Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandi Darah dan Esensi Teratai
Episode 9
Uap panas membumbung tinggi dari sebuah bak mandi raksasa yang terbuat dari kayu gaharu hitam di sudut ruangan pribadi Su Mei. Air di dalamnya tidak berwarna bening, melainkan merah pekat seperti darah, bergejolak pelan karena panas yang dihasilkan oleh puluhan jenis tanaman obat langka yang direbus di dalamnya. Bau menyengat dari Akar Naga Bumi, Bunga Matahari Darah, dan Kristal Es Seribu Tahun memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang berat dan lembap.
Gu Sheng menenggelamkan tubuhnya hingga ke leher ke dalam air obat tersebut. Begitu kulitnya bersentuhan dengan cairan merah itu, ia merasakan sensasi ribuan jarum panas yang menusuk setiap pori-porinya. Otot-ototnya yang baru saja hancur dan ditempa ulang di ruang gravitasi seolah-olah sedang "meminum" sari pati obat tersebut dengan rakus.
"Argh..." Gu Sheng mengerang rendah. Tangannya mencengkeram pinggiran bak mandi hingga kayu gaharu yang keras itu retak di bawah tekanan jemarinya.
"Tahan, Tuan Muda Gu," suara Su Mei terdengar lembut dari balik tirai sutra yang memisahkan area mandi dengan ruang santai. "Air itu mengandung esensi dari sepuluh binatang buas tingkat empat. Jika kau tidak bisa menahan rasa sakitnya, obat itu justru akan merusak fondasi tubuhmu yang baru saja terbentuk."
Su Mei melangkah masuk ke area mandi. Ia hanya mengenakan sehelai jubah mandi sutra tipis yang longgar, membiarkan uap panas membasahi kulitnya hingga tampak berkilau. Di tangannya, ia membawa sebuah botol porselen kecil berisi minyak esensial yang sangat langka.
Ia berjalan ke belakang Gu Sheng, berdiri di tepi bak mandi, dan mulai menuangkan minyak tersebut ke pundak Gu Sheng yang dipenuhi bekas luka pertempuran dan latihan. Jari-jarinya yang lembut mulai memijat otot leher Gu Sheng yang kaku seperti baja.
"Tubuhmu... ini bukan lagi tubuh seorang pemuda berusia tujuh belas tahun," bisik Su Mei, suaranya sedikit gemetar saat merasakan kepadatan otot Gu Sheng. "Aku telah melihat banyak praktisi fisik di Benua Tengah, tapi tidak ada yang memiliki kepadatan sel sedahsyat ini di tingkat Qi Refinement. Apa yang kau lakukan di dasar jurang itu, Gu Sheng?"
Gu Sheng memejamkan matanya, mengabaikan sentuhan menggoda dari tangan Su Mei. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada aliran energi di dalam tubuhnya.
“Bocah, jangan biarkan wanita ini mengalihkan perhatianmu,” suara Kaisar Iblis bergema di dalam batinnya, lebih tajam dari biasanya. “Gunakan kesempatan ini untuk melakukan 'Pembersihan Sumsum'. Cairan obat ini sangat kuat. Jika kau bisa menyerap setidaknya tujuh puluh persen esensinya, tulangmu tidak akan hanya sekeras besi, tapi akan mulai memiliki sifat 'Keabadian Iblis'.”
Gu Sheng menarik napas panjang, mengaktifkan Dantian Penelan Langit-nya.
Wush!
Seketika, air merah di dalam bak mandi mulai berputar membentuk pusaran kecil dengan Gu Sheng sebagai pusatnya. Cairan obat itu tersedot masuk ke dalam pori-porinya dengan kecepatan yang tidak wajar. Su Mei yang sedang memijat pundaknya tersentak kaget saat merasakan daya hisap yang kuat dari tubuh Gu Sheng, seolah-olah ia sedang menyentuh sebuah lubang hitam yang tak berdasar.
"Kau... kau bahkan menelan esensi obat ini secara paksa?" Su Mei menarik tangannya mundur, matanya membelalak kagum sekaligus takut. Biasanya, seorang praktisi butuh waktu semalam suntuk untuk menyerap air obat ini melalui meditasi pasif. Namun Gu Sheng melakukannya seperti predator yang sedang melahap mangsanya.
Gu Sheng tidak menjawab. Di dalam batinnya, ia sedang bertarung dengan rasa sakit yang luar biasa.
Di dalam pembuluh darahnya, energi obat yang panas bertabrakan dengan energi Qi hitam yang dingin. Benturan dua energi ini terjadi di setiap inci jalur meridiannya. Gu Sheng bisa merasakan sumsum tulangnya berdenyut hebat, seolah-olah ada seseorang yang sedang memukulinya dengan palu raksasa dari dalam.
Setiap kali rasa sakit itu memuncak, ia membayangkan wajah Mu Ruoxue. Ia membayangkan bagaimana wanita itu menatapnya dengan jijik saat Tulang Dewanya dicuri. Kebencian itu bertindak sebagai penstabil emosinya, mengubah rasa sakit fisik menjadi tekad yang membaja.
Setelah satu jam berlalu, air di dalam bak mandi yang tadinya merah pekat berubah menjadi bening seperti air biasa. Seluruh esensi obat telah berpindah ke dalam tubuh Gu Sheng.
Gu Sheng berdiri dari bak mandi. Air menetes dari tubuhnya yang kini tampak lebih ramping namun sangat padat dan proporsional. Tidak ada lagi lemak di tubuhnya, yang tersisa hanyalah serat otot yang dikepang oleh energi kegelapan.
Su Mei segera mengambilkan jubah sutra hitam baru dan menyampirkannya ke bahu Gu Sheng. Saat tangan mereka bersentuhan, Su Mei merasakan sengatan energi yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Terima kasih atas obatnya, Su Mei," ucap Gu Sheng dengan suara yang lebih dalam dan bertenaga. "Berapa utangku padamu untuk semua ini?"
Su Mei tersenyum penuh arti, ia merapikan kerah jubah Gu Sheng dengan gerakan yang sangat dekat. "Anggap saja ini sebagai investasi awal, Tuan Muda Gu. Harga obat-obatan ini setara dengan pendapatan Paviliun selama satu bulan. Tapi jika kau berhasil menghancurkan Keluarga Mu di turnamen nanti, pasar perdagangan di Kota Azure akan kosong. Aku ingin Paviliun Seribu Harta yang mengisi kekosongan itu."
Su Mei menatap mata merah Gu Sheng, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. "Dan ingat janjiku... jika kau menang, aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang berdiri di sampingmu saat kau mengelola harta mereka."
Gu Sheng menatap wanita licik namun cantik itu. Ia tahu Su Mei sedang mencoba mengikatnya dengan hutang budi dan godaan fisik. "Aku tidak menjanjikan apa pun, Su Mei. Tapi aku bukan orang yang suka berhutang."
Gu Sheng berjalan keluar dari ruang mandi menuju kamar di mana Qing Er dirawat. Langkah kakinya kini tidak lagi menghasilkan suara, tanda bahwa ia telah memiliki kontrol penuh atas berat tubuhnya sendiri setelah latihan gravitasi.
Di dalam kamar, Qing Er sedang duduk bersandar di bantal. Ia sedang menyuap bubur herbal yang diberikan pelayan tadi. Saat melihat Gu Sheng masuk dengan jubah hitam dan aura yang jauh lebih menekan, matanya berbinar dengan rasa haru.
"Tuan Muda... Anda terlihat berbeda," bisik Qing Er, ia meletakkan mangkuk buburnya. "Aura Anda... terasa seperti gunung yang sunyi namun mematikan."
Gu Sheng duduk di kursi samping ranjang. Ia meraih tangan Qing Er dan memeriksa denyut nadinya. Berkat pil tingkat lima dan perawatan Paviliun, kondisi Qing Er sudah stabil sepenuhnya. Bahkan, Gu Sheng menyadari sesuatu yang aneh.
"Qing Er, apakah kau merasa ada energi yang mengalir di perutmu?" tanya Gu Sheng.
Qing Er mengangguk pelan, wajahnya sedikit memerah. "Iya, Tuan Muda. Sejak saya meminum pil itu, ada rasa hangat yang tidak hilang di Dantian saya. Rasanya... seperti ada seekor burung kecil yang sedang mencoba terbang di dalam sana."
Gu Sheng tertegun. “Burung kecil? Jangan-jangan...”
“Bocah, periksa jalur nadinya lebih dalam!” suara Kaisar Iblis terdengar sangat antusias. “Pil tingkat lima itu mungkin telah memicu kebangkitan garis keturunan yang tersembunyi di dalam tubuhnya. Pelayan kecilmu ini... dia bukan manusia biasa.”
