NovelToon NovelToon
Tergila-gila Duda

Tergila-gila Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vlav

Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.

Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.

Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.

Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

002

“Tuti! Kau, Tuti?!”

Mary kembali mengulang ucapannya kepada pria yang dipanggilnya Tuti.

Mary tidak mungkin bisa melupakan pria dengan gigi depan maju tak gentar yang pernah menjadi teman sekelasnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Tuti yang merupakan plesetan dari kata Tooth dalam bahasa Inggris yang berarti gigi. Sehingga panggilan Tuti berasal dari ucapan Toothy yang lebih pribumi.

Pria yang dipanggil Tuti itu segera mengabaikan Mary.

“Tuti! Tuti!” Mary bersorak girang.

“Ehem, maaf, sepertinya anda salah orang,” sahut pria itu dingin.

“Astaga, aku tidak mungkin salah orang, meski sudah lebih dari dua puluh tahun, aku tidak mungkin melupakan gigimu yang fenomenal itu!” Ceplos Mary.

“Apa kau lupa, padaku? Aku Mar… Mawary! Mawary!” Kata Mary.

Pria itu lagi-lagi mengabaikan Mary.

“Berapa semuanya bang?” Tanya pria itu kepada si penjaga warung.

“Ada tambahan lagi bang?” Tanya si penjaga warung.

Mary merasa kesal karena Tuti mengabaikannya.

Otak Mary berpikir cepat, satu-satunya orang yang bisa diharapkan oleh Mary adalah pria ini. Tapi mengapa pria itu berlagak tak mengenalnya.

Apa pria itu tidak suka dipanggil Tuti? 

“Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kabar nenekmu? Kebetulan aku ingin segera pulang ke rumah orang tuaku dan aku ingin mampir menemui nenekmu,” kata Mary.

“Tidak perlu, nenekku sudah meninggal,” sahut pria itu.

Pria itu seketika menutup mulutnya, lalu beranjak pergi setelah menerima uang kembalian dari si penjaga warung.

Mary segera mengikuti pria itu memasuki mobil berkabin ganda yang dikemudikan oleh pria itu.

“Apa yang kau lakukan?” Pria itu menatap sinis ke arah Mary.

“Tuti, tolong bantu aku ya,” pinta Mary dengan penuh harap.

***

Mary benar-benar merasa lega karena krisis hidupnya telah berakhir.

Siapa yang bisa menduga bahwa Tuti akan menjadi penyelamat hidupnya.

Kebetulan pria itu juga akan kembali ke desa yang menjadi kampung halaman mereka. Mary bersyukur, ia tidak perlu repot-repot dan kesusahan lagi.

“Sungguh suatu kebetulan kita bisa bertemu lagi, Tuti! Sudah lebih dari dua puluh tahun kita tidak bertemu,” kata Mary.

Pria itu melemparkan tatapan sinis ke arah Mary sambil tetap fokus mengemudi.

“Oh ya, Tuti, ngomong-ngomong..”

“Berhenti memanggilku Tuti, atau kau turun dari mobilku sekarang juga,” ucap pria itu dengan nada mengancam.

“Haha,maaf, maaf,” Mary tertawa kikuk.

Aduh, ngomong-ngomong, siapa nama asli Tuti ya? Aku lupa, batin Mary.

“Oh, ya, ngomong-ngomong, kapan nenekmu meninggal? Maaf, aku sungguh tidak tahu karena aku tidak pernah mendengar kabar tentangmu,” kata Mary.

Pria itu tidak menjawab dan masih tetap fokus mengemudi.

“Melihatmu sekarang membuatku jadi teringat, sepertinya baru saja kau pergi dan pulang dari sekolah diantar dan dijemput nenekmu,” cerocos Mary.

“Berhenti bersikap sok akrab begitu, kita bahkan tidak pernah akrab,” potong pria itu dengan nada dingin.

Mary melemparkan tatapan sinis ke arah Tuti. Mengapa pria yang tidak good looking itu begitu angkuh?

Apa dia sungguh tidak sadar diri? Mary membatin gusar.

“Ehem, Tu- eh, bisakah kita berhenti di restoran terdekat? Aku benar-benar sangat lapar,” kata Mary.

Pria itu masih tetap diam, terfokus di belakang kemudi, mengabaikan Mary.

***

Mary mendelik gusar saat memasuki warung tenda yang berada di pinggir jalan. Warung tersebut menjual lalapan ayam dan ikan goreng.

“Hei, Tuti! Aku memintamu untuk mencari restoran terdekat, bukan warung begini,” keluh Mary.

“Ini sungguh bukan levelku!” Cibir Mary.

“Terserah kau saja, yang pasti aku tidak akan buang-buang waktu mampir-mampir lagi kecuali untuk mengisi bahan bakar,” sahut Tuti.

Astaga! Pria jelek ini, lagaknya bukan main! Batin Mary.

Mary merasa sudah lama tidak menyantap lalapan ayam goreng seperti ini. Rasanya benar-benar enak dan Mary menghabiskan dua porsi. Ralat, bukan karena enak, tapi karena Mary benar-benar sangat lapar.

Seketika Mary merasa bersalah karena sudah makan sebanyak itu. Ia jadi teringat mantan kekasihnya yang pasti akan marah dan menegurnya saat makan banyak.

“Wanita tidak boleh makan banyak, nanti kau gendut, jelek, dan jangan salahkan aku jika mulai membandingkanmu dengan wanita lain”.

Begitulah yang selalu diucapkan sang mantan yang pada akhirnya justru memutuskan hubungan mereka.

