NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : Emosi Kirana yang tak terkontrol

Malam itu ruang makan keluarga Harsono terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu kristal yang biasanya menerangi meja makan dengan hangat, malam ini terasa dingin. Dingin seperti tatapan Kirana Prameswari .

Sehabis makan malam, Pak Harsono meminta Kirana untuk berbicara empat mata di ruang kerjanya. Kirana hanya mengangguk "Baik Pah...."jawabnya singkat.

Di ruang kerja pak Harsono, beliau duduk kursi kerjanya. Sambil mengecek laporan keuangan perusahaan.

Kirana datang mengetuk pintu ruang kerja ayahnya yang terasa dingin bagi kirana.Apalagi setelah meninggal nya sang Ibu nyonya Anastasya. Ayahnya selalu menyibukan diri di ruang kerjanya sampai lupa kalau dia juga punya anak Gadis. Anak gadis yg begitu merindukan keluarga nya yg hangat.

"Pah ini Kirana..." ucanya pelan

"masuklah nak.. "

Kirana duduk di sofa ruangan, disusul pak Harsono. Mereka duduk bersebelahan, pak Harsono diam beberapa detik seolah ragu dengan apa yg mau dibicarakan. Baru setelah memantapkan hatinya akhirnya beliau bersuara.

"Kirana... Papa ada sesuatu yang penting yang harus kamu dengar," suara Pak Harsono pelan tapi tegas.

Kirana mengangguk pelan sambil menggengam erat tangannya. Dia sudah bisa merasakan ada sesuatu yang nggak beres dari wajah pucat ayahnya.

"Papa... ingin menikahkan kamu dengan Arga, minggu depan."

JDERRR...seolah ada guntur yg menyambar hatinya.

Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah keheningan.

Kirana membelalak. Otaknya berhenti bekerja selama 5 detik.

"APA?!"

Suara Kirana meninggi sampai pelayan di dapur ikut menoleh.

"Nikah... dengan ARGA?! Papaaa... kamu serius?!"

Pak Harsono menghela napas panjang. "Iya, Kirana. Papa serius."

"*SERIOUSLY?! GAK ADA ANGIN GAK ADA HUJAN TIBA-TIBA PAPA MINTA AKU NIKAH SAMA ARGA?!*"

Kirana berdiri dengan tangan mengepal. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.

"Arga itu siapa?! Dia cuma supir kita, Pa! Anak panti yang Papa pungut dari jalan! Kenapa harus dia?! Kenapa bukan orang lain?!"

Pak Harsono menunduk. "Karena Papa percaya cuma dia yang bisa jaga kamu, Kirana."

"JAGA AKU...?!" Kirana tertawa sinis, tapi suaranya bergetar.

"Arga itu... dia yang selalu merebut perhatian Papa dari aku! Dia yang bikin aku jadi nomor dua di sekolah! Dia yang bikin aku malu di depan teman-teman! Dan sekarang Papa mau aku nikah sama dia?!"

Kirana menggeleng kuat-kuat. Rambut panjangnya terurai berantakan.

"TIDAK! TIDAK MUNGKIN! AKU TIDAK AKAN PERNAH NIKAH SAMA DIA!"

Pak Harsono mencoba meraih tangan Kirana. "Kirana, dengar Papa dulu..."

"STOP.."

"AKU NGGAK MAU DENGAR!" Kirana menepis tangan ayahnya dengan kasar.

"Papa tega... Papa benar-benar tega sama aku!"

Kata itu keluar dari mulut Kirana seperti pisau yang menghujam dada Pak Harsono.

Wajah Pak Harsono seketika memucat. Dia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Kirana tidak peduli. Dia berbalik dan berlari keluar dari ruang kerja. Langkahnya cepat, tidak beraturan, sampai heels-nya hampir terlepas.

Dia berlari menaiki tangga, melewati koridor panjang, sampai akhirnya masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dengan keras. BRAKK!

Di dalam kamar, semua pertahanan Kirana runtuh.

Air matanya tumpah tanpa bisa dia bendung lagi.

Dia memeluk bantal dan menangis sejadi-jadinya.

"MAMAAA...PAPA MAAA.."

"Papa... kenapa Papa tega sama Kirana..." isaknya.

"Mama...hiks..hisk.."

"Kirana baru aja lulus kuliah... Kirana mau kejar mimpi Kirana jadi seorang desainer... "

"Kirana mau bikin nama Harsono bangga... bukan nikah sama supir dekil!"

Kirana menatap foto Nyonya Anastasya yang tergantung di dinding kamarnya.

Foto itu diambil 7 tahun lalu. Nyonya Anastasya tersenyum lembut sambil memeluk Kirana kecil yang sedang ulang tahun.

"Mama... Kirana kangen Mama..."

Kirana merangkak ke depan foto itu dan memeluk bingkai fotonya erat-erat.

"Kalau Mama masih ada... Mama pasti nggak akan tega lihat Kirana diperlakukan kayak gini..."

"Mama... Kirana takut, Ma... Kirana takut sendirian..."

Tangis Kirana semakin pecah. Malam itu, pewaris perusahaan Harsono yang terkenal dingin dan sempurna...

hanya seorang anak perempuan 21 tahun yang kehilangan ibunya... dan sekarang merasa ditinggalkan oleh ayahnya juga.

 

Di lantai bawah, Pak Harsono masih duduk di kursi ruang kerja dengan kepala tertunduk.

Tangannya gemetar memegang foto Nyonya Anastasya.

"Anas... aku harus gimana... aku nggak mau Kirana sendirian kalau aku pergi..." gumamnya pelan.

Sementara itu, di garasi... Arga masih duduk bersila dengan kepala tertunduk.

Dia mendengar suara teriakan Kirana dari lantai atas.

Hatinya sakit. Tapi dia hanya bisa menunduk lebih dalam.

"Maaf, Nona... maaf karena aku jadi beban Nona..." batinnya.

Masih di dalam kamar,

Kirana begitu terpukul sampai nangis semalaman.

Matanya bengkak, pipinya memerah, dan tenggorokannya terasa kering karena terlalu banyak air mata yang keluar.

Dia memeluk bantal Nyonya Anastasya sampai bantal itu basah kuyup.

"Mama... kalau Mama masih ada, Mama pasti akan bela Kirana..." gumamnya pelan sampai tertidur dengan napas tersengal.

 

*PAGINYA. JAM 8 PAGI.*

Rumah besar keluarga Harsono terasa... berbeda.

Udara di dalam terasa berat. Ada ketegangan yang begitu menyayat hati, siapapun yang berada di rumah itu bisa merasakannya. Tak terlihat, tapi nyata.

Bibi Rina yang sudah 15 tahun bekerja di rumah ini hanya bisa menunduk sambil membawa nampan sarapan.

"Kenapa sepi banget ya hari ini..." gumamnya pelan.

"Tak biasanya juga Non Kirana jam 8 belum bangun.

Biasanya dia selalu bangun jam 6 pagi buat joging singkat keliling kompleks. " Bi Rina cuma bisa menghala nafas.

Didepan pintu kamar,

Bi Rina sudah mencoba mengetuk pintu kamar Kirana tiga kali untuk mengajaknya sarapan.

"Non Kirana... sarapan dulu ya Non..."

Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan.

Begitu pula Pak Harsono,

Biasanya pukul 7 pagi dia sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Tapi pagi ini, piringnya masih utuh, kopi hitamnya sudah dingin, dan koran pagi masih terlipat rapi.

Pak Harsono hanya duduk di kursi dengan tatapan kosong. Dia sudah mencoba mengetuk pintu kamar Kirana juga, tapi hasilnya sama: nihil.

Bukan karena Kirana belum bangun.

Sebenarnya Kirana sudah bangun sejak jam 6.

Tapi dia malas. Malas untuk bertemu siapapun. Malas untuk melihat wajah ayahnya. Malas melihat Arga, yang mungkin sedang tertawa penuh kemenangan menurut nya.

Dia hanya ingin mengurung diri di kamar dan berpura-pura malam kemarin tidak pernah terjadi.

DI BAWAH. DI GARASI.

Arga berdiri di depan wastafel dengan tangan yang mengepal.

Handuk basah di tangannya sudah diremas-remas sampai airnya menetes ke lantai.

Dia begitu khawatir dengan Nona-nya. Nona yang begitu dia sayangi, sudah ia anggap sperti adik sendiri.

Rasanya dia ingin datang ke kamar Kirana. Memeluknya. Memberikan sedikit kekuatan.

"Nona... jangan nangis lagi ya... Nona kuat... Nona hebat..."Gumam Arga

Tapi kaki Arga tidak bisa bergerak.

Dia hanya seorang supir. Apa haknya untuk masuk ke kamar Nona majikan?

Arga merasa bersalah sekali.

Gara-gara dia, Kirana merasa tertekan. Gara-gara dia, Kirana merasa tidak nyaman bahkan di rumahnya sendiri. Dia berfikir seharusnya dia tak datang, dia tak menerima ajakan Pak Harsono.

Seharusnya dia menolaknya waktu itu.

Harusnya waktu itu dia Sadar tak semua orang mau menerima anak yg di buang sepertinya. Ingatan ingatan yg dulu kembali berputar dipikiranya tanpa dia minta, seperti film yg tak bisa di pause.

"Kalau saja aku bukan anak panti... kalau saja aku bukan supir... mungkin Nona nggak akan marah sebesar ini..."batinnya.

Arga menunduk dalam-dalam.

Di kepalanya sekarang hanya ada satu pertanyaan:

"Apakah aku harus mundur? Apakah aku harus bilang ke Tuan kalau aku nggak bisa nikahin Nona Kirana?"

Tapi bayangan wajah Pak Harsono yang pucat karena kanker,usia nya yg divonis tinggal 1 tahun, langsung muncul di kepalanya.

Arga menghela napas panjang.

"Aku harus kuat. Demi Tuan. Demi adik-adik. Demi Nona Kirana juga."

JAM 9 PAGI.

Kirana masih di dalam kamar.

Gordennya masih tertutup rapat. Lampu kamar masih mati.

Hanya suara isakan pelan yang terdengar dari balik selimut.

Akhirnya Pak Harsono yang sudah berada di kantor mendapat kabar dari Bibi Rina kalau putrinya belum juga keluar kamar.

Wajah Pak Harsono langsung memucat.

Tangannya gemetar saat mengangkat telepon.

Kemudian di segera menelfon Raka. "Raka... kamu ke kamar Kirana sekarang. Bilang 'Papa suruh dia turun. Papa khawatir."

Raka, supir sekaligus asisten pribadi Pak Harsono yang baru 2 tahun bekerja hanya bisa menelan ludah.

Dia tahu betul siapa Kirana. Ratu sekolah yang galak. Pewaris Harsono Group yang dingin.

"Aku disuruh bujuk Nona Kirana? Serius?! Aku nggak mau dicincang hidup-hidup!" batinnya berteriak.

Tapi disisi lain dia juga sangat kawatir akhirnya dia hanya bisa mengangguk patuh.

"Siap, Tuan. Saya coba sekarang." Raka segera pulang dari kantor buat melihat kondisi Kirana.

Didepan kamar Kirana

,

Raka berdiri di depan pintu kamar Kirana dengan keringat dingin membasahi keningnya.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu pelan-pelan.

"Non Kirana... ini Raka. Tuan Harsono minta Non Kirana turun untuk sarapan..."

HENING.

Tidak ada jawaban.

Raka mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.

"Non Kirana... kalau Non Kirana nggak turun, Tuan bisa pingsan khawatir..."

BRAK!

Pintu kamar terbuka dengan kasar.

Kirana berdiri di depan Raka dengan rambut berantakan, mata bengkak, dan wajah pucat.

Dia hanya pakai kaos oversize dan celana pendek. Tidak ada riasan. Tidak ada Kirana yang sempurna seperti biasanya.

"APA...!!" bentak Kirana. Suaranya serak karena menangis semalaman.

Raka mundur dua langkah. Jantungnya berdegup kencang.

"Ehh... itu... Tuan minta Non Kirana sarapan..."

Kirana menatap Raka tajam. Tatapan itu membuat Raka merasa seperti ditusuk ribuan jarum.

"BILANG SAMA PAPA... KIRANA NGGAK LAPAR! KIRANA NGGAK MAU KETEMU SIAPAPUN!"

BRAK!..

Pintu kamar ditutup lagi dengan keras.

Raka terdiam di depan pintu dengan wajah pucat.

Dia menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.

"Tuan... saya gagal, Tuan..."

 

DI RUANG KERJA PAK HARSONO.

Pak Harsono menutup telepon dengan tangan gemetar.

Dia menunduk dalam-dalam. Dadanya terasa sesak.

"Anas... aku gagal jadi ayah yang baik untuk Kirana..."gumamnya pelan.

Sementara itu, di garasi...

Arga yang mendengar teriakan Kirana dari lantai atas hanya bisa menunduk lebih dalam.

Hatinya hancur berkeping-keping.

"Nona... maafkan aku... maafkan aku karena membuat Nona menderita..."

Hujan pagi yang rintik-rintik di luar garasi seperti ikut menangisi suasana rumah besar Harsono yang dingin dan sunyi.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!