NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Disonansi Di Koridor Kampus

Seminggu sebelum hari H, suasana kampus makin nggak karuan. Banner "FESTIVAL HARMONI KAMPUS" warna merah menyala udah dipasang di mana-mana.

Dan nama Arlan terpampang gede banget sebagai guest star utama bareng band EDM-nya. Sementara itu, nama tim gua dan Dedik cuma nyelip di poster kecil pengumuman akademik di Aula Utama.

Gua jalan di koridor dengan perasaan was-was. Tiap kali gua lewat di depan mading, gua denger bisik-bisik anak Akuntansi.

"Itu kan Reyna? Katanya dia mau nyanyi buat riset anak Teknik ya?" "Emang dia bisa nyanyi? Bukannya dia kalau presentasi di kelas aja suaranya gemeteran kayak kena gempa bumi?"

Gua nunduk, ngeratin pegangan tas gua. Kata-kata itu kayak peluru yang nembus pertahanan gua yang emang udah tipis.

Gua emang punya trauma. Kelas 2 SMA, gua pernah lupa lirik pas lagi lomba paduan suara dan berakhir jadi bahan ketawaan satu sekolah.

Sejak itu, gua bersumpah nggak bakal nyanyi di depan siapa pun, sampai akhirnya si Dedik dateng bawa kontrak sialannya itu.

Gua nyampe di depan Lab Komputer, tapi langkah gua terhenti pas liat Arlan lagi berdiri di sana, nyender di tembok sambil mainin kunci mobilnya.

"Gimana, Rey? Udah siap mempermalukan diri sendiri di depan Rektor?" tanya Arlan sambil senyum miring.

"Lan, bisa nggak lo berhenti ganggu gua?" suara gua gemeteran.

"Gue nggak ganggu, gue cuma peduli. Sebagai sepupu, gue nggak mau liat lo dihujat satu kampus gara-gara obsesi gila Dedik."

"Riset itu cuma soal angka dan data, Rey. Lo cuma dijadiin 'alat' sama dia biar risetnya kelihatan menarik. Lo pikir dia beneran peduli sama suara lo?"

Gua diem. Kata-kata Arlan barusan pas banget ngena di bagian insecure gua.

"Dedik itu cuma mikirin algoritma, Rey," lanjut Arlan, makin deketin gua. "Begitu riset ini kelar dan dia dapet nilai A, lo bakal dibuang."

"Balik lagi jadi mahasiswa akuntansi biasa yang bahkan takut buat ngomong di depan mic. Mending lo mundur sekarang. Bilang ke Kak Tiara kalau lo sakit. Gue bakal bilang ke pihak sponsor buat nggak nuntut lo."

Gua nggak jawab. Gua langsung lari ninggalin Arlan, tapi gua nggak masuk ke Lab. Gua lari ke arah taman belakang kampus yang sepi.

Gua duduk di bawah pohon beringin, terus gua nangis sesenggukan. Gua ngerasa bego. Kenapa gua mau-mauan diseret ke dalam ambisi Dedik? Arlan bener, gua cuma alat.

Tiba-tiba, sebuah botol air mineral dingin nempel di pipi gua.

"Secara biologis, menangis itu ngabisin banyak cairan tubuh. Minum."

Gua kaget dan langsung ngapus air mata gua. Dedik berdiri di samping gua, masih dengan tampang lempengnya. Dia nggak nanya "lo kenapa?", dia cuma duduk di sebelah gua dengan jarak yang sopan.

"Gua nggak mau latihan," kata gua parau. "Gua mau mundur."

Dedik diem sebentar. Dia buka tutup botol air mineral itu, terus diletakkan di depan gua. "Karena omongan Arlan?"

"Bukan cuma Arlan! Semua orang, Ded! Mereka bener, gua nggak bisa! Gua bakal ngerusak semuanya. Lo pinter, lo bisa cari solusi lain. Pake rekaman suara dari komputer aja, lo pasti bisa bikin algoritmanya!"

Dedik natap lurus ke depan, ke arah kolam ikan yang airnya tenang. "Logikanya, Rey... kalau gua mau pake suara komputer, gua udah lakuin itu dari bulan lalu."

"Gua nggak perlu capek-capek bawa motor butut ke Desa Pinus, nggak perlu nungguin lo nangis di bawah pohon, dan gua nggak perlu ngerasain jantung gua detak nggak karuan tiap kali lo mulai narik nada pertama."

Gua nengok ke dia, mata gua masih sembab. "Maksud lo?"

"Suara komputer itu sempurna, tapi dia nggak punya 'jiwa'. Bambu kuning itu adalah organisme hidup. Dia butuh resonansi dari makhluk hidup lain buat mencapai frekuensi yang paling jujur."

"Dan frekuensi itu... cuma ada di suara lo."

Dedik nengok ke gua, kacamatanya agak turun ke hidung. "Arlan bilang gua cuma jadiin lo alat? Mungkin di awal, iya."

"Tapi sekarang, riset ini nggak ada gunanya kalau bukan lo yang nyanyi. Kalau lo mundur, gua juga bakal narik seluruh laporan gua dari Dekanat sore ini."

"Apa?! Lo gila ya?! Lo udah kerja keras buat ini!"

