Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Terima
Mulai hari ini, Sera merasa hidupnya tak akan bisa tenang lagi, serasa seperti role coaster yang naik turun tak ada henti.
Semua berjalan dengan otak yang terpacu tiap hari, rasanya Sera tidak ada waktu untuk hanya sekedar santai beberapa menit saja.
Pagi hari tepat jam delapan pagi, Mega sudah menyambutnya dengan setumpuk berkas yang ada di atas meja, dan butuh waktu beberapa menit sebelum menandatangani satu berkas kontrak.
Setelah itu berlanjut dengan presentasi para investor yang tentu saja tak mudah karena pasti banyak pertanyaan dan perdebatan yang harus dia menangkan.
Setelah makan siang, yang sering dia lakukan hanya di dalam ruangan karena di buru waktu karena Sera harus menerima beberapa telpon dari partner kerja yang ada di berbagai negara saat ini.
Berlanjut dengan sore hari, sisa tenaganya pun bahkan harus di peras untuk revisi Dokumen, meeting tim dan evaluasi kegiatan yang sudah di lakukan.
Dan jam lima sore, Sera sudah tak bisa mengangkat wajahnya, lelah dan hanya ingin ambruk di atas meja kerjanya.
Belum lagi saat tiba di Mansion Oma, terkadang dia masih di pusingkan dengan masalah adik sepupunya yang kelakuannya di luar nurul.
Di tambah satu masalah besar yang sema memutar-mutar di kehidupan Sera saat ini, apa lagi jika bukan soal perjodohan, dan sialnya Sera adalah cucu tertua yang menjadi target untuk melanjutkan keturunan secepatnya.
Bahkan hal itu masih belum cukup, Tuhan masih memberinya satu bonus masalah besar lagi untuknya, yaitu kedatangan Graven Rudolf dalam hidupnya, ya Tuhan!
Dan sekarang ini, Sera sudah berada di ruangan laki-laki yang sering membuatnya sesak nafas, sialnya lagi kini mereka hanya berdua, tak ada yang lainnya, Mega dan Harry seolah hilang di telan bumi, apa mungkin mereka sengaja?, batin Sera.
Begitulah kenyataan yang harus di hadapinya, Graven Rudolf sudah punya tempat baru di perusahaan miliknya, dengan pembawaan khasnya yang sering memaksa, dan selalu dominan dalam perdebatan.
Namun Tuhan masih kasihan, Pria gila kerja itu tidak setiap hari ada di sana, yah walaupun bisa di bilang sering juga, setidaknya masih ada jeda untuk Sera mendinginkan kepala agar tidak terkena serangan jantung setiap harinya.
"Masih ada yang perlu kamu revisi dari beberapa dokumen ini" ucap Graven sambil memeriksa dokumen yang ada di tangannya.
"Okey, catat saja, dan akan di bereskan oleh Mega" jawab Sera.
"No, harus kamu yang melakukannya, agar kamu paham benar akan kesalahan yang kamu lakukan, latihan untuk lebih berhati-hati sebelum mendapatkan tender yang lebih besar lagi"
"Jadi kamu pengen semua aku yang mengerjakan, walau itu hanya revisi saja?, ya ampun!, masih kurang setelah apa yang aku lakukan, setiap hari hampir menghabiskan waktu untuk pekerjaan, tanda tangan dan presentasi gila-gilaan, belum lagi Oma yang selalu punya ide gila untuk segera meneruskan keturunan dengan sebuah perjodohan, dan sekarang aku harus melakukan revisi itu, SENDIRI?!" rasanya Sera benar-benar kesal tingkat dewa saat ini.
Sementara, Graven yang dari tadi hanya diam mendengarkan Omelan Sera, kini mulai beraksi, menaikkan satu alisnya sedikit lebih tinggi, seolah sedang memutar kembali perkataan Sera beberapa saat lalu, dengan melihat Sera yang nampak lelah dan menyandarkan punggungnya.
"Please, aku hanya ingin istirahat okey, sebentar saja, tidak lama, dan aku akan melakukan apa yang kamu inginkan" ucap Sera yang akhirnya pasrah, karena tidak mungkin juga kuat berdebat di saat otaknya sangat lelah.
