black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan lama yang bersemi kembali
mala itu semua sudah bersiap untuk tidur tapi Sasa meminta sesuatu yang membuat pasangan ini jadi salah tingkah karena mereka sudah lama tidak bersama dan terlalu dekat.
" ayo sayang sudah malam saatnya tidur, belajarnya kita lanjut besok." ucap ayu.
" iya ma...." ucap Sasa di sampingnya ada Wira yang menemani sejak tadi.
" anak ayah hebat sekali, ayah bangga memiliki anak hebat seperti Sasa." ujar Wira.
" iya dong Sasa gitu, ayah apa malam ini ayah mau tidur bersama mama dan Sasa." ucap Sasa seketika membuat ayu dan beradu pandang saling mencari jawaban.
" e itu... Sasa tidur saja dulu bersama mama nanti ayah akan menyusul." alasan Wira yang sebenarnya merasa tidak enak saja pada ayu.
" Sasa tidak mau, Sasa mau tidur bersama ayah dan mama, sepertinya itu sangat menyenangkan." ujar Sasa sedang ayu membuang muka dia tidak mau melihat Wira ada perasaan salah tingkah jika membahas urusan bersama.
Beberapa hari berlalu hubungan mereka semakin membaik dan komunikasi mereka juga sangat bagus benih benih cinta yang dulu terkubur sepertinya sedang bersemi lagi.
" ay bagai mana...." tanya Wira meminta pendapat ayu.
" aku tidak masalah." ujar ayu pergi lebih dulu menuju kamar.
" Sasa apa Sasa sudah gosok gigi." tanya Wira.
" belum." jawab Sasa.
" mau gosok gigi bersama ayah." ujar Wira.
" mau....." jawab Sasa.
Singkatnya kini mereka bertiga sudah ada dalam satu ruangan kasur yang tidak begitu lebar itu cukup sempit untuk tiga orang.
" Sasa mau mama bacakan cerita seperti biasa...." ucap ayu.
" tidak Sasa ingin di peluk ayah." jawab Sasa.
Ayu di buat tidak percaya dengan tingkah Sasa ayu berpikir semudah itukah anaknya berpindah hati, ayu melihat Wira yang tersenyum manis. ayu pun hanya berbalik badan dengan kesal menggerutu dalam hatinya.
" ayah.... Sasa sayang ayah...." ujar Sasa, ayu yang mendengar itu semakin kesal bukan kah Sasa hanya mentakan seperti itu hanya padanya dulu. Sedang Wira yang hanya bersikap baik beberapa hari saja sudah mendapatkannya, ayu merasa tidak adil.
" ayah juga saya Sasa....." jawab Wira.
" dasar gombal." dumel ayu yang merasa terabaikan oleh buah hatinya.
" ayah apa ayah akan selalu baik seperti ini, ayu takut sekali ayah seperti dulu lagi." ujar Sasa membuat suasana dengan cepat berubah, Bahakan keluh kesah ayu sebelumnya berubah menjadi bayangan kelamnya beberapa tahun yang sudah lalu.
" ayah janji ayah akan selalu baik dan menjadi ayah yang terbaik untuk Sasa." ujar Wira.
" janji...." ucap Sasa.
" janji..." jawab Wira
keduanya saling menautkan jari kelingking sebagai tanda janji yang tidak boleh di ingkari.
" sudah sekarang saat nya tidur...." ucap Wira.
" um...ayah peluk Sasa jangan di lepas ya...." ujar Sasa.
" tentu.... Ayah akan terus memeluk Sasa." ujar Wira.
Jam berlalu Sasa sudah tidur dengan lelap, Wira tak kunjung juga bisa tidur, ayu yang membelakanginya membuat Wira tidak tau apakah ayu sudah tidur atau belum.
" ay... Apa kamu sudah tidur...." Wira dengan pelan takut mengganggu.
" tidak aku tidak bisa tidur." ujar ayu menjawab.
" itu aku akan ke kamar sebelah saja, sepertinya ini terlalu sempit hingga membuat sulit tidur." ucap Wira.
