Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Bertemu Suami Untuk yang Pertama Kali.
Kamar yang hampir delapan puluh persen terbuat dari kayu pilihan dengan gaya minimalis klasik menjadi saksi tantrumnya seorang Safa. Ia berguling-guling di atas ranjang melampiaskan kekesalannya sekaligus rasa malunya.
Siapa yang menyangka lelaki yang ia omeli tadi adalah suaminya. Sungguh pertemuan dan kesan pertama yang buruk.
Pikiran Safa di penuhi dengan prasangka. Ia yang hanya ingin hidup tenang kini harus menghadapi kemungkinan jika sang suami tak menyukainya.
"Bodoh, bodoh!" rutuknya pada diri sendiri.
"Safa, Safa. Biasanya kamu ... kamu itu gak se ceroboh itu, tapi kenapa sekarang kamu justru mempermalukan dirimu sendiri. Kalau kayak gini caranya dia pasti akan membenciku," ujarnya menerka-nerka.
Safa yang kesal segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya yang terkena genangan air dengan wajah masam.
Setelah beberapa menit, ia selesai. Namun, saat hendak mengenakan handuk ia tak menemukannya.
"Yah. Aku lupa bawa anduknya. Semua gara-gara om itu," desisnya dengan kesal.
Safa kebingungan, bagaimana cara ia mengambil handuk. Dengan terpaksa ia mengintip dari balik pintu dan berteriak keras.
"Luna! Tolong ambilkan andukku, ya?" ucapnya dengan tangan terjulur keluar.
Sontak teriakan itu membuat langkah Arlan terhenti. Ia berjalan ke arah kamar mandi, ia melihat tangan Safa terjulur keluar.
Arlan celingukan mencari barang yang dimaksud. Ia mengambil dan memberikannya pada Safa. Dengan cepat Safa menyambarnya. Dengan wajah sumringah Safa keluar.
Wajah yang awalnya penuh rona bahagia seketika berubah ketakutan.
"Aaakkhhh!" pekik Safa histeris. Sontak teriakan itu membuat Arlan terkejut, refleks membekap mulut Safa.
Namun, Safa terus memberontak. Ia berbalik. Dengan sekali ayunan kakinya melayang tepat mengenai benda paling berharga milik sang suami.
Bug!
"Agggh ... Kau ... kenapa menendangku?" ucap Arlan terbata.
Kedua mata Safa melebar saat sadar siapa yang sudah ia sakiti. Ia segera berlari ke arah lemari dan memakai mukena untuk menutupi tubuhnya yang masih terbalut anduk.
Safa kembali menghampiri Arlan dengan ketakutan. Rasa trauma itu tiba-tiba muncul hingga tanpa ia sadari, naluri bertahannya muncul.
"Kau ... kenapa masuk ke sini?" ucapnya lirih.
Arlan yang masih kesakitan langsung melempar pandangan dingin menusuk. Walau hanya ditatap, hal itu mampu membuat Safa menciut.
Arlan duduk perlahan di kursi dekat ranjang meringis menahan sakit. "Ini kan kamarku, terus aku harus kemana?"
Safa tertunduk, hal yang bisaa ia lakukan saat kena marah. "Maaf. Saya tidak sengaja. Lagian Om tiba-tiba masuk."
"Hah, Om?" desis Arlan tak terima. "Sejak kapan kita bersaudara, hah? Aku suamimu, bukan om-om penjual bakso."
Safa hanya menatapnya diam. Ia sebenarnya juga bingung harus memanggilnya apa.
"Maaf, Om. Eh ... Mas," ujarnya terbata.
"Itu lebih baik dari pada om," sahut Arlan, dengan seringai tipis yang nyaris tak nampak.
Arlan memperhatikan istri barunya itu dengan lekat. Ia terpesona.
Sepasang netra keabu-abuan dengan binar cerah, pipi mulus dengan rona kemerahan yang tampak kenyal, serta bibir ranum yang penuh, benar-benar membuat Arlan tak mampu berpaling.
"Selera Kakek jeli juga walau sudah tua. Sayang, dia masih terlalu muda untukku," gumamnya lirih, nyaris berbisik.
"Maaf Mas, boleh aku salat? Ini sudah waktunya Asar," ucap Safa lirih.
"Solat lah. Lagi pula kau tidak perlu bertanya padaku soal itu," sahutnya seraya menatap sang istri.
