"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Dinding Es yang Kembali Tegak
Pagi itu, Mansion Tarkan terasa seperti kuburan. Tidak ada lagi senyum jahil dari Hamdan atau tatapan protektif yang biasanya mengikuti setiap gerak-gerik Amora. Berita utama di televisi dan media sosial telah meledakkan bom waktu yang paling ditakuti Hamdan: sebuah dokumen palsu yang menyatakan bahwa Amora adalah putri dari hubungan gelap mendiang ayah Hamdan dengan ibu Amora.
Skandal hubungan sedarah itu menyebar seperti api di atas bensin.
Amora baru saja hendak turun ke ruang makan saat ia mendengar suara bentakan dari balik pintu perpustakaan. Ia mengintip dan melihat Hamdan sedang berdiri membelakangi pintu, sementara Layla Tarkan duduk di kursi dengan wajah yang kaku.
"Kau harus mengeluarkannya dari rumah ini, Hamdan! Nama keluarga Tarkan hancur karena gadis itu!" teriak Layla.
"Dia tidak pergi ke mana-mana, Ibu!" balas Hamdan, suaranya terdengar seperti besi yang beradu. "Jika media ingin menghancurkan Tarkan, biarkan saja. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Amora."
"Tapi dunia mengira dia saudaramu! Jika kau tetap menyimpannya di sini, kau membenarkan fitnah itu!"
Amora mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Ia ingin masuk dan berteriak bahwa itu semua bohong, tapi saat pintu perpustakaan terbuka, Hamdan keluar dengan wajah yang begitu dingin hingga Amora merasa seperti tidak mengenalnya.
Hamdan melihat Amora, namun kali ini ia tidak berhenti. Ia hanya menatap Amora sekilas dengan mata yang merah dan kosong, lalu berjalan melewatinya begitu saja seolah Amora adalah bayangan.
"Abang?" panggil Amora lirih.
Hamdan tidak berhenti. Langkah kakinya yang berat terus bergema di koridor. Ia benar-benar telah memasang dinding es yang paling tebal.
----------
Tiga hari berlalu, dan Hamdan benar-benar menganggap Amora tidak ada. Ia pulang larut malam dan pergi sebelum fajar. Makan malam yang biasanya hangat kini hanya dihadiri Amora dan Zahra yang terus berusaha menghiburnya.
"Abang hanya sedang berjuang, Amora. Dia sedang mencari bukti DNA asli untuk membantah berita itu," bisik Zahra sambil memegang tangan Amora.
"Tapi kenapa dia tidak bicara denganku? Kenapa dia menatapku seolah aku adalah kesalahannya yang paling besar?" Amora menahan tangis. Rasa kehilangan ini jauh lebih sakit daripada saat ia berada di pasar desa.
Malam itu, Amora tidak tahan lagi. Ia tahu Hamdan baru saja pulang karena ia mendengar deru mobil di halaman. Amora berlari menuju ruang kerja Hamdan tanpa mengetuk pintu.
Hamdan sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi botol air mineral dan tumpukan dokumen. Lampu ruangan dimatikan, hanya cahaya dari layar laptop yang menyinari wajahnya yang tampak sangat lelah.
"Hamdan, tatap aku!" perintah Amora.
Hamdan tidak mendongak. "Keluar, Amora. Aku sedang sibuk."
"Kau pengecut! Kau bilang kau akan menjagaku, tapi kau justru menjauh seolah aku ini penyakit!" Amora mendekat, mencoba merebut dokumen dari tangan Hamdan.
Hamdan tiba-tiba berdiri, membanting dokumen itu ke meja dan menatap Amora dengan kemarahan yang meluap. "Kau ingin aku melakukan apa? Menyukaimu di saat seluruh dunia menganggap kita saudara? Kau ingin aku menghancurkan masa depanmu hanya karena egoku?"
"Aku hanya ingin kau bicara padaku!" teriak Amora.
"Pergilah, Amora. Sebelum aku mengatakan hal-hal yang akan membuatmu benar-benar membenciku selamanya."