Ayu tidak menjawab sejak tadi ayu sebenarnya sedang menahan perasaan yang dia rindukan yaitu pelukan, ayu juga ingin pelukan seperti Sasa hanya saja ayu tidak tau cara mengutarakan nya.
Setelah Wira keluar ayu membalikkan tubuhnya, ayu merasa tidak rela, tapi dia juga tidak tau mau berbuat apa.
Satu jam berlalu lagi tapi ayu semakin uring uringan karena tak kunjung tidur juga.
" tidak bisa ini tidak bisa, Wira adalah suamiku jadi sudah sewajarnya jika aku menginginkan nya. Tapi bagai mana nanti setelah aku bertemu dengannya, bagai mana....." ayu sedang berperang dengan perasaannya .
Wira yang di kamar sebelah sedang memainkan ponselnya rasa ngantuk tak kunjung menyerangnya tidak seperti biasanya.
toktok toktok.
" Wira apa kamu sudah tidur, apa aku boleh masuk." ucap ayu dari balik pintu luar kamar.
" ay... Masuk aja pintu tidak di kunci." ucap Wira dari dalam.
Ketika pintu terbuka dan ayu masuk, seketika itu membuat Wira dengan susah payah menelan ludah Bahakan matanya membulat tidak mau lepas dari ayu.
Ayu yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah dan malu, tapi entah mengapa tubuhnya memanas.
Setelah ayu merawat dirinya dengan baik beberapa hari terakhir, ayu terlihat sangat cantik bahkan terlalu cantik. Jika bukan karena Wira menghormati nya tentu Arya sudah menunaikan kewajibannya dengan alasan suami istri sudah sewajarnya.
" ay aku tidak tau alasan apa kamu datang, tapi jika kamu menutup pintu itu sekarang maka aku akan melakukan nya." ucap Wira.
Ayu mendengar itu membuat seluruh tubuhnya berdesir perasaan ingin di sentuh dan di manja Wira itu kiyan memuncak, dengan mantap ayu menutup pintu bahkan menguncinya.
Wira meletakkan ponselnya di meja lalu berjalan perlahan jarak yang dekat membuat dua insan itu segera bertemu dalam kedekatan.
Arya lalu membelai lembut lengan ayu yang putih bersih nan lembut itu. Ayu yang di perlakukan itu semakin panas bahkan seperti gila dan lupa.
" aaah......" ayu.
Wira membawa ayu dalam dekapannya mengangkatnya dan menguncinya ke pintu kemudian ciuman penuh gairah itu pecah, Ayu gusar dan gelisah atas permainan wira permainan yang lama sudah tidak di lakukan.
Wira kemudian membawa ayu ketempat tidur kecil yang dingin, kemudian Wira dengan perlahan membaringkan ayu di kasur itu.
" aku menginginkannya ay." ujar Wira.
" aku juga...." ucap ayu.
Dan malam itu pergulatan panas bergairah itu pun terjadi suara suara kenikmatan itu memenuhi ruangan. Energi keduanya begitu besar mengimbangi perasaan yang telah lama hilang, aktivitas yang sudah lama tidak pernah di lakukan lagi.
...****************...
Malam itu Wira, ayu dan Sasa di undang untuk menghadiri pesta pernikahan firman dan Diana. acara itu di adakan di salah satu hotel bintang 5.
ayu sempat menolak untuk datang karena minder, tapi firman memiliki 1000 cara untuk membuat ayu setuju, dan akhirnya mereka setuju.
Ayu dan Wira memutuskan membeli pakaian baru untuk menghormati acara sakral itu, karena tidak baik rasanya jika memakai baju seadanya, walau sebenarnya itu tidak menjadi masalah untuk firman dan keluarga mempelai wanita, tapi ayu yakin tidak dengan tamu undangan yang lain, pasti di salah satu tamu akan ada yang mencari masalah dan menjadikan mereka sebagai bahan ejekan, dan tertawaan. Begitu biasanya yang terjadi jika itu acara milik para orang kaya. Ayu hanya tidak ingin merusak suasana bahagia itu karena penampilannya.