Ah, sialan! Ini bukan waktunya bernostalgia, batin Mary.

Mary mengamati pria menyebalkan yang kini sudah menyantap porsi keempat.

“Wah, pantas saja kau jadi lebih besar, makanmu saja sebanyak itu,” ceplos Mary.

Pria itu mengabaikan ceplosan Mary.

“Tuti, tambah saja lagi, jangan sungkan-sungkan ya, aku yang bayar semuanya,” ucap Mary.

Lagi-lagi Mary merasa keki karena pria itu lagi-lagi mengabaikannya.

Rasanya Mary ingin menghubungi teman-teman lamanya untuk menggunjingkan sikap menyebalkan pria yang mendapat julukan gigi maju tak gentar itu.

“Permisi, apa di sini bisa menerima pembayaran memakai kartu?” Tanya Mary kepada pemilik warung.

“Maaf Non, bisanya uang tunai,” jawab pemilik warung.

“Oh, ya ampun! Bagaimana ini, aku sungguh tidak membawa uang tunai, apa di sini ada ATM terdekat?” Tanya Mary.

Pemilik warung belum menjawab, dengan sigap Tuti langsung membayar tagihan makan mereka.

“Tuti, ayo kita cari ATM terdekat. Aku pasti akan membayar tagihan makanku,” kata Mary.

Pria itu melemparkan tatapan sinis ke arah Mary, membuat Mary terkesiap.

“Hehe, maaf, Tu- eh, maafkan aku, sejujurnya aku lupa siapa nama aslimu,” Mary terkekeh.

“Ya, kau benar. Manusia memang cenderung mengingat keburukan, itu manusiawi,” sahut pria itu dengan nada sinis.

Seketika Mary merasa jantungnya terasa nyeri bak ditikam belati dengan ucapan Tuti.

“Ehem, maaf, aku sungguh tidak bermaksud begitu, tapi sungguh, aku bukannya sengaja memanggilmu Tuti, tapi aku memang hanya mengingat nama panggilanmu saja, dan seingatku semua orang memanggilmu begitu,” cerocos Mary.

“Roseo”.

Mary tertegun mendengar ucapan pria itu.

“Itu namaku”.

“Oh, Roseo, haha,” Mary tertawa lagi. “Akan kuingat baik-baik bahwa namamu adalah Roseo. Padahal Tuti lebih melekat dalam ingatan”.

Mary segera menutup mulutnya melihat Roseo yang lagi-lagi melemparkan tatapan sinis.

***

Setelah menempuh perjalanan sekitar delapan jam, akhirnya Mary tiba di kampung halamannya.

Sesuai kesepakatan, harusnya Mary turun di kota Soro, namun siapa yang menduga bahwa Roseo mengantar Mary sampai di depan rumah orang tua Mary.

Hal itu tentu saja menimbulkan kehebohan bagi keluarga besar orang tua Mary, terlebih mereka tiba ketika pagi hari.

“Lho, Mawary, kok bisa bareng Ros?” Tanya Pak Sumarto, ayah Mary.

“Ceritanya panjang sekali, ayah,” jawab Mary.

“Mawary, kamu susah sekali dihubungi,” keluh Marni, Ibu Mary.

“Maaf Bu, ponselku kehabisan daya,” sahut Mary.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Sumarto, Bu Marni,” pamit Roseo.

“Kok buru-buru Ros! Mampir dulu, sudah sarapan belum? Kalau belum, ayo sarapan bersama,” ajak Pak Sumarto.

“Terima kasih Pak, lain kali saja, saya masih harus antar barang-barang itu ke pemiliknya,” Roseo menunjuk tumpukan barang-barang di mobilnya.

“Oh, ya sudah, kalau begitu, terima kasih sudah mengantar Mawary pulang, padahal rencananya saya yang mau jemput,” kata Pak Sumarto.

Roseo hanya mengangguk lalu bergegas pergi. Para tetangga yang melihat penampilan Mary yang terlampau modern langsung berkasak-kusuk heboh.

“Mawary, bajumu kok begitu?” Keluh Bu Marni.

“Tidak apa-apa Bu, yang penting Mary masih pakai baju,” celetuk Jijah, sepupu Mary.

Mary langsung mengacungkan jempolnya pada Jijah, sepupu yang selalu mendukung Mary.

“Mary, kau kok bisa pulang bareng Ros? Jangan-jangan dia mengincarmu jadi istri keempat ya?” Ledek Jijah.

“Hah?! Apa?! Istri keempat?!” Mary terperangah.

***

Bonus Visual

Jijah

1
Lucynta Guo
tak ada bujang, duda di sayang 🤣
SanKy
Beneran ga niat jastip ini
Mely L
jono asal klaim aja
VLav: namanya juga jono ka 😄
total 1 replies
La La
babi 🤣 haram
Milan Oh
tinggalin jejak 👍
oppa super
ciee dijemput
Syahdar Gazali
awalnya menarik 👍
Syahrin Arizki
ditolongin itu ya ucapkan terima kasih, kok malah shamming
Nancy Avika
estetika keindahan 👍
Lucynta Guo
plis yg paling butuh validasi minggir
Nancy Avika
kapoo poll 🤣
nay
wahh jadi ibu dewan ya
Sha Sha
kucing lapar🤭
Sha Sha
Jono, tunggu janda yaa
Lavia
hihh jono
Nancy Avika
hayoloohh gentong air kumuh
Dedew
Minta tolong kek ngajak gelut
Tinsley Carmichael
Lanjut thor
Tinsley Carmichael
Mmpz
Tinsley Carmichael
Salah bgt km gendis strateginya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!