NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Negosiasi

Denting sendok perak menyentuh dasar cangkir porselen memecah lamunan.

Udara di dalam ruangan ini berbau kemewahan artifisial. Bau uang. Bau parfum sintesis seharga ginjal manusia.

Fais menatap cairan bening di gelas kristalnya. Ia tahu. Ia merasakannya dengan sangat jelas. Garis pembatas antara dunianya yang berbau anyir darah dan dunia berpendingin ruangan ini.

Beberapa puluh menit lalu, ia berada di ruko berbau got basah. Di depan wanita yang sama.

Kini mereka duduk berhadapan. Sebuah meja bundar marmer italia memisahkan tubuh mereka.

Restoran elite ini berada tepat di jantung kota. Lantainya terbuat dari marmer impor. Tirai beludru menjuntai kaku menutupi jendela raksasa. Pengunjung lain memakai setelan jas yang harganya lebih mahal dari biaya sewa apartemennya setahun.

Dulu, melangkah masuk ke tempat sejenis ini akan membuat isi perut Fais bergejolak hebat. Rasa rendah diri akan mencekiknya hingga lambungnya mual.

Tapi malam ini berbeda.

Ia menatap sekeliling. Tatapannya datar. Kosong. Para pengunjung kaya di sekitarnya hanya terlihat seperti gumpalan daging merah yang kebetulan mengenakan kain sutra.

Urat nadi di leher mereka berdenyut. Rentan. Terlalu mudah dikoyak.

Fais menyandarkan punggungnya perlahan. Merasakan tekstur kursi empuk yang terasa asing di kulit punggungnya. Ia melihat jelas di depan matanya, hasil analisis sistemnya bekerja.

[Probabilitas negosiasi: 60%]

[Saran: Jangan banyak bertingkah (Probabilitas negosiasi + 40%)]

Sri Arsila duduk tegak di seberangnya. Wanita itu sudah mencuci wajahnya di toilet. Merapikan helaian rambutnya yang tadi berantakan akibat insiden ruko.

Kemeja putihnya masih kusut, tapi auranya kembali utuh. Aura seorang tiran yang baru saja kehilangan kerajaannya.

"Jadi."

Sri membuka suara. Kata itu meluncur tajam. Membelah keheningan meja mereka.

"Kau membawa saya keluar dari ruko busuk itu. Menyeret langkah saya ke tempat yang menu utamanya setara dengan cicilan motor bekas."

Sri melipat tangan di atas meja. Jari-jarinya bertaut erat. Kulit buku jarinya memutih.

"Orang-orang Wawan pasti sedang melacak kita sekarang. Melacak kau, lebih tepatnya. Mereka bukan anjing jalanan yang bisa kau usir hanya dengan gertakan sepatu."

Fais diam. Matanya menatap lurus ke arah pupil Sri. Tidak berkedip sama sekali.

Sri mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka menyempit.

"Kau tidak banyak bicara dari tadi. Siapa kau sebenarnya? Polisi kotor? Rival Wawan dari distrik lain? Atau rentenir jenis baru yang mencoba pasar ini?"

Fais masih tidak merespons. Wajahnya seperti pahatan batu es tua.

Sri mendengus kecil. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis. Ia mulai membedah Fais. Menguliti pria di depannya dengan tatapan analitis tingkat tinggi.

Matanya memindai postur Fais dari atas ke bawah. Cara pria itu duduk. Cara tangan pria itu diam di atas paha tanpa gerakan gelisah sedikit pun. Napasnya teratur. Terlalu teratur untuk ukuran manusia bernapas.

Tidak ada kedutan cemas di ujung mata. Tidak ada jari telunjuk yang mengetuk meja secara konstan.

Sri beralih mencoba mengorek isi kepala pria asing itu dengan senjata utamanya. Kata-kata.

"Kalau kau bermimpi mau mengakuisisi sisa aset saya, kau datang di saat yang sangat salah. Liquiditas perusahaan saya hancur."

Fais bergeming. Rahangnya tetap terkunci rapat.

"Leverage yang saya miliki sudah ditarik paksa oleh dewan direksi. Saham mayoritas mengalami dilusi parah. Cashflow saya terbakar minus puluhan juta tiap bulan karena bunga gila dari lintah darat macam Wawan."

Sri memborbardir pria itu dengan rentetan istilah tanpa jeda. Melemparkan realitas bisnisnya yang hancur berkeping-keping. Membanting fakta pahit itu ke atas meja.

Ia menunggu reaksi. Ia menunggu Fais menunjukkan celah kemanusiaannya. Sedikit saja kebingungan. Sedikit saja keterkejutan.

Tapi tidak ada apa-apa.

Pria itu hanya diam. Menyimak. Menelan setiap kalimat rumit yang dimuntahkan Sri.

Kenyataannya sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Sri.

Fais diam bukan karena ia ahli strategi misterius tingkat dewa.

Ia diam karena otak sintingnya sedang dipaksa bekerja ekstra keras agar tidak meledak. Ia benar-benar tidak paham struktur rumit dunia bajingan berdasi ini. Ia hanya tahu anatomi leher manusia, cara bertahan hidup, dan titik patah tulang.

