Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Ketika Burung Kenari Memberontak
Pramesthi Prestige Club. Royal Private Room.
Ruangan itu dirancang untuk melupakan dunia luar. Kedap suara, temaram, dan wangi cerutu premium yang bercampur samar dengan wiski tua. Di balik kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, Jakarta malam hari tampak berkilau seperti permadani neon indah, tapi terasa milik orang lain.
Di sofa kulit bundar yang luas, empat pria tenggelam dalam kemalasan orang-orang yang sudah memiliki segalanya.
Arjuna Pratama duduk di posisi paling dominan, seperti biasa. Kaki panjangnya disilangkan santai. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, memperlihatkan sebagian dada bidang yang tak perlu dipamerkan karena semua orang sudah tahu. Cerutu terjepit di antara jari-jarinya, asap tipis mengepul pelan, mengaburkan ekspresi wajahnya yang datar dan dingin seperti marmer.
Pewaris tunggal Mahardika Pratama Group. Nama yang cukup untuk membuat pasar saham bergetar.
"Ck, Arjuna."
Raka Hadiputra,putra kedua kerajaan media Wiryawan Hadiputra.tersenyum miring dari ujung sofa. Matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan gosip emas.
"Arjuna Pratama kita yang selalu tak terkalahkan. Pria yang bisa membalikkan keadaan hanya dengan jentikan jari." Ia berhenti sebentar, memperpanjang efek dramatis. "Apakah hari ini matamu sedang rabun? Atau ada burung kenari yang berani mematuk tuannya?"
"Pfft.......!"
Galih Pradita, yang sedang asyik memeluk seorang model muda di sebelahnya, hampir tersedak minumannya. Ia menatap Arjuna dengan ekspresi tidak percaya yang berlebihan.
"Benarkah, Jun? Shafira Maharani? Dia berani mengabaikan mu ?" Galih menunjuk ke arahnya dengan jari gemetar menahan tawa. "Bukankah dia selama ini selalu penurut?"
Model di pelukan Galih menutup mulut dengan punggung tangan, matanya melirik ke Arjuna dengan campuran takut dan penasaran.
Bahkan Satya Wira,yang dari tadi duduk terpisah di sofa tunggal dengan buku di tangan dan kacamata berbingkai emasnya,mengangkat pandangan. Tatapannya tenang, tapi tajam seperti pisau bedah.
Arjuna tidak menjawab siapa pun. Ia menghisap cerutunya dalam-dalam, membiarkan rasa pahit menyebar di lidah, lalu menghembuskannya perlahan.
Raka, merasa diabaikan, justru semakin bersemangat.
"Ini tentang pesta di Wijaya Elite Club semalam," katanya, meletakkan gelas dan mencondongkan tubuh ke depan. "Kabarnya sampai ke telinga 'bintang besar' kita itu. Arjuna tentu saja menikmati malamnya dan tidak pulang sampai pagi."
Galih mengernyit. "Lalu kenapa? Bukankah itu hal biasa bagi Arjuna?"
"Dulu, Shafira tahu tempatnya," jawab Raka dengan nada seorang pencerita yang menikmati setiap katanya. "Dia bahkan tidak berani menelepon saat Arjuna sedang bersenang-senang. Tapi kali ini....." Ia menepuk pahanya sendiri. "Siang ini, dia menyerbu kantor Arjuna. Tanpa tangisan. Tanpa drama. Hanya satu kalimat: dia ingin mengakhiri kontrak."
Ruangan hening sejenak.
"Yang lebih gila lagi," lanjut Raka, mengamati wajah Arjuna yang semakin gelap seperti langit sebelum badai, "dia melemparkan kartu hitam ke meja. Katanya itu dana penalti. Dia akan mengembalikan setiap rupiah yang pernah Arjuna keluarkan untuknya." Raka tersenyum lebar. "Arjuna, burung kenari kecilmu baru saja menamparmu dengan uang sendiri."
Galih meledak tertawa.
