Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 2
Pukul enam pagi.
Hujan semalam menyisakan udara dingin yang masih menggantung di sekitar rumah. Cahaya matahari belum sepenuhnya terang, hanya semburat keemasan yang menyelinap masuk melalui jendela dapur.
Raden Kirana Wijaya, Rana sudah berdiri di depan kompor listrik.
teflon berukuran sedang di tangannya mengeluarkan bunyi desis halus saat telur mata sapi mulai matang. Kuningnya bulat sempurna, putihnya rapi di pinggiran- seperti biasa, seperti yang ia lakukan setiap pagi.
Tidak ada yang berubah.
Setidaknya...dari luar.
Di meja makan, sepiring tumis brokoli sudah tersaji rapi. Empat gelas susu hangat berjajar- untuk suaminya, dan kedua anak mereka.
Masayu, yang baru berusia tiga tahun, duduk di kursi makan sambil memainkan sendok kecil di tangannya. Sementara Alaric, lima tahun, sudah lebih rapi, meski sesekali menguap karena masih mengantuk.
"Bunda, hari ini aku sekolah 'kan?" tanya Alaric.
Rana menoleh, tersenyum tipis.
"Iya, sayang. Nanti di antara Mbak Sari, ya."
Anak itu mengangguk.
Suasana pagi itu... normal.
Terlalu normal.
Langkahnya kaki terdengar dari arah tangga.
Adhikara Pradipta Mahendra muncul dengan kemeja rumah berwarna gelap, rambutnya masih sedikit berantakan. Wajahnya tampak segar, seolah malam tadi tidak pernah terjadi apa-apa.
Rana hanya melirik sekilas.
Lalu kembali fokus pada piring di tangannya.
"Pagi," sapa Dipta singkat, menarik kursi.
"Pagi, ayah," sapa Alaric bersemangat.
Dipta melirik kearah istrinya, perempuan itu meletakkan telur di atas piring, lalu duduk di kursinya.
Tidak ada percakapan lebih lanjut.
Bisanya, Rana akan menanyakan jadwal suaminya hari ini.
Lalu ia akan memastikan dasi yang cocok, atau mengingatkan agenda penting.
Tapi pagi ini, Rana sama sekali acuh tak acuh
Rana hanya makan dalam diam.
Sesekali menyuapi Masayu, memastikan anak itu tidak menumpahkan susu, lalu kembali pada piringnya sendiri.
Dipta sempat melirik.
Sekali.
Dua kali.
Ada yang berbeda.
Tapi ia tidak mengatakan apa pun.
Hingga sarapan selesai.
Rana berdiri lebih dulu, mengangkat piring-piring kotor, membawanya ke dapur. Tangannya bergerak cekatan, seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala.
Sementara itu, Dipta masih duduk.
Menunggu.
Biasanya, di jam seperti ini...
Pakaian kerjanya sudah tergantung rapi di kamar. Dasi sudah dipilihkan. Sepatu sudah disiapkan.
Namun hari ini...
Tidak ada.
Ia akhirnya berdiri, berjalan menuju kamar, lalu keluar beberapa menit kemudian dengan pakaian yang ia pilih sendiri.
Tatapannya kembali jatuh pada sosok Rana di dapur.
Wanita itu membelakanginya, sibuk mencuci piring.
Seolah dunia berputar di sekitar hal-hal sederhana.
Tanpa dirinya.
Beberapa menit kemudian, suara motor metik pengasuh terdengar di luar.
"Ayah, bunda...Mas Al belangkat!" seru Alaric dari depan.
"Iya, hati-hati sayang." Ujar Dipta sembari melambaikan tangan.
Pintu depan tertutup.
Hening kembali mengisi rumah.
Dipta meraih kunci mobilnya.
Langkahnya sudah sampai teras. Namun terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal pada hatinya. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik.
Kakinya melangkah kembali masuk ke dalam rumah.
Menuju dapur. Netranya masih melihat Rana di sana. Mengelap meja makan dengan lap bersih.
Dipta mendekat tanpa suara. Hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah.
Dan tanpa peringatan, ia meraih tubuh Rana dari belakang.
Memeluknya.
Gerakan itu cukup tiba-tiba.
Membuat tangan Rana berhenti sesaat.
"Rana...," suara Dipta rendah, sedikit melembut.
"Mas minta maaf soal semalam."
Hening.
Rana tidak langsung merespons. Tubuhnya tetap diam dalam pelukan itu. Tidak menolak. Tapi juga tidak membalas.
"Kerjaan lagi banyak banget akhir-akhir ini," lanjutnya, suaranya terdengar seperti pembelaan yang sudah ia siapkan. "Pikiran lagi penuh...jadi kebawa ke rumah."
Tangan kekarnya mengerat di pinggang istri, berharap mendapatkan respon.
"Kamu ngerti, kan?" ucapnya lembut.
"Aku ngerti, Mas," Rana menjawab pelan.
Rana menghela napas, "kalau Mas capek...ya wajar."
Dipta mengangguk kecil, merasakan kelegaan pada hatinya.
Akan tetapi sebelum Rana akan berkata lagi, suara ponsel milik suaminya berdering nyaring membuat Rana mengurungkan niatnya.
"Aku berangkat dulu," ucap Dipta setelah menatap layar ponsel sebentar.
Rana mengangguk, "iya...Mas, hati-hati."
...****************...
Bersambung....