Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Perlu Dilanjutkan
Cerita ini hanyalah karangan author, jika terdapat kesalahan seperti pangkat, gelar, tempat atau regulasi/peraturan, author meminta maaf🙏
...###...
Aroma antiseptik yang khas selalu berhasil membuat kepala perempuan bernama Hazel berdenyut samar. Di usianya yang menginjak 31 tahun, jas putih yang melekat di tubuhnya bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan simbol dari rantai tak kasat mata yang mengikat seluruh hidupnya.
Hazel adalah seorang Dokter di salah satu rumah sakit swasta elit di ibu kota, sebuah posisi yang diimpikan ribuan orang. Namun, menjadi penjara bawah tanah bagi jiwanya yang merindukan kanvas dan aroma cat.
"Dokter Hazel, ini laporan pasien di bangsal mawar untuk sore ini," ujar seorang perawat dan meletakkan map di meja kerja Hazel yang tertata rapi.
"Terima kasih, Suster," jawab Hazel dengan senyum formal yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.
Setelah perawat itu keluar, Hazel menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dan matanya menatap nanar ke arah jendela besar yang menampilkan langit kota yang mulai meredup. Hidupnya begitu sempurna di mata orang lain, Ayahnya, Papa Darius, adalah seorang direktur bank terkemuka dan Ibunya, Mama Vivian, adalah pewaris tunggal bisnis keluarga konglomerat.
Apa pun yang Hazel inginkan dari segi materi, selalu tersaji di depan mata. Namun, di balik semua kemewahan itu, Hazel tidak pernah memiliki hak atas dirinya sendiri. Ayahnya bahkan tidak berkutik, karena terlalu lemah untuk melawan dominasi Mama Vivian yang begitu kuat.
Ditengah lamunannya, ponselnya di atas meja bergetar dan menampilkan nama yang paling ingin ia hindari yaitu Mama Vivian, Hazel pun menghela napas panjang sebelum menggeser layar.
^^^Ya, Ma?^^^
Hazel, kamu nggak lupa kan? Jam delapan di restoran Amarta meja nomor 6, Mama sudah mengatur makan malam kamu sama Tommy. Dia muda, mapan, jaksa dan dari keluarga baik-baik.
^^^Tapi Ma, Hazel baru selesai shift...^^^
Tidak ada alasan. Jaga sikap kamu, Hazel. Mama tutup dulu, awas kalau kamu nggak datang.
Sambungan pun terputus secara sepihak, Hazel menatap layar ponselnya dengan rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya. Mama Vivian sendiri sudah berulang kali mengatur makan malam Hazel dengan pria pilihannya, dan pria ini adalah yang kelima bulan ini yang dipilihkan Mama Vivian demi menjaga status sosial keluarga.
Hazel melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan dan ia harus bergegas jika tidak ingin mendengar amukan Mama Vivian.
Hazel berdiri, melepas jas Dokternya dan menyampirkannya di kursi lalu ia meraih tasnya, bersiap untuk melangkah keluar dari ruangnya. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, pintu tersebut mendadak terbuka dengan kasar.
Suster Dila masuk dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi, "Dokter Hazel! Tolong, Dok! Ada korban kecelakaan beruntun baru saja masuk ke IGD, pasien trauma kepala dan fraktur terbuka, kondisinya kritis!" ucap Suster Dila.
Hazel tertegun sejenak, melirik jam dinding. "Suster, jadwal shift saya sudah selesai dan saya ada urusan yang sangat penting. Tolong hubungi Dokter Fandi ya, karena dia yang berjaga malam ini," ucap Hazel.
"Dokter Fandi sedang melakukan operasi, Dok! Ada pasien apendiksitis perforasi yang harus segera ditangani. Dokter IGD lainnya sedang menangani korban kecelakaan yang lain. Tolong, Dok... pasien ini kehilangan banyak d*r*h," mohon Suster Dila dengan mata berkaca-kaca.
