Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi, Bohong, dan Rock n' Roll
Ia berdeham pelan, mencoba menarik perhatian Riton.
Pria itu berbalik. Wajahnya yang tampan terpancar oleh cahaya temaram kafe. Matanya berbinar, dan senyum lebar mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat Ekantika merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya.
"Nana?" Riton berkata, suaranya hangat dan penuh kekaguman. Ia berdiri, menghampiri Ekantika. "Kamu jauh lebih cantik dari fotomu."
Pujian itu menghantam Ekantika dengan kekuatan tak terduga, meluruhkan sisa-sisa kepanikan dan kegugupannya. Bukan karena dia tidak biasa dipuji, justru sebaliknya. Sebagai Ekantika Asna, ia selalu dikelilingi oleh pujian atas kecerdasan, ketangguhan, atau pencapaiannya. Tapi "cantik" yang Riton ucapkan, diiringi senyum tulus tanpa pamrih itu, terasa berbeda. Itu adalah pujian untuk Nana, persona yang ia ciptakan, yang ia usahakan mati-matian agar terlihat alami. Perasaan senang yang asing merayap di dadanya, nyaris melupakan bahwa pujian itu adalah buah dari kebohongan.
"Hah? Kamu bisa aja, Ton," sahut Ekantika, mencoba terdengar malu-malu dan santai, persis seperti Nana di foto. Ia merasakan pipinya memanas, entah karena tersanjung atau karena rasa bersalah. "Foto 'kan cuma editan filter. Aslinya ya begini-begini aja." Ia terkekeh, suara yang ia rasakan sedikit canggung.
Riton tertawa kecil, suara beratnya bagai melodi di telinga Ekantika. "Enggak kok. Jauh lebih baik. Bikin pangling." Matanya memindai pakaian Ekantika, dari blouse krem longgar hingga culottes hijau army, dan berhenti di sneakers putihnya. "Kelihatan chill banget. Sesuai sama vibe freelance designer."
Sesuai dengan vibe freelance designer palsu, maksudmu,Ekantika ingin menambahkan, tapi menahan diri. Ia duduk di kursi yang ditarik Riton untuknya, merasakan sentuhan jemari Riton yang sekilas di punggungnya. Jantungnya berdebar kencang. Aroma kopi yang kuat di kafe itu bercampur dengan aroma parfum Riton yang lembut, menciptakan perpaduan yang memabukkan.
"Oh, iya," Ekantika mengangguk, mencoba terlihat antusias. "Aku emang suka yang santai-santai gini. Enak buat mikir ide-ide desain." Ia mencoba memamerkan senyum termanisnya, senyum yang biasanya ia simpan untuk para klien besar. "Kamu udah lama nunggu?"
"Enggak juga. Baru sebentar kok," Riton duduk di seberangnya, senyumnya tidak memudar. "Udah pesen apa?"
"Belum. Aku baru dateng," jawab Ekantika. Ia mengambil menu yang tergeletak di meja, matanya memindai deretan nama kopi dan makanan ringan. Harga-harganya sangat terjangkau, jauh di bawah kafe-kafe premium yang biasa ia kunjungi. Nana tidak boleh pesan yang aneh-aneh atau terlalu mahal.
"Mau coba Kopi Senja signature?" Riton menunjuk salah satu menu. "Kata temenku lumayan enak."
Ekantika mengangguk. "Boleh. Aku percaya selera kamu." Karena aku tahu selera aslimu, ia menambahkan dalam hati, teringat dulu Riton sering memesankan kopi untuknya di kantor.
Seorang pelayan datang, dan mereka memesan dua Kopi Senja dan beberapa kentang goreng. Setelah pelayan pergi, keheningan canggung kembali melingkupi mereka, diiringi suara percakapan dari meja-meja lain dan alunan musik indie. Ekantika merasa canggung. Otaknya terbiasa memimpin percakapan, mengendalikan situasi. Tapi sebagai Nana, ia harus menjadi pendengar yang baik, atau setidaknya, terlihat tidak terlalu dominan.
"Jadi... proyek desain apa yang lagi kamu kerjain, Na?" Riton memulai, memecah keheningan. Matanya yang cokelat menatap Ekantika dengan penuh minat.
Mati aku.Ekantika harus berimprovisasi. Cepat. "Ehm, itu, Ton. Aku lagi bantu UMKM di daerah sini. Bikin logo dan packaging produk makanan ringan. Tantangan banget sih, karena budget-nya mepet, tapi aku suka banget tantangan." Ia menekankan kata-kata itu, berharap terdengar meyakinkan. Berapa kali aku harus berbohong tentang ini?
"Wah, keren! Jadi freelance designer itu pasti seru ya. Bisa ketemu banyak orang baru, proyeknya juga beragam," kata Riton, terdengar tulus. "Aku juga pengen deh punya kerjaan yang bisa lebih kreatif kayak gitu."
Ekantika mendengarkan, mencatat setiap detail. Ia melihat kerinduan di mata Riton. Pria itu, CEO Aksara Digital, perusahaan yang menjanjikan, ternyata juga punya sisi yang mendambakan kreativitas dan kebebasan. Sama seperti aku yang merindukan sisi riangku.
"Ya, lumayan sih. Tapi ya gitu, kadang deadline-nya gila-gilaan," Ekantika mencoba menimpali, meniru gaya bicara santai anak muda. "Kamu sendiri gimana, Ton? Proyek di Aksara Digital lancar?"
Riton tersenyum tipis. "Lancar sih. Tapi ya itu, tekanan dari investor, terus persaingan juga makin ketat. Apalagi di industri digital sekarang, harus selalu inovatif. Kadang bikin pusing."
Ekantika merasakan gatal di tenggorokannya. Aku tahu persis rasanya, Ton. Perusahaanmu bahkan akan bersaing langsung dengan perusahaanku. Ingin sekali ia memberikan masukan, tips strategi, atau bahkan menawarinya bantuan. Tapi ia hanya bisa mengangguk empati sebagai "Nana." Jangan sampai keceplosan istilah bisnis, Ekantika! Ingat, kamu Nana, desainer lepas yang gabut!
Kopi mereka datang, dan obrolan mereka mengalir lebih lancar. Mereka berbicara tentang film, tempat nongkrong di Tebet, bahkan tentang kucing peliharaan. Ekantika mulai merasa lebih nyaman. Ia melupakan sejenak tentang kebohongannya, tentang usianya, tentang pekerjaannya. Ia hanya Nana, seorang wanita yang sedang menikmati kencan dengan pria yang menarik.
"Oh ya, Na," Riton tiba-tiba teringat sesuatu. "Kamu suka musik apa? Aku lihat di playlist kamu di aplikasi kencan, ada beberapa lagu pop-punk lama. Aku kira cuma aku yang masih dengerin band-band itu!"
Mata Ekantika berbinar. Akhirnya, sebuah topik yang bisa ia kuasai tanpa perlu berbohong. Musik adalah pelariannya. Dari segala tekanan pekerjaan, dari kesendiriannya. Ia tumbuh besar di era pop-punk awal 2000-an.
"Ya ampun! Kamu juga dengerin?" Ekantika berseru, kegembiraannya tulus. "Aku kira aku sendirian di dunia ini! Aku suka banget sama Green Day, Blink-182, Sum 41... Wah, kalau kamu tahu, ada satu band lokal yang dulu aku suka banget, namanya The Upstairs! Lagunya 'Terekam Tak Pernah Mati' itu anthem-ku banget pas SMA!"
Riton menatapnya, senyumnya melebar. "The Upstairs? Gila! Itu band favoritku juga! Aku sering banget dengerin 'Disko Darurat' mereka. Aku nggak nyangka kamu tahu band itu, Na. Anak-anak sekarang mana ada yang tahu?"
Mereka berdua tertawa, tawa yang lepas dan ringan. Selama beberapa menit berikutnya, kafe yang ramai itu seolah lenyap. Hanya ada mereka berdua, tenggelam dalam nostalgia musik tahun 2000-an. Mereka berdebat seru tentang album terbaik Green Day, lagu paling underrated dari Blink-182, dan konser The Upstairs mana yang paling legendaris.
"Menurutku, album Dookie itu masterpiecenya Green Day," Riton bersikeras, matanya berbinar-binar penuh semangat. "Liriknya jujur banget, musiknya juga fresh."
"Aku setuju kalau Dookie itu klasik, Ton. Tapi kalau bicara lirik yang menyentuh, aku lebih suka American Idiot," Ekantika membalas, merasa seperti kembali ke masa remajanya, saat ia berdebat dengan teman-temannya di kantin sekolah. "Lagunya 'Wake Me Up When September Ends' itu bikin nangis kalau didengerin pas lagi galau!"
Riton menatapnya lekat, ada kilatan di matanya yang tidak bisa Ekantika artikan. "Gila, Na. Aku... aku merasa kita sudah kenal lama banget. Kamu kayak jiwa yang hilang yang baru aku temukan."