Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELEVASI DAN OKSIGEN YANG MENIPIS
Pukul lima pagi, udara Jakarta masih menyisakan sisa hujan semalam, namun Kania sudah berdiri tegak di depan gerbang rumahnya dengan jaket puffer warna lilac dan sepatu bot yang menurutnya sangat keren. Di sampingnya, sebuah ransel berisi camilan, kamera, dan tentu saja cadangan cokelat sudah siap tempur.
Ini adalah hari yang dijanjikan. Hari di mana "Si Kulkas Dua Pintu" akan bertransformasi menjadi "Pria Puncak".
SUV hitam Devan muncul tepat waktu. Pria itu keluar dari mobil, mengenakan sweter *turtle neck* hitam dan celana kargo abu-abu. Rambutnya tidak ditata kaku seperti biasanya, melainkan sedikit berantakan tertiup angin pagi. Kania sempat menahan napas; Devan tanpa jas dokter ternyata jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
"Kamu membawa logistik untuk satu minggu atau hanya untuk satu hari?" tanya Devan, matanya melirik ransel besar Kania.
"Ini namanya persiapan, Dok! Kita kan mau ke alam bebas, siapa tahu kita tersesat terus harus bangun peradaban baru di sana," jawab Kania asal sambil naik ke kursi penumpang.
Devan hanya menggeleng pelan, menyimpan tas Kania di bagasi, lalu melajukan mobilnya. "Tekanan udara di Puncak akan sedikit berbeda. Jika kamu merasa pusing atau mual, segera katakan."
"Siap, Kapten! Tapi tenang aja, aku kan udah biasa pusing mikirin skripsi, jadi kalau cuma pusing karena ketinggian mah kecil," canda Kania.
Sepanjang perjalanan melewati tol Jagorawi yang mulai padat, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan profesional rumah sakit. Devan memutar musik instrumental yang tenang, sementara Kania tidak berhenti berceloteh tentang masa kecilnya, tentang betapa ia benci sayur tapi suka buah stroberi, hingga impiannya setelah lulus nanti.
"Dokter tahu nggak? Dulu aku pengen jadi detektif. Soalnya aku pinter banget nyari tahu siapa yang ngabisin stok es krim di kulkas rumah," cerita Kania antusias.
Devan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia menoleh, menatap binar di mata Kania. "Detektif? Sayangnya, bakat observasimu sering tertutup oleh kecerobohanmu, Kania. Kamu bahkan lupa memakai kaos kaki yang senada lagi hari ini."
Kania menunduk. Benar saja, kaos kaki kanannya bermotif bunga, sementara yang kiri polos hitam. "Aduh! Ini tuh namanya... asimetris estetis, Dok! Dokter mah nggak gaul!"
Devan terkekeh. Suara tawa yang rendah dan langka itu membuat Kania terdiam sejenak. Ia menyadari satu hal: ia menyukai Devan yang seperti ini. Devan yang tidak sedang memegang pisau bedah, Devan yang bisa tertawa karena hal konyol.
Setelah melewati kemacetan legendaris di Cisarua, mereka akhirnya sampai di sebuah kawasan kebun teh yang masih asri, jauh dari keramaian turis. Udara dingin langsung menusuk tulang saat mereka turun dari mobil.
"Wah! Dingin banget!" Kania memeluk dirinya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa, Devan mendekat dan menarik ritsleting jaket Kania sampai ke dagu, lalu merapikan syal yang melilit leher gadis itu. Jarak mereka sangat dekat, hingga Kania bisa mencium aroma parfum sandalwood yang bercampur dengan udara pegunungan yang segar.
"Jangan sakit. Saya sedang libur, saya tidak mau praktik bedah saraf di tengah kebun teh hanya karena kamu hipotermia," ucap Devan datar, namun tangannya tetap berada di bahu Kania selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak di antara hamparan daun teh hijau. Kania berlarian kecil, mengambil foto sana-sini, sementara Devan berjalan tenang di belakangnya, bertindak sebagai pengawas yang waspada.
"Dok! Lihat! Ada jagung bakar di sana!" Kania menunjuk sebuah warung kecil di pinggir bukit.
Mereka duduk di bangku kayu panjang. Asap dari panggangan jagung mengepul, menciptakan suasana yang hangat di tengah kabut yang mulai turun. Devan memesan kopi hitam, sementara Kania memesan jagung bakar pedas manis dan teh manis hangat.
"Dokter beneran nggak mau nyobain?" Kania menyodorkan potongan jagungnya.
"Terlalu banyak zat arang dan pemanis buatan," komentar Devan, namun ia tetap menerima suapan dari Kania. Ia mengunyah perlahan. "Lumayan."
"Tuh kan! Bilang aja enak. Hidup itu nggak selalu soal nutrisi, Dok. Kadang soal rasa yang bikin bahagia," Kania tersenyum puas.
Saat matahari mulai bergeser ke arah barat, mereka duduk di sebuah area terbuka yang menghadap langsung ke lembah. Kabut tipis mulai menyelimuti mereka, membuat dunia seolah hanya milik mereka berdua.
"Dok... boleh tanya sesuatu yang serius?" suara Kania merendah.
Devan meletakkan cangkir kopinya. "Silakan."
"Kenapa Dokter selalu kelihatan... kesepian? Bahkan pas lagi bareng dr. Sarah atau dokter lainnya di RS. Dokter kayak punya tembok transparan yang nggak bolehin siapa pun masuk."
Devan menatap hamparan hijau di depannya. Matanya tampak menerawang jauh. "Menjadi dokter bedah saraf artinya kamu sering kali menjadi hakim antara hidup dan mati. Jika saya terlalu emosional, tangan saya akan bergetar saat memegang pisau. Jika saya membiarkan orang terlalu dekat, saya takut... saya tidak akan sanggup kehilangan lagi."
"Lagi?" Kania menangkap kata kunci itu.
Devan menghela napas panjang. "Ibu saya meninggal di meja operasi saat saya masih menjadi mahasiswa kedokteran. Itu adalah operasi otak yang gagal. Sejak saat itu, saya berjanji untuk menjadi yang terbaik agar tidak ada orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Tapi harganya adalah... saya lupa caranya menjadi manusia biasa."
Kania merasa hatinya mencelos. Ia tidak menyangka di balik keangkuhan Devan, ada luka sedalam itu. Tanpa ragu, Kania menggenggam tangan Devan yang terasa dingin.
"Dokter sudah jadi manusia yang luar biasa. Dan sekarang, Dokter nggak perlu takut lagi. Ada aku yang bakal berisik di samping Dokter, jadi tembok Dokter nggak bakal kerasa sepi lagi," bisik Kania.
Devan menoleh, menatap wajah Kania yang kemerahan karena dingin. Ia melihat ketulusan yang murni di sana. Perlahan, Devan menarik tangan Kania dan mencium jemarinya satu per satu.
"Kamu adalah oksigen yang masuk ke ruangan operasi yang pengap, Kania. Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya secara medis, tapi... detak jantung saya merasa aman di dekat kamu."
Kania merasa air matanya hampir jatuh karena haru. Namun, sebelum suasana menjadi terlalu melankolis, ia tiba-tiba bersin dengan keras. "Hatchi!"
Devan langsung berdiri, wajahnya kembali ke mode "dokter siaga". "Sudah saya duga. Suhu tubuhmu turun. Kita harus segera kembali ke mobil."
Kania tertawa di sela bersinnya. "Yaelah, Dok! Baru aja mau romantis!"
"Romantisme bisa menunggu, tapi radang paru-paru tidak," jawab Devan sambil menarik Kania ke dalam pelukannya untuk memberikan kehangatan, lalu menuntunnya berjalan kembali.
Di tengah kabut Puncak yang dingin, Kania menyadari bahwa misi mencairkan sang Dokter Es sudah berhasil. Namun, tugas barunya kini lebih besar: memastikan bahwa hati yang sudah mencair itu tidak akan pernah membeku lagi karena luka masa lalu.