Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Divisi Kasus Dingin
"Maksud pak Bima ... Nonik?" tanya AKP Dean Thomas.
"Siapa lagi! Ampun deh! Cantik, lucu tapi ... Horor! Bisa-bisanya L dan Nyes santai saja sih sama Nonik?" omel Bima.
Hoshi tersenyum smirk. "Biar nanti aku temui Kapolda dan Kapolri. Mereka punya hutang banyak padaku."
"Hutang apa pak Quinn?" tanya AKP Dean Thomas.
"Ada deh!"
***
Seminggu kemudian Hoshi dengan didampingi Valentino Reeves, Septian, Aizen Akihiro dan Sagara Hadiyanto, menemui Kapolda dan Kapolri beserta jajarannya. Baru-baru ini Hoshi mengancam dua pejabat itu karena sebagai pelindung pembalak liar di hutan milik keluarga Léopold. Sean sudah ngamuk, begitu juga dengan Arsyanendra karena ada yang mengambil kayu-kayu disana.
Setelah ditelusuri, Hoshi tahu pejabat lokal termasuk gubernur, mendapatkan beking dari Kapolda setempat dengan Kapolri dan Kapolda Metro Jaya terlibat. Hoshi menawarkan, blow up semua dan biarkan hukum rimba berjalan atau hukum rimba ala Hoshi di hutan milik keluarga Léopold.
Hoshi bisa menebak mereka tidak mau turun dari posisi uenak jadi mereka memiliki jabatan. Hoshi semakin umpak-umpakan dengan membeli tanah-tanah yang tadinya untuk sawit. Dia ubah semuanya menjadi hutan kembali dengan hukum rimba ala dirinya berlaku. Tembak ditempat tanpa perduli beking siapa!
Dan sekarang, Hoshi bersama Valentino memiliki banyak kartu as lagi keterlibatan mereka di kasus lainnya. Kesannya mereka pemeras tapi bagi Hoshi, pemerasan yang tidak dzolim ... dimaafkan.
"Jadi pak Quinn meminta divisi kasus dingin? Di Polda?" tanya Kapolda.
"Iya. Kalian punya kasus dingin banyak! Mana ada yang mau ngurus kan? Bagi kalian, nggak terpecahkan ya sudah! Benar? Tidak perduli bagaimana kondisi keluarga yang ditinggalkan." Hoshi bersedekap dengah gaya khasnya.
"Pak Quinn, apakah termasuk korban politik?" Kapolri menatap tajam.
"Apakah kamu takut akan ketahuan? Jika kamu tidak terlibat, ngapain takut? Orang takut itu karena merasa bersalah, bisa kebongkar kejahatannya atau memang terlibat luar dalam!" senyum Hoshi. "Kamu yang mana?"
Semua orang di jajaran kepolisian terdiam. Setelah kemarin mereka dikuliti habis-habisan oleh Hoshi dan tidak bisa berbuat apapun karena dilindungi FBI dan tiga negara Eropa serta lima negara Timur Tengah yang bisa merembet kemana-mana termasuk stabilitas politik dan ekonomi negara, kali ini mereka tidak bisa berbuat apapun.
Hoshi dibungkam? Dikriminalisasi? Pembalasannya bisa jauh lebih kejam! Apalagi dia memiliki ipar Yakuza, Mafioso dan sahabat Triad.
"Anda sudah mendapatkan siapa yang mau urus kasus yang sudah lama itu?" tanya Kapolda sinis dan skeptis.
"Sudah! Oh, lantai mana di gedung Polda yang paling seram dan orang tidak betah disana lama-lama?" tanya Hoshi cuek.
"Lantai empat," jawab Sekertaris Kapolri.
"Kenapa?" tanya Valentino.
"Setiap ada yang kerja disana, merasa tidak nyaman dan lampu tidak mau nyala kalau sudah mau Maghrib," jawab pria itu. "Jadi lantai empat kosong."
"Wajar lah. Dalam bahasa Mandarin, angka 4 diucapkan sebagai "sì", yang bunyinya sangat mirip dengan kata kematian, yaitu "sǐ" (死). Kemiripan pengucapan ini, terutama dalam dialek Kanton, sering disebut sebagai homofon, di mana kata yang berbeda makna memiliki bunyi yang hampir sama. Jadi kalau disana banyak arwah penasaran ... Ya nggak heran. Tahu lah dosa polisi dari jaman dahulu kala! Hanya Pak Hoegeng dan polisi tidur saja yang jujur!" ucap Hoshi sinis.