Amora terdiam, air matanya jatuh. Ia melihat luka yang mendalam di mata Hamdan, namun juga keras kepala yang luar biasa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Amora berbalik dan lari kembali ke kamarnya. Ia merasa hancur.
Deg.. perasaan ini tiba-tiba hadir lagi. Tapi dia mengabaikanku...
Di titik inilah, Amora memutuskan untuk mencari jalannya sendiri—meskipun itu berarti ia harus menggunakan Farr Burhan untuk memancing Hamdan keluar dari dinding esnya.
Amora berdiri terpaku di ambang pintu, menatap punggung Hamdan yang gemetar menahan emosi. Ruang kerja itu terasa sangat dingin, sedingin sikap pria yang kini membelakanginya.
"Kau bilang kita akan menghadapi ini bersama," suara Amora melemah, nyaris menyerupai bisikan. "Tapi kau justru mengurung dirimu di sini, membiarkan aku sendirian dan bertanya-tanya apakah aku benar-benar sebuah kesalahan."
Hamdan memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut Amora terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Ia ingin berbalik, memeluk Amora, dan mengatakan bahwa ia akan menghancurkan siapa pun yang berani menyebarkan fitnah itu. Tapi ia tidak bisa. Jika ia menunjukkan kelemahannya sekarang, musuh akan tahu di mana letak titik hancurnya.
"Kesalahan terbesarku adalah membiarkanmu berpikir bahwa hidup ini akan mudah setelah kau ikut denganku," sahut Hamdan tanpa menoleh. "Kembalilah ke kamarmu, Amora. Jangan biarkan pelayan melihatmu di sini di jam seperti ini. Fitnah ini tidak butuh tambahan bensin lagi."
"Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan pelayan! Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan dunia!" Amora maju, mencengkeram lengan kemeja Hamdan, memaksanya berbalik. "Aku hanya peduli dengan apa yang kau pikirkan! Apakah kau percaya... apakah kau percaya kita sedarah?"
Mengapa aku tidak terima bahwa kami sedarah? batin Amora bergejolak.
Hamdan akhirnya berbalik. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Amora dengan kuat—tidak cukup untuk menyakiti, tapi cukup untuk menghentikan gerakannya. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap Amora dengan intensitas yang mengerikan.
"Jika aku percaya kita sedarah, Amora... aku tidak akan merasa tersiksa setiap kali melihatmu memakai gaun itu. Aku tidak akan merasa gila setiap kali Farr Burhan menyebut namamu!" geram Hamdan, suaranya parau. "Aku tahu kita bukan saudara. Tapi sampai aku punya bukti otentik di tanganku, aku adalah racun bagimu. Mengertilah!"
Hamdan melepaskan tangan Amora dengan kasar, seolah-olah menyentuh gadis itu adalah sebuah dosa yang tak terampuni saat ini. Ia kembali duduk, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang besar.
Amora menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangis yang mulai sesak di dadanya. Ia melihat album foto masa kecil mereka yang tergeletak di pojok meja Hamdan, tertutup oleh tumpukan berkas hukum. Pria ini sedang berperang demi dirinya, tapi dengan cara yang paling menyakitkan bagi Amora: dengan menjauh.
"Baiklah," ucap Amora dingin, menghapus air mata dengan punggung tangannya. "Jika kau ingin menjadi orang asing, maka aku akan memperlakukanmu sebagai orang asing. Jangan menyesal jika nanti aku mencari perlindungan di tempat lain."
Amora berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu ruang kerja itu dengan dentuman keras. Di dalam ruangan, Hamdan hanya bisa meremas rambutnya, menahan raungan amarah yang tertahan di tenggorokan. Ia tahu Amora sedang terluka, dan ia tahu ancaman Amora tentang "tempat lain" itu merujuk pada Farr Burhan.
"Itu adalah yang terbaik untuk kita!" Hamdan berbisik dalam hatinya.
To be continued...