Berdiam sesaat, lalu Sera berdiri, berbalik untuk pergi, namun apa yang terjadi membuatnya tercekat.
Graven kini mendekat, entah kenapa hatinya seolah tidak bisa menerima, saat ada kata perjodohan dalam kalimat yang di lontarkan Sera sesaat.
Graven tak memahami, dan juga tidak bisa mengerti, kenapa itu bisa terjadi padanya, kenapa otaknya tak bisa di kontrol, dan sekarang yang ada hanya kata tidak terima.
Graven berdiri, menatap tajam, berjalan pelan dan berusaha mati-matian menekan amarah yang tiba-tiba saja menguasai hatinya.
Suasana kini hening, Sera seperti sedang siap siaga, tubuhnya tegang saat perlahan Graven semakin mengikis jarak.
Kini sudah ada tepat di depannya, lebih dekat, hingga Sera mundur satu langkah untuk mengatur jarak, namun sial, hanya satu langkah yang bisa dia lakukan karena setelah itu tubuhnya tertahan meja yang ada di belakangnya.
Graven mencondongkan tubuhnya, kedua tangan beralih pelan tapi pasti, ke sisi kanan dan kiri, mengurung wanita yang kini sudah sepenuhnya berada dalam kungkungan.
Hampir tak ada jarak, Sera merasa semakin sesak, dan_
"Tunggu, apa yang kamu lakukan?" Sera berusaha menahan.
Namun, semua terlalu cepat, terlalu tak bisa di hindari, dan nafasnya kini sudah menyambangi, terasa hangat dan lembut di pipinya.
Tatapan mata Graven menembus mata coklat kebiruan yang ada di depannya, tak peduli lagi seberapa besar keindahan itu akan menyeretnya.
Tidak bicara, Graven hanya diam saja, tapi Sera bisa merasakan, jika sedang di tarik oleh sesuatu yang membuatnya tak bisa untuk menolak.
"Graven_" sekali lagi, Sera masih berusaha, namun sayang_
Graven semakin mengeratkan tubuhnya, kini tatapannya jatuh pada bibir Sera.
Debaran jantung yang sudah tak biasa, Sera bahkan berpegangan erat di sisi meja, tepat di sebelah tangan Graven yang mengurungnya, menelan ludah pelan, mengendalikan pikiran liarnya.
Graven menempel di pipi Sera, membuat sebuah sengatan yang luar biasa, membuatnya tak berani bergerak sama sekali dan sebuah suara kini mulai terdengar rendah, lembut dan sek-si.
"Kerjakan sekarang"
Sumpah demi apapun juga, Sera benar-benar ingin berteriak kencang namun tidak bisa, rasanya kalimat itu bukan sebuah perintah untuk bekerja, tapi ajakan untuk berbuat Dosa.
"O okey" mati-matian Sera mengeluarkan jawaban.
Graven sedikit menjauh, bukan untuk mengamankan jantung Sera, justru menambahkan gejolak yang luar biasa, tangannya menyentuh bibirnya dengan lembut, tatapannya begitu tajam menembus, seketika tubuh Sera semakin terasa terbakar panas api neraka.
"Oh Tuhan, tidak, tolong jangan!" teriak batin Sera, berharap hanya tangan Graven saja yang ada di bibirnya bukan yang lainya.
Hampir saja, Graven kehilangan kendali akan dirinya, saat akan menyentuh bibir Sera bukan hanya dengan tangannya.
STOP
Graven segera memejamkan mata.
DAMN!
Graven tak ingin melanggar apapun, dan perlahan mundur dengan sebelumnya membisikkan satu kata lagi.
"Dua jam, aku akan kembali"
Lalu melepaskan sentuhannya, membebaskan Sera dan pergi begitu saja.
Sera terdiam, tubuhnya yang membeku mulai tersadar kembali, tangannya gemetar, jantungnya terasa mau melompat dari tempatnya dan segera bernafas normal setelah merasa sesak dalam kekuasaannya.
"Aku bisa gila!" ucap Sera.
Ayuk mana VOTE nya.
Bersambung di jam 12 siang
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