Leverage. Aset likuid. Dilusi. Cashflow.

Kosakata itu terdengar seperti paduan suara bahasa alien di telinganya.

Namun, sebuah anomali terjadi malam ini.

Beberapa minggu lalu, kata-kata rumit itu hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Menjadi sampah frekuensi semata. Menguap begitu saja.

Malam ini. Di detik ini. Otaknya secara paksa mulai merangkai kepingan puzzle itu.

Rutinitas gila yang ia jalani belakangan ini. Paksaan membaca buku tebal berjam-jam. Duduk diam bermeditasi saat seluruh otot tubuhnya menjerit ingin menghancurkan barang. Semua penyiksaan mental tanpa ampun itu mulai menunjukkan hasil.

Fais merasakan pergeseran mekanis di dalam tempurung kepalanya.

Kabut tebal yang biasanya menutupi logikanya tersapu bersih. Emosinya yang biasa meledak-ledak brutal kini terikat kuat pada jangkar ketenangan.

Ia tidak mudah goyah. Pikirannya jernih. Sepi keparat yang membantunya berpikir tajam.

Cashflow. Aliran uang.

Leverage. Daya ungkit. Alat untuk memperbesar kerusakan dengan modal minimal.

Dilusi. Pengurangan porsi kuasa.

Informasi dari buku-buku yang ia baca secara paksa perlahan tumpah ruah ke wilayah kesadarannya. Mengisi ruang-ruang kosong yang sengaja dibor oleh perkataan Sri.

Pola pikir wanita itu mulai terbaca utuh. Struktur keruntuhan perusahaannya tergambar pelan bagai cetak biru di mata mental Fais.

Fais menghela napas lambat. Sangat lambat. Udara dingin di restoran ini seolah ditarik paksa habis-habisan ke dalam paru-parunya. Suasana di sekitar meja bundar mereka mendadak terasa mencekik.

Seorang pelayan yang hendak menuangkan anggur merah di meja sebelah tanpa sadar menahan napas. Tangannya sedikit gemetar saat merespons tekanan tak kasatmata dari arah meja Fais. Pelayan itu memutar langkah, bergegas pergi sejauh mungkin.

Sri melihat tarikan napas lambat itu.

Ia melihat bagaimana mata Fais yang tadinya kosong perlahan menajam. Menggelap dan memusat. Seolah pria itu baru saja selesai menghitung seluruh kalkulasi dunia ini dalam hitungan detik.

Jantung Sri berdetak sepuluh kali lebih cepat. Satu ketukan keras menabrak dinding tulang rusuknya.

Wanita mantan eksekutif itu meremas lututnya sendiri di bawah meja secara diam-diam. Rasa dingin menjalar menjalar dari tumit kakinya.

Ia salah. Ia salah langkah. Ia salah menilai makhluk di depannya.

Diamnya Fais bukan karena tidak mengerti.

Sri meyakini hal itu dengan sisa-sisa insting bisnisnya. Tidak ada manusia bodoh yang bisa menahan sorot mata seabsolut itu.

Pria ini sudah tahu segalanya. Pria ini sudah melacak dan memperhitungkan keruntuhan asetnya sejak awal. Pria ini pasti sengaja menunggu bajingan seperti Wawan menghancurkannya hingga titik paling dasar, sebelum muncul secara dramatis untuk mengklaim segalanya.

Keheningan Fais adalah murni jebakan psikologis.

Sri menelan ludah paksa. Tenggorokannya mendadak mengering seperti kertas amplas.

Ia merasa sedang duduk bernegosiasi dengan sebuah jurang. Semakin ia melempar kata-kata kompleks, semakin energinya tersedot habis tak berbekas. Segala taktik manipulasi yang pernah ia pelajari menguap sia-sia berhadapan dengan tembok keheningan absolut ini.

Pria ini hanya perlu bernapas lambat untuk membuat mental baja Sri berkarat.

Wanita itu menarik oksigen dalam-dalam. Mencoba merekatkan kembali kewarasannya yang mulai retak. Ia tidak boleh terlihat tunduk. Tidak di depan ancaman sebesar ini.

Sri memajukan dadanya. Meletakkan kedua telapak tangannya kembali ke atas marmer. Menatap lurus ke dalam pupil mata Fais yang sama sekali tidak memantulkan emosi simpati.

Bibir Sri sedikit terbuka. Suaranya berubah total. Lebih pelan. Lebih bergetar dalam kewaspadaan tinggi.

"Kalau kau ingin bermain di dunia ini... uang saja tidak cukup."

Fais menatap wajah Sri tanpa berkedip. Mengamati bibir pucat wanita itu yang baru saja berhenti memproduksi suara.

Ia tidak menjawab perkataan itu. Ia tidak membantah tuduhan itu. Ia juga tidak mengiyakan.

Fais membiarkan peringatan itu menggantung begitu saja di udara. Menyatu dengan denting piring mahal dan alunan piano restoran yang terdengar memuakkan.

Sri mengertakkan giginya erat-erat. Ujung kuku jarinya menekan taplak meja putih hingga menembus kain. Kepastian kelam menancap di dalam rongga kepalanya.

'Apa yang pria ini sembunyikan?'

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!