Gu Sheng memejamkan mata dan mengalirkan sedikit Qi hitamnya ke dalam tubuh Qing Er dengan sangat hati-hati. Begitu energi hitamnya masuk, ia disambut oleh perlawanan dari energi emas kemerahan yang sangat murni dan panas.
“Garis Keturunan Phoenix Purba!” Kaisar Iblis berteriak di dalam batin Gu Sheng. “Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Bagaimana mungkin seorang pelayan di kota kecil ini memiliki darah Phoenix yang paling murni? Bocah, kau benar-benar mendapatkan harta karun yang tidak ternilai!”
Gu Sheng menarik tangannya kembali, wajahnya tampak serius. Jika berita tentang garis keturunan Qing Er tersebar, maka seluruh sekte besar di Benua Tengah akan datang untuk menculiknya dan menjadikannya alat pembiakan atau budak kultivasi tingkat tinggi.
"Qing Er, mulai hari ini, jangan pernah beritahu siapa pun tentang rasa hangat di perutmu itu," ucap Gu Sheng dengan nada yang sangat tegas. "Bahkan kepada Su Mei sekalipun."
Qing Er terkejut melihat keseriusan tuannya, namun ia segera mengangguk patuh. "Baik, Tuan Muda. Qing Er akan menjaga rahasia ini sampai mati."
Gu Sheng mengusap kepala Qing Er dengan lembut. "Kau tidak akan mati. Aku akan mengajarimu cara mengendalikan energi itu secara diam-diam. Di masa depan, kau tidak akan lagi menjadi pelayan yang dilindungi, tapi kau akan menjadi orang yang berdiri di sisiku untuk membantai musuh."
Qing Er tersenyum bahagia. Baginya, bisa membantu Gu Sheng adalah impian terbesarnya.
Di luar ruangan, Su Mei berdiri di balik pintu yang tertutup, mencoba menguping pembicaraan mereka. Namun, ia menyadari bahwa ruangan itu telah diselimuti oleh aura kegelapan milik Gu Sheng yang menghalangi semua pendengaran batin.
"Pria yang penuh rahasia," gumam Su Mei sambil tersenyum licik. "Semakin banyak rahasiamu, semakin besar keinginanku untuk memilikimu, Gu Sheng."
Malam semakin larut di Kota Azure. Di sudut lain kota, di kediaman Keluarga Mu, Lin Tian sedang bermeditasi di bawah guyuran air terjun es buatan. Matanya terbuka, memancarkan kebencian yang mendalam. Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian ungu mewah Mu Chen, kepala Keluarga Mu sekaligus ayah dari Mu Ruoxue.
"Lin Tian, bagaimana kondisimu?" tanya Mu Chen dengan suara berat.
"Luka dalamku sudah sembuh, Paman Mu," jawab Lin Tian dingin. "Tapi penghinaan itu belum. Gu Sheng... aku tidak tahu bagaimana dia bisa selamat, tapi di panggung turnamen nanti, aku akan menunjukkan padanya bahwa keberuntungan tidak akan menyelamatkannya dua kali. Aku telah memohon kepada kakak seperguruanku dari Sekte Pedang Langit, Senior Zhao, untuk membawa Pil Pemecah Jiwa. Kali ini, aku tidak akan hanya menghancurkan Dantian-nya, aku akan menghapus keberadaannya dari dunia ini."
Mu Chen mengangguk puas. "Bagus. Ruoxue juga telah berhasil mengintegrasikan Tulang Dewa itu hingga delapan puluh persen. Dia akan mencapai tingkat Spirit Sea tepat saat turnamen dimulai. Gu Sheng hanyalah kerikil kecil di jalan menuju kejayaan kita. Pastikan kau menggilasnya hingga hancur."
Angin malam berhembus kencang, membawa aroma perang yang akan segera meletus. Kota Azure seolah-olah sedang menahan napas, menunggu hari di mana sang Iblis akan datang untuk menuntut balas dendamnya.
Dan Gu Sheng, di dalam kamar Paviliun Seribu Harta, menatap pedang Penebas Dosa yang bersandar di dinding. Ia bisa merasakan pedang itu bergetar, seolah-olah ia juga merasakan haus darah yang sama dengan pemiliknya.
"Satu minggu lagi..." bisik Gu Sheng. "Satu minggu lagi, dan Kota Azure akan tenggelam dalam lautan darah."