"Ya Tuhan! Arjuna Pratama dicampakkan dengan uang oleh wanita sendiri?" Ia menunjuk Arjuna dengan jari gemetar geli. "Jika kabar ini bocor, di mana muka keluarga Mahardika?"
Arjuna teringat momen itu tanpa ingin mengingatnya.
Shafira berdiri di depan mejanya, punggung tegak, mata memandang lurus. Kartu hitam itu dilemparkan bukan diletakkan dengan gerakan yang sangat terkontrol. Dan matanya... mata indah yang biasanya penuh kekaguman dan sedikit ketakutan itu... kosong. Dingin. Ada sesuatu di dalamnya yang asing, yang membuat Arjuna terusik tanpa tahu alasannya.
"Itu hanya trik."
Suara Satya memotong keramaian. Lembut, tapi menusuk.
"Shafira pintar. Dia tahu Arjuna punya ego tinggi. Dia bertaruh bahwa Arjuna tidak akan membiarkan dirinya 'dibuang' begitu saja oleh seorang Arjuna Pratama." Satya kembali ke bukunya, seolah masalah ini sudah terpecahkan. "Ini langkah mundur untuk maju."
Raka mengangguk. "Tepat sekali. Jadi, Arjuna...bagaimana rasanya dipatuk balik oleh hewan peliharaanmu sendiri?"
Krak.
Arjuna meremukkan puntung cerutunya di asbak kristal dengan kekuatan yang terlalu besar untuk seseorang yang mengaku tidak peduli. Kaca asbak itu berderit pelan.
Ia mendongak. Tatapan elangnya menyapu ketiga temannya, berhenti sejenak pada Raka. Bibir tipisnya melengkung membentuk senyuman—bukan senyuman hangat, tapi senyuman seorang pria yang sudah memutuskan sesuatu.
"Perasaan?" gumamnya, suara rendah dan serak. "Dia hanya mainan. Dan mainan yang rusak—tinggal dibuang."
"Mainan?" Raka mengangkat alis, tidak yakin. "Banyak orang rela mati hanya untuk menyentuh ujung jari Shafira. Karena dia milikmu, mereka takut mendekat. Sekarang dia memberontak—itu bukan sekadar putus cinta, Jun. Itu tamparan telak untuk egomu."
Arjuna mengambil gelasnya. Wiski mengalir turun dengan mulus.
"Kalau dia mau bermain," katanya, meletakkan gelas kosong kembali ke meja dengan bunyi yang tegas, "aku akan layani."
Ia menatap Raka dengan mata yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditantang.
"Mau bertaruh? Dua bulan. Dia akan kembali merangkak ke kakiku dan memohon untuk diterima lagi."
Galih langsung mengangkat tangan. "Aku ikut! Aku taruh Arjuna menang!"
Raka tertawa seperti rubah yang menemukan kandang ayam terbuka. "Boleh. Tapi taruhannya harus setara. Tanah barumu di Surabaya Barat—aku ingin hak prioritas untuk proyek resor di sana."
"Deal."
Tawa dan sorak memenuhi ruangan.
Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah apartemen sempit di pinggiran kota, seorang perempuan baru saja membuka mata dengan napas tersengal-sengal—bukan karena mimpi buruk, tapi karena suara yang menggemakan sesuatu di dalam kepalanya.
Suara mekanis. Dingin. Tidak bisa dijelaskan.
[Peringatan Sistem. Transmigrasi Berhasil.]
[Tokoh Utama Pria: Arjuna Pratama. Sifat: Arogan, Obsesif, Bahaya Tinggi.]
[Tokoh Utama Wanita Asli: Shafira Maharani. Status: Gagal.]
[Misi Baru: Menjinakkan 'Anjing Gila' ini.]
[Saran: Jangan lari. Dia suka mengejar.]
Citra Lestari duduk tegak di kasur tipis apartemennya, jantung berdegup kencang, memandang langit-langit yang asing.
Hidupnya yang lama sudah berakhir.
Dan permainan yang jauh lebih berbahaya—baru saja dimulai.