NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

***

  Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang terik menembus celah gorden blackout yang mahal, menyambar kelopak mata Mayang yang bengkak. Ia terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya—sebuah pengingat fisik yang tak terbantahkan atas apa yang terjadi semalam. Aris sudah tidak ada di sampingnya. Sisi tempat tidur pria itu sudah rapi, dingin, seolah tak pernah ada badai yang terjadi di sana beberapa jam lalu.

  Mayang mencoba bangkit, namun ia meringis saat merasakan perih yang tajam. Ia menatap tubuhnya sendiri di bawah selimut sutra; jejak-jejak kemerahan di kulitnya tampak seperti stempel kepemilikan. Di atas nakas, selain amplop cokelat kemarin, kini ada sebuah kotak beludru hitam dan secarik kertas kecil.

  "Berpakaianlah. Sopirku akan menjemputmu dalam satu jam. Tempat ini bukan lagi rumahmu. Kau punya istana baru sekarang." — Aris

  Dengan tangan bergetar, Mayang membuka kotak itu. Sebuah kalung berlian berkilau di dalamnya. Bukan rasa bahagia yang ia rasakan, melainkan rasa ngeri. Kalung itu terasa seperti borgol yang dipercantik.

  Satu jam kemudian, Mayang sudah berada di dalam sedan mewah yang membawanya ke sebuah kompleks apartemen penthouse di Jakarta Selatan. Setiap langkahnya diikuti oleh rasa canggung. Ia, yang biasanya mencuci baju di pinggir kali kampung, kini harus menginjakkan kaki di lantai marmer yang begitu mengkilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat.

  "Selamat datang, Ibu Mayang," sapa seorang wanita paruh baya berseragam rapi, Bibi Sumi.

  "Tuan Aris menugaskan saya untuk memastikan semua kebutuhan Ibu terpenuhi. Terutama... kesehatan rahim Ibu."

  Mayang tertegun. "Kesehatan rahim?"

  "Benar," Bibi Sumi tersenyum tipis, namun matanya terasa mengintimidasi. "Menu makanan Ibu sudah disusun oleh ahli gizi. Jam tidur, suplemen, dan jadwal pemeriksaan dokter spesialis fertilitas sudah diatur. Tuan Aris ingin Ibu segera mengandung."

  Mayang berjalan ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian lantai 45. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas. Mewah, namun ia tak punya kunci untuk keluar.

  Malam-malam berikutnya menjadi babak baru dalam hidup Mayang. Aris tidak membiarkannya beristirahat lama. Pria itu datang hampir setiap malam, membawa tuntutan yang sama. Bagi Aris, Mayang adalah ladang yang harus segera ditanami.

  "Kenapa kau belum juga menunjukkan tanda-tanda?" tanya Aris suatu malam, suaranya dingin saat ia duduk di tepi ranjang setelah sesi yang melelahkan. Ia menatap perut rata Mayang dengan tatapan yang menuntut.

  Mayang menarik selimut untuk menutupi dadanya, ia merasa sangat telanjang di bawah tatapan itu. "Tuan, ini baru minggu kedua..."

  Aris mencengkeram rahang Mayang, menariknya mendekat hingga napas pria itu terasa di wajahnya. "Setiap hari yang terbuang adalah kerugian bagiku, Mayang. Aku tidak membayar milyaran untuk menunggu. Aku ingin kau fokus. Jangan pikirkan apa pun selain bayi ini."

  "Saya mencoba, Tuan..." lirih Mayang. "Tapi tubuh saya... saya merasa lelah."

  "Lelah?" Aris tertawa sinis, jemarinya membelai rambut Mayang dengan kasar. "Lihat sekelilingmu. Kau punya segalanya sekarang. Adikmu sudah dipindahkan ke paviliun VIP. Ibumu di kampung sudah memegang buku tabungan yang isinya lebih besar dari gaji seluruh warga desamu digabungkan. Jangan bicara soal lelah padaku."

  Seiring berjalannya waktu, Mayang mulai terjebak dalam pola yang aneh. Di siang hari, ia mulai menikmati fasilitas yang ada. Ia mulai mencoba krim wajah seharga jutaan rupiah, mengenakan gaun yang harganya setara dengan biaya sekolahnya dulu, dan memakan hidangan yang bahkan namanya tak bisa ia ucapkan.

  Rasa sakit dan trauma malam pertama mulai memudar, digantikan oleh mati rasa yang nyaman. Ia mulai melihat cermin dan tidak lagi melihat gadis kampung yang malang. Ia melihat seorang wanita yang 'mahal'.

  Namun, setiap kali ia merasa bangga, Bibi Sumi akan datang membawakannya segelas jamu pahit atau obat hormon. "Ini untuk mempercepat ovulasi, Bu. Tuan Aris akan datang satu jam lagi. Pastikan Ibu siap."

  Mayang meneguk cairan pahit itu hingga habis, merasakan getaran di perutnya. Ia tahu, di balik kemilau berlian di lehernya, ada satu tugas yang harus ia selesaikan. Ia harus hamil, atau semua kemewahan ini akan sirna secepat ia mendapatkannya.

  "Ayo, Aris," gumam Mayang pada dirinya sendiri di depan cermin, matanya kini berkilat penuh tekad yang gelap. "Ambil apa yang kau mau, dan beri aku hidup yang tak pernah bisa diberikan oleh kemiskinan."

  ****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!