Safa mengangguk lalu mengambil sajadah, menggelarnya tepat di samping ranjang.
Melihat sang istri tengah sembahyang, Arlan beranjak menuju kamar mandi. Dibukanya satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya.
Dibawah guyuran air, ia mulai menggosok tubuhnya. Tubuhnya yang atletis dan terawat menandakan ia suka berolahraga dan makan makanan yang bergizi.
Arlan merasa rileks setelah merasa frustasi saat mengetahui siapa yang jadi istrinya. Lantunan ayat alquran di dengarnya lirih. Suara itu merdu hingga mampu membuatnya membeku.
Perlahan pintu dibuka. Arlan menatap diam ke arah sang istri. Suara itu sekaan menyejukkan hatinya yang gundah.
"Shadaqallahul adzim." Safa mengakhiri bacaannya. Arlan yang tersentak segera berpaling dan berpura-pura mencari pakaian di lemari.
Setelah menutup Al-Qur'an, Safa menoleh ke arah sang suami. Ia menatap punggung lebar yang tengah sibuk menggeledah isi lemari itu. Ia masih tak percaya bahwa suaminya ternyata setampan itu—mirip pria-pria yang sering ia baca di Wattpad.
Melihat Arlan yang mulai mengacak-acak lemari, Safa berjalan mendekat.
"Mas, kamu cari apa?" tanya Safa tepat di belakangnya.
Arlan berbalik. Ia menunduk karena tinggi Safa memang hanya sebatas dadanya.
"Eh ... itu. Aku cari kemeja favoritku. Kenapa tidak ada, ya? Apa Bibik memindahkannya?" Arlan menggaruk tengkuknya, tampak sedikit gugup.
"Coba Mas minggir, biar aku yang carikan," pinta Safa. Arlan segera bergeser, membiarkan istrinya yang mungil itu mencari pakaiannya.
Safa mencari dengan teliti. Sesuai dengan arahan Arlan, ia menemukannya di antara tumpukan kemeja lain.
"Yang ini, kan?" Safa berbalik cepat dengan wajah antusias.
Arlan yang sedari tadi diam-diam mengamati gerak-gerik istrinya, tersentak. Ia tertangkap basah. Dengan gerakan canggung, ia segera memalingkan wajah ke arah lain agar rona merah di pipinya tidak terlihat.
"I-iya, itu," jawab Arlan pendek.
Ia menyambar kemeja itu dari tangan Safa dengan gerakan yang sangat cepat, hingga ujung jari mereka sempat bersentuhan sejenak. Arlan bagai tersengat listrik, ia langsung berbalik dan melangkah lebar menuju kamar mandi untuk berganti pakaian tanpa mengucap kata lagi.
Melihat sikap suaminya yang tiba-tiba aneh dan cuek, Safa hanya mengedikkan bahu heran. Ia tidak ambil pusing dan mulai sibuk mencari baju ganti untuk dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Arlan keluar dengan kemeja yang baru saja dicarikan Safa. Wangi sabun maskulin langsung memenuhi ruangan, membuat Safa yang sedang melipat mukena menoleh sekilas.
Arlan berdiri di depan cermin besar, kancing teratas kemejanya masih terbuka. Ia berusaha mengancingkannya, namun entah mengapa tangannya terasa kaku. Matanya melirik Safa melalui pantulan cermin. Istrinya itu kini tampak sibuk merapikan meja rias.
Safa yang memperhatikan suaminya segera mendekat. "Maaf, Mas."
Tangan Safa langsung menarik kerah Arlan pelan hingga membuatnya sedikit membungkuk. Ia meremas kain celananya, matanya tak mampu menatap gadis di depannya. Namun, saat wajah Safa semakin dekat, Arlan mematung tatapannya begitu intens. Saat ia semakin dekat lagi, tiba-tiba Safa melepas tangannya.
"Sudah, Mas," ucap Safa datar, kembali sibuk seolah tak terjadi apa pun.
Arlan tertegun di posisinya. Sebuah senyum getir terukir tipis—merasa dipermainkan sekaligus takjub.
"Apa itu tadi? Dia bisa secuek itu," cibir Arlan sambil menatap Safa.
Arlan lalu mendekati Safa, ia duduk dengan tenang seolah tak tersentuh.
"Duduklah," perintahnya.
Safa menoleh, ia lalu duduk di ujung ranjang.
"Aku ingin membahas soal, kita," ujar Arlan datar.