NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

KONTRAK

Aeryn tidak langsung menuju panggung. Ia membiarkan Kaelan berdiri di sana selama beberapa menit ekstra—biarkan pria itu menikmati sisa-sisa oksigen sebagai "pangeran" sebelum Aeryn menarik seluruh udara dari paru-parunya. Ia kembali ke sudut bar yang remang, tempat Xavier Arkananta masih duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Xavier menyesap sisa whiskey-nya, matanya tidak lepas dari sosok Aeryn yang kembali mendekat. "Kau punya waktu sepuluh menit sebelum pembawa acara memanggil namamu, Nona Valerine. Gunakan dengan bijak."

Aeryn menarik kursi, duduk dengan punggung tegak yang kaku. "Aku tidak butuh sepuluh menit untuk menghancurkan hidup seseorang, Xavier. Aku hanya butuh persetujuanmu."

Xavier meletakkan gelasnya. Bunyi benturan kaca dengan meja kayu oak itu terdengar seperti vonis mati di telinga Aeryn. "Menikahimu bukan sekadar menandatangani dokumen di atas materai. Kau tahu siapa aku. Namaku bukan hanya simbol kekayaan, tapi target bagi banyak orang."

"Dan namaku adalah kunci untuk menghancurkan musuh terbesarmu," potong Aeryn cepat. Suaranya rendah, nyaris berbisik di tengah dentum musik jazz yang mulai beralih ke tempo lebih cepat. "Kaelan bukan hanya berselingkuh. Dia mencuri sketsa The Phoenix Collection. Dia berencana melakukan hostile takeover terhadap Valerine Jewels setelah kami menikah. Jika kau membantuku malam ini, kau tidak hanya mendapatkan istri, kau mendapatkan kendali atas jalur distribusi perhiasan terbesar di Asia Tenggara."

Xavier menyipitkan mata. Ia mempelajari wajah Aeryn—mencari tanda-tanda kerapuhan atau keputusasaan. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang sedingin es di kutub.

"Kenapa aku harus percaya kau tidak akan mengkhianatiku juga?" tanya Xavier datar.

"Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dipercaya," jawab Aeryn jujur. "Dan karena aku tahu, kau adalah satu-satunya pria yang cukup kejam untuk tidak membiarkan pengkhianatan terjadi di bawah pengawasanmu."

Xavier terdiam sejenak. Ia memberi isyarat pada bartender untuk menuangkan segelas lagi. "Baik. Aku setuju."

Aeryn mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Namun, Xavier belum selesai.

"Tapi ada syaratnya," lanjut Xavier. Suaranya kini lebih tajam, lebih menuntut. "Pernikahan ini harus terlihat nyata. Aku tidak suka spekulasi media yang mengganggu harga saham Arkananta Group. Kau akan tinggal di mansionku. Mulai malam ini."

Aeryn mengerutkan kening. "Malam ini? Aku punya barang-barang di rumah ayahku."

"Barang-barang bisa dibeli, Nona Valerine. Keamanan dan citra tidak bisa," Xavier mencondongkan tubuh, aroma tembakau dan kayu cendana dari tubuhnya mengunci ruang gerak Aeryn. "Kau keluar dari pesta ini sebagai tunangan pria itu, tapi kau akan pulang bersamaku sebagai Nyonya Arkananta. Jika kau ingin aku menjadi perisaimu, kau harus berada di balik bentengku. Tidak ada negosiasi untuk hal ini."

Aeryn menelan ludah. Tinggal di bawah atap yang sama dengan pria yang dijuluki "Ice King" ini bukanlah bagian dari rencana awalnya. Namun, melihat Kaelan yang kini mulai melambai ke arahnya dari kejauhan panggung, Aeryn tahu ia tidak punya pilihan.

"Setuju," kata Aeryn mantap. "Mulai malam ini, aku akan berada di bawah atapmu."

"Bagus," Xavier menarik sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas dari saku tuksedonya. Ia menuliskan sesuatu di baliknya dengan pulpen perak. "Berikan ini pada asistenku, Hugo, di lobi setelah kau menyelesaikan 'pertunjukan' kecilmu. Dia akan membawamu langsung ke kediamanku."

"Kau tidak akan ikut denganku ke panggung?" tanya Aeryn, sedikit terkejut.

Xavier memberikan seringai tipis yang tidak mencapai matanya. "Seorang raja tidak perlu mengumumkan kehadirannya di tengah kekacauan. Aku akan menonton dari sini. Pastikan pertunjukannya layak untuk investasiku."

Aeryn berdiri. Ia merasa berat di dadanya sedikit terangkat, digantikan oleh adrenalin yang mendidih. Ia merapikan gaunnya, memastikan ponselnya berada di tempat yang mudah dijangkau di dalam clutch-nya.

"Satu hal lagi, Xavier," Aeryn berbalik tepat sebelum melangkah pergi.

"Ya?"

"Jangan menyesal saat melihat betapa kejamnya aku nanti."

Xavier hanya mengangkat gelasnya dalam gerakan bersulang yang singkat. "Jangan mengecewakanku, Aeryn."

Aeryn berjalan menembus kerumunan. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti dentuman genderang perang. Orang-orang menyapanya, memujinya, namun ia hanya membalas dengan anggukan mekanis. Pikirannya terfokus pada tablet kontrol yang dipegang oleh operator teknis di sisi panggung.

Ia menghampiri pria muda yang mengurus visual layar raksasa di belakang panggung. Layar itu saat ini menampilkan foto-foto pre-wedding Aeryn dan Kaelan yang tampak sangat romantis—sebuah ironi yang memuakkan.

"Mas," panggil Aeryn lembut.

"Eh, iya, Mbak Aeryn? Ada yang perlu dibantu?" tanya operator itu gugup.

"Saya ingin mengganti urutan slide terakhir. Ada kejutan kecil untuk Kaelan. Tolong sambungkan flash disk ini langsung ke sistem, ya?" Aeryn menyerahkan sebuah perangkat kecil yang sebenarnya adalah dongle pengirim data dari ponselnya.

"Tapi Mbak, instruksi dari tim WO katanya—"

"Saya pemilik acara ini, Mas. Dan saya pemilik perusahaan yang membayar hotel ini," potong Aeryn dengan suara yang begitu tenang namun penuh ancaman. "Lakukan saja. Masukan ke folder 'Closing Ceremony'."

Si operator menelan ludah dan mengangguk patuh. "Baik, Mbak. Siap."

Aeryn tersenyum manis—senyum terakhirnya malam ini sebagai seorang Valerine yang penurut. Ia melangkah naik ke panggung. Tepuk tangan meriah menggema. Kaelan menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah ia adalah pahlawan yang baru kembali dari medan perang.

"Dari mana saja kamu, Sayang? Aku hampir mengira kamu kabur," bisik Kaelan di telinganya saat mereka berpelukan di depan lampu kilat kamera para wartawan.

Aeryn merasakan mual yang hebat, namun ia tetap tersenyum lebar ke arah kamera. "Aku hanya sedang mempersiapkan hadiah spesial untukmu, Kael."

"Hadiah? Kamu selalu penuh kejutan," Kaelan tertawa kecil, suara yang kini terdengar sangat menjijikkan bagi Aeryn.

Kaelan mengambil mikrofon. Ia mulai berbicara, memberikan pidato panjang tentang cinta sejati, kesetiaan, dan bagaimana Valerine Jewels dan Dirgantara Group akan menjadi kekuatan tak terkalahkan di pasar global. Aeryn berdiri di sampingnya, memegang tangan pria itu. Tangannya terasa dingin, namun Kaelan terlalu sibuk dengan egonya untuk menyadari hal itu.

"Dan malam ini," Kaelan melanjutkan, suaranya menggelegar melalui pengeras suara, "sebagai tanda cinta saya kepada Aeryn, saya ingin kita semua melihat perjalanan cinta kami melalui layar ini."

Kaelan memberi isyarat ke arah operator.

Lampu ballroom sedikit meredup. Semua mata tertuju pada layar raksasa di belakang mereka.

Awalnya, layar itu menampilkan kolase foto mereka saat berlibur di Paris. Kemudian, saat mereka meresmikan proyek pertama bersama. Namun, tiba-tiba, gambar itu bergoyang dan berubah menjadi rekaman video dengan sudut pandang yang sedikit berguncang.

Layar itu menampilkan ruangan yang dikenal semua orang sebagai ruang kerja pribadi keluarga Valerine di hotel ini. Di sana, terlihat seorang pria dengan jas yang sudah tanggal dan seorang wanita dengan gaun merah yang mencolok.

Suara desahan dan tawa manja Bianca terdengar sangat jelas di seluruh penjuru ballroom.

"Kael, pelan-pelan... bagaimana kalau Kak Aeryn lihat?"

Seluruh ruangan mendadak hening. Benar-benar hening, hingga suara denting sendok yang jatuh di kejauhan terdengar seperti ledakan.

Wajah Kaelan yang tadinya penuh senyum kini berubah pucat pasi, warna kulitnya berubah dari putih menjadi abu-abu dalam hitungan detik. Ia menoleh ke belakang, ke arah layar, lalu kembali ke arah Aeryn dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.

"Aeryn? Dia terlalu sibuk menyapa tamu-tamu membosankan di luar... Begitu saham Valerine Jewels stabil di tanganku, aku akan membuangnya seperti sampah."

Kalimat itu menggema, memantul di dinding-dinding mewah Grand Astora, menelanjangi semua kebusukan di depan mata para menteri, pengusaha, dan media nasional.

Aeryn melepaskan tangan Kaelan dengan perlahan, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang beracun. Ia mengambil mikrofon dari tangan Kaelan yang kini gemetar hebat.

"Terima kasih atas kejujurannya, Kaelan," ucap Aeryn, suaranya terdengar sangat jernih dan stabil melalui pelantang suara. "Tapi sayangnya, kau tidak perlu menunggu setahun untuk membuangku."

Aeryn menatap langsung ke arah kamera utama wartawan yang sedang menyiarkan acara itu secara langsung.

"Malam ini, bukan pertunangan yang kalian saksikan. Melainkan pembatalan sepihak atas seluruh hubungan bisnis dan pribadi antara saya, Aeryn Valerine, dengan Kaelan Dirgantara. Dan untuk ayahku..." Aeryn melirik ke arah ayahnya yang berdiri mematung di barisan depan dengan wajah merah padam. "Mari kita bicarakan tentang siapa yang sebenarnya mengelola perusahaan ini."

Kaelan mencoba meraih lengan Aeryn, wajahnya penuh amarah dan kepanikan. "Aeryn, apa-apaan ini! Ini fitnah! Video itu—"

"Video itu asli, Kael. Sama aslinya dengan kontrak pernikahan yang baru saja aku tanda tangani dengan orang lain," potong Aeryn tajam.

Di sudut ruangan, Xavier Arkananta berdiri dari kursinya. Ia tidak tersenyum, namun matanya memancarkan kepuasan yang dalam. Ia mengangkat gelasnya ke arah Aeryn, sebuah penghormatan sunyi bagi sang ratu yang baru saja menghancurkan mahkotanya sendiri untuk membangun takhta yang lebih kuat.

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!