga orang pemuda dengan jaket hitam berlogo sebuah tim lokal masuk dengan angkuh. Mereka adalah anggota tim "Iron Fang", tim e-sport semi-pro yang sering berlatih di warnet ini.
"Woi, penjaga warnet! PC VIP kosongin tiga, sekarang!" bentak salah satu dari mereka yang berambut pirang.
Reno berdiri tanpa ekspresi. "VIP lagi penuh, Mas. Sisa PC biasa di deret depan."
Si rambut pirang menggebrak meja kasir. "Lo tahu siapa kita? Kita bentar lagi ikut kualifikasi nasional! Jangan sampai latihan kita terganggu gara-gara pelayanan lo yang sampah ini!"
Reno menatap mata pemuda itu datar. Ia mengenali nama akunnya: Fang_Striker. Pemain yang semalam baru saja ia kalahkan di server publik dengan satu tembakan pistol tepat di dahi. Tentu saja, si pirang tidak tahu bahwa orang yang ia maki adalah orang yang sama yang membuatnya malu di depan ribuan penonton live streaming semalam.
"Aturannya tetap, siapa cepat dia dapat," kata Reno tenang.
"Sombong banget lo!" Si pirang hampir saja melayangkan pukulan, namun temannya menahan.
"Sudahlah, jangan buang waktu sama penjaga warnet pecundang kayak dia. Ayo cari tempat lain," ajak temannya.
Saat mereka pergi, Reno hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. "Pecundang," bisiknya pada diri sendiri. Kata itu membakar sesuatu di dalam dadanya.
Selama ini ia puas hanya menjadi "hantu" di balik layar, tapi perlakuan barusan menyadarkannya. Jika ia ingin dihormati, ia tidak bisa terus bersembunyi di sudut warnet yang gelap ini. Ia harus menunjukkan bahwa dunia e-sport bukan milik mereka yang punya jaket mahal, tapi milik mereka yang punya kemampuan di atas rata-rata.
Reno mengambil ponselnya yang layarnya retak, mengetik balasan singkat untuk Eagle_Eye.
[Phantom]: Besok jam 10 pagi. Saya akan datang.
Ia tahu, begitu ia melangkah keluar dari pintu warnet ini besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Reno, sang penjaga warnet, akan segera mati. Dan Phantom, sang Dewa Satu Ketukan, akan lahir kembali di dunia nyata.