"Gua nggak suka ngerjain sesuatu yang nggak lengkap, Rey. Dan tanpa suara lo, riset ini nggak lengkap."

"Jadi pilihannya cuma dua, Kita maju bareng dan bikin Arlan diem, atau kita gagal bareng dan gua bakal dapet nilai E di semester ini."

"Gua nggak masalah, gua bisa ngulang tahun depan. Tapi lo... lo mau selamanya lari dari ketakutan lo?"

Gua tertegun. Dedik bener-bener nekat. Dia berani ngerasain nilai E cuma buat ngejaga prinsipnya...atau mungkin buat ngejaga gua?

"Kenapa lo percaya banget sama gua?" tanya gua pelan.

"Karena gua udah liat lo nyanyi di tengah hutan gelap tanpa senter, dan suara lo adalah satu-satunya hal yang bikin gua nggak ngerasa takut di sana," jawab Dedik lirih.

Sumpah, gua mau pingsan denger omongan dia. Ini orang belajar gombal dari mana sih? Apa ada mata kuliah "Logika Romantis" di Teknik Informatika?

Gua narik napas panjang, terus gua ambil botol air mineral itu dan gua minum sampai setengah. "Oke. Gua lanjut. Tapi lo harus janji satu hal."

"Apa?"

"Pas gua di panggung nanti, lo jangan jauh-jauh dari gua. Gua mau lo berdiri di posisi yang paling gampang gua liat."

Dedik senyum tipis, senyum yang kali ini bener-bener nyampe ke matanya. "Logikanya, pemain gitar emang harus deket sama vokalisnya, Rey. Biar temponya nggak berantakan."

***

Kita balik ke Lab 

Sore itu, latihannya beda banget. Nggak ada lagi perdebatan soal nada yang meleset. Kita bener-bener fokus buat 'ngobrol' lewat musik. Dedik metik gitarnya lebih lembut, dan gua mulai berani keluarin power suara gua.

Pas kita lagi asik latihan, tiba-tiba Kak Tiara masuk ke Lab dengan muka panik.

"Dedik! Reyna! Kalian harus liat ini!" Kak Tiara nunjukin layar HP-nya.

Itu adalah postingan di akun gosip kampus. Di sana ada foto gua pas lagi nangis di bawah pohon beringin tadi, dan caption-nya tertulis:

"Vokalis riset 'Harmoni Nada' mentalnya breakdown? Apakah Teknik Informatika bakal gagal total di festival tahun ini? Tim Arlan EDM diprediksi bakal menang mutlak!

Gua ngerasa lemes lagi, tapi kali ini tangan Dedik langsung nepuk pundak gua.

"Biarin aja," kata Dedik tenang. "Arlan lagi mainin psychological warfare. Dia mau lo drop sebelum tanding. Itu tandanya... dia sebenernya takut sama kita."

"Takut gimana?" tanya gua bingung.

"Dia tau kalau suara lo keluar secara maksimal, konser EDM-nya yang pake suara bambu tiruan itu bakal kedengeran kayak rongsokan plastik. Dia panik, Rey."

Dedik nengok ke Kak Tiara. "Kak, tolong tanyain ke panitia. Bisa nggak slot presentasi kita di Aula Utama dipasangin speaker tambahan yang ngarah ke lapangan utama tempat konser Arlan?"

Kak Tiara melongo. "Maksud lo, lo mau 'ngebajak' audio festival?"

"Bukan ngebajak. Gua cuma mau nunjukin apa itu resonansi alami yang sebenernya. Gua bakal pake pemancar frekuensi yang gua bikin."

"Begitu Reyna nyanyi, suaranya bakal masuk ke semua frekuensi radio di area kampus ini."

Gua kaget. "DED! Itu ilegal nggak?!"

"Logikanya, selama gua nggak ngerusak sinyal pemerintah, itu cuma eksperimen transmisi data akustik. Pak Dekan pasti dukung," Dedik benerin kacamatanya, matanya berkilat penuh rencana licik yang jenius.

Gua ngerasa merinding. Dedik kalau udah mode 'balas dendam' emang nggak ada obatnya. Gua yang tadinya takut, sekarang malah jadi semangat. Gua mau liat muka Arlan pas suaranya "kebalap" sama suara gua nanti.

"Ayo latihan lagi, Rey," kata Dedik. "Kali ini, kita coba bagian akhir. Gua mau lo tarik nadanya setinggi mungkin. Biar seluruh kampus tau kalau lo bukan sekadar 'alat' gua."

Gua ngangguk mantap. Gua mulai nyanyi lagi, dan kali ini, suara gua bener-bener meledak di dalem Lab itu. Dedik metik gitarnya dengan sangat cepat, ngikutin energi gua.

Di luar, matahari mulai tenggelam, nyiptain warna oranye yang cantik di jendela Lab. Gua tau, ini baru awal dari perang frekuensi yang sebenernya. Dan gua siap, selama Partner Sialan gua ada di samping gua.

***

Rencana sabotase balik dimulai! Dedik mau "ngebajak" frekuensi kampus biar suara Reyna kedengeran di mana-mana.

Apakah rencana nekat ini bakal berhasil, atau mereka malah bakal ditangkap satpam kampus sebelum presentasi dimulai?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!