Semua anggota polisi yang berada disana langsung merah padam mendengar ucapan Hoshi. Siapapun tahu pengusaha yang memiliki wajah cantik hingga di usia kepala tujuh itu, punya mulut yang pedas. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena PRC Group milik negara Belanda. Jika terjadi sesuatu, bisa-bisa Raja Belanda, Roland van Bummel, ngamuk.
"Oke. Lantai empat kita ambil! Lantai empat adalah milik Divisi Kasus Dingin dan tetap milik divisi kasus dingin sampai kiamat! Jadi tidak ada batasan lantai empat untuk divisi baru ini. Soal renovasi, kalian tidak usah khawatir. Bukan kalian yang keluar duit juga! Tahu lah bisnis sama polisi itu gimana? Hanya orang-orang yang punya mental kuat, uang kuat dan beking tidak main-main yang bisa menekan kalian? Benar begitu?" senyum sinis Hoshi. "Oh, jangan coba-coba membunuh aku! Kalian akan tahu akibatnya!"
Valentino, Aizen dan Sagara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Hoshi yang tidak ada takut-takutnya. Bagi Hoshi, selama dia benar, lainnya bodo amat!
"Tian, urus surat perjanjian sampai kiamat lantai empat gedung Polda Metro Jaya untuk divisi kasus dingin. Tidak ada seorang pun berhak mengambil lantai empat itu! Kecuali bencana alam! Karena itu Big Boss yang minta!" Hoshi menoleh ke pengacara Blair and Blair Advocate yang sudah tersenyum simpul mendengar ucapan tetua klan Pratomo Jakarta itu.
"Sampun Pak Quinn. Tinggal revisi yang seumur hidup diganti sampai kiamat," jawab Septian cuek.
***
Divisi Major Crimes Beberapa Hari Kemudian
"Buat nama-nama yang aku panggil, segera ke lantai empat! AKP Dean Thomas, Kompol Jarot, Iptu Nana Nivetha, Iptu Atikah Shadira, Aiptu Muhammad Rayyan. Ke lantai empat. Sekarang!" ucap sekertaris Kapolda ke keempat orang yang ada disana.
Keempatnya pun bersiap ke lantai empat hingga sekretaris Kapolda itu bingung kurang satu.
"Aiptu Rayyan pendidikan perwira di Lembang. Baru kembali setahun lagi!" jawab Iptu Nana judes. "Makanya jangan cuma mikir cewek aja lu!"
Sekretaris Kapolda itu tergagap karena sempat dipergoki Iptu Nana yang sedang mengintai pelaku pelecehan di sebuah hotel, sedang bersama LC.
"Sudah ... Ayo ke lantai empat," ajak Iptu Atikah sambil mendorong sahabatnya.
"LC mana lagi sekarang?" goda Kompol Jarot.
AKP Dean Thomas hanya menggeleng gemas dengan ketiga rekannya.
Sekretaris Kapolda itu hanya mengeraskan rahangnya. Tidak menduga akan diejek seperti itu.
Keempatnya pun masuk lift dan turun dari lantai lima ke lantai empat. Begitu keluar dari lift, mereka terkejut melihat Hoshi bersama Valentino dan Aizen, sedang sibuk mengukur lantai empat itu. Ada beberapa orang lagi yang sudah pasti dari PRC Group juga sedang mendata semuanya.
"Pak Quinn?" AKP Dean Thomas menghampiri pria itu. "Pak Valentino, Mas Aizen."
"Ini ada apa ya pak?" tanya Iptu Nana.
"Ini akan menjadi markas kalian!" jawab Hoshi. "Divisi kasus dingin."
Keempat polisi itu melongo. "Serius?"
"Yup. Aku berhasil membuat surat perjanjian bahwa lantai ini hanya khusus divisi kasus dingin dan tidak boleh diambil sampai kiamat!" jawab Hoshi dengan gaya jumawa.
"Terus disini ... Ada apa saja pak?" tanya Kompol Jarot.
"Sebelah sini, ruang kerja Ding Dong nanti bersama Rayyan. Di sini adalah ruang kerja kalian. Nanti kalian akan mendapatkan ruang meeting, ruang kerja lengkap dengan lemari makanan dan semua perlengkapan, lalu di sebelah kiri, adalah ruang monitor IT untuk mengawasi lantai empat dan ruang interogasi. Ruang interogasi sebelah sana, dan ada dua. Kamar mandi ada di dalam ruang kerja kalian yang memang dibuat luas. Plus loker yang akan menyimpan perlengkapan anda. Bagaimana?" tanya Hoshi.
"Wow ...."
"Nanti biar L dan Nyes datang kemari karena aku yakin disini penghuninya banyak sekali!"
Ketiga orang itu terkejut. "Kita bekerja sama dengan arwah?" serunya.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....