(apendiksitis perforasi: kondisi komplikasi serius dari radang usus buntu, di mana usus buntu mengalami peradangan parah, membusuk, hingga robek atau pecah)
Sebagai Dokter, Hazel tidak bisa membiarkan seseorang mati di hadapannya hanya demi sebuah makan malam.
"Siapkan ruang tindakan, saya ke sana sekarang," ucap Hazel, langsung menyambar kembali jas putihnya dan berlari menuju IGD.
Waktu seakan berjalan melambat di dalam ruang tindakan, Hazel mengerahkan seluruh fokus dan kemampuannya. Menjahit luka torehan yang dalam, menghentikan pendarahan hebat dan memastikan tanda-tanda vital pasien kembali stabil sebelum dipindahkan ke ruang perawatan intensif, peluh membasahi keningnya dan beberapa cipratan d*r*h mengenai ujung lengan bajunya.
Beberapa saat kemudian, ketika Hazel akhirnya keluar dari ruang IGD dan mencuci tangannya, jam dinding di koridor rumah sakit sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Astaga," gumam Hazel, ia bergegas kembali ke ruangannya dan meraih ponselnya yang sengaja ia tinggal.
Sesuai dugaannya, ada 15 panggilan tak terjawab dari Mama Vivian dan puluhan pesan singkat yang penuh dengan untaian kata kemarahan. Hazel segera berganti pakaian dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, Hazel membelah jalanan kota yang untungnya tidak terlalu macet. Sesampainya di parkiran restoran, Hazel pun segera melangkah masuk ke restoran mewah itu dengan perasaan was-was, matanya mencari meja nomor 6. Di sana, duduk seorang pria dengan setelan jas rapi, tampak sibuk dengan ponselnya dan berulang kali melihat jam tangan dengan wajah gusar.
"Maaf, apa anda Tommy?" tanya Hazel dengan suara serak.
Pria itu menoleh, ia menatap Hazel dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendah. "Hazel? Anda telat 45 menit dan penampilan anda sangat tidak menghargai pertemuan ini," ucap Tommy yang penuh kecewa melihat penampilan Hazel.
Hazel menarik kursi dan duduk dengan kaku, "Saya meminta maaf karena telat, tadi ada keadaan darurat di rumah sakit, saya tidak bisa meninggalkan pasien begitu saja," ucap Hazel.
"Saya juga orang sibuk, Hazel. Saya ini seorang Jaksa, waktu saya mahal. Tapi saya tetap datang tepat waktu, sepertinya Tante Vivian terlalu melebih-lebihkan tentang betapa sempurnanya putrinya ini," ucap Tommy dengan nada meremehkan.
Hazel mengepalkan tangannya di bawah meja, rasa lelah yang menumpuk sejak pagi dan hinaan dari pria asing ini membuat pertahanannya runtuh.
"Kalau anda merasa waktu anda terlalu berharga untuk menunggu seorang Dokter menyelamatkan nyawa pasien, maka sepertinya pertemuan ini memang tidak perlu dilanjutkan," ucap Hazel tegas.
Hazel sendiri tidak percaya jika ia mengatakan hal tersebut, Hazel termasuk orang yang lemah lembut dan tidak pernah marah-marah atau tegas pada orang lain, tapi kali ini entah darimana keberanian itu muncul.
"Saya datang karena Tante Vivian yang memaksa ya," ucap Tommy yang mulai meninggikan suaranya.
"Lain kali kalau Mama saya memaksa anda untuk menemui saya, jangan mau. Saya sebenarnya tidak mau datang kesini, saya bahkan tidak sudi bertemu dengan anda, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pergi, saya capek tau," ucap Hazel lalu pergi meninggalkan Tommy.
Hazel melangkah keluar dari restoran dengan napas memburu, ia tidak mempedulikan teriakan Tommy yang merasa terhina di belakangnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hazel merasa menang, meskipun ia tahu badai besar sedang menantinya di rumah.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak