Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Dendam di Balik Pagar Besi
Udara di ruang tunggu kantor polisi terasa begitu pengap dan menyesakkan dada, sejalan dengan gejolak emosi yang meledak-ledak di dalam diri Tamara. Matanya yang sembab namun memancarkan api kemarahan menatap tajam petugas yang berdiri di hadapannya. Tangannya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena kekecewaan yang mendalam.
Tahanan kota? Hanya itu hukuman bagi Giyandra?
Keputusan itu adalah sebuah penghinaan terhadap keadilan. Giyandra, wanita yang selama ini hidup bergelimang harta dan kemewahan dari hasil merampas semua milik keluarga Wiratama, seolah-olah hanya dikenai sanksi ringan layaknya anak kecil yang baru saja memecahkan gelas. Padahal, keluarga Wiratama telah hancur, dan nyawa melayang sia-sia.
"Pak, bagaimana bisa?!" seru Tamara, suaranya meninggi namun terdengar parau. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada, memohon sekaligus menuntut penjelasan.
"Giyandra tahu segalanya! Dia ada di sana saat orang tuanya melakukan kejahatan itu! Dia bahkan membantu menutupinya! Itu bukan sekadar ketidaktahuan, itu adalah kejahatan juga!" lanjut Tamara.
Petugas polisi itu menghela napas panjang, wajahnya terlihat datar dan penuh kelembaman birokrasi. Ia menatap Tamara dengan pandangan yang seolah berkata, sudahlah, ini sudah keputusan akhir.
"Nona Giyandra tidak terlibat langsung dalam pembunuhan Tuan dan Nyonya Wiratama," ucap petugas itu dengan nada datar, membacakan fakta yang seolah sudah tertulis mati.
"Beliau hanya mengetahui kejahatan orang tuanya dan memilih untuk menutupinya saja. Hukuman untuk itu tidak setara dengan pelaku utama. Orang tua Nona Giyandra lah yang bersalah dan kini sudah dipenjara. Jadi, nona Giyandra sudah mendapatkan hukum yang setimpal dengan status tahanan kota ini."
Jawaban petugas polisi tidak membuat Tamara puas.
"Hukum yang setimpal?" Tamara tertawa sinis, tawanya yang terdengar getir memecah keheningan ruangan. Air mata akhirnya tumpah, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata amarah yang tak tertahan.
"Andai kalian tahu, betapa kejamnya wanita itu sejak dulu! Bagaimana mungkin dia tidak bersalah?!" gumam Tamara pelan, namun penuh penekanan. Giginya bergemeretak hebat, rahangnya mengeras sekuat batu karang.
Seketika, dunia di sekelilingnya memudar. Ingatannya melesat cepat kembali ke masa lalu, ke masa di mana ia masih kecil, hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Ia teringat jelas saat Giyandra baru saja datang ke rumah keluarga Wiratama dengan wajah manis namun hati yang sekeras batu.
Giyandra merebut kamarnya. Kamar yang luas, nyaman, dan penuh mainan itu direnggut paksa. Giyandra tidak hanya mengambil tempat tidur, tapi juga semua benda kesayangan Tamara, merusaknya atau menyimpannya jauh dari jangkauan.
"Mulai sekarang, ini kamarku. Kamu tidak pantas tidur di sini," ucap Giyandra kecil dengan senyum menyeringai.
Dan di mana Tamara tidur? Di gudang. Gudang yang sempit, pengap, berdebu, dan bau apek.
Namun kejahatan Giyandra tidak berhenti di situ. Wanita itu seakan benar-benar menikmati setiap tetes air mata dan rasa takut yang Tamara rasakan. Tamara masih ingat betul, bagaimana Giyandra memerintahkan pelayan untuk memasukkan tikus-tikus liar ke dalam gudang itu di tengah malam.
"Aku mengirim teman untukmu agar kamu tidak ketakutan lagi, Tamara." bisik Giyandra saat itu, di balik pintu kayu yang tebal.
Teriakan histeris Tamara memecah malam, memohon agar pintu dibuka, memohon agar dikeluarkan dari neraka kecil itu. Dan Giyandra? Ia hanya tertawa. Tawa yang terdengar begitu jahat dan puas.
"Dia menikmatinya..." bisik Tamara, kembali ke masa kini. Dadanya sesak, seolah udara di ruang polisi itu kini berubah menjadi racun. "Dia menikmati penderitaanku sejak dulu. Dan sekarang, hukum membiarkannya bebas hanya karena dia 'tidak bersalah secara langsung'?"
Tamara mengangkat wajahnya, tatapannya kini berubah dingin, tajam, dan penuh tekad membara. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Baiklah, Giyandra..." ucapnya dalam hati, sebuah janji yang terukir dengan darah dan air mata. "Jika hukum di dunia ini tidak sanggup menghukummu, jika keadilan hanya sebatas kata di atas kertas... maka biar aku saja yang menjadi hukum bagimu."
***
Tamara tidak lagi peduli pada bahaya, tidak peduli pada risiko. Tamara mulai menyusun rencana demi rencana. Ia mencoba membongkar rahasia lain, mencari celah keuangan, hingga mencoba mengungkap skandal masa lalu yang bisa menjatuhkan nama baik Giyandra.
Namun, anehnya... setiap usaha Tamara selalu berakhir sia-sia.
Setiap kali ia merasa sudah memegang bukti kuat, entah bagaimana dokumen itu hilang atau terbakar. Setiap kali ia hampir berhasil menjebak Giyandra dalam kesalahan, situasi justru berbalik dan membuat Tamara yang terlihat bodoh. Giyandra seolah-olah memiliki mata seribu, atau memiliki kekuatan gaib yang melindunginya dari segala serangan.
Wanita itu tetap berjalan anggun, hidup mewah, dan tersenyum manis di depan publik. Seolah-olah Tamara hanyalah semut kecil yang mencoba mengguncang gunung.
"Kau pikir kau sudah menang? Kau salah, Giyandra. Aku tidak akan berhenti sampai aku melihatmu jatuh, sama menyedihkannya seperti kau membuatku jatuh dulu." gumam Tamara.
Api dendam di dadanya semakin membara, menyulut tekad yang tak akan padam sebelum balasan setimpal diterima oleh Giyandra